"Seperti ini gimana, Pak?" Adis melihat tubuhnya sendiri, kemudian memanyunkan bibirnya. "Kupikir kamu adalah gadis yang benar-benar polos. Dari wajah dan cara bicara kamu. Tapi, ternyata...faktanya cukup mengejutkan. Dan aku semakin kagum." Adis tertawa."Ya...beginilah saya, Pak." Fariz tersenyum, ia berdiri lalu pergi ke kamarnya. Lalu ia kembali dengan membawa sebuah Paper bag."Sah, saya kembalikan semuanya, Dis." Adis bertepuk tangan dengan senang."Asyik. Tapi, kok aku jadi males makenya lagi." Adis memerhatikan isi paper bag, sedikit geli menyentuhnya karena itu pasti sudah bekas tangan Fariz. "Ya dicuci,lah. Lagian enggak saya apa-apain kok. Atau ...ya udah nanti saya ganti yang baru," kata Fariz lagi dengan senyuman tulusnya. "Terima kasih, Pak. Jadi, urusan percelana dalaman

