“Enggak juga. Aku juga sayang kamu,” balas Adis. “Aku pun sayang kamu.”Fariz memeluk Adis dengan erat, ia memiliki kekasih sekarang. “Jadi, kita sudah hentikan perang celana dalam ini, kan?” Adis tertawa.”Aku bahkan enggak berniat memulainya.” “Oke...tapi kamu membuatku pengen memulai dan mengakhirinya sendiri. Setidaknya aku sudah merasakan isi dari celana dalammu.” “Jadi, sudah puas dan enggak penasaran lagi?” “Aku masih penasaran.” “No!” Adis tertawa. Padahal awalnya ia yang memulai mengatakan bahwa tidak cukup sekali bercinta malam ini. “Ayolah, Adis. Kita bisa melakukannya setiap hari, kan. Tinggal saja di sini bersamaku.” “Itu enggak baik untuk nama baikmu di kantor.” Fariz menatap Adis, merapikan anak rambutnya. “Adis, aku minta mulai besok kamu resign.” “loh, baru beberap

