"Kamu di sini aja, masakin saya. Pakai apa yang ada dulu di kulkas. Saya lapar, Dis," kata Fariz sambil melepaskan pelukannya.
"Bapak mau jadiin saya pembantu?"
"Enggak, saya minta tolong, Adis. Kamu kan jago masak, ya. Saya sering cium bau masakan kamu dulu di kontrakan. Pasti enak," bujuk Fariz.
"Enggak mau, ah. Eh tapi...saya lapar juga, sih, Pak. Saya masak dulu deh. Tapi, jangan diganggu, ya!"
Fariz mengangguk setuju."Iya. Saya mandi dulu. Jangan coba-coba kabur. Kata sandinya sudah saya ganti."
Adis meringis. Sepertinya pria itu tahu kalau ia berniat kabur setelah Fariz pergi. Sekarang ia terjebak di sini, mau tidak mau ia harus masak sekarang.
**
"Pak!" panggil Adis setelah seharian ia melihat pria itu bekerja dengan laptopnya.
"Iya?"
"Saya bosen, Pak."
"Ya ngapain gitu, nonton aja tuh. Kayaknya seharian kamu serius banget nontonnya."
"Tapi, saya enggak nyaman, Pak. Baju saya udah dari kemarin. Saya pulang aja, ya, Pak. Please...."
Fariz menggeleng."Pakai baju saya."
"Enggak ganti daleman dong?"
"Enggak usah pake," kata Fariz santai. Matanya masih saja memerhatikan laptopnya.
Adis mendecak sebal."Enggak usah cari masalah deh, Pak. Saya serius."
"Iya, saya juga serius, Adis. Kamu enggak usah pakai dalaman."
"Entar rasanya dingin, Pak. Kena angin...gimana gitu."
Fariz tertawa keras."Lucu banget kamu. Malam ini kita pergi lagi ya."
Adis melirik dengan perasaan tidak enak."kemana?"
"Diskotik lagi."
Adis menggeleng."Berisik, Pak. Enggak seru. Terus...nanti Bapak suruh saya minum lagi. Rasanya enggak enak. Pahit, panas...Hiii."
"Ya udah enggak usah minum. Kamu temenin saya aja."
"Enggak mau. Bapak aja. Saya di sini. Dikunci sendirian juga enggak apa-apa. Yang penting tinggalin makanan banyak-banyak."
"Kamu harus ikut. Rugi dong saya sekap kamu di sini kalau enggak mau nemenin saya," kata Fariz. Kali ini tampaknya ia sudah selesai dengan pekerjaannya. Ia tampak lelah.
"Bapak suka banget, ya ke diskotik?"
"Enggak juga, sih. Ya sesekali, lah. Kalau diperlukan," kata Fariz jujur. Sebenarnya dulu ia juga tidak terlalu suka pergi ke tempat seperti itu. Cuma karena dulu, sang mantan kekasih suka pergi ke sana, maka hal itu pun menjadi kesukaannya juga. Sampai sekarang ia masih susah untuk menghilangkan kebiasaan itu.
"Kita akhiri sajalah drama ini, Pak," kata Adis mulai lelah.
"Drama apa?"
"Celana dalam. Saya kembalikan celana dalam Bapak, begitu juga sebaliknya. Kita saling memaafkan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Fariz tersenyum geli. Kalau Adis ingin mengakhiri, ia justru ingin terus melanjutkan."Saya pikir-pikir dulu, ya, Adis."
"Ya, kenapa sih pakai mikir dulu, Pak. Biar sama-sama lega."
"Ya udah, kamu ikut saya dulu malam ini. Besok kita damai." Fariz memutuskan demikian.
"Enggak bisa sekarang aja gitu?" tawar Adis.
"Enggak. Sana mandi! Siap-siap untuk malam ini, ya. Saya pesankan dulu baju untuk kamu." Fariz mengambil ponselnya.
"Jangan yang seksi kayak semalam. Nanti Bapak nafsu terus nelanjangi saya lagi," omel Adis sambil berjalan ke kamar mandi.
Dalam hati Fariz tertawa geli. Wanita itu mengatakan kalau dirinya suka bicara vulgar. Tapi, tanpa disadarinya sendiri bahwa ucapannya juga vulgar.
**
Adis dan Fariz tiba di club malam. Adis mulai bosan seperti malam sebelumnya. Bagi Adis, tidak ada hal menarik di sini.
"Pak, saya ke toilet dulu deh," kata Adis saat satu jam sudah berlalu.
"Saya anterin, ya." Fariz berdiri.
Adis menggeleng."Enggak usah, Pak. Saya sendiri aja."
"Kamu tahu toiletnya?"
"Bisa saya cari," kata Adis. Sekalian ia ingin membuang rasa bosannya. Kalau Fariz ikut, ia tidak bisa santai.
Dengan susah payah, menyeruak kegelapan, Adis menemukan toilet.
"Ah lega." Adis berjalan keluar toilet. Tiba-tiba ada yang menarik tangannya.
"Hai, Adis?" Marco mengurung tubuh Adis dengan kedua tangannya."Aku tidak akan pernah salah. Ini adalah kamu."
Adis meneguk salivanya, ia sangat kaget dengan kehadiran Marco di sini."Ngapain kamu?"
Marco menyipitkan matanya."Kamu yang ngapain di sini? Apa sekarang...ini hobi kamu?"
"Bukan urusanmu!" balas Adis ketus.
"Ayolah, kalau iya juga tidak apa-apa. Setiap malam aku bisa menjemputmu. Kita akan bersenang-senang sepanjang malam," katanya dengan ceria.
Adis menggeleng. Ia sudah muak dengan Marco.
"Marco?" Seorang wanita cantik dan seksi menghampiri Marco. Adis bernapas lega, karena Marco menjauh dari tubuhnya. Mungkin saja wanita itu adalah kekasih Marco karena setelah itu mereka terlihat cekcok. Adis langsung melarikan diri, mencari Fariz.
Adis berjalan cepat ke tempat dimana Fariz duduk. Kemudian, ia langsung memeluk lengan Fariz saat duduk. Pria itu langsung kaget."Hei? Kenapa?"
Adis menggeleng."Enggak apa-apa."
"Nih minum soda aja kalau enggak mau minum yang lain." Fariz menuangkan soda ke gelas.
Adis meneguknya sedikit. Pandangannya tertuju pada Marco yang berada tak jauh dari tempatnya duduk. Marco tampaknya sedang mencari seseorang. Jantung Adis berdebar kencang, mungkin saja Marco mencari dirinya. Marco menoleh ke arahnya. Dengan cepat Adis meraih wajah Fariz, dan mencium bibir laki-laki itu. Fariz terkejut, tapi beberapa detik kemudian ia membalas ciuman Adis.
Ciuman itu berlangsung cukup lama karena Marco tak kunjung pergi. Adis jadi kesal sendiri.
"Hei?" Fariz melepaskan ciuman mereka karena sudah kehabisan napas.
Adis menoleh ke tempat dimana Marco tadi berdiri. Pria itu sudah menghilang. Adis menghela napas lega. Sekarang ia sedang ditatap mesra oleh Fariz. Adis sadar, ia baru saja melakukan kesalahan. Ia mencium Fariz, seperti sedang membangunkan singa yang tidur.
"Mi...minum, Pak." Adis jadi salah tingkah. Tanpa ia sadari, yang ia minum bukanlah soda miliknya. Tapi minuman beralkohol. Fariz terkekeh sendiri.
"Sudah tiga gelas, Adis."
"Hah? Apanya, Pak?" tanya Adis polos.
"Minumannya."
Adis menoleh ke arah meja. Kepanikan membawa sengsara. Ia Sepanik itu, sampai-sampai tidak sadar apa yang ia minum."Wah, maaf, Pak. Saya minum minuman Bapak."
"Enggak apa-apa. Asalkan kamu kuat aja." Fariz mengusap puncak kepala Adis.
"Enggak kuat, Pak." Adis tertawa ringan. Kepalanya sedikit melayang-layang.
Fariz tersenyum geli. Wanita itu sudah sedikit mabuk."Kita pulang aja deh. Nanti kamu kenapa-kenapa lagi."
"Sekali lagi deh." Adis menenggak gelas keempatnya.
"Astaga..., Adis. Udah ya." Fariz mengambil gelas dari tangan Adis. Lalu menariknya agar berdiri.
Adis berdiri, lalu menyandarkan tubuhnya ke badan Fariz dengan manja. Jantung Fariz berdebar kencang. Ia membayangkan yang tidak-tidak kalau sikap Adis sudah seperti ini.
Fariz membawa Adis pulang. Seperti malam sebelumnya, Adis menjadi liar. Di lift, wanita itu berusaha menciumi Fariz. Fariz menghindar, ia tidak ingin berbuat m***m di dalam lift. Ia membawa Adis ke kamar dengan sabar.
Adis melumat bibir Fariz dengan ganas. Pria itu sampai kewalahan menghadapinya. Fariz mendadak menjadi pria yang pasif, karena Adis tak memberikannya ruang untuk bergerak. Adis melucuti tubuh mereka berdua, lalu menciumi tubuh Fariz. Fariz tampak bahagia diperlakukan seperti ini. Sekarang Adis tengah mengusap dan menghisap miliknya hingga mengeras.