Kepala Adis terasa melayang-layang. Desahan nikmat keluar dari mulutnya. Sangat seksi, membuat milik Fariz semakin mengeras. Tiba-tiba Adis mendorong tubuh Fariz, membalikkan posisi. Ia ada di atas tubuh Fariz, lalu melumat bibir pria itu dengan begitu liar. Fariz mengimbanginya. Ia tidak menyangka bahwa Adis 'seliar' ini jika di ranjang. Tapi, ia benar-benar suka diperlakukan seperti ini.
Usai berciuman, Adis menurunkan ciumannya ke leher Fariz, menggigitnya hingga kemerahan. Ia juga membuka semua pakaian Fariz tanpa menyisakan apa pun. Ciumannya kembali mendarat ke leher, d**a, perut, dan berakhir di batang yang berdiri dengan gagahnya.
Tanpa ragu-ragu Adis mengulum milik Fariz dengan rakus. Mata Fariz membelalakkan tak percaya. Gadis yang ia lihat begitu polos tampak ahli sekali melakukan itu.
Fariz berusaha tenang, meskipun berkali-kali matanya terpejam karena merasa nikmat dengan hisapan mulut Adis. Fariz merasa miliknya berkedut, kemudian mendesah nikmat saat cairannya menyembur membanjiri mulut Adis. Tanpa sungkan, Adis menjilatnya. Seolah itu adalah sesuatu yang nikmat. Fariz tahu, saat ini Adis setengah sadar. Tapi, dimatanya saat ini Adis sangat seksi dan nakal. Ia suka itu.
Adis terlihat lemas. Fariz menyodorkan segelas air putih pada Adis. Wanita itu meneguknya sampai habis, lalu menjatuhkan kepalanya di atas bantal.
"Adis,"panggil Fariz.
Adis tidak menjawab. Fariz tersenyum, sepertinya Adis tertidur. Ia segera menyelimuti Adis, mengecup kepalanya sebelum ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
**
Adis menggeliat karena badannya terasa pegal-pegal. Ia membuka matanya perlahan, melirik ke sekitar. Ia terkejut setengah mati saat melihat di sebelahnya ada seorang pria. Ia bangun dengan cepat, pria di sebelah itu adalah Fariz. Ia berusaha mengingat apa pun yang bisa ia ingat terakhir kalinya.
"Diskotik?" Adis menepuk jidatnya. Lalu ia memerhatikan sekeliling, itu adalah kamar yang sepertinya ia kenal, tapi belum bisa menyebutkan dimana pastinya. Lalu ia menyibak selimut dan terkejut saat melihat tubuhnya tidak memakai apa pun. Ia menarik selimut dengan cepat, menutupi semua anggota tubuhnya. Selimut yang ia tarik membuat tubuh polos Fariz terlihat. Adis berteriak kaget.
Pria itu terbangun, meraba-raba mencari selimut. Ia menegaskan ke belakang, Adis terlihat ketakutan. Fariz segera meraih celana dalam, lalu memakainya."Kamu udah bangun."
"Kenapa aku bisa di sini?" tanya Adis sambil meringkuk di sofa.
"Ya semalam kamu mabuk, terus aku bawa ke apartemenku," jawab Fariz.
"Terus...kenapa aku enggak pakai baju. Kita habis ngapain semalam?" tanya Adis sedih.
"Melakukan sesuatu yang enak, Dis."
"Fariz! Aku serius. Kamu perkosa aku, ya? Manfaatin aku yang lagi mabuk." Mata Adis berkaca-kaca. Spontan kata 'saya' berganti menjadi 'aku'.
Fariz menghampiri Adis."Lihat, Adis. Lihat leherku. Merah semuanya."
Adis menatap leher Fariz, banyak bercak merah di sana."Apa itu?"
"Ini akibat perbuatan kamu, lah."
"Enggak mungkin. Aku enggak paham cara bikin begitu." Adis menggeleng, tidak terima jika itu adalah hasil perbuatannya. Ia tidak seperti itu.
"Terus...ini ulah siapa? Kamu, kan mabuk. Ya enggak sadar, lah,” jelas Fariz.
"Tapi, kamu yang buka baju aku, kan?"
"Iya, aku. Tapi, beneran...enggak sampai making love kok, Adis. Aku enggak sejahat itu memanfaatkan keadaan," kata Fariz.
Adis menggeleng, tidak percaya pada Fariz."Enggak. Kamu bohong."
Fariz mendekati Adis perlahan."Bener, Dis. Aku enggak bohong. Tolong percaya."
Adis melihat leher Fariz. Ia mulai merasa ngeri, masa iya itu karena perbuatannya semalam. Memangnya apa yang ia lakukan pada Fariz sampai leher pria itu seperti habis digigit drakula.
"Kamu mandi sana," kata Fariz sambil mengusap kepala Adis.
"Aku...mau kerja."
"Ini hari Sabtu, Adis." Fariz terkekeh.
Adis tertunduk malu. Ia berdiri lalu berjalan pelan menuju kamar mandi."Baju saya enggak ada, Pak."Suasana mulai kembali normal. Panggilannya terhadap Fariz pun berubah lagi.
Fariz tersenyum penuh arti."Kan kemarin baju kamu ada di mobil saya, Dis. Yang kamu pakai kemarin ke salon."
"Celana dalam enggak ada, Pak."
Fariz terkekeh."Saya punya beberapa, kan? Ini saya kembalikan satu."
Adis menerima dengan ragu."I...iya, Pak."
"Ya sudah, saya tunggu di depan." Fariz pun berpakaian. Sementara itu, Adis bergegas ke kamar mandi.
Kamar mandi Fariz terlihat bersih dan wangi. Alat-alat mandinya juga tertata rapi. Beda dengan kamar mandinya yang berantakan dan bau sabun cuci. Adis berdiri di depan cermin, ia memekik kaget saat ia juga memiliki bercak merah di dadanya. Pikirannya mulai kacau, apa mungkin Fariz melakukan sesuatu padanya. Tapi, ia merasa baik-baik saja saat ini. Tidak merasakan sakit di bagian intimnya. Tapi, melihat bercak kemerahan di dadanya ini membuatnya meragukan ucapan Fariz.
Tapi jika semalam telah terjadi sesuatu dengan mereka itu artinya mereka bersentuhan.
Wajah Adis langsung merah padam membayangkan kemungkinan apa saja yang terjadi semalam.
Adis mencari keberadaan Fariz saat ia sudah selesai mandi. Ternyata pria itu sedang ada di dapur, memeriksa isi kulkasnya.
"Pak!"
Fariz menoleh."Ya?"
"Saya udah selesai mandi. Mau pamit pulang."
Fariz menutup pintu kulkasnya."Enggak, Dis. Kamu harus di sini sampai besok."
Adis menganga."Enggak, Pak."
"Kamu, kan...masih ingat kalau kamu harus nurut sama saya."
"Ya iya, sih. Saya akan nurut.Tapi...Bapak sudah berani menelanjangi saya. Enggak gitu juga caranya, Pak." Adis tertunduk sedih.
"Tapi, saya enggak apa-apain kamu, Adis."
"Tapi, d**a saya merah-merah, Pak. Sama seperti Bapak. Berarti Bapak ngapa-ngapain saya dong?" kata Adis kesal.
"Iya saya ngapa-ngapain kamu," kata Fariz akhirnya.
"Tuh, kan." Adis menghentakkan kakinya seperti anak kecil.
"Eh...eh..." Fariz mendekat ke Adis, lalu memeluknya."Bukan seperti yang kamu pikirkan."
"Terus apa, Pak?" Adis memukul-mukul d**a Fariz.
"Saya cuma hisap d**a kamu. Cuma itu, suer, Dis."
"Bohong!"
"Ya saya cium bibir kamu."
"Bohong!"
"Sama cium leher kamu."
"Tuh, kan katanya enggak ngapa-ngapain. Udah kuduga Bapak itu m***m makanya nyuri celana dalam saya. Jangan-jangan Bapak sering onani pakai celana dalam saya, ya?" tatap Adis kesal.
"Yah, saya sudah jujur. Saya cuma cium bibir, leher sama d**a. Udah. Enggak nyampe ke bawah itu kok. Saya masih bisa tahan. Mana enak o*****e sendirian, Adis." Fariz sedikit berbohong, padahal semalam ia o*****e akibat blow job-an Adis. Tapi, mana mungkin ia memberi tahu apa yang terjadi yang sebenarnya, bisa-bisa gadis ini semakin panik.
"Omongan Bapak vulgar banget!" Kepala Adis mulai pusing.
"Sudah, deh...yang penting saya enggak perkosa kamu. Perkara kamu enggak pakai baju, saya minta maaf. Soalnya badan kamu seksi banget, Adis. Saya enggak kuat," ucap Fariz jujur.
Jantung Adis berdebar kencang. Pria di hadapannya ini menggunakan kata-kata vulgar, tapi entah kenapa ia tidak tersinggung. Justru merasa wajahnya memanas."Ya udah, Pak. Lupakan. Saya pulang aja kalau gitu."