Interogasi Cinta

801 Kata
"Mama gak kenal sama wanita ini." Aku kembali menyerahkan ponsel milik Cinta. Tunggu sebentar, aku sedikit familiar dengan wajah wanita itu. Hanya saja, aku tidak ingat siapa dia. "Serius, Mama gak kenal?" tanya Cinta sambil menatapku. Dia tampak tidak percaya, tapi mau bagaimana lagi, aku memang tidak kenal siapa wanita itu. Aku menggeleng. Memang aku tidak mengenalinya. Hanya saja, aku tidak asing. "Mama gak kenal, tapi gak asing, Cin." Cinta terdiam sejenak, pelayan membawakan makanan pesanan kami. Ponselku berdering. Aku mengernyit ketika melihat Cinta yang menelepon. "Kita dekat, lho. Kenapa pakai teleponan segala?" tanyaku pelan. "Suara mereka gak kedengaran, Ma. Cinta kesana, Mama perhatiin dari sini, dengerin percakapan lewat telepon." Baiklah. Ide bagus. Disini memang tidak terdengar jelas, bercampur suara pengunjung rumah makan yang berisik. Ini memang malam minggu. Rumah makan ramai, suara jadinya kurang jelas. Cinta beranjak, dia menyuruhku untuk duduk di kursi miliknya, karena disana bisa terlihat lebih jelas. Awalnya, aku ingin ikut, tapi kata Cinta, Sifa malah curiga nantinya. Apalagi akan berhadapan langsung dengan pelakor itu. Baiklah, ikuti saja permainan Cinta. "Loh, ada Tante Sifa disini. Wah, kebetulan banget, ya." Cinta langsung duduk, tanpa permisi dulu. Aku memperhatikannya dari jauh, lumayan terlihat lebih jelas "Kamu ngapain disini Cinta?" Terdengar suara Sifa, dia sepertinya sedikit panik. "Eh? Kebetulan aja, Tante. Tadi lagi cari peralatan buat kemping. Terus Cinta ke rumah makan ini, deh." Sifa terdengar berdeham. "Mama kamu dimana? Gak mungkin kamu datang kesini sendirian, 'kan?" "Ada di toko sebelah. Tante mau ngapain? Biar Cinta panggil Mama kesini." "Eh? Jangan. Jangan panggil Mama kamu." Cinta yang sudah berdiri, kembali duduk. Aku rasa, itu hanya drama saja. "Eh, ada Tante lain. Halo, Tante. Namanya siapa, nih? Saya Cinta, keponakannya Tante Sifa. Papa saya namanya Papa Seno dan Mama saya namanya Mama Firly." Terlihat Cinta mengulurkan tangan, hendak menjabat tangan Cinta. "Anggun," kata wanita itu, dia tidak menjabat tangan Cinta. Hanya memperhatikannya saja, sedangkan Cinta mengulas senyum, sama sekali tidak tersinggung. Aku membenarkan kerudung, ketika Sifa menoleh ke arah mejaku. Sesekali menunduk, takut Sifa tahu, kalau aku juga berada di rumah makan yang sama. Saat pelayan datang ke meja mereka, aku mengernyit, karena Cinta memesan minuman lagi. Sedangkan minumannya disini masih utuh. "Minta akun sosial medianya Tante Anggun. Biar kita saling kenal gitu." Anggun menyebutkan salah satu akun sosial medianya. Aku juga ikut mencari, tetapi ternyata itu akun pribadi, dikunci. Hanya orang yang mebgikutinya yang bisa melihat foto-fotonya. "Tante udah punya suami atau belum?" Aku rasa, ini bukan lagi acara ngobrolnya Sifa dan wanita simpanan itu—Anggun. Namun, ini acara Cinta dan Anggun. Hanya Cinta yang aktif berbicara. Dia berusaha mengorek informasi dari Anggun. "Ud—aw!" Mataku fokus ke meja mereka. Terlihat Sifa mencubit Anggun, kemudian menggeleng. "Belum ada. Sebentar lagi ada yang melamar." Anggun akhirnya menjawab itu. Oh, belum ada, ya? "Ditunggu undangannya, Tante. Kira-kira calonnya ganteng, gak, nih?" Cinta mengobrol seperti bersama temannya sendiri. Dia membawa suasana lebih cair. Aku bersandar ke kursi, memperhatikan mereka kembali. "Ganteng, dong." Anggun sepertinya mulai menikmati suasana. Dia juga ikut santai mengobrol dengan Cinta. "Seganteng apa sama papa saya, Tante?" Suasana mendadak hening. Aku bisa melihat, Anggun dan Sifa saling bertatapan. Sifa berdeham. "Kamu udah makan belum, Cinta? Kenapa cuma pesan minuman?" "Wah, Tante mau beliin Cinta, nih?" Suara Cinta terdengar nyaring. Dia menatap Sifa antusias. Sedangkan Sifa tampak kebingungan sendiri. "Beneran, gak, Tante? Nanti Cinta bilangin Papa, kalau Tante gak mau beliin makanan, sampai Cinta kelaparan." "Eh?" Wajah Sifa terlihat berubah. "Yaudah, pesan sana. Jangan banyak-banyak, uang Tante gak banyak." "Biar aku aja yang bayarin, kebetulan habis gajian. Sekalian buat sarana dekat sama Cinta." Anggun yang barusan berbicara. Bohong. Aku rasa, Sifa banyak mendapatkan uang dari Mas Seno. Keluarga Mas Seno memang mendapatkan uang berbeda. "Asik!" Sejak dulu, Mas Seno memang tidak pernah marah pada Cinta. Dia menyayangi Cinta. Begitu juga dengan Cinta, dia menyayangi papanya. Ya, itu dulu. Entah sekarang. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Cinta, setelah mengetahui kalau papanya menduakanku. Cinta memang terlihat tenang, tapi aku tidak tahu hatinya. Kadang, anak perempuanku itu menyembunyikan masalahnya sendiri. Ah, jangan sampai rusaknya hubunganku dengan Mas Seno, membuat mental Cinta turun. Aku menghela napas, kembali fokus mendengarkan percakapan Cinta, Sifa, dan Anggun. Menunggu beberapa menit, dengan percakapan ringan, pesanan datang. Aku melongo melihatnya. Anak perempuanku itu memang memesan satu porsi makanan, hanya saja dia membungkus banyak makanan. "Kamu buat apa sebanyak itu, Cinta?" Suara Sifa terdengar frustasi. Sifa lawan Cinta, kalau sudah berhubungan dengan Mas Seno, maka Sifa kalah. Sifat Cinta menurun dari ayahnya. Keras kepala, punya emosi tersendiri, dan tentunya penyusun rencana terbaik. Sayangnya, Mas Seno sudah ketahuan rencana buruknya itu. "Buat anak-anak di jalanan. Biar uangnya Tante gak hambur gitu aja, tapi jadi ladang pahala." Selesai makan, Cinta beranjak, tetapi dia menumpahkan minuman yang tidak diminumnya. Seperti adegan yang diputar lambat, minuman itu membasahi pakaian Anggun. "Eh? Aduh." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN