“Mas … Raga.” Lintang mundur satu langkah. Tidak pernah menduga akan bertemu pria itu, di kantor Anwar seperti sekarang. Sejauh ini, Lintang sudah menyembunyikan diri. Ia tidak pergi ke mana pun, agar tidak bertemu dengan Raga secara kebetulan, seperti di toko buku tempo hari. “Lin …” Raga tidak jadi melangkah ke dalam lift dan melanjutkan ucapannya, karena Maha tiba-tiba menghalangi jalannya. “Saya mau bicara dengan Lintang.” “Tapi klien saya tidak mau bicara dengan Anda,” balas Maha formal. “Lintang.” Raga memanggil tanpa memedulikan Maha. Dari balik bahu pria itu, Raga bisa melihat kepala Lintang yang tidak ingin menampakkan diri. Gadis itu benar-benar menghindarinya dan tampak enggan melihat Raga sama sekali. “Ayo bicara sebentar.” “Pak Raga, liftnya mau dipakai orang lain, tolong

