Chapter 17

2281 Kata
Pagi hari di hari senin yang cukup cerah, seperti biasa aku bangun pukul 6.30 KST. Ku tengok ke samping, Jungkook sudah tidak ada di tempat tidur. Mungkin dia sudah bangun seperti biasa menyiapkan sarapan untuk kita berdua. Sebelum aku memutuskan untuk beranjak dari ranjang, pintu kamar sudah terbuka dan Jungkook muncul sambil membawa nampan di tangannya. " Eoh? Sayang sudah bangun?" Ucapnya saat melihatku sudah membuka mata dan menatap ke arahnya. Aku beranjak bangun dari posisi tidurku. Jungkook segera menaruh nampannya di atas nakas kemudian membantuku duduk. " Aku sudah sembuh Jungkook." Ucapku karena Jungkook memperlakukanku seperti orang sakit. " Emang iya?" Tanyanya meragukanku. Dia segera mengecek suhu tubuhku. Di tempelkannya punggung tangannya di keningku. " Ah dahaengida (*syukurlah ) akhirnya sudah turun panasnya." Ucapnya terlihat lega. " Semalaman demam sayang cukup tinggi sampai 39°. Selain itu sayang juga mengigau. Aku sampai ketakutan." Sambungnya lagi. " Oh ya? Kalau gitu aku sudah merepotkanmu dong?" Ucapku merasa tak enak hati. " Aniyaa (*tidak). Jeoldae aniya. (*sama sekali tidak)." Balas Jungkook cepat. " Benarkah?" " Tentu saja benar. Kenapa masih di pertanyakan?" " Aaaaa.. Kalau gitu terima kasih ya suamiku." Ucapku memujinya. Kulihat Jungkook tersenyum salah tingkah. " Ngomong-ngomong aku harus segera bersiap-siap. Ini sudah siang." Ujarku kemudian beranjak berdiri. " Bersiap-siap kemana?" Tanya Jungkook mendongak melihatku. " Kerja dong." " Andwae andwae. (*tidak boleh tidak boleh)" Cegah Jungkook cepat. " Wae? (*kenapa?)" " Sayang kan baru aja baikan. Hari ini istirahatlah dulu di rumah eoh?" " Tapi hari ini kerjaan aku banyak Jungkook." Jungkook memajukan bibirnya merasa kecewa dengan jawabanku. Dengan sigap ku pegang pipinya dan ku kecup cepat bibirnya yang menggemaskan itu. CUP. " Aku udah sehat sayang. Kamu tidak perlu khawatir." Ucapku mencoba membujuknya dengan rayuan. Jungkook tak tahan untuk tidak mengulum senyum dengan rayuanku. Aku tahu dia pria yang gampang sekali salah tingkah. " Boleh ya aku kerja?" Tanyaku kembali membujuknya. " Cium aku sekali lagi." " Eoh?" Aku terkejut dengan permintaannya. " Iya, cium aku sekali lagi baru aku ijinin sayang kerja." Jawabnya menegoku. " Kok gitu?" " Ya udah kalau sayang tidak mau...." CUP. Sekali lagi aku mengecup bibirnya sekilas. " Sudah kan?" Ucapku tersenyum kemudian meninggalkannya masuk ke kamar mandi. *** Jungkook POV Aku mengulum senyum dengan perlakuan Luna yang tiba-tiba mengecup bibirku begitu saja. Bagaimana tidak, Luna itu biasanya memperlakukanku seperti layaknya teman, susah di ajak romantis dan susah sekali di gombali tapi terkadang perilakunya yang tiba-tiba agresif sering membuatku terkejut. Aku yakin pada dasarnya Luna memang sedikit agresif hanya saja mungkin terkadang masih ada rasa gengsi untuk mengungkapkannya padaku. Sesaat setelah Luna meninggalkanku, ponselku kembali bergetar. Senyumku tiba-tiba menghilang saat membaca nama yang tertera di layar ponsel. Aku langsung menekan tombol merah untuk menolak panggilan itu. Memang sejak semalam ketika aku sedang menjaga Luna saat demamnya sangat tinggi, seseorang berkali-kali menelponku. Aku mengabaikannya karena kupikir Luna lebih penting dari sekedar mengangkat telepon seseorang. Apalagi suhu tubuh Luna yang tinggi mengakibatkan dia tidur dengan mengigau. Setelah Luna sudah bisa tertidur dengan nyenyak, barulah aku bisa merebahkan diriku di sebelahnya. Ku cek ponselku di nakas terdapat 30 panggilan tidak terjawab dari seseorang yang sama, Park Sewon. * Jungkook-a? Apa kamu sudah tidur? Sebuah pesan tiba-tiba masuk ke ponselku. Aku hanya membacanya saja tanpa berniat membalas. * Kamu membaca pesanku tapi tidak mau membalasnya? Kamu juga mengabaikan 30 panggilanku sejak tadi. Kembali Sewon mengirimiku pesan karena dia tahu aku membaca pesannya tapi tidak kunjung membalas. Park Sewon, seseorang yang pernah ada di hatiku sebelum Luna. Seorang wanita yang pernah meninggalkanku demi pria lain. Yang datang kembali saat dia di campakan oleh pria b******k yang merebutnya dariku. Entah perasaan seperti apa yang membuatku tega menyakiti Luna demi wanita yang pernah menyakiti hatiku? Padahal aku tahu rasanya di tinggalkan tapi aku malah melakukannya pada Luna, memberikan rasa sakit yang sama meski pada awalnya kami sama-sama tidak saling mencintai. Aku memutuskan mengabaikan pesan Sewon. Selain karena janjiku pada Luna, aku juga tidak ingin lagi meneruskan rasa iba ku padanya. Sebab mungkin saja rasa iba akan mengembalikan rasa suka ku padanya. Dengan karakter Sewon yang manja yang agak berbeda dari Luna yang terkesan mandiri dan sulit di dapat, itu bisa membuatku kembali menyukainya. Meski sementara ini aku berhasil menepis rasa sukaku kembali pada Sewon karena perlahan Luna mulai membuatku sering tersenyum dan memikirkannya tapi bukan berarti Sewon tidak bisa lagi masuk dalam hatiku kan? Apalagi mengingat dia adalah wanita pertama dalam kehidupan percintaanku. Dan saat ini Sewon kembali menghubungiku. Meski sudah ku tolak panggilannya tapi dia tetap mencobanya lagi. Drrtttt... Sebuah pesan masuk dari Sewon. * Jungkook-a? Apa kamu benar-benar ingin memutus hubunganmu denganku? Kamu tahu bagaimana kondisi mentalku kan? Kamu adalah satu-satunya orang yang bisa menguatkanku. Sebenarnya hal inilah yang membuatku luluh untuk membantu Sewon. Entah bagaimana, wanita ini selalu berhasil membuatku iba padahal seharusnya saat ini aku membencinya bukan? Bahkan Jin hyung dan eomma pun sudah mengatakan bahwa aku adalah pria bodoh yang masih bisa menerima Sewon dalam kehidupanku lagi meski hanya sebatas rasa kasihan saja. " Jungkook? Kamu masih di sini?" Tiba-tiba suara Luna mengejutkanku. Aku langsung meletakkan ponselku di atas nakas kemudian menghampiri Luna yang baru saja keluar dari kamar mandi. " Kenapa langsung berpakaian lengkap gini sih sayang?" Ujarku yang kemudian memeluk dan mengendus bagian samping lehernya. " Jungkook... Aku sudah mau berangkat kerja ya, tolong jangan aneh-aneh." Ujarnya sambil mencoba melepaskan diri dariku. " Aneh-aneh apa sih sayang?" Ujarku tanpa berniat melepaskannya dari kungkunganku. Wangi tubuh Luna sehabis mandi memang selalu membuatku b*******h. Jika bukan karena Luna yang baru saja baikan kondisinya, aku pasti sudah meminta hakku yang tertunda kemarin. " Ini... Geli.. Lepasin dong." Ujar Luna yang akhirnya membuatku melepaskan wajahku dari lehernya. Dia berjalan ke arah nakas dan mengambil bubur yang kubawakan. " Next time tidak perlu bangun terlalu pagi untuk membuat sarapan ya? Aku tahu kamu juga pasti lelah. Aku bisa sarapan di kantor atau mungkin aku saja yang akan menyiapkan sarapannya jika sempat." Ujarnya sambil duduk dan melahap bubur yang ku buatkan. " Tidak apa-apa sayang. Jika aku lelah aku juga tidak akan membuatkan sarapan hehe." Jawabku kemudian menghampirinya dan ikut duduk di samping Luna. " Kamu mau?" Tawarnya padaku. " Ani.(*tidak) Sayang makan saja. Aku tadi sudah makan sereal." Jawabku. " Ah matta, kamu kerja berarti ketemu Sehun dong?" Tanyaku yang tiba-tiba teringat perihal Sehun. " Eoh. Kan aku sudah bilang, BA salah satu produk perusahaan adalah Sehun. Kenapa memangnya?" Tanyanya padaku. " Tidak. Aku hanya cemburu saja, Sehun bisa dekat denganmu di ruang terbuka sementara aku yang suamimu malah harus berlagak saling tidak mengenal di luar." " Pokoknya sayang jangan terlalu sering berinteraksi dengan Sehun ya, apalagi berdua-duaan." Luna ku lihat mengulum senyum mendengar peringatanku. " Kenapa sayang senyum-senyum gitu?" Tanyaku bingung padahal aku sedang mewanti-wantinya. " Suamiku mulai keluar nih sifat posesifnya." Ucapnya. " Loh emang kenapa?" " Ya tidak apa-apa sih. Hanya yang perlu kamu tahu, Sehun bilang dia sudah melepaskan perasaannya untukku jadi kamu tidak perlu khawatir. Apalagi aku juga sudah memutuskan untuk menerima pernikahan kita dan memperbaikinya kan? Justru aku yang harus mewanti-wanti kamu untuk menepati janjimu memutus hubunganmu dengan wanita itu." Ah mendengar perkataan Luna sontak membuatku merasa tersindir. Aku jadi berpikir perlukah aku jujur pada Luna bahwa Sewon masih menghubungiku? " Say....." " Aku sudah selesai sarapannya. Gomawo uri nampyeon. (*terima kasih suamiku.)" Potongnya sambil menyerahkan mangkuk yang sudah kosong kepadaku. " Ah ya.. Tapi say..." " Ayo kita berangkat, aku takut telat." Ajaknya yang kembali memotong kalimatku. Akhirnya ku urungkan niatku untuk jujur pada Luna. Mungkin nanti malam saja aku akan jujur padanya. Jungkook POV End *** Siang ini aku dan timjangnim ada jadwal bertemu dengan Sehun dan managernya untuk membahas mengenai perubahan lokasi syuting. Entahlah kenapa bisa berubah, tadi pagi timjangnim mengabarkan bahwa konsep iklannya akan mengambil latar sunrise dan Jeondongjin beach adalah pantai yang sangat terkenal dengan pemandangan indah matahari terbitnya sehingga tempat itu menjadi lokasi yang terpilih untuk latar syuting. Aku juga tidak tahu kapan perubahan ini di buat padahal aku adalah salah satu PIC untuk proyek ini selain timjangnim dan salah satu seonbaenimku. Dan jadilah hari ini tim kami sibuk dengan perubahan materi iklan. Bersyukur karena memar di wajah Sehun, dia jadi tidak ada jadwal lain dan pihak humas bisa langsung mendatanginya di apartemen. " Luna-ssi, bersiaplah kita akan menuju apartemen Oh Sehun." Ucap timjangnim yang kemudian masuk ke dalam ruangannya. " Ne timjangnim." Jawabku cepat tanpa berpikir bahwa apartemen Sehun berada satu komplek dengan apartemenku. Sekitar satu jam perjalanan aku dan timjangnim sudah berada di dalam komplek apartemen Sehun. Kami langsung menuju tower 5 dan segera menuju unit apartemen Sehun. Dan saat ini kami sudah berada di dalam apartemen Sehun. " Selamat siang Sehun-ssi.". Sapa Timjangnim. " Selamat siang timjangnim dan Luna-ssi." Jawab Sehun sambil tersenyum ke arah kami. Dan akhirnya kami membahas mengenai perubahan lokasi syuting secara mendetail. Satu jam berlalu dan akhirnya meeting kami pun selesai. " Baiklah sekian meeting hari ini. Jadi kira-kira kapan syuting kita akan bisa di mulai agar kami bisa berkoordinasi dengan pihak yang terkait?" Tanya timjangnim pada manager Sehun. " Mungkin dua hari lagi memarnya sudah bisa tertutupi make up dengan sempurna timjangnim." " Baiklah kami akan tetapkan lusa proses syutingnya bisa di mulai." Setelah mencapai kesepakatan akhirnya kami pun pamit dari kediaman Sehun. " Luna-ssi?" Panggil Sehun begitu aku dan timjangnim beranjak dari duduk. " Ne." Jawabku yang kemudian menghentikan langkah. " Bisakah meluangkan waktu sebentar? Aku ingin sedikit berbincang mengenai sesuatu hal. ( diam sejenak kemudian menatap timjangnim dan managernya bergantian) Empat mata saja?" Tanyanya. Timjangnim dan managernya memberikan waktu pada kami untuk berdua. Timjangnim dan manager Sehun akhirnya meninggalkan apartemen. " Wae Sehun-a? (*kenapa Sehun?)" Tanyaku pada Sehun ketika kami sudah berdua saja. " Tidak, aku hanya merindukanmu saja. Tidak apa-apa kan?" Tanyanya. Aku menatapnya intens. " Sehun-a? Kamu bilang kamu...." " Iya aku tahu Luna tapi..." Potongnya atas kalimatku. Dia kemudian menghela napas berat. " Tolong mengerti bahwa perasaan suka tidak bisa langsung hilang begitu saja kan? Maafkan aku tapi aku juga butuh waktu untuk melupakanmu. Dan terus terang aku belum terbiasa untuk tanpa kabar darimu. Meskipun aku selalu menahannya selama ini karena tidak ingin memperkeruh hubunganmu dan Jungkook tapi ternyata jika melihatmu rasaku masih tidak berkurang sedikitpun. Aku masih sangat menyukaimu dan aku masih sangat nyaman berada di dekatmu. Jadi tolong jangan terlalu menjaga jarak denganku. Ini terlalu mendadak. Aku janji aku akan menahan diri tapi setidaknya biarkan aku tetap menjadi orang terdekatmu setelah Jungkook." Aku masih menatap Sehun tanpa tahu harus menjawab apa. Sejujurnya aku pun tak tahu perasaan apa yang kurasakan pada Sehun sekarang? Aku memang merasa bahwa aku mulai menyukai Jungkook tapi yang di katakan Sehun juga benar bahwa rasa suka tidak bisa hilang begitu saja. Jujur aku pun masih menyukai Sehun hanya saja entah kenapa aku memang merasa saat ini aku agak menjaga jarak dengannya demi kelangsungan pernikahanku dengan Jungkook. TING... TONG... Aku dan Sehun menatap ke arah pintu apartemen. Fokus pembicaraan kami tiba-tiba saja hilang. Sehun langsung berjalan membukakan pintu apartemen. " Yakk Sehun-a lama sekali kamu membukakan pintu." Seseorang mengomel dari balik pintu saat Sehun baru saja membukanya. Tak lama seseorang itu masuk dan langkahnya terhenti begitu pandangan kami bertemu. " Eoh? Wanita fansign?" Panggilnya begitu melihatku. Ya ternyata yang datang adalah salah satu member EXO yaitu Park Chanyeol. Aku membungkukkan badan menyapanya dengan hormat. Dia langsung membalas cepat sapaanku. " Kalian sedang apa berduaan di sini?" Tanya Chanyeol oppa padaku dan Sehun. " Kami ada urusan pekerjaan hyung." Jawab Sehun yang kemudian berjalan mendekatiku. " Pekerjaan apa yang hanya berdua saja di apartemen? Pasti kalian ada sesuatu kan? Hayoooo ngaku." Tuduh Chanyeol oppa pada kami. " Tidak lah hyung, kami tidak ada hubungan apa-apa." Ujar Sehun. " Aaa.. Benarkah?" Tanya Chanyeol oppa seolah tidak percaya. " Tentu saja." Balas Sehun. " Mmmm... Kalau begitu aku pamit saja Sehun." Ujarku meminta ijin pergi karena jujur saja aku memang agak canggung berada bersama Sehun sekarang. Entahlah perasaanku selalu merasa bersalah pada Jungkook jika aku berduaan saja dengan Sehun. Apalagi saat ini malah muncul Chanyeol oppa yang membuat situasi malah semakin sulit. Aku juga takut jika keberadaanku saat ini di apartemen Sehun berdua saja akan menimbulkan salah paham di kemudian hari. " Tunggu Luna." Sehun menahan lenganku saat aku baru saja melangkahkan kaki meninggalkannya. Mau tak mau aku harus menghentikan langkah. Aku menoleh kembali padanya. " Tolong pikirkan apa yang ku katakan tadi ya?" Ucap Sehun yang di ikuti dengan tatapan penasaran dari Chanyeol oppa. Aku langsung melipir pergi setelah menanggapi permintaan Sehun barusan dengan senyum canggung. Saat baru saja membuka pintu apartemen, tiba-tiba aku terkejut melihat seseorang yang sudah berdiri di hadapanku saat ini. " Jj.. Jungkook?" Aku sampai tergagap menyebut nama suamiku sendiri. " Luna?" Panggilnya dengan ekspresi wajah yang tak kalah terkejutnya denganku. Tak lama wajah Jungkook berubah dingin kemudian dia mulai bertanya yang terdengar seperti interogasi kepada seorang tersangka. " Kamu sedang apa di sini? Bukankah seharusnya kamu di kantor?" Bahkan panggilan 'sayang' yang sejak kemarin selalu tersemat saat memanggilku, kini berubah menjadi 'kamu'. " Siapa Luna?" Sehun tiba-tiba saja sudah berada di sebelahku dan dia juga terkejut dengan kehadiran Jungkook yang berada di hadapan kami. " Jeon?" Panggil Sehun pelan. Jungkook menatap Sehun dan aku secara bergantian dan berakhir dengan menatap tajam padaku. " Jadi ini alasan kamu semangat sekali pergi bekerja Luna?" Tanya Jungkook padaku. " Kami hanya membahas masalah pekerjaan saja Jeon. Itupun...." Sehun mencoba menjelaskan keadaan namun Jungkook langsung memotongnya. " Aku tidak sedang bertanya padamu Sehun-ssi." Jungkook menatap tajam padaku namun entah kenapa aku tidak bisa menjawab apa-apa. Inilah yang aku takutkan sejak tadi, keberadaanku di apartemen Sehun akan menimbulkan kesalahpahaman. Jungkook langsung mengambil lenganku dan menariknya keras untuk mengikutinya. Aku hanya bisa pasrah mengikuti kemana Jungkook pergi. ___ bersambung___
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN