Chapter 1
Hari ini aku menghadiri acara fansign EXO. Aku bukan seorang EXO-L, hanya menyukai salah satu membernya yaitu Oh Sehun. Dari kejauhan kulihat idolaku tersenyum dan membungkuk menyapa para penggemarnya.
Setelah mengikuti rangkaian acara, tiba saatnya penggemar mendapatkan sesi tanda tangan dan berbincang dengan idolanya. Sebenarnya aku hanya ingin bertemu dengan Sehun saja tapi aku tetap harus melewati semua member sebelum Sehun sebagai bentuk penghormatanku pada Grup EXO.
" Namamu?" Tanya Suho padaku.
" Luna." Jawabku singkat sambil sesekali menoleh pada pria pujaan hatiku, Sehun.
" Kamu lihat siapa?" Tanya Suho lagi yang mungkin merasa bingung karena aku selalu menoleh ke samping.
Aku mengembalikan fokusku pada Suho kemudian menarik senyum canggung.
" Ah tidak."
Suho kulihat menertawaiku.
" Siapa biasmu? Chanyeol? D.O? Atau maknae kita Sehun?" Tanya Suho lagi.
" Boleh aku berbisik?" Tanyaku karena merasa malu.
" Tentu."
Kudekatkan wajahku pada telinga Suho.
" Sejujurnya aku datang untuk Sehun, oppa." Bisikku yang langsung di hadiahi sorakan dari EXO-L. Bukan karena apa yang kubisikkan pada Suho melainkan apa yang kulakukan padanya. Aku langsung tersadar dan memundurkan wajahku dari Suho.
" Yaaakk Sehunie? Dia datang untukmu."
Tiba-tiba saja Suho berteriak pada Sehun yang berada di ujung meja. Sehun dan semua member langsung menoleh padaku di ikuti teriakan para EXO-L lagi.
Aku malu bukan karena teriakan dari EXO-L melainkan karena Sehun yang tiba-tiba menoleh dan menjadi fokus kepadaku.
" Ah jinjja hyung?" Teriaknya dari ujung sana.
" Kamu mau langsung ke Sehun saja?" Suho menawariku, tapi saking malunya aku sampai tidak bisa menjawab, hanya bisa tertawa dengan kaku saja.
" Dia ingin melewati member yang lain katanya."
" Aniyooo."
Aku langsung protes mendengar Suho bilang aku ingin melewati member yang lain. Tentu saja aku harus mengklarifikasi, karena meski aku hanya menjadi solo stand Sehun tapi aku harus menghormati EXO-L yang bahkan untuk bisa menghadiri fansign ini mereka harus merogoh dalam-dalam kantong mereka. Dan belum tentu juga meski sudah mengeluarkan banyak uang, mereka terpilih untuk bertemu dengan EXO. Dan aku sangat beruntung meski tidak tergabung dalam fandom tapi aku berhasil dapat tiket untuk bertemu dengan EXO. Dan lebih mengharuskanku untuk protes karena saat ini aku menjadi pusat perhatian semua orang.
Setelah insiden memalukan itu dan setelah melewati beberapa member seperti Chanyeol, D.O, Kai, akhirnya sampailah aku di depan Oh Sehun, seorang yang sangat ku kagumi.
" Hai cantik, nama kamu?" Tanyanya dengan suara yang membuat jantungku berdesir.
" Luna."
" Kamu cantik sekali."
" Ah kamsahamnida ( *terima kasih)."
Tiba-tiba saja Sehun menuliskan sesuatu dan langsung menyelipkannya di dalam genggamanku sambil mengedipkan sebelah matanya.
Aku begitu terpana sampai lupa bahwa batas waktuku untuk mengobrol dengan Sehun sudah selesai. Dan aku segera pergi dari hadapan Sehun dan yang membuatku terkejut, ternyata Sehun menggengam tanganku sekilas sebelum aku melangkah dari hadapannya.
***
Dua bulan setelah acara fansign EXO, aku dan Sehun menjadi lebih dekat. Ternyata sesuatu yang di selipkan di tanganku dua bulan yang lalu adalah pesan agar aku menghubunginya dan dia memberikan nomor ponselnya padaku. Ahh aku merasa menjadi penggemar paling beruntung. Bagaimana tidak, aku bisa mendapatkan EXO fansign invitation padahal aku bukan seorang EXO-L, selain itu idolaku bahkan tertarik padaku di pertemuan pertama kita bahkan sampai memberikan nomor ponselnya.
* Luna? Pulang kerja nanti bisa bertemu?
Sebuah pesan masuk di ponselku dari Sehun. Aku hanya bisa mengulum senyum saking girangnya mengingat posisiku yang masih bekerja. Mungkin jika Sehun mengirimiku pesan di luar jam kerja, sudah dipastikan aku akan berjingkrak-jingkrak setelah membaca pesannya.
Aku sedang mengetik balasan untuk Sehun tapi belum juga selesai mengetik tiba-tiba saja Sajangnim memanggilku.
" Aluna-ssi?" Panggil beliau.
Aku langsung berdiri saat melihat Sajangnim yang merupakan papa kandungku sudah berdiri di sebelah bilik kerjaku.
" Ne, Lee Sajangnim."
" Follow me!" Perintahnya dengan ibu jari dan bola mata yang di arahkan ke arah President Room.
Aku membuntuti Direktur berjalan perlahan di belakangnya di iringi dengan tatapan para karyawan yang memang tidak tahu bahwa aku adalah anak dari Direktur mereka.
" Waeyo pa? Papa bikin kaget karyawan aja sampai panggil aku ke ruangan." Ucapku saat baru saja menutup pintu ruangan Direktur.
Papa menghempaskan diri di kursi kerjanya.
" Kosongin jadwal kamu setelah pulang kerja ya."
Tiba-tiba saja papa menyuruhku untuk mengosongkan jadwalku setelah kerja. Aku yang teringat akan ajakan Sehun pun melakukan protes dengan cepat.
" Engga bisa pa, Luna ada janjian sama temen Luna abis pulang kerja." Ucapku menolak.
" Pokoknya kamu harus ikut papa sore ini. Papa tidak terima penolakan." Ucapan papa terdengar memaksa.
" Emang ada apa sih? Luna beneran engga bisa pa." Tolakku sekali lagi.
" Nanti papa akan jawab saat waktunya tiba."
Aku merasa bingung sendiri tapi tidak sempat memikirkannya karena yang berkecamuk di pikiranku sekarang adalah bagaimana cara memberitahu Sehun bahwa aku tidak bisa menemuinya sore ini. Padahal ini adalah kesempatan langka untukku bisa bertemu dengan idola.
***
Dan tiba waktu setelah pulang bekerja aku dan papa pergi ke tempat yang aku sendiri tidak tahu karena aku tidak terlalu memperdulikan keadaan, sibuk dengan chatku dengan Sehun.
Dan akhirnya mobil menepi. Aku menatap ke luar dan mendapati pemandangan yang tidak asing bagiku.
" Lah katanya mau pergi, kenapa malah pulang ke rumah?" Tanyaku bingung.
" Anak itu mengubah tempat pertemuannya." Jawab papa yang kemudian keluar dari mobil di ikuti olehku.
" Anak itu siapa? Sebenarnya kita mau ketemu siapa sih?" Tanyaku penasaran sebab papa tidak memberitahukan apapun mengenai hal ini sejak tadi.
" Ketemu sama calon suami kamu."
" MWO? ( *APA? ) Calon suami? Papa bercanda?"
Aku terkejut sampai menghentikan langkah saat papa menyebut kata calon suami.
" Engga. Papa engga bercanda. Sebentar lagi calon suami kamu juga datang. Papa harap kamu bisa bersikap baik sama dia. Dia anak teman papa dan seorang superstar." Ucap papa tanpa merasa bersalah sedikitpun padaku.
" Jangnan hajima pa (* Jangan bercanda pa ) Luna engga mau di jodoh-jodohin." Tolakku mentah-mentah kemudian langsung berjalan melewati papa begitu saja.
" Ini adalah wasiat mama, Aluna."
Suara papa menghentikan langkahku.
" Papa hampir melupakan wasiat mama kalau saja kedua orang tua Jungkook tidak menghubungi papa untuk bertanya mengenai perjodohan kalian." Sambung papa.
" Papa minta maaf kalau ini terkesan mendadak untuk kamu tapi apa kamu juga akan menolak jika ini adalah permintaan mendiang mama?"
Pertanyaan papa barusan membuatku sedikit menitikkan air mata. Menyebut mama saja hatiku sudah terasa teriris. Aku selalu merasa bersalah karena aku menjadi satu-satunya orang yang selamat pada kecelakaan yang menjadikan mama meninggal. Jadi jika ini permintaan mama haruskah aku menolaknya?
" Setidaknya temui Jungkook dulu Luna." Ucap papa lagi yang tidak bisa ku protes.
Aku hanya diam sembari mengelap sudut mataku yang berair.
Di luar terdengar suara mobil berhenti tepat di belakang mobil kami. Aku sontak menoleh begitupun dengan papa. Tak lama sosok pria yang terlihat familiar keluar dari mobil.
" Annyeonghasimnika Ahjussi."
Pria itu membungkukkan badan pada kami kemudian berjalan masuk menghampiri papa.
" Aahhh Jungkook-ah ayo masuk!" Ucap papa pada pria yang masih belum bisa ku tebak siapa, hanya merasa familiar saja dengan nama dan wajahnya.
Papa dan pria bernama Jungkook itu berjalan ke arah sofa tamu sedangkan aku masih setia berdiri di tempat dengan raut wajah yang tidak bersahabat.
" Luna? Kamu ngapain di situ? Sini!" Ucap papa sambil menunjuk tempat di sebelah pria bernama Jungkook itu.
Aku berjalan malas mengikuti perintah papa untuk duduk di sebelah Jungkook.
" Jungkook-a?" Panggil papa pada pria di sampingku.
" Ne, Ahjussi."
" Panggil papa saja nak." Pinta papa pada bocah itu.
Aku jujur saja jadi mengamati wajahnya yang sekilas mirip seseorang yang ku kenal. Tapi entah siapa? Otakku tidak dapat mengingatnya.
" Ne, papa. " Jawab pria itu yang kulihat jadi risih karena ku amati.
" Maaf, apa kamu seorang army?" Tanya Jungkook tanpa menoleh padaku. Dia bahkan menutupi sebelah wajahnya dariku dengan telapak tangan.
" Eoh?"
Aku terkejut mendengar pertanyaannya dan sedetik kemudian otakku mulai merasa tersambung.
" Ah matta ( *Oh iya ) Kamu Jeon Jungkook yang di sebut-sebut golden maknae nya BTS kan? " Tanyaku yang akhirnya bisa mengingat wajah pria yang duduk di sebelahku ini.
Dia menganggukkan kepala dengan tersenyum kaku.
" Papa kan sudah bilang kalau calon suami kamu itu superstar." Ucap papa ikut bicara.
" Apakah setelah tahu dia member BTS, kamu bersedia menikah dengan Jungkook, Luna?" Sambung papa.
" Apa Aluna tidak bersedia menikah dengan saya ahjussi, eh papa?"
Tiba-tiba pria itu bertanya kesediaanku untuk menikah dengannya.
" Yaak, Jeon Jungkook. Menurutmu apa wajar aku menerima perjodohan dengan pria yang bahkan belum pernah ku kenal?" Tanyaku pada Jungkook.
" Wajar saja, karena buktinya aku pun bisa menerima perjodohan dengan wanita yang bahkan belum pernah ku kenal." Jawabnya yang membuatku kesal.
" Jadi apa kamu menerima perjodohan dengan Luna, Jungkook?" Papa kembali nimbrung dengan pembicaraanku dengan Jungkook.
" Terus terang saja dengan kesibukan saya di BTS menjadikan saya tidak memiliki waktu untuk berkencan. Dan ternyata eomma dan appa juga memiliki janji dengan sahabatnya untuk menikahkan putranya dengan putri papa. Dan memang Jung Hyun hyung juga sudah memiliki kekasih, jadi bukankah sudah seharusnya saya yang menjalani perjodohan ini?" Ujar Jungkook yang membuatku tersenyum tak percaya dengan apa yang di katakannya.
" Jadi kamu menerima perjodohan ini karena keterpaksaan kan? Lebih baik kita batalkan saja perjodohannya." Jawabku memberikan ide.
" Di manapun namanya perjodohan pasti sebuah keterpaksaan Aluna Lee. Apalagi kita memang tidak saling di perkenalkan sebelumnya. Tapi kesediaan untuk menjalani keinginan orang tua adalah tugas kita sebagai anak. Aku rasa cinta bisa di tumbuhkan seiring dengan kebersamaan kita nanti."
Kata-katanya telak membungkamku. Niat hati ingin membatalkan perjodohan, sepertinya ini akan sulit mengingat Jeon Jungkook ini sepertinya menerima dengan senang hati perjodohan kami.
" Apa yang di katakan Jungkook benar Luna. Kamu harus belajar banyak dari kedewasaannya." Papa tentu saja setuju dengan perkataan Jungkook barusan.
" Lagi pula perjodohan ini juga permintaan mendiang mama Luna. Apa kamu engga mau mengabulkan permintaan mama?" Sambung papa yang jelas sekali bahwa aku tidak akan bisa menolak jika itu mengenai mama.
" Apa aku bisa bicara dulu dengan Jungkook pa?" Pintaku pada papa.
" Of course. Papa akan beri waktu kalian berdua untuk bicara. Papa bisa masuk dulu ke dalam. Papa tinggal dulu ya Jungkook?" Ucap papa yang kemudian meminta izin untuk masuk ke dalam.
Dan di sinilah aku, duduk berdua dengan seorang Jeon Jungkook yang seorang selebriti papan atas dan bahkan seorang aset negara. Jika dipikir-pikir dengan seksama, kapan lagi aku bisa mendapatkan calon suami seorang yang begitu hebat seperti dia? Kulihat dia pun tampan, bahkan wajahnya terlihat seperti bayi, terlalu imut untukku yang memiliki wajah boros. Tapi... Bukankah cinta bukan hanya memandang fisik, kehebatan dan kekayaannya saja? Jujur saja hatiku sudah di bawa oleh Sehun. Dan jika aku mau over confident, sepertinya Sehun juga menyukaiku. Ah kenapa bukan Sehun saja sih yang di jodohkan denganku?
" Kamu mau ngomong apa?" Tanyanya memecah lamunanku yang sudah bepergian kemana-mana.
" Eoh? Engga... Aku cuma mau tanya, kenapa kamu bersedia menikahiku padahal kamu juga engga kenal sama aku? Kamu kan aset negara, engga mungkin kamu engga ada seseorang yang di suka kan? Oke lah kalau kamu bilang engga ada waktu untuk berkencan tapi untuk seseorang yang di suka atau pacar, pasti punya dong. Lagi pula jujur saja nih, aku udah punya seseorang yang di suka." Ucapku jujur.
" Sudah ku bilang aku hanya menjalani baktiku pada eomma dan appa. "
" Kenapa kamu harus bersikeras seperti itu sih? Memang kamu sanggup mencintai seorang wanita yang mencintai laki-laki lain?" Tanyaku masih berusaha ingin membuat Jungkook memiliki pemikiran untuk membatalkan pernikahan.
" Kamu hanya mencintainya kan? Bukan menjadi miliknya?"
" Ii.. Iya sih."
" Sekalipun kamu berpacaran dengan dia, aku engga akan mengganggu kehidupan pribadimu. Kita jalani saja pernikahan keinginan orang tua kita. Kamu juga tidak perlu mencampuri urusan pribadiku. Aku juga tidak akan menyentuhmu sama sekali. Pernikahan kita hanya memenuhi kewajiban kita sebagai anak."
" Tapi.. Bukankah itu terdengar keterlaluan? Kita mempermainkan pernikahan yang seharusnya sakral bukan?" Ucapku dengan nada yang melemah.
" Ya itu terserah padamu Luna. Apa kamu tega tidak memenuhi permintaan mendiang mama kamu? Tapi yang jelas aku tidak akan menjadi pihak yang tidak menyetujui rencana perjodohan ini." jawab Jungkook yang membuatku jadi banyak berpikir, menimbang-nimbang apakah seharusnya ku terima saja tawarannya? Toh aku masih bisa menjalin komunikasi dengan Sehun. Dan dia juga berjanji tidak akan menyentuhku.
" Tapi apa benar kamu tidak akan menyentuhku selama pernikahan kita?" Tanyaku ragu.
Dia menganggukkan kepala.
" Selama kita sama-sama tidak menginginkannya, aku janji tidak akan menyentuhmu dan mengusik kehidupan pribadimu. Begitupun sebaliknya, aku juga tidak ingin kamu mengusik kehidupan pribadiku. Tapi kita tetap harus terlihat mesra di depan orang tua kita dan juga di depan keluarga BTS ku. Dan satu lagi pernikahan kita tidak akan di publish mengingat BTS masih menjadi artis yang di minati media dan agensi menginginkan kami menutup rapat-rapat kehidupan pribadi kami." Ujarnya.
" Oke. Kalau gitu kita sepakat. "
***
Sebulan kemudian pernikahanku dan Jeon Jungkook pun di gelar. Mewah namun di buat tertutup. Undangan pun di buat terbatas, yang hadir hanya beberapa kerabat dari pihak Jungkook dan beberapa rekan kerja papa. Bahkan karyawan kantor papa pun tidak ada yang tahu.
Kami berdua berdiri di atas altar setelah menyelesaikan proses pemberkatan pernikahan.
Seseorang yang ku tahu adalah salah satu member BTS yang bernama Jin berteriak dari bawah.
" Jungkook-a, kisseu kisseu."
Aku berubah khawatir saat mendengar kata kiss. Aku bahkan melupakan salah satu prosesi penting dari pernikahan.
" Kisseu.. Kisseu.. Kisseu..."
Di mulai dari Jin yang berteriak, akhirnya seluruh undangan meneriakkan kami agar berciuman. Aku menatap Jungkook mencari jawaban.
" Mungkinkah jika kita tidak berciuman Jungkook?" Tanyaku lebih kepada berbisik.
" Seepertinya itu bukan ide yang bagus. Maaf sepertinya aku akan menciummu. Jangan canggung serahkan saja semuanya padaku."
" Tt.. Tapi.."
" Kisseu.. kisseu.. Jungkook-a.... Alunaa. Kisseu palli ( *Cium cepat ) "
Teriakan para undangan terutama member BTS semakin keras terdengar.
" Tenanglah, biar aku saja yang bertindak."
Jungkook tiba-tiba menggenggam tanganku dan mendekatkan wajahnya padaku, bibirnya menciumku lembut. Ah rupanya seperti ini rasanya berciuman. Ciumannya yang hanya sebatas melumat dua kali bibirku menjadikanku diam mematung setelahnya. Entah apa yang kupikirkan sekarang? Jujur saja aku baru kali ini berciuman dengan seorang pria.
" Maaf Luna." Ucap Jungkook mengakhiri ciuman kami dengan berbisik di telingaku.
Suara riuhan tepuk tangan dan teriakan tidak menjadikan telingaku tuli untuk mendengar kata maaf dari mulut Jungkook. Meski sudah mencuri ciuman pertamaku tetap saja aku harus memaafkan seorang Jeon Jungkook kan? Meski dengan berbagai syarat, dia tetap suamiku sekarang. Dia berhak atas bibirku. Ah kenapa aku begitu kesal dia mengambil ciuman pertamaku?
Setelah prosesi pernikahan selesai, Jungkook mengajakku menemui kawan-kawan BTS nya.
" Yaaa.. Jungkookie. Hyung iri sekali denganmu. Bagaimana rasanya berciuman di depan orang-orang?" Tanya seseorang yang sepertinya bernama Taehyung.
" Yak hyung, apa sih? Kookie jadi malu." Ucap Jungkook yang terlihat mendalami peran.
" Eiiyy Jungkookie, ternyata kamu menjadi member yang menikah pertama. Bahkan kamu melangkahi jin hyung." Ucap salah satu kakak Jungkook yang sepertinya bernama Jhope.
Jujur saja aku tidak bisa menghafal nama keseluruhan member meski Jungkook sudah pernah memperkenalkanku pada mereka sebulan yang lalu.
" Bagaimana kalau nanti malam kita pesta untuk melepas masa lajangmu?" Ucap salah satu member yang terlihat paling kecil.
" Ya, Jimin-ah. Bagaimana kamu bisa berpikir untuk mengganggu kegiatan pasangan pengantin baru?"
" Betul itu suga hyung, nanti malam aku ingin malam pertama dengan istriku Luna. Iya kan baby?" Tanya Jungkook padaku sembari melingkarkan tangannya di pinggangku.
Aku melotot padanya. Bisa-bisanya dia berbicara hal sevulgar itu di depan teman-temannya? Tidakkah dia merasa risih? Setidaknya hargai aku yang satu-satunya wanita di antara mereka.
" Yaa.. Kookie. Istrimu malu lah kamu mengatakan hal seperti itu di depan kami." Ucap Jin oppa yang terdengar paling waras di antara yang lain.
" Hehe. Soalnya kookie juga engga sabar kali hyung mau merasakan indahnya malam pertama." Balas Jungkook yang membuatku langsung menoleh tajam ke arahnya.
Jungkook tersenyum padaku.
" Bercanda Luna sayang." Ucapnya padaku yang sukses membuatku kesal.
" Ah sudahlah kalian bergegas pulang saja, kalian nikmati indahnya malam pertama. Ingat kook jangan terlalu brutal, mungkin ini pengalaman pertama untuk Luna." Ucap Taehyung yang jujur saja membuatku tidak nyaman.
" Yak Kim Taehyung. Kata-katamu seperti kamu berpengalaman saja." Ucap Jin oppa.
" Iya betul hyung, bisa jadi Jungkookie lebih berpengalaman dari kamu Tae." Ucap seseorang yang ku tahu adalah leader grup BTS.
" Woaaaa Namjoon hyung. Kookie masih segelan loh." Jungkook terlihat tidak terima dan berusaha menjelaskan padaku yang memang terkejut dengan pernyataan leader grup yang bernama Namjoon itu.
" Jangan bilang gitu nanti Luna salah paham." Sambung Jungkook lagi.
" Hahahaha."
Mereka ber enam menertawakan Jungkook yang terlihat kesal.
" Luna-ssi, tenang aja Jungkook bukan laki-laki yang engga baik kok. Dia badan aja yang bertatoo tapi kelakuan masih kaya bayi." Jhope oppa menjelaskan padaku yang hanya kujawab dengan tertawa canggung.
Dan akhirnya setelah banyak bercanda dan menemui beberapa kerabat, akhirnya aku dan Jungkook pulang ke apartemen yang di siapkan khusus untuk hadiah pernikahan kami.
___ bersambung___