Aku dan Jungkook masuk ke apartemen baru kami yang di belinya sebagai hadiah pernikahan. Baru saja memasuki pintu, aku dan Jungkook sudah di sambut dengan banyaknya kelopak mawar merah yang bertebaran di lantai, saking banyaknya bahkan terlihat seperti karpet merah. Di ujung dari karpet merah kelopak bunga ini bahkan terbentuk lambang hati dan tulisan "I love you" yang di rangkai dengan kelopak mawar juga, tak lupa lilin yang mengitari lambang hati itu menambah kesan romantis. Aku merasa takjub dengan pemandangan di depan mataku. Seumur-umur aku baru kali ini merasakan suasana romantis. Tapi benarkah ini Jungkook yang mempersiapkannya untukku? Kalau iya sungguh romantis sekali suamiku ini.
" Jungkook? Kamu mempersiapkan ini untukku?" Tanyaku tanpa basa basi.
Jungkook langsung berjalan ke arah dapur meninggalkanku yang penasaran dengan jawabannya.
" Mana mungkin. Aku tidak ada perasaan apapun sama kamu." Jawabnya sembari membuka kulkas dan meneguk minuman yang di ambilnya.
" Terus ini?" Tanyaku sambil menunjuk rangkaian kelopak bunga yang sejak awal membuatku takjub.
Jungkook mengangkat bahunya.
" Mungkin eommaku. Soalnya eomma satu-satunya yang tahu sandi apartemen ini. Tapi besok aku akan segera menggantinya demi privasi kita berdua." Jawabnya
" Lagian eomma ada-ada aja, bikin sampah di rumah." Sambung Jungkook mengomel.
" Heii. Ini cantik, kenapa kamu bilang sampah?" Aku protes dengan kata-kata Jungkook.
" Lagipula ini adalah hadiah eomma untuk pernikahan kita Jeon Jungkook." Sambungku lagi sambil berjalan mendekati lambang hati dan menyentuh kelopak mawar itu dengan tanganku.
Kulihat Jungkook meninggalkanku memasuki sebuah ruangan yang berada tak jauh dari tempatku berdiri.
" Ah eomma, apalagi sih ini, kenapa kamar pakai di hias-hias seperti ini sih?"
Ku dengar Jungkook mengomel dari dalam ruangan yang di masukinya.
" Luna? Kamu pakai kamar ini aja, aku malas membersihkannya. Aku akan pakai kamar yang di atas." Ucap Jungkook padaku yang langsung berjalan meninggalkan ruangan itu dan bergegas menuju tangga.
" Eh tt...tunggu. Kita berpisah kamar?" Tanyaku yang membuat langkah Jungkook terhenti.
Dia menoleh padaku dengan tatapan tajamnya.
" Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu mengharapkan kita berada di satu kamar? Apa kamu benar-benar menganggap aku ini suamimu?" Tanya Jungkook yang sepertinya salah paham denganku.
" Heii bukan begitu. Meskipun kenyataannya kamu adalah suamiku tapi aku bukan meminta agar kita tidur bersama. Aku hanya tidak bisa tidur sendirian di tempat yang baru."
" Jadi?" Tanya Jungkook yang terlihat bingung.
" Tolong untuk malam ini setidaknya temani aku sampai aku tidur." Ujarku memohon padanya.
Memang sejujurnya aku takut berada di tempat yang baru. Pernah suatu kejadian ketika aku di Indonesia dan sedang berlibur dengan kedua orang tuaku, aku dipesankan kamar sendiri tanpa connecting room dengan kedua orang tuaku dan tak tahunya memang hotel yang kami singgahi itu mengandung hawa mistis. Dan entah apes atau apa, aku memang sedikit di ganggu dengan makhluk-makhluk astral. Dan jadilah setelah kejadian itu aku menjadi ketakutan setiap tidur di tempat baru dan dalam keadaan sendirian.
" Tidak. Kita sudah sepakat untuk tidak saling mengusik satu sama lain. Jadi aku tidak berkewajiban untuk menemanimu kan?" Dengan teganya dia menolak mentah-mentah permintaanku.
" Tt.. Tapi....."
Kalimatku terpotong saat tiba-tiba Jungkook mengangkat ponselnya dan berbicara.
" Eung, Sewon-a? Musseun ill isseo? (*ada masalah apa?)"
Kulihat Jungkook naik ke atas tanpa memperdulikanku lagi.
Aku menatap kesal pada pria itu yang tega meninggalkanku bahkan di saat aku belum selesai berbicara. Tapi aku memutuskan untuk tidak perduli dengan apa yang di lakukannya, aku segera memasuki ruangan yang tadi di masuki Jungkook.
" Woaaahhh. Romantis sekali. Bagaimana bisa Jeon Jungkook melihat hal seindah ini sebagai sampah? Ah bahkan aku saja bisa berbaring di atas kasur yang berisi tebaran kelopak mawar tanpa menyingkirkan mereka." Monologku saat baru memasuki kamar yang akan menjadi kamarku seutuhnya.
Ting.
Bunyi pesan di ponselku yang baru sempat ku pegang sejak pagi tadi karena terlalu sibuk dengan pernikahan.
Kulihat ke layar ponsel ada tujuh message dan lima panggilan tidak terjawab yang semuanya dari Sehun.
* Luna? Mwohae? ( *lagi ngapain?)
* Bappa? (*Sibuk?)
* Luna? Bisakah kita bertemu?
* Kamu kenapa tidak membalas pesan? Aku ada salah?
* Luna?
* Luna? Please, aku punya salah?
* Luna, aku merindukanmu.
Seketika hatiku langsung jungkir balik membaca pesan terakhir dari Sehun.
" Sehun merindukanku? Woaaaaaaaa.... Ini nyata atau tidak?"
Aku berguling-guling dari ujung tempat tidur satu ke ujung tempat tidur yang lain.
Kembali ada panggilan masuk dari Sehun dan kali ini aku dengan sigap mengangkatnya.
" Aaaa... Dahaengida (*syukurlah ) akhirnya kamu angkat juga panggilanku Aluna." Ujarnya begitu aku mengangkat telepon.
" Maafkan aku Sehun. Seharian ini aku sibuk. Aku....."
" Gwaenchana (* Tidak apa-apa ) Yang terpenting kamu udah ada kabar."
" Hehe. Kamu ada apa terus menghubungiku Sehun?"
" Tidak. Aku hanya merindukanmu hari ini. Entah kenapa aku ingin sekali bertemu denganmu sekarang."
" Sekarang?" Tanyaku memastikan.
" Eung. Apa bisa? Aku bisa menjemputmu. Atau kamu mau datang ke apartemenku?"
Seketika jantungku berdegup dengan kencang. Sehun mengajakku ke apartemennya? Ah haruskah aku melewatkan lagi kesempatan untuk bertemu dengannya? Kulihat jam baru menunjukkan pukul 7 malam.
" Luna?"
Panggilannya menyadarkanku dari banyak pertimbangan.
" Eoh? Aku harus minta ijin papaku dulu." Ujarku berbohong karena tiba-tiba saja saat pandanganku mengitari seluruh ruangan, seketika aku tersadar bahwa aku sudah menjadi istri dari seorang Jeon Jungkook. Haruskah aku pergi ke rumah pria lain bahkan di hari pernikahanku? Meski aku dan Jungkook sudah sepakat tidak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing tapi bukankah keterlaluan jika aku pergi ke tempat pria lain tanpa seijinnya? Jadi lebih baik ku tanyakan dulu pada Jungkook.
" Oke. Nanti kamu kabari saja, ingin kujemput atau kamu bisa datang ke apartemenku? Maaf ya aku tidak bermaksud buruk dengan mengundangmu ke rumahku, hanya saja di luar terlalu..."
" Hei Sehunie, aku tahu kok. Kamu kan seorang bintang. Aku tidak berpikiran buruk dengan ajakanmu ini." Potongku atas perkataan Sehun.
" Wah makasih kamu udah pengertian Luna."
" Haha engga perlu terima kasih Sehun. Kalau gitu aku tanya papaku dulu ya, nanti ku kabari apa aku bisa bertemu kamu hari ini? Kututup dulu teleponnya yah?"
" Oke."
Akhirnya ku tutup sambungan teleponku dengan Sehun. Aku bergegas berganti pakaian dan keluar kamar mencari keberadaan Jungkook.
Aku berjalan menaiki tangga dan mencari kamar pria yang sudah menjadi suamiku itu. Saat pandanganku menangkap sebuah pintu, sudut mataku yang lain juga menangkap sosok yang sedang berdiri di samping jendela menatap jauh ke luar.
" Jungkook-ssi?" Panggilku ragu
Pria itu menoleh padaku dengan tatapan datar.
" Apa yang sedang kamu lakukan di situ?" Tanyaku basa-basi.
" Bukankah kita setuju untuk tidak bertanya kehidupan masing-masing?" Ujarnya yang membuatku meminta maaf.
" Iya maaf. Itu cuma bentuk basa-basiku saja." Ucapku membela diri.
" Ada apa kamu mencariku?" Tanya Jungkook kemudian.
" Bolehkah aku pergi bertemu teman?" Tanyaku agak takut.
Jungkook menatapku tajam. Sepertinya moodnya kurang bagus sejak dia naik ke atas sini, lebih tepatnya setelah mengangkat telepon.
" Bukankah sudah ku bilang bahwa aku membebaskanku melakukan apapun keinginanmu asal tidak sampai ketahuan keluarga kita dan juga kakak-kakakku di BTS?" Jawabnya.
Aku tersenyum kaku mendengar jawaban Jungkook.
" Iya sih tapi aku merasa aku juga harus menghargaimu sebagai suamiku dengan meminta ijin untuk pergi." Jawabku.
" Lain kali kamu tidak perlu meminta ijinku. Pergilah! Aku sedang tidak ingin di ganggu."
Aku menganggukkan kepala cepat dan langsung meninggalkan Jungkook seorang diri yang entah sedang apa dia berdiri di situ.
***
Aku pergi ke apartemen Sehun yang ternyata masih berada di satu kawasan dengan apartemen baruku dengan Jungkook. Aku merasa terkejut saat pertama kali Sehun mengirimkan alamat apartemennya padaku. Tapi bukankah ini keberuntunganku? Aku jadi bisa sering bertemu dengan Sehun di kawasan yang menurutku privasinya sangat baik.
Ting Tong.
Kutekan bel apartemen Sehun. Dia langsung membuka pintu tak sampai satu menit.
" Luna? Masuklah!"
Aku langsung mengekori Sehun di belakangnya.
" Duduklah dulu, biar ku ambilkan minuman." Ujarnya yang langsung ku turuti juga.
" Aku senang kita bisa bertemu Luna. Kupikir hanya bertemu artis saja yang susah, ternyata bertemu denganmu jauh lebih susah. Bahkan aku seharian ini kurang fokus karena memikirkan pesanku yang sama sekali tidak di respon olehmu." Ucap Sehun berjalan menghampiriku dengan dua botol minuman dingin.
Aku menarik senyum canggung.
" Hehe, tidak juga. Sejujurnya hari ini adalah hari terberatku. Mungkin di lain hari aku tidak akan lagi sesibuk hari ini." Jawabku ragu antara ingin jujur dengan statusku sekarang atau tidak.
" Memang ada apa dengan hari ini?" Tanyanya yang tambah membuatku bimbang apakah aku harus jujur pada Sehun atau tidak.
" Mmmm... Bisa tidak kalau kita tidak membahas tentang aku hari ini?" Pintaku padanya.
" Aaahhh ( tersenyum salah tingkah ) oke gapapa. Kamu mungkin terlalu lelah hari ini. Maaf kalau pertanyaanku membuatmu tidak nyaman." Ucap Sehun.
Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala.
" Ah tidak kok. Aku hanya tidak ingin membahas apa yang sudah kulalui hari ini." Jawabku.
" Oke. Kita cari topik pembahasan yang lain saja. Oh iya ngomong-ngomong kamu sudah makan malam?" Tanya Sehun padaku.
Aku menggelengkan kepala karena aku juga baru ingat bahwa aku belum sempat makan sejak siang tadi.
Sehun langsung berdiri dan berjalan ke dapur.
" Ah tadi aku iseng membuat buddae jiggae saat aku mengundangmu ke sini. Apa kamu mau mencobanya?" Tanyanya padaku sambil mengangkat mangkuk besar yang berisi buddae jiggae ke meja makan.
Aku langsung menghampirinya dan turut membantu membawakan kimchi sebagai pelengkap buddae jiggae.
" Kamu membuat ini sendirian Sehun?" Tanyaku.
" Eung." Jawabnya singkat dan langsung membuka kulkas.
" Woaa daebak. Kamu pandai memasak rupanya." Pujiku padanya.
" Ah tidak juga. Ngomong-ngomong kamu mau minum apa?"
Aku menoleh melihat isi lemari pendingin milik Sehun. Aku langsung mengambil dua botol soju.
" Kamu yakin mau minum itu?" Tanyanya lagi.
" Iya. Gapapa kan?"
" Ya gapapa sih."
" Kamu takut aku mabuk yah?"
" Sejujurnya iya."
" Tenang saja Sehun, aku cukup tahan dengan alkohol, apalagi hanya soju."
" Tapi memang kamu tidak menyetir?" Tanya Sehun terlihat khawatir.
" Rumahku masih di kawasan ini."
" Aaaa jinjaa? (* Benarkah? ) "
Kulihat Sehun terkejut dengan fakta bahwa kami tinggal di kawasan yang sama.
Aku hanya menganggukkan kepala kemudian berjalan ke arah meja makan.
Dan akhirnya kami berdua makan bersama menghabiskan buddae jiggae buatan Sehun.
Setelah makan, Sehun bilang dia ingin membersihkan diri dan aku mempersilahkannya. Dan setelah Sehun masuk ke kamar, aku berkeliling apartemen miliknya.
Ting.
Sebuah pesan masuk ke ponselku.
* Kamu dan Jungkook di mana Luna? Papa ada di depan apartemen kalian ini.
DEGH.
" Mati aku. Papa ngapain ke apartemen? Bukannya tadi Jungkook ada di rumah yah saat aku pergi? Ahhhh..."
Aku menggerutu sendiri setelah membaca pesan dari papa.
Aku langsung menghubungi Jungkook untuk menanyakan keberadaannya sekarang.
" Eoh?" Jungkook menjawab singkat panggilanku.
" Kamu di mana?"
" Apa aku perlu ijin padamu juga?" Jawabnya yang terus terang membuatku sebal.
" Bukan. Papaku di depan apartemen. Ku pikir tadi kamu ada di rumah."
" MWO? Papa di depan apartemen?"
Jungkook terkejut mendengar perkataanku.
" Iya. Makanya aku bingung harus gimana? Aku bisa saja pulang dalam waktu kurang dari 15 menit karena temanku masih di dalam kawasan apartemen kita tapi kamu gimana? Kamu berapa lama bisa sampai rumah?" Tanyaku.
" Ku usahakan dalam setengah jam aku sampai. Kamu...
" Jungkook-a? Nuguya? (*siapa?)"
Terdengar suara perempuan di ujung telepon sana. Apakah dia sedang bersama seorang wanita? Apa dia pacarnya? Pertanyaan itu berkecamuk dalam benakku sampai aku lupa bahwa aku pun saat ini sedang bersama pria lain yaitu Sehun, seseorang yang belum bisa di katakan pacar tapi dia adalah pria yang ku sukai.
" Luna? Kamu bisa tahan papa sampai setengah jam? Kita bertemu di loby apartemen supaya bisa naik bersama." Ucapnya yang kemudian menutup telepon tanpa pamit sama sekali.
" Aisshhh. Jajeungna jinjja (* Menyebalkan sekali)" Umpatku saat sambungan telepon tiba-tiba diputus sepihak oleh Jungkook.
" Siapa yang menyebalkan?"
Tiba-tiba Sehun membuka pintu dan bertanya bahkan sebelum keluar dari kamarnya. Aku langsung menoleh pada sumber suara.
" Yaaak, michyeosseo? ( *apa kamu gila?)"
Aku langsung memalingkan wajahku ke arah lain saat Sehun keluar dari kamar sebelum benar-benar memakai bajunya.
" Haha. Kamu kenapa Luna? Kupikir kamu sama seperti para penggemar yang lain menyukai saat aku memamerkan abs ku." Sehun malah menertawakanku.
" Yaaak, jadi kamu mau pamer abs? Maaf aku bukan wanita yang seperti itu." Protesku.
" Iya maaf. Aku bukan sengaja mau pamer kok. Aku sudah memakai bajuku, kamu bisa menghadapkan wajahmu lagi." Ucap Sehun.
Perlahan aku menoleh padanya dan benar dia sudah memakai pakaiannya.
" Tolong jangan di ulangi lagi ya? Aku bukan tipe wanita yang seperti itu."
" Iya maaf Aluna sayang. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
DEGH.
Sayang? Sehun memanggilku sayang? Ahh rasanya jantungku seperti mencelos.
Ting.
Sebuah pesan masuk di ponselku.
* Di baca kenapa engga di balas Luna?
" Ah matta..." Aku menepuk dahiku karena dengan bodohnya melupakan papa yang sudah menunggu di depan apartemen.
" Kenapa Luna?" Tanya Sehun yang mungkin melihatku menepuk dahi tadi.
" Ah ini, sepertinya aku harus pulang Sehun."
" Yaaaah, kenapa? Aku masih kangen sama kamu. Baru juga ketemu."
" Ini papaku yang suruh. Maaf ya." Jawabku setengah jujur.
" Oh gitu. Ya sudah deh. Apa mau ku antar? Katamu kita satu kawasan kan? Kurasa aman jika mengantar di dalam kawasan apartemen ini. Ku antar saja ya?" Tawarnya padaku.
" Tidak. Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri kok." Jawabku cepat karena tidak mungkin membiarkan Sehun mengantarku sementara ada papa di sana.
" Oh gitu? Tapi lain kali jangan pernah menolak untuk kuantar yah?"
Aku menarik senyum bingung.
" Baiklah." Jawabku agar cepat.
Dan dengan segera aku meninggalkan apartemen Sehun.
" Hubungi aku saat sudah sampai di rumah ya cantik?" Ujar Sehun dengan memasang wajah imutnya.
Mendengarnya memanggilku cantik membuat hatiku terasa berdesir meskipun aku bisa menahan diri untuk tidak salah tingkah di hadapannya.
***
Aku sudah tiba di loby apartemen. Kulihat sudah setengah jam sejak Jungkook mengatakan agar aku menunggunya. Papa juga sudah bolak balik mengirimkan pesan dan aku mengatakan sebentar lagi kami berdua akan tiba.
" Aduh Jeon Jungkook, kamu sebenarnya pergi kemana sih? Kenapa tidak sampai-sampai?"
Aku uring-uringan sendiri menunggu Jungkook yang sangat lama.
" Nona? Anda menunggu siapa?"
Tiba-tiba security mengejutkanku. Mungkin karena aku berjalan mondar mandir sejak sepuluh menit yang lalu. Aku melakukannya untuk menghangatkan badan karena cuaca memang cukup dingin.
" Ah saya sedang menunggu....."
" Dia menunggu saya Ahjussi."
Jungkook tiba-tiba datang dan menjawab pertanyaan yang seharusnya untukku. Security itu menoleh pada pria yang sudah resmi menjadi suamiku itu.
" Oh tuan Jungkook, apa kabar?"
Security itu menyapanya.
" Baik ahjussi. Maaf saya sedang buru-buru. Wanita ini tidak menyebabkan masalah kan?" Tanya Jungkook sambil menunjukku dan itu membuatku kesal. Bisa-bisanya dia bertanya apa aku membuat masalah di sini? Jika bukan karena menunggunya aku pun tidak akan berkeliaran di luar di cuaca sedingin ini. Tanganku saja terasa seperti membeku.
" Tidak tuan. Silakan jika ingin melanjutkan pekerjaan."
Jungkook pamit pada security itu dengan ramah. Memang setahuku dari berita yang beredar, seorang Jeon Jungkook memiliki kepribadian yang baik. Orangnya ramah, dan murah senyum. Tapi padaku? Jarang sekali dia tersenyum. Jika pun tersenyum paling saat sedang bersama dengan keluarga.
Jungkook menarik tanganku untuk mengikutinya ke lift. Sembari menunggu lift terbuka, dia membuka tasnya.
" Kamu dari mana saja sih? Aku menunggu sampai tanganku hampir membeku."
Tiba-tiba saja Jungkook memberikan hot pack di tanganku. Aku tertegun melihatnya yang seperhatian ini padaku meski dia memberikannya tanpa menoleh sedikitpun padaku. Aku jadi mengulum senyum merasa tersanjung dengan perlakuannya.
" Gomawo (*terima kasih)" Ucapku yang sama sekali tidak di responnya.
Akhirnya kami bertemu dengan papa. Jungkook langsung memeluk pinggangku sesaat sebelum papa menoleh pada kami.
" Papa? Maaf kami lama ya? Aku yang mengajak Luna berkeliling terlalu jauh." Ucap Jungkook yang membuatku menahan senyum karena merasa aktingnya terlalu bagus.
" Ah tidak apa-apa Jungkook-a. Papa cuma merasa khawatir karena tidak melihat Luna seperti hari-hari biasanya. Sepertinya papa terlalu berlebihan yah?" Ucap papa yang membuatku jadi memeluk beliau.
" Aaaa, papaaa. Luna jadi sedih ninggalin papa sendirian di rumah." Ucapku manja.
Jungkook menekan sandi smart door rumah kami kemudian mempersilahkan papa untuk masuk.
" Ah sampai lupa kami belum sempat membersihkan surprise eomma ini." Ucap Jungkook saat melihat dekorasi kelopak bunga yang menurutnya seperti sampah itu masih tersusun rapi di tempatnya.
" Tidak apa-apa nak. Papa malah yang justru malu tidak menyiapkan apapun untuk pernikahan kalian."
" Gwaenchana papa. Ini eomma saja yang terlalu kurang kerjaan." Ucap Jungkook membesarkan hati papa.
" Luna sayang?" Panggil Jungkook padaku.
" Eoh? "
Aku terkejut mendengarnya memanggilku sayang. Meskipun aku sudah tahu jika itu hanyalah akting tapi tetap saja mendengar Jungkook memanggilku sayang terdengar aneh di telingaku, bahkan di hatiku yang tiba-tiba berdesir halus sama seperti saat Sehun memanggilku sayang dan cantik tadi. Apa mungkin ini naluri wanita ya yang selalu suka di panggil dengan panggilan mesra? Ah sepertinya begitu.
" Bawakan minuman untuk papa sayang." Ucap Jungkook.
" Ah? nee." Jawabku agak canggung.
Aku menuruti permintaan suamiku untuk membuatkan minuman untuk papa sementara Jungkook mengajak papa untuk duduk di ruang tamu.
" Papa sangat suka kamu memperlakukan Luna seromantis ini Jungkook. Meski melalui perjodohan tapi kamu bisa menerima putri papa dengan sangat baik. Papa sangat berterima kasih padamu."
" Papa tidak perlu memuji seperti itu. Meski melalui perjodohan bukankah aku tetap suami Luna? Jadi sudah seharusnya aku memperlakukannya dengan baik pa. Aku juga berkewajiban menjaganya." Jawab Jungkook bijak sekali. Aku yang mendengarnya dari dapur hanya bisa tersenyum kecut mendengar jawaban Jungkook yang terlalu berlebihan padahal kenyataannya berbanding terbalik.
Ku bawakan tiga gelas jus jeruk ke ruang tamu. Satu untukku, satu untuk Jungkook dan satu lagi untuk papa.
" Papa lega kamu menikah dengan pria yang tepat Luna. Papa lega melepaskan putri semata wayang papa pada Jungkook. Kamu berbaktilah padanya Luna dan perlakukan Jungkook sebaik dia memperlakukanmu."
Aku menghentikan gelasku yang sudah hampir menyentuh bibir, tidak jadi untuk minum, setelah mendengar wejangan papa yang jelas-jelas tidak akan bisa di kabulkan olehku dan juga Jungkook. Bahkan papa tidak tahu bahwa kami sudah mempermainkan sumpah pernikahan yang sakral ini. Seketika aku menunduk merasa bersalah dengan keputusanku membohongi semua orang. Bahkan aku pun tidak memiliki keberanian untuk jujur pada Sehun tentang statusku yang sudah menikah.
" Papa tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga Luna dengan baik. Dan Luna juga sejauh ini selalu menghormatiku. Entah sebelum kami menikah atau bahkan setelahnya."
Aku menoleh pada Jungkook yang kata-katanya benar-benar membuat orang terharu. Meski hanya akting tapi kenapa aku mendengar ketulusan dalam nada bicaranya?
Setelah banyak berbincang akhirnya papa pamit pulang. Meski Jungkook sudah menahan papa agar menginap tapi papa bilang tidak ingin mengganggu kami.
Tak lama setelah papa pergi, Jungkook terlihat mengangkat telpon. Dan lagi-lagi aku mendengar nama yang sama untuk kedua kalinya.
" Eung Sewon-a?"
" Perutmu kram? Aku akan segera ke sana." Wajahnya terlihat khawatir dan tak lama Jungkook berjalan ke arah pintu.
" Jungkook? Kamu mau kemana lagi?" Tanyaku berusaha mencegahnya pergi. Bukan apa-apa karena ini sudah larut, tak mungkin aku berani tidur sendirian.
" Aku pergi sebentar. Kamu tidur saja jangan menungguku."
" Tt..tapi aku.."
Jungkook kembali tak mendengarku dan pergi begitu saja.
Siapa sebenarnya Sewon? Sampai dua kali orang itu menelpon Jungkook dan dia jadi mengabaikanku.
___ bersambung__