Chapter 3

2557 Kata
Hari sudah cukup larut. Kulirik jam sudah menunjukkan pukul 11 malam tapi Jungkook belum ada tanda-tanda pulang. Aku masih terus menonton drama komedi romantis di ruang keluarga meski sejujurnya aku sudah sangat mengantuk. " Kapan kamu pulang Jeon Jungkook?" Celotehku lemas karena menahan kantuk yang teramat sangat. Awalnya aku berniat untuk tidur saja di kamar tapi baru saja merebahkan diri, bayangan makhluk astral yang dulu kembali teringat. Sejujurnya aku hanya perlu melalui satu malam saja untuk meyakinkan diri bahwa kamar itu tidak ada makhluk-makhluk anehnya, makanya aku menunggu Jungkook untuk menemaniku. Meski Jungkook tadi sudah menolak mentah-mentah tapi aku masih punya seribu satu macam cara untuk memaksanya. Tik.. Tik.. Tik.. Denting jam terus berjalan, detik berganti menit, menit berganti jam dan akhirnya hari pun telah berganti seiring waktu yang sudah menunjukkan pukul 00.00. Tak sadar aku memejamkan mataku di sofa depan tv. Entah sudah berapa lama mataku terpejam hingga saat aku membuka mata, aku sudah berada dalam gendongan suamiku, Jeon Jungkook. " Jungkook-a? Apa aku bermimpi?" Tanyaku setengah sadar. " Menurutmu?" Tanya Jungkook yang tetap tidak menurunkanku dari gendongannya. Dia merebahkanku pelan di kasur kemudian menyelimutiku. " Sudah kubilang untuk tidak menungguku Aluna." Setelah menyelimutiku Jungkook melangkah pergi. Namun sebelum jauh, ku raih telapak tangannya. " Tetaplah di sini Jeon Jungkook. Aku takut sendirian. Setidaknya pergilah setelah aku tertidur." Ucapku memohon. Jungkook tak bergeming malah melepaskan pegangan tanganku dan tetap melangkah pergi. Seketika ide yang sudah tersusun rapi di otakku mulai ku jalankan. Aku langsung bangun dari tidurku dan pelan-pelan mengekori Jungkook di belakangnya. Aku memberi jarak agar Jungkook tidak menyadari bahwa aku mengikutinya sampai ke lantai dua. Jungkook masuk ke kamarnya. Dan tepat sebelum pria itu menutup pintu, aku mendorongnya dan ikut masuk ke dalam yang kemudian langsung menutup pintu kamar dan menguncinya. Jungkook terkejut karena dia sampai terdorong jatuh ke kasur saat aku memaksa masuk tadi. " Yaaak Aluna? Apa yang kamu lakukan?" Teriak Jungkook dari atas tempat tidur. " Aku udah bilang aku takut sendirian tapi kamu selalu mengabaikanku." Jawabku sedikit berteriak. Kucabut kunci kamarnya dan ku masukkan ke dalam bra ku. " Yaaakk. Kembalikan kuncinya!" Teriak Jungkook yang langsung bangkit dan mendekatiku. " Ambil saja jika kamu berani." Ujarku menantangnya. Mana mungkin dia berani memegang payudaraku kan? " Aisshhh. Michin yeoja (*perempuan gila.)" Jungkook mengumpat padaku dan menjadi kesal sendiri. " Perempuan yang kamu sebut gila adalah istrimu. Seharusnya kamu menemani istrimu yang sudah berkali-kali mengatakan kalau dia takut tidur sendirian." Balasku sengit. Jungkook menoleh sebal padaku lalu tak lama dia tersenyum mencurigakan. " Ahh.. Majayo (*benar) kamu bilang kamu istriku kan?" Tanyanya sambil mendekatkan dirinya padaku. Aku ketakutan dan melangkah mundur ke belakang. " Ii.. Iya. Memang itu kenyataannya kan?" Jawabku merendahkan nada bicara. " Jadi artinya aku tidak melakukan pelecehan seksual kan jika aku memegang payudaramu?" " Mm..maksudnya?" Aku semakin mundur ke belakang karena Jungkook ikut mendekatkan wajahnya di wajahku. Langkahku habis saat punggungku terasa menabrak pintu. " Kkk.. Kamu mau apa Jeon Jungkook?" Tanyaku ketakutan. Jungkook melepas kaosnya sambil terus mendekatiku. Aku terkejut saat dia sudah bertelanjang d**a di depan mataku. Aku langsung membuang pandanganku ke samping dengan ketakutan. " Kk..kamu mau apa Jungkook? Bbb...bukankah kamu berjanji tidak akan menyentuhku?" Aku mengatakan hal itu untuk menyadarkannya bahwa kita memiliki kesepakatan untuk dia tidak menyentuhku selama pernikahan jika aku tidak menginginkannya. " Bukankah perjanjiannya hanya jika kamu tidak menginginkannya Aluna Lee?" " Aaa.. Aaku memang tidak menginginkannya Jeon Jungkook. Menjauhlah! Kamu membuatku takut." Jungkook menarik senyum kecil. " Kamu tahu kan jika aku terbiasa tidur bertelanjang d**a?" Tanyanya masih mengunci gerakanku. " Kembalikan kunci itu dan kembalilah ke kamarmu atau malam pertama kita akan benar-benar terjadi." Ucapnya berbisik di telingaku yang membuatku bergidik ngeri. Kudorong tubuhnya dan kunci itu langsung ku ambil dari dalam bra ku, kemudian aku membuka pintu dan pergi dari kamar Jungkook. " Ah sial. JEON JUNGKOOK MENYEBALKAAAAN." Teriakku dari luar kamarnya. Aku menghentak-hentakkan kakiku dengan keras sambil menuruni tangga. Rasanya kesal sekali karena Jungkook benar-benar telak mempermainkanku. Bahkan aku sudah sangat yakin bahwa itu seharusnya menjadi ide yang tidak mungkin bisa di lawan oleh Jungkook tapi ternyata pria itu malah lebih menakutkan dari pada yang ku kira. " Hiii." Aku bergidik ngeri mengingat semua yang di katakan Jungkook padaku. Terlebih kalimatnya yang di bisikkan di telingaku benar-benar membuat bulu kudukku berdiri. Aku menatap kamar yang seharusnya ku tempati dari kejauhan, tapi setelah menimbang-nimbang aku merasa tidak mungkin kembali ke kamar itu. Akhirnya aku memilih kembali ke sofa ruang keluarga karena di tempat ini aku sudah bisa tertidur tanpa adanya gangguan dari makhluk-makhluk astral. *** Pagi hari aku terbangun dan mendapati diriku berada di tempat yang berbeda. Bukankah tadi malam aku tertidur di sofa? Tiba-tiba aku jadi bergidik ngeri. Jangan-jangan salah satu makhluk astral sudah memindahkanku ke kamar. " Aaaaaaaaaaaaaaa." Aku langsung terduduk bangun sambil berteriak kencang. " Aluna Lee, kenapa pagi-pagi berisik sekali?" Tiba-tiba suara seseorang mengejutkanku dari samping. " Omooo, kamcagiya (*terkejut )." Aku berteriak terkejut saat mendapati Jungkook ternyata tidur di sebelahku. " YAAK JEON JUNGKOOK. KENAPA KAMU TIDUR DI SINI?" Aku mendorongnya hingga terjatuh dari ranjang. BRUK. " AWWW, ALUNA LEE, APA YANG KAMU LAKUKAN?" Bentaknya padaku. " HARUSNYA AKU YANG TANYA APA YANG KAMU LAKUKAN DI RANJANG YANG SAMA DENGANKU?" Balasku tak kalah kerasnya. Jungkook mencoba berdiri sambil memegangi pinggangnya. " Kamu seharusnya berterima kasih padaku Luna. Aku menyuruhmu masuk kamarmu tapi kamu malah tidur di sofa. Aku harus menggendongmu untuk ke dua kalinya dari sofa ke dalam kamar. Dan aku berbaik hati menemanimu tidur di sini karena kamu bilang kamu takut sendirian. Jadi seharusnya kamu berterima kasih padaku bukannya malah menyalahkanku, di tambah lagi kamu mendorongku dari ranjang sampai pinggangku rasanya mau copot." Aku menunduk merasa bersalah mendengar omelan Jungkook. " Maafkan aku kalau gitu. Aku tidak tahu kamu menggendongku kembali ke kamar. " " Ah sudahlah, lebih baik kamu mandi dan bersiap karena para hyung Bangtan bilang mereka ingin berkunjung ke sini." Ucap Jungkook yang kemudian pergi meninggalkan kamar masih dengan memegangi pinggangnya. " Gomawo Jungkook-a." Ucapku mengucapkan terima kasih sesaat sebelum Jungkook menghilang di pintu kamar. *** Ting.. Tong.. " Jungkook tolong bukakan pintu, mungkin itu hyung bangtanmu." Teriakku dari dapur yang sibuk menyiapkan makanan untuk menyambut member bangtan. Jungkook beranjak dari duduknya dan segera membukakan pintu. Benar saja member bangtan muncul satu persatu dari balik pintu. " Annyeong maknae (*hai member termuda )." Ku lihat Taehyung oppa yang masuk lebih dulu di susul oleh member yang lain. " Annyeong Luna?" Kulihat Seokjin oppa masuk setelah Jimin. Dia masuk dan menyapaku lebih dulu di banding Jungkook. " Annyeonghaseyo Seokjin oppa." Balasku sambil sibuk menata makanan ke meja makan. " Wah kamu kenapa kook? Jalannya kok begitu?" Ujar Namjoon oppa yang melihat Jungkook berjalan masih memegangi pinggang. " Yak, kenapa masih bertanya? Mereka kan pengantin baru ya sudah pasti karena malam pertama lah." Ucap Hoseok oppa. Saat ini aku sudah bisa membedakan dan mengenal semua member bangtan.  " Yaaak, Hoseok-a. Seharusnya Luna yang jalannya seperti itu kalau memang mereka melakukan malam pertama." Suga hyung mengatakan sesuatu yang membuatku jadi terbatuk. " Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.." " Kamu kenapa sayang?" Jungkook menghampiriku dan mengambilkan segelas air untuk kuminum. Aku meneguknya, sementara Jungkook mengusap-usap punggungku. " Aku gapapa Jungkook." Ucapku saat batuknya sudah mereda. " Yaaak suga hyung perkataanmu terlalu vulgar. Tolong kalian jangan mengatakan hal-hal yang bisa mengotori telinga istriku." Ucap Jungkook membelaku. Aku tahu ini hanya akting tapi menurutku Jungkook sangat menjiwai sekali berakting perhatian terhadap istri. " Waahh Jungkookie sudah dewasa. Aku lupa kalau dia sudah punya istri sementara kita ber enam masih setia menjadi jomblo akut." Ucap Suga oppa. " Aku minta maaf Luna." Sambung Suga oppa lagi. " Ne, gwaenchanayo oppa." Jawabku. " Perlu ku bantu Luna?" Seokjin oppa terlihat ingin membantuku sebab aku memang dari tadi bolak balik dari dapur ke meja makan untuk menata hidangan untuk kakak-kakak Jungkook ini. " Tidak perlu hyung, biar kookie aja yang bantuin istri kookie." Ucap Jungkook yang mencegah Jin oppa membantuku. " Woelaaahh bontot, engga perlu posesif gitu sih. Lagian jin hyung kan cuma niat bantu." Ucap Taehyung. " Big No v hyung. Meskipun kalian hyungku tapi aku tidak akan membiarkan istriku terlalu dekat dengan kalian. Apalagi Jin hyung kan tampan. Kookie kalah tampan dari Jin hyung, nanti Luna kesengsem sama Jin hyung gimana?" Ujar Jungkook yang membuatku geli. Bagaimana tidak? Jungkook memanggil dirinya dengan sebutan kookie di depan kakak-kakak bangtan. Terlebih nadanya yang manja malah membuatku geli sendiri. Apakah Jungkook ini memang sebegini manjanya dengan hyung nya? Ah salahku memang tidak mendalami bangtan lebih dulu padahal aku menikahi salah satu membernya. " Ya aku bakal tinggalin kamu lah. Melihat Jin oppa yang dewasa terlihat menantang. Hahaha." Aku mengambil umpan candaan Jungkook pada hyungnya. Jungkook menoleh kesal padaku. " Hei sembarangan kamu ngomongnya. Awas aja kamu berani selingkuh dariku." Ancam Jungkook padaku. " Hahahaha." Ke enam hyung bangtan tertawa melihat pertengkaran kecil kami. " Ya sudah ayo kita nikmati sarapan buatanku. Aku tidak terlalu pandai memasak jadi harap maklum dengan hidangan seadanya dan rasa yang alakadarnya ini yah? " Aku mempersilahkan member bangtan untuk mencicipi hidangan yang sudah kusiapkan sejak bangun pagi tadi. " Wah sayang makanannya enak. Seenak ini bisa-bisanya kamu bilang tidak pandai memasak?" Jungkook memuji masakanku. Entahlah pujiannya ini asli atau bagian dari aktingnya. " Terima kasih suamiku." Balasku mengikuti cara aktingnya. " Wah wah wah lihatlah V, jekey telinganya memerah. Dia pasti malu di panggil suamiku sama Luna." Jimin hyung terlihat berbicara dengan Taehyung. " Memang Jungkook seperti itu Jimin oppa?" Tanyaku menjadi penasaran dengan suamiku ini. " Tentu saja. Dia sama dengan Jin hyung. Mereka berdua ini telinganya akan memerah jika mereka malu dan gugup." " Oh ya?" Tanyaku meyakinkan sekali lagi. " Heii Jimin-a? Kenapa kamu membawa-bawa namaku?" Jin oppa terlihat protes. " Yaakk kalian semua jangan membuka kartuku di depan istriku dong. Lagipula siapa yang tidak gugup saat biasanya Luna memanggilku Jungkook, Jungkook-ssi, Jungkook-a, Jeon Jungkook lalu tiba-tiba dia memanggil suamiku? Tentu saja aku terkejut." Jungkook juga ikut melakukan protes. " Yaak, lantas aku harus memanggilmu apa? Kookie begitu? Atau Juki?" " Juki? Jekey kali Lun." Ucap Hoseok oppa. " Juki, oppa. Bukan Jekey. Jekey juga aku sering mendengarnya." " Juki? Apa lagi tuh Juki?" Tanya Jimin oppa yang sepertinya mewakili kebingungan para member bangtan. " Aku pernah melihat salah satu video army Indonesia yang memanggil Jungkook dengan panggilan Juki." " Ah kami sampai lupa kalau kamu campuran Indonesia dan Korea yah?" Tanya namjoon oppa. " Ne, oppa." Jawabku. " Oh iya Luna, oppa ke sini juga berniat memberi kabar bahwa sepertinya kalian tidak bisa melakukan bulan madu dalam waktu dekat ini deh. Karena jadwal bangtan ternyata lumayan padat. Tapi jika memang mendesak kami paling hanya bisa meminta agensi memberikan Jungkook libur maksimal satu minggu." Namjoon hyung tiba-tiba saja mengatakan mengenai bulan madu yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehku. Aku tersenyum canggung. Memang sungguh berbeda pola pikir laki-laki dan perempuan. Hal seperti bulan madu di bicarakan dengan lawan jenis seperti ini bagi kami perempuan adalah suatu hal yang memalukan. Tapi bisa-bisanya Namjoon oppa bahkan mengatakan hal itu padaku di depan tujuh laki-laki meskipun salah satunya adalah suamiku. " Hehe ( tersenyum malu ) Namjoon oppa. Luna bahkan tidak pernah memikirkan mengenai bulan madu karena bagi Luna di manapun tempatnya tetap di sebut bulan madu kan?" Ucapku lebih seperti berbisik. Sejujurnya aku sangat malu mengatakan hal seperti itu. " Kamu bilang apa sayang? Jangan bisik-bisik gitu." Jungkook mendekatkan telinganya padaku. " Ishh apa sih kamu?" Aku mendorong Jungkook untuk menjauh. Kelima anggota bangtan selain Jungkook dan Namjoon oppa memandangiku. " Yaaakk Namjoon. Kamu benar mengatakan mengenai bulan madu dengan Luna? Bukan dengan Jungkook?" Tanya Suga oppa pada Namjoon oppa. " Iya. Memangnya kenapa?" Tanya Namjoon oppa yang terlihat kebingungan. Semua member menertawai Namjoon oppa yang terlihat polos. Kulihat Suga oppa menggelengkan kepala sambil mengulum senyum. " Yaaakk. Rapmon hyung. Bisa-bisanya hyung mengatakan hal seperti itu pada istriku." Jungkook berdiri kemudian menggeser dan menyuruh Namjoon oppa untuk berpindah. " Geser geser hyung. Jangan dekat-dekat Luna." " Ya ampuun Kook. Hyung engga ngapa-ngapain kok, hyung cuma kasih kabar aja." " Iya tapi engga kira-kira ngomongin bulan madu sama perempuan. Luna malu lah hyung." Ucap Jungkook yang sepertinya membuatku yakin bahwa yang pola pikirnya berbeda hanya Namjoon oppa saja. Setelah banyak berbincang dan menghabiskan makanan, para member memisahkan diri masing-masing. Ada Namjoon oppa yang duduk di sofa dengan membaca buku. Seokjin oppa dan Jungkook yang terlihat heboh bermain game. Jimin, Hoseok dan Taehyung oppa bermain Jenga bertiga sementara Suga oppa tertidur pulas di sofa. Ah rasanya seperti ini mungkin memiliki keluarga besar? Menyenangkan sekali meski rumah berantakan dan terdengar berisik bukankah itu lebih baik dari pada hidup sendiri menjadi anak semata wayang? " Sayang kamu ngapain disitu?" Tanya Jungkook yang melihatku hanya berdiri mengamati semua member. " Engga ngapa-ngapain, cuma suka aja melihat kekeluargaan kalian." Ucapku jujur. " Sini ikut main game sama aku dan jin hyung." Ucapnya sambil menepuk paha bermaksud agar aku duduk di pangkuannya. Seketika aku melotot ke arah Jungkook dan dia mengulum senyum. Meski tak sepenuhnya melihat padaku tapi jelas terlihat bahwa dia tengah menertawaiku. " Yaaa Jungkook-a, jangan bermesraan di depan hyungmu yang jomblo ini." Ucap Jin hyung. " Omelin aja oppa. Dia mesum." Jawabku yang kemudian berlalu meninggalkan mereka masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. " Hahahahaha." Terdengar suara Jin oppa tertawa. " Kamu mau kemana Luna?" Tanya Jungkook yang tak ku gubris sama sekali. Aku tetap berjalan meninggalkan mereka yang sedang asyik dengan permainan mereka masing-masing. *** Aku terbangun di sore hari. Entah sudah berapa lama aku tertidur? Ku raba ponsel di sebelahku dan kulihat jam sudah menunjukkan pukul empat sore. " Astaga sudah sesore ini dan Jungkook tidak membangunkanku." Aku lekas bangun dan keluar dari kamar. " Kenapa sepi? Apa mereka semua pergi?" Tanyaku pada diri sendiri. Tak lama Jungkook turun dari lantai atas. " Ah Jungkook-a? Hyung mu semua kemana?" Tanyaku pada Jungkook yang kulihat sudah berganti pakaian dan terlihat rapi. " Mereka semua sudah pulang." " Hah? Kenapa kamu tidak membangunkanku? Aku jadi merasa tidak enak pada kakak-kakakmu." " Mereka yang menyuruhku untuk tidak membangunkanmu." Ucap Jungkook datar. " Ngomong-ngomong kamu rapi sekali, mau kemana?" Tanyaku penasaran sebab sejak tadi pertanyaan itu bergelayut di benakku sesaat setelah melihat Jungkook turun. " Pergi menemui seseorang." Jawabnya singkat yang kemudian melangkah meninggalkanku. " Kamu pulang atau tidak?" Teriakku sebelum Jungkook menutup pintu apartemen. " Ku usahakan pulang." Jawabnya yang langsung menutup pintu dari luar. Dan akhirnya tinggallah aku di rumah besar ini sendirian lagi. Drrttt... Drrttt.... Ku dengar suara getar ponsel. Aku menoleh ke meja makan ternyata ada sebuah ponsel yang tergeletak di situ. Aku berjalan ke arah meja makan. Kuperhatikan sepertinya ini ponsel Jungkook. " Ah dia lupa membawa ponselnya." Monologku. Ku lihat dilayar tertera nama Park Sewon dengan emoticon love di akhir namanya. Seketika hatiku terasa nyelekit. Aku memegangi dadaku yang tiba-tiba terasa aneh saat melihat Sewon kembali menghubungi Jungkook. Panggilan terputus namun tak lama nama Sewon kembali muncul di layar. Kali ini dia mengirimkan pesan. Aku bisa membacanya meski tidak menyentuh ponselnya sama sekali. * Kamu tidak ingin melihat....... Belum selesai aku membaca pesannya tiba-tiba saja seseorang mengambil ponsel itu. Aku menoleh terkejut karena tiba-tiba saja Jungkook sudah ada di apartemen bahkan aku tidak menyadari kedatangannya. " Jangan sembarangan melihat ponsel orang lain." Ujarnya dingin. " Jungkook-a? Kapan...." Belum selesai pertanyaanku, pria itu sudah kembali pergi meninggalkanku lagi yang mematung seorang diri. ___ bersambung ___
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN