Chapter 4

3032 Kata
Aku mematung seorang diri saat Jungkook kembali pergi meninggalkanku bahkan saat aku belum selesai bicara. " Ah dingin sekali nada bicaranya padahal kan aku bukannya sengaja membaca pesan di ponselnya." Tiba-tiba aku jadi kesal sendiri kenapa tadi aku tidak membela diri di depan Jungkook? Aku kan tidak bersalah tapi mengapa dapat perlakuan dingin seperti tadi? Kring.. Kring.. Kali ini suara ponselku yang berbunyi. Ku ambil ponselku di dalam saku dan bergegas melihat layar. " Sehun?" Ucapku saat membaca nama yang tertera di layar. Ku tekan tombol berwarna hijau di ponsel untuk mengangkat panggilan dari Sehun. " Eung Sehunie?" Ucapku membuka pembicaraan. " Lunaaaa? Na sim sim hae ( * aku bosan). Boleh aku main ke rumahmu?" Tanya Sehun yang kembali membuatku bingung. " Hah? Rumahku?" " Iya. Kenapa? Kedengarannya kamu terkejut. Apa aku tidak boleh main ke rumahmu?" Tanya Sehun yang mengerti bahwa aku terkejut mendengar dia ingin main ke sini. " Ahhh.... Itu.. Bukan.. Bukan tidak boleh...." Jawabku menggantung. " Terus?" Tanyanya seperti menunggu jawaban dariku. " Terus? Yaaa... Masalahnya....." Aku bingung apakah aku harus jujur saja pada Sehun yah? Tapi sepertinya waktunya kurang tepat. " Masalahnya?" Sehun kembali mengulangi perkataanku menjadi sebuah pertanyaan. " Mmmmmasalahnya aku juga bosan dirumah. Bagaimana jika aku saja yang berkunjung ke rumahmu, eum?" Tanyaku yang akhirnya memutuskan untuk tidak memberi tahu Sehun. " Mmmm... Ya sudah aku tunggu kalau gitu. " Ucap Sehun. " Oke. 15 menit paling lama aku sampai di sana. Eh lebih deh aku mau mandi dulu." " Yah lama dong." " Bentar kok." " Oke deh. Perlukah ku sambut dengan karpet merah?" Tanyanya bercanda di ujung telepon sana. " Hahaha. Bolehlah kalau ada." Setelah menanggapi candaan Sehun, akhirnya aku mengakhiri sambungan teleponku dengannya. Aku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelahnya bersiap untuk pergi ke tempat Sehun. *** Ting...Tong... Aku menekan bel rumah Sehun. Tak berapa lama pintu rumahnya terbuka. " Hai Luna?" Sapa Sehun manis sekali. Aku sekejap terpesona dengan ketampanannya. Tak lama aku bisa mengendalikan diriku kemudian menarik senyum lebar menjawab sapaannya. " Masuklah!" Aku membuntuti Sehun di belakangnya. " Kamu bawa apa?" Tanyanya yang seketika menyadarkanku bahwa aku memang membawa tentengan. " Ah ini, hanya soju. Sepertinya aku ingin mengajakmu minum karena suasana hatiku sedang kurang baik. Kamu mau menemaniku minum kan?" Sehun terlihat berpikir. Melihatnya berekspresi seperti itu malah jadi membuatku merasa apakah aku salah mengajaknya minum yah? Apakah aneh jika wanita mengajak pria untuk minum? Seketika raut wajahku berubah kecewa. Ku turunkan tas berisi soju yang semula ku angkat untuk menunjukkannya pada Sehun. " Aku salah ya mengajak seorang pria minum? Kalau gitu...." " Heiii cantik, gitu aja baper. Aku setuju kok dengan usul kamu. Suasana hatiku juga sedang kurang baik. Sepertinya minum bisa jadi solusi." Aku langsung mengembangkan senyum mendengar jawaban Sehun. Akhirnya aku dan Sehun pun membuka botol soju pertama kami. " Memangnya suasana hatimu buruk kenapa Luna?" Tanya Sehun setelah menuangkan soju ke gelasku dan gelasnya sendiri. " Sejujurnya banyak sekali hal yang kupikirkan sekarang Sehun." Jawabku sambil meneguk soju yang sudah di tuangkan Sehun. Kulihat Sehun juga meneguk soju di hadapannya. " Kalau kamu sendiri kenapa?" Tanyaku balik. Sehun kembali mengisi gelasnya dan langsung meminumnya. " Sejujurnya aku ingin sekali membuat pengakuan cinta pada seseorang tapi aku ragu apakah orang itu juga menyukaiku?" DEGH. Sehun sedang menyukai seorang wanita? Ah apa yang kupikirkan sebenarnya? Sudah seharusnya pria setampan Sehun memiliki wanita idamannya. Aku saja mungkin yang terlalu percaya diri, merasa bahwa Sehun menyukaiku. Lagi pula aku seperti orang yang tidak tahu diri saja, sudah tahu telah memiliki suami tapi masih berharap mendapatkan cinta dari pria lain. " Kenapa tidak di coba dulu? Kita mana tahu hasilnya, mungkin saja orang itu ternyata menyukaimu." Jawabku bijak padahal aslinya aku patah hati. " Begitukah?" Tanyanya memastikan. Aku mengangguk mengiyakannya. Ku ambil botol soju ke dua dan meneguk langsung dari botolnya. " Heiii, kenapa tidak memakai gelas?" Sehun mencoba menahanku yang meminum soju langsung dari botolnya. " Minum seperti ini lebih cepat. Sejujurnya aku ingin sekali mabuk agar aku bisa jujur kepadamu Sehun." Ucapku yang sudah menghabiskan setengah botol dalam sekali tegukan. " Jujur dalam hal apa?" Tanya Sehun penasaran. Tiba-tiba saja aku mulai menangis. Entah karena sudah mulai mabuk atau memang aku belum siap untuk mengatakan yang sejujurnya pada Sehun. " Hiks.. Hiks... Hiks..." " Luna? Kenapa kamu menangis?" Sehun menjadi khawatir padaku. " Haruskah aku mengatakannya saat aku mabuk saja? Tapi aku tidak akan bisa mengingatnya nanti. Dan aku juga tidak bisa memastikan apa saja yang keluar dari mulutku. Dan aku juga tidak tahu apakah kamu bisa memaafkanku atas kejujuran yang akan kukatakan ini?" Sepertinya aku sudah setengah mabuk, hanya aku masih bisa mengingat apa yang ku katakan. Dan sepertinya aku harus segera menghentikan meneguk soju lagi agar tidak terlampau mabuk. " Jika kamu tidak ingin mengatakannya maka tidak perlu. Aku tidak tahu apa yang mau kamu katakan tapi....." " Aku menyukaimu Oh Sehun." Tiba-tiba saja aku memotong perkataan Sehun dan mengungkapkan perasaanku tanpa berpikir. Kulihat Sehun terkejut dengan pernyataanku. " Mm..mwo? Mworago Luna? (*Apa? Apa yang kamu katakan Luna?)" HAH? Aku langsung menutup mulutku yang barusan asal berbicara tanpa berpikir. " Benarkah kamu menyukaiku Luna?" Tanya Sehun yang malah membuatku membeku dengan posisi terakhirku. Aku menggelengkan kepalaku cepat saat otakku sudah mulai bisa mencerna yang terjadi. " Syukurlah." Ucap Sehun yang membuatku jadi bertanya-tanya. " Kk.. Kenapa kamu malah bersyukur?" Tanyaku takut-takut. " Sudah pasti aku bersyukur Luna karena seseorang yang ingin kuberikan pengakuan cinta adalah kamu." Aku membelalakkan mata mendengar pernyataan Sehun. " A.aa..aku?" Tanyaku terbata-bata. Apa aku tidak salah dengar? Jadi Sehun benar-benar menyukaiku seperti firasatku selama ini? " Iya kamu Luna. Aku menyukaimu Aluna Lee." Aku kembali membeku di tempat mendengar pengakuan cinta dari Sehun. Haruskah aku senang? Bukankah seharusnya aku senang karena ternyata rasa sukaku tidak bertepuk sebelah tangan? Tapi... Bukankah yang ingin kukatakan adalah bahwa aku sudah berstatus istri orang? Kenapa aku malah jadi mengakui perasaanku padanya? " Luna? Maukah kamu menjadi pacarku?" Tanya Sehun yang terus terang sangat membuatku terkejut. Bagaimana tidak? Sehun bergerak terlalu cepat. Aku bahkan belum siap dengan semua ini. Aku memang menyukainya tapi bagaimana dengan Jungkook? Sehun menggenggam tanganku yang berada di atas meja. " Aluna?" Tanyanya yang membuatku tersadar dari pikiran-pikiran yang sudah terlalu jauh melanglang buana. " Eoh?" Responku singkat padanya. " Kamu mau jadi pacarku kan?" Tanya Sehun sekali lagi. Wajahnya begitu penuh harap tapi aku benar-benar bingung " Maaf Sehun tapi aku tidak bisa menjadi pacarmu." Jawabku pelan, menunduk penuh dengan rasa bersalah. " Wae?(* Kenapa?)" Tanyanya. " Kamu bilang kamu menyukaiku kan? Aku juga menyukaimu Luna. Jadi kenapa kamu tidak bisa menerimaku sebagai pacarmu?" Tanyanya kemudian. Aku masih tidak bisa menjawab pernyataan cinta Sehun. " Aaah. Apa karena aku menyatakan cinta pada saat kita berdua sedang mabuk? Tapi aku masih sadar kok dan kamu juga kan?" Aku menggelengkan kepala pelan. " Bukan." " Lalu apa karena suasananya tidak romantis?" Tanyanya lagi. " Bukan. Bukan karena itu Sehun." Jawabku. " Lalu kenapa? Kamu tadi bilang kamu menyukaiku kan? Atau kamu salah bicara? Atau sebenarnya kamu tidak...." " Aku sudah menikah Sehun." " Hah?" Sehun terkejut mendengar pernyataanku. " Jangnan hajima Aluna (* Jangan bercanda Aluna )" Ucap Sehun tak percaya. " Aku tidak sedang bercanda Sehun, aku serius. Aku memang sudah menikah. Aku dijodohin sama papaku. Dan kemarin saat kamu tidak bisa menghubungiku, itu adalah hari pernikahanku. Maaf karena aku membohongimu tentang statusku. Tapi untuk rasa sukaku, aku tidak bercanda, aku memang menyukaimu, bahkan sangat menyukaimu. Tapi aku sadar diri bahwa aku tidak bisa egois untuk juga menginginkanmu padahal aku sudah di miliki orang lain." Aku menjelaskan tanpa berani menatap wajah Sehun sama sekali. " Maaf karena sudah membuatmu kecewa Sehun-a." Buliran bening tiba-tiba saja menetes dari mataku. Sehun berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiriku. Dia menuntunku untuk memutar badan ke arahnya kemudian berjongkok di depanku. " Kenapa kamu menangis Luna? " Ucapnya sambil memegangi bahuku. " Aku minta maaf karena sudah membohongimu Sehun. Aku minta maaf karena membuatmu kecewa. Hiks.. Hiks..." Aku semakin sesenggukan. " Sejujurnya yang kusukai itu kamu, bukan Jungkook. Tapi perjodohan ini tidak mungkin ku tolak karena ini adalah wasiat dari mendiang mamaku. Tapi meskipun aku mengatakan ini dan itu pada dasarnya itu hanya terdengar sebagai alasan saja kan? Kenyataannya aku sudah menjadi istri Jungkook." Sehun menyentuh kedua pipiku dan mengangkatnya agar menatap kedua matanya. " Aluna lee, coba lihat aku!" Perintahnya lembut dan aku langsung menurutinya. " Kamu mencintainya?" Tanyanya lagi. Aku menggelengkan kepala. " Tidak." " Kamu mencintaiku?" Sehun bertanya lagi. Aku mengangguk. " Ya. Aku mencintaimu tapi aku tidak...." " Kalau begitu itu sudah cukup bagiku. Mungkin terdengar gila tapi aku ingin tetap menjadi pacarmu meskipun kamu sudah menjadi istri seseorang." Aku terkejut dengan perkataan Sehun kali ini. Bagaimana tidak? Dia bilang dia tetap ingin menjadi pacarku meski aku sudah menjadi istri pria lain. Apa dia sudah gila? Tapi jika di pikir-pikir, aku juga sama gilanya karena mengatakan menyukai Sehun langsung di hadapannya sedangkan posisiku adalah istri seseorang. " Tidak Sehun. Meskipun aku mencintaimu, bukankah egois untukmu dan juga untuk suamiku Jeon Jungkook?" Tolakku karena tidak mungkin aku membuka kesempatan untuk membuat prahara di rumah tanggaku sendiri meskipun Jungkook pernah bilang tidak akan mengusik kehidupan pribadiku termasuk masalah percintaan. " Jeon Jungkook? Apa suamimu Jeon Jungkook yang kukenal?" Tanyanya mengubah arah pembicaraan. " Entahlah kamu mengenalnya atau tidak, dia seorang idol dan maknae boy group BTS." Jawabku. " Ah aku mengenalnya. Tapi benarkah itu? Bukankah menikah dengan idol berarti kamu harus menutup rapat-rapat statusmu itu? Dan yang kutahu Jungkook memiliki kekasih bernama Sewon." Ucap Sehun yang kembali membuatku terkejut. " Kamu tahu tentang Sewon?" Tanyaku tiba-tiba penasaran. Sehun menganggukkan kepala cepat. " Aku dan beberapa member bangtan memang cukup dekat. Dan setahuku Jungkook mempunyai pacar bernama Park Sewon tapi itu sudah cukup lama, aku tidak tahu apakah dia masih menjalin kasih dengan perempuan itu atau tidak? Dan pula melihat dia sudah menikah denganmu, pasti dia sudah tidak bersamanya. Tapi... Jika kamu tidak mencintainya, apakah Jungkook mencintaimu? " Aku berpikir sejenak tentang pertanyaan Sehun barusan. Benar juga, aku memang tidak mencintai Jungkook tapi aku memilih untuk tetap setia pada pernikahan kami. Meski aku sangat menyukai Sehun dan begitupun sebaliknya, tapi aku tidak ingin mengkhianati janji pernikahanku dengan Jungkook. Tapi bagaimana dengan Jungkook sendiri? Meski aku tahu dia tidak mencintaiku tapi apakah dia juga akan setia dengan janji pernikahan kami? Aku tidak yakin mengingat sudah beberapa kali aku mendengar Sewon menghubunginya. " Entahlah Sehun. Memang aku dan Jungkook sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Sejujurnya pernikahan kami memang hanya di atas kertas tapi ternyata aku tidak bisa berkhianat dari pernikahan kami. Aku memang mencintaimu Sehun tapi aku tidak berani mempermainkan pernikahanku." Jawabku. " Lalu bagaimana jika Jungkook mengkhianati pernikahan kalian?" Pertanyaan Sehun kembali membuatku over thinking tapi aku mencoba untuk berpikiran positif. Aku hanya menjawab Sehun dengan senyuman. " Berjanjilah padaku jika Jungkook menyakitimu, datanglah padaku Luna." Ucap Sehun yang benar-benar membuatku terharu. Aku menarik senyum kemudian menganggukkan kepala pelan. *** Pukul sepuluh malam aku kembali ke apartemen. Sejujurnya aku enggan kembali karena aku pasti akan sendirian di dalam sana. Tapi bukankah keterlaluan jika aku pergi ke tempat pria lain sampai larut? Dengan berat hati akupun pamit pada Sehun dan kembali ke apartemen. Aku berharap malam ini Jungkook pulang karena aku sungguh takut di apartemen sendirian. Pelan-pelan aku melangkah masuk ke dalam. Sepertinya belum ada tanda-tanda kehidupan. " Jungkook?" Aku memanggil namanya untuk memastikan apakah dia sudah kembali atau belum. " Jeon...." " Kamu dari mana?" " Ah kamcagiya (*kaget )" Aku terkejut saat suara seseorang terdengar bertanya dari sofa di depan tv. Ternyata Jungkook sedang duduk di sofa itu sambil menoleh tajam padaku. " Jungkook, kamu mengagetkanku saja. Ternyata kamu..." " Aku tanya kamu dari mana?" Tanya Jungkook sekali lagi. Nadanya terdengar kurang bersahabat. Aku yang semula tersenyum mendadak jadi terdiam. " Aku dari tempat temanku." " Teman wanita atau pria?" Tanyanya lebih seperti interogasi. Ekspresinya bahkan kaku, tidak menunjukkan senyum sama sekali. " Kenapa kamu bertanya? Kemarin kamu bilang jika aku ingin pergi aku tidak perlu ijinmu kan? Kenapa sekarang berubah lagi." " Aku tanya teman wanita atau teman pria?" Sepertinya Jungkook sedang dalam mood yang buruk. " Teman pria, memangnya salah? Kamu kan bilang sendiri kalau aku boleh menjalani kehidupan pribadiku tanpa harus terusik olehmu kan?" Aku jadi kesal dengan cecaran Jungkook yang terkesan menyudutkanku. " Siapa teman priamu?" Tanyanya tidak memperdulikan omelanku barusan. " Aku tidak berkewajiban menjawabnya Jeon Jungkook. " Aku berjalan meninggalkan Jungkook masuk ke kamar. Saat aku ingin menutup pintu, tiba-tiba Jungkook menahan pintu itu. " Aluna Lee jawab aku!" Ternyata Jungkook masih belum menyerah untuk mencecarku. " Kenapa aku harus menjawabmu? Kamu pun tidak pernah menjawabku saat aku bertanya kemana kamu pergi? Aku juga tidak mengusik meskipun aku tahu kamu pergi dengan pacarmu Park Sewon. Pergilah, malam ini aku tidak memintamu untuk menemaniku lagi." Jawabku ketus kemudian melangkah meninggalkan Jungkook. " Dari mana kamu tahu tentang Sewon?" Jungkook tiba-tiba mencengkram pergelangan tanganku yang membuatku mau tak mau harus berhenti dan menoleh padanya. Aku mencoba melepaskan diri dari cengkramannya tapi Jungkook malah semakin keras mencengkramku. " Aww sakit Jungkook." Aku meringis saat gagal melepaskan diri. " AKU TANYA DARI MANA KAMU TAHU TENTANG SEWON, ALUNA LEE?" Bukannya melepaskanku, Jungkook justru meneriakiku dan mencengkramku lebih keras. " SAKIT JEON JUNGKOOK. KAMU MENYAKITIKU." Aku berteriak lebih keras padanya. Dan akhirnya dia pun melepaskan cengkramannya dari pergelangan tanganku. " Maaf aku..." " Dengar Jeon Jungkook. Secara tertulis aku memang istrimu tapi dari awal kamu yang menawarkan untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Meskipun aku baru saja bertemu teman pria ku dan meskipun sejujurnya dia bukan hanya teman pria tapi aku menyukainya, sangat menyukainya bahkan aku ingin menikah dengannya bukannya denganmu tapi aku tidak sekalipun ingin merusak janji pernikahan kita. Aku masih setia pada pernikahan palsu kita ini. Aku juga tidak melalaikan kewajibanku sebagai istrimu, aku juga tidak bertanya tentang siapa yang kamu temui sampai kamu tega meninggalkanku yang sejak awal sudah berkata bahwa aku takut sendirian. Padahal aku adalah istrimu Jeon Jungkook tapi aku tidak mempermasalahkannya. Bahkan ketika tahu bahwa yang kamu temui adalah pacarmu, aku masih diam tapi kamu.... Kamu..." Tiba-tiba saja aku jadi emosional. Bahkan aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku. Sejak aku memotong kalimat Jungkook, mataku sudah mulai memerah dan semakin lama air mata berkumpul dan menggenang di sudut mata dan akhirnya nafasku tersengal dan tidak mampu melanjutkan kalimatku. " Pergilah Jungkook!" Kuturunkan nada bicaraku sembari mendorong Jungkook keluar dari kamar. Ku tutup pintu rapat-rapat dan Jungkook sama sekali tidak berusaha untuk membujukku. Aku berlari dan menghambur ke ranjang. Kubenamkan wajahku di bantal kemudian berteriak. " AKU BENCI PERNIKAHAN INI. AKU BENCI KAMU JEON JUNGKOOK." Setelah berteriak aku masih melanjutkan kekesalanku. Tak ada yang bisa kulakukan selain menangis. Semakin keras dan keras, bahkan mungkin bisa di dengar oleh Jungkook di luar kamar ini. Itupun jika dia masih menungguku di luar. *** Jungkook POV Aku berdiri di luar kamar Luna menyadari kesalahanku yang terlalu kasar padanya. Aku menjadi kalut saat Luna menyebut nama Sewon. Darimana dia tahu mengenai Sewon? Dan sudah seberapa jauh dia tahu mengenai aku dan Sewon? Pikiran itu langsung menguasai amarahku, terlebih aku penasaran siapa yang dia temui di kawasan apartemen ini karena kawasan ini bisa di bilang banyak di huni oleh artis dan idol ternama. Apa yang ditemui Luna adalah salah satu dari kalangan artis di Korea? Awalnya aku tidak ingin terlalu kepo dengan kehidupannya. Aku juga membebaskannya melakukan apapun sesuai keinginannya tapi Jin hyung menghubungiku karena dia melihat Luna berada di tower 5 kompleks apartemenku, sedangkan apartemen kami berada di tower 3. Dia sempat ingin menyapa Luna katanya namun tidak jadi karena tiba-tiba Luna menghilang dari pandangannya. Setahuku Tower 5 banyak di huni oleh idol pria. Aku bukan cemburu Luna menemui teman pria nya tapi aku hanya takut Jin hyung curiga dengan pernikahan kami. " AKU BENCI PERNIKAHAN INI. AKU BENCI KAMU JEON JUNGKOOK." Terdengar teriakan Luna dari dalam. Suaranya seperti di tekan. Mungkin dia sedang membenamkan wajahnya di bantal seperti yang sering ku lakukan saat aku sedang marah. Sesudah berteriak aku mendengar suara sesenggukan dari dalam. Aku jadi merasa sangat bersalah. Seharusnya tadi aku menenangkannya. Seharusnya aku tadi tidak sekeras itu pada Luna. Seharusnya aku bertanya baik-baik. Ah banyak sekali pikiran seharusnya. Yang jelas sekarang aku merasa bersalah padanya. Aku juga memikirkan pergelangan tangannya yang tadi ku cengkram cukup kuat. Aku menunggunya di luar. Ingin meminta maaf tapi sepertinya dia sedang dalam posisi marah besar padaku jadi lebih baik ku tunggu saja sampai marahnya mereda. Aku duduk di depan kamarnya bersandar pada pintu sambil menunggu amarah Luna mereda. Entah sudah berapa lama sampai aku tanpa sadar tertidur tanpa mengubah posisiku sama sekali. Aku terbangun saat mendapati diriku terjatuh menghantam lantai saat tertidur tadi. Aku segera bangun dan kembali duduk. Kurentangkan tanganku agar ototku tidak kaku. Tak lama aku berdiri dan menyadari tidak ada lagi suara Luna dari dalam. Ku lirik jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Aku bergegas membuka kamar Luna. Beruntung dia tidak menguncinya. Aku melihat dia tertidur dengan posisi duduk di lantai dan kepalanya bersandar ke ranjang. " Kenapa kamu tidur dalam posisi seperti itu Luna? Nanti badanmu jadi sakit." Gumamku kemudian menghampirinya dan perlahan mengangkat tubuh Luna untuk kubaringkan di ranjang dengan posisi yang benar. Dia bergerak sebentar kemudian memposisikan dirinya miring tanpa terbangun sama sekali. Aku berjongkok di hadapannya. Ku tatap wajahnya yang terlihat cantik bahkan saat tertidur. Jujur saja tiga kali aku menatap wajahnya saat tertidur dia selalu kelihatan cantik. Bahkan saat ini, meskipun matanya terlihat bengkak tapi tidak mengurangi kecantikannya. Seketika aku menarik senyum kecil. Aku berdiri kemudian menarik selimut untuk menyelimutinya. Gerakanku terhenti saat melihat pergelangan tangannya memerah. Ternyata bekas cengkramanku tadi berbekas di pergelangan tangannya. " Maafkan aku Aluna." Ucapku yang kemudian menyelimuti wanita yang sudah menjadi istriku ini. Ku pandangi sekali lagi wajahnya dan ku selipkan sedikit anak rambutnya yang menutupi wajah ke belakang telinga. Sekali lagi aku menarik senyum. " Mimpi indah Aluna Lee." Ucapku yang kemudian mematikan lampu kamar dan berjalan meninggalkan Luna. Baru juga menutup pintu kamar, tiba-tiba saja aku teringat perkataan Luna yang mengatakan bahwa dia ketakutan sendirian. Akhirnya ku urungkan niat untuk meninggalkannya dan kembali lagi ke kamar Luna. Tanpa pikir panjang aku merebahkan diriku dan tidur di samping Luna. Jungkook POV End __ bersambung___
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN