Chapter 5

2774 Kata
Pagi hari aku terbangun dan terkejut mendapati diriku tidur di atas ranjang. Dan lebih terkejut lagi saat melihat Jungkook ternyata tidur di sebelahku lagi. " Kamcagiya. ( *kaget)" Ucapku pelan sambil memegangi d**a. Aku duduk terbangun kemudian menoleh ke samping. Ku pandangi wajah Jungkook yang terlihat lelap sekali. Meski aku masih kesal padanya tapi mengetahui dia bersedia tidur di kamar ini bersamaku, aku jadi mengurungkan niat untuk membangunkannya. Sejenak aku berpikir, mengapa Jungkook mau tidur satu kamar denganku? Padahal jelas-jelas dia yang menginginkan tidur secara terpisah. Apa dia mengkhawatirkanku? Apa dia merasa bersalah? Ah sudahlah untuk apa ku pikirkan itu semua? Aku bergegas menurunkan kakiku ke bawah, bersiap untuk ke kamar mandi. Sebelum beranjak, sekali lagi aku menoleh pada pria yang membuatku kesal semalam. Entah apa yang ku pikirkan sekarang? Aku hanya memandangi wajahnya sekilas yang terlihat seperti bayi yang tertidur. Wajahnya sangat polos, berbanding terbalik dengan perlakuannya yang begitu menyebalkan padaku. Sekejap aku tersadar dan segera meninggalkan Jungkook sendirian. Setelah membersihkan diri, aku bergegas membuatkan sarapan untuk Jungkook. Ya meskipun aku kesal tapi ini tetaplah kewajibanku sebagai istrinya. Tak lama Jungkook keluar dari kamar dengan wajahnya yang masih berantakan. Aku menoleh sekilas padanya. " Makanlah, aku sudah membuatkan sarapan untukmu." Ujarku datar. Jungkook menghampiriku tanpa sepatah kata pun. Ku pikir dia akan minta maaf padaku mengingat dia semalam memutuskan untuk tidur sekamar denganku tapi... sepertinya ekspektasiku terlalu tinggi padanya. Dia hanya berjalan ke arahku, menarik kursi makan dan duduk disitu. Aku menaruh semangkuk bubur sayuran beserta segelas s**u hangat di depannya tanpa mengatakan apapun lagi. Tiba-tiba saja tanganku di pegang Jungkook. " Maaf aku membuat lenganmu memerah seperti ini." Ujarnya yang membuatku terkejut. Aku memang menunggunya minta maaf tapi ternyata setelah mendengar permintaan maafnya, aku malah terdiam dan menjadi bingung untuk meresponnya. Padahal aku tinggal bilang memaafkan atau tidak memaafkan saja tapi entahlah otakku seperti membeku, tubuhku juga mendadak gagal bergerak. Mereka benar-benar jadi tidak sinkron hanya gara-gara mendengar Jungkook minta maaf padaku. " Maafkan aku Aluna, seharusnya aku tidak kasar padamu. Sejujurnya aku hanya sedikit kesal karena kemarin Jin hyung bilang melihatmu di Tower 5. Aku tahu aku tidak punya hak mencampuri urusanmu tapi setidaknya berhati-hatilah jangan sampai pernikahan kita terlihat tidak baik di mata keluarga dan hyung bangtanku." Ucapnya yang malah membuatku kesal. Dia minta maaf tapi dia malah menyalahkanku? Dia bahkan tidak sadar diri dengan kelakuannya. Kutarik cepat tanganku darinya. " Kamu sadar yang kamu katakan Jeon Jungkook?" Tanyaku menatap tajam matanya. Ekspresi wajah Jungkook terlihat bingung. " Berkacalah sebelum kamu menyuruhku berhati-hati. Aku memang pergi menemui pria lain tapi aku tidak berselingkuh darimu." Ucapku kesal yang langsung meletakkan sendok makanku di mangkuk kemudian segera pergi meninggalkan Jungkook sendirian tanpa sedikitpun mencolek makananku. Hari sudah semakin siang sementara aku masih mengurung diriku di kamar karena rasa kesalku pada Jungkook. Aku menghabiskan waktu dengan bermain sosial media di ponsel. Aku banyak melihat kenanganku sewaktu di Indonesia. Melihatnya aku jadi rindu pergi ke negara asal mamaku itu. " Ah matta, besok aku sudah harus pergi ke kantor. Cutiku sudah habis." Monologku saat alarm cuti di ponselku berbunyi. Aku bergegas mencari laptop kerjaku. Ku buka semua laci tapi tidak menemukannya dan aku baru sadar bahwa aku meninggalkan laptopku di rumah papa. Sepertinya aku harus pulang ke rumah papa dulu untuk mengambilnya. Aku bersiap-siap dan segera mencari kunci mobil kemudian bergegas keluar kamar. Aku terkejut saat kupikir Jungkook tidak ada di rumah ternyata dia duduk di sofa kemudian menoleh ke arahku tepat saat aku keluar dari kamar. " Kamu mau kemana?" Tanyanya pelan namun ekspresinya masih datar. " Mau ke rumah papa." Jawabku ketus sambil berlalu pergi meninggalkan Jungkook yang masih asik duduk di sofa. Saat aku berjalan menuju pintu, tiba-tiba saja seseorang menyelipkan jarinya di antara jemariku. Aku menoleh terkejut saat orang yang melakukan hal itu adalah Jeon Jungkook, suamiku. " Biar ku antar saja." Ucapnya tanpa menoleh padaku namun jemarinya malah semakin erat menggenggamku. Aku menghentikan langkah dan menghadap padanya. Aku juga berusaha untuk melepaskan pegangan tangannya dariku. " Lepasin Jeon Jungkook!" Ucapku menekan namun dengan nada pelan. Dia ikut menghadapku dan menggelengkan kepalanya. " Shireo (* Tidak mau )" Tolaknya namun bernada datar. Dan terus terang itu membuatku emosi. " Lepasin!" Ujarku sekali lagi sambil berusaha melepaskan diri. Ku hentakkan tanganku supaya tangan Jungkook cepat terlepas. Tapi bukannya terlepas Jungkook malah menggenggam tanganku yang satunya lagi. " JEON JUNGKOOK!" Teriakku padanya. Dan akhirnya Jungkook melepaskan tangannya dariku. " Kamu mau apa sih dari aku? Kamu kurang puas nyakitin aku?" Tanyaku kesal. " Kalau di tanya kamu cuma diam tidak menjawab tapi kalau aku tidak butuh dengar apa-apa kamu mengatakan hal yang membuatku kesal. Sebenarnya apa sih mau kamu? Kamu penasaran apa aku beneran ke rumah papa atau ke rumah Sehun?" Jawabku keceplosan. " Sehun?" Jungkook terlihat terkejut mendengar nama Sehun Aku seketika menutup mulutku karena tidak bisa menyimpan rahasia diri sendiri. " Jadi teman priamu Sehun? Oh Sehun kah?" Tanya Jungkook penasaran. " Sudah kubilang aku tidak berkewajiban menjawabmu kan? Mau itu Oh Sehun atau Sehun yang lain, kamu tidak perlu tahu dan tidak perlu mencampuri urusanku karena aku juga tidak peduli dengan Park Sewon kekasihmu itu." Ucapku beralasan. " Kamu cemburu dengan Sewon?"Tanya Jungkook yang membuatku menoleh tak percaya. Aku tersenyum kecut padanya. " Apa katamu? Cemburu? Aku? Haha... Sama sekali tidak Tuan muda Jeon." Jawabku mengelak. " Lalu kenapa kamu selalu mengungkit Sewon?" " Aku tidak mengungkitnya. Ini murni untuk membandingkan kelakuan kita berdua. Jadi tidak perlu saling menyalahkan, cukup penuhi saja kesepakatan kita untuk tidak mencampuri urusan masing-masing." " Baik. Aku tidak akan bertanya mengenai Sehun mu, kamu bebas bertemu dengannya tapi kamu jangan pernah berselingkuh dariku. " Ucap Jungkook yang kembali membuatku tertawa tak pecaya. " Haha.. Yaaak Jeon Jungkook? Harusnya aku yang bilang seperti itu. Kamu bebas bertemu dengan Sewon tapi jangan pernah mengkhianati pernikahan kita." Ucapku membalik perkataannya. " Aku tidak mengkhianati pernikahan kita Aluna. Kenapa kamu selalu menghakimiku berdasarkan pemikiran sepihakmu?" Jawab Jungkook tapi aku meragukan jawabannya. Benarkah seperti itu kenyataannya? Apakah aku yang salah sangka padanya? " Ah sudahlah aku tidak ingin berdebat. Aku harus ke rumah papa sekarang." Jawabku menghentikan pertengkaran. Lebih tepatnya aku takut jika pikiranku tentang Jungkook adalah salah besar. Aku pun berjalan meninggalkan Jungkook sendiri lagi. " Biar ku antar." Ujarnya membuntutiku. Aku membiarkannya saja karena sejauh yang ku tahu Jungkook orangnya keras kepala. *** " Kamu mau ke rumah papa ngapain?" Tanya Jungkook membuka pembicaraan di dalam mobil. " Cuma ambil laptop buat persiapan besok kerja." Jawabku tanpa menoleh padanya. " Kamu masih mau tetap bekerja?" Tanyanya lembut sekali menurutku. " Mau lah. Dari mana aku dapat uang untuk diriku sendiri kalau tidak bekerja?" Jawabku asal. " Aku suamimu Luna. Aku yang akan memenuhi semuanya. Aku masih sanggup memenuhi semua keinginanmu. Oh iya aku lupa nanti black card ku kamu pegang saja ya? Pakai sesukamu." Ujarnya yang membuatku tidak mengerti karena perubahan sikapnya yang tiba-tiba menjadi manis padaku. " Tidak perlu, aku bisa memenuhi keinginanku dari gaji di perusahaan papa." Tolakku. " Simpan saja gajimu. Kebutuhanmu adalah tanggung jawabku. Tapi jujur saja aku lebih tenang jika kamu tidak perlu bekerja Luna." " Kenapa? Apa kamu tipe suami yang mengekang istrinya?" Protesku atas pernyataan Jungkook. " Bukan.. Bukan itu.. Aku..." " Aku memang tipikal wanita yang penurut tapi bukan berarti aku menuruti semua yang kamu mau Jungkook. Aku juga masih ingin merasakan kebebasan seperti hal nya kamu. Aku nyaman bekerja dan aku menyukai pekerjaanku." Potongku. " Ya sudah. Aku ijinkan kamu bekerja." Sejujurnya aku merasa aneh dengan Jungkook sejak tadi. Sikapnya benar-benar membuat tanda tanya besar di kepalaku. Kenapa si ketus dan dingin berubah menjadi orang yang hangat dalam hitungan jam? Bukankah itu malah terlihat menakutkan? *** Aku pergi dari rumah setelah mengambil laptopku di kamar. Kupikir papa ada di rumah ternyata beliau pergi untuk menghadiri rapat esok hari di Jepang. Aku menyandarkan punggungku di kursi mobil sambil menghela napas kecewa. " Kirain papa ada di rumah. Jadi bolak balik deh." Gumamku sendiri. " Kalau belum mau pulang kita bisa makan siang dulu kan? Kamu kan belum makan dari pagi." Ucap Jungkook. Aku menoleh menghadapnya. " Yak Jeon Jungkook? Kenapa hari ini kamu begitu manis padaku? Jujur saja aku jadi takut sendiri dengan sikapmu." " Lalu aku harus bagaimana? Kamu selalu menekankan kamu istriku dan aku suamimu. Jadi perlakuan seperti apa yang sebenarnya kamu inginkan? Bukankah aku sudah benar berlaku seperti ini padamu?" Jawab Jungkook yang sejujurnya tidak bisa ku elak. " Benar sih tapi dengan perubahan sikapmu yang mendadak seperti ini malah jadi tanda tanya besar di otakku." " Sudah tidak usah terlalu banyak berpikir, pakai saja sabuk pengamanmu!" Perintahnya yang langsung bergerak ke arahku secara tiba-tiba kemudian menarik sabuk pengaman dan memasangkannya. Dengan posisinya yang ada di depanku seperti ini mau tidak mau membuatku salah tingkah. Meski tidak ada perasaan apapun tapi bukankah wajar jika wanita gugup saat seorang pria tiba-tiba saja ada di hadapannya dengan jarak yang cukup dekat? Setelah memasangkan sabuk pengaman, tanpa merasa tak nyaman Jungkook kembali ke tempatnya dan mulai menjalankan mobil sedangkan aku masih terpaku dengan degupan jantung yang lumayan cepat. " Bulan besok saat aku konser di Las Vegas, bisakah kamu datang?" Tanyanya yang membuyarkan kebekuanku sejak tadi. " Eoh?" Respon singkatku yang selalu terlihat saat lamunanku buyar karena seseorang. " Kamu bisa datang apa tidak?" Tanyanya lagi. " Memang aku harus datang?" " Hyung bangtan menyuruhku membawamu. Tapi jika kamu tidak bersedia aku bisa bilang kalau kamu bekerja." Jawabnya yang sama sekali tidak menunjukkan keseriusan untuk mengajakku. Aku jadi gengsi sendiri jika aku bilang aku ingin ikut. " Aku lihat jadwalku dulu." Jawabku menutupi rasa gengsi. " Tapi jika kamu tidak bisa datang ke Las Vegas, aku harap kamu berhenti bertemu dengan Sehun saat aku tidak ada di Korea. Aku memang belum menyukaimu tapi jika ku pikir-pikir lagi aku juga tidak ingin pernikahan kita berantakan." Ucap Jungkook yang membuatku berpikir apakah sebenarnya Jungkook menginginkan pernikahan kami menjadi pernikahan yang sesungguhnya? " Kenapa kamu jadi melarangku? Sejujurnya meskipun aku tidak berselingkuh darimu tapi aku memang sangat menyukai Sehun. Jika pernikahan kita tidak bertahan lama, aku mungkin akan bersama Sehun." " Aku tidak mengijinkannya Aluna. Jangan memikirkan pria lain selain suamimu." Jawabnya. " Kenapa kamu egois? Lalu kamu sendiri? Bisakah kamu tidak menemui Sewon lagi demi pernikahan kita?" Jungkook lagi-lagi terdiam. " Tuh kan kamu selalu diam saat ku tanya." " Bisa jangan membahas tentang Sewon?" Tanyanya dengan berganti ekspresi. Yang semula ku lihat ada senyuman di wajahnya mendadak senyum itu menghilang saat aku menyebut nama Sewon. " Memang kenapa? Kamu saja membahas tentang Sehun. Lalu apa salahnya aku juga bertanya apakah kamu bersedia untuk tidak lagi berhubungan dengan Sewon seperti permintaanmu padaku yang mengharuskanku tidak menemui Sehun lagi?" " Maaf Luna, tapi aku tidak bisa. Ada penghubung antara aku dan Sewon. Kasus kita berbeda." " Penghubung? Penghubung apa?" " Pokoknya aku tidak bisa membiarkan Sewon sendirian." Aku tersenyum miring mendengar jawaban Jungkook. " Jika seperti itu seharusnya kamu jangan larang aku untuk bertemu dengan Sehun. Lebih baik kamu tidak usah merubah sikap dinginmu itu. Lebih baik kita kembali pada kesepakatan awal kita untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Kamu boleh berhubungan dengan Sewon sesukamu, begitupun denganku. Dan aku jadi berpikiran untuk menerima cinta Sehun dan berpacaran dengannya. Bagaimana? Kita impas kan? Kita hanya akan terlihat baik-baik saja di depan keluarga kita." Jawabku sewot. Bisa-bisanya Jungkook mempunyai pikiran seegois itu? " Ayo kita makan dulu. Tempat ini lumayan private." Tiba-tiba saja Jungkook menghentikan mobilnya dan mengubah arah pembicaraan kami dengan mengajakku makan. " Aku tidak mau. Aku mau kembali saja ke apartemen." Tolakku dengan nada kesal. " Tapi kamu kan belum makan sama sekali Luna." " Aku tidak lapar." Jawabku tetap bertahan pada posisiku. " Apa mau makan di apartemen saja?" Aku tidak menjawab, hanya menekuk wajahku menghadap ke jendela mobil. " Baiklah kita kembali saja ke apartemen." Jungkook pun menyerah dan membawaku kembali ke apartemen kami. *** Sesampainya di apartemen aku langsung berjalan menuju kamar meninggalkan Jungkook yang memanggilku dari belakang. " Luna?" Aku pura-pura tidak dengar dan mempercepat langkahku. " Aluna Lee?" Panggilan ke dua pun tak ku gubris, aku langsung masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras. BRAKKK. Aku langsung menghambur ke ranjang dan merebahkan diriku di sana. Tak kudengar lagi panggilan Jungkook yang memanggilku. Ah memang dasar laki-laki egois, dia yang salah tapi tidak ada sama sekali usaha untuk minta maaf. Kring.. Kring... Suara ponselku berbunyi. Dan nama Sehun tertera di layar. " Eung Sehun-a?" Jawabku agak ketus karena terbawa rasa kesal dengan Jungkook. " Kok ketus sih? Memang aku ada salah?" Tanya Sehun di ujung telepon sana. " Hehe maaf maaf, aku sedang kesal dengan Jungkook tadi. Ada apa kamu menghubungiku?" " Heii pertanyaanmu seperti aku tidak di ijinkan untuk menghubungimu." Nada Sehun terdengar kecewa. " Yaaakk bukan gitu. Jangan salah paham Sehun." " Haha. Tidak kok. Aku hanya bercanda. Kita ketemu yuk? " Ajak Sehun padaku. " Eoh? Aku mau saja sih tapi ada Jungkook di rumah." Jawabku agak kecewa. " Kalau gitu biarkan aku main ke rumah. Aku juga kenal dengan Jungkook." Usul dari Sehun benar-benar di luar nalarku. Bagaimana bisa dia ingin datang ke rumahku? Pria yang kucintai bertemu dengan suamiku? Terdengar gila kan? " Gimana Luna?" Tanya Sehun menunggu jawabanku. " Mmmm.. Gimana ya? Ini agak terdengar gila. Jungkook tahu aku menyukaimu dan dia..." " Justru bagus dong." Potong Sehun. " Kok bagus?" Tanyaku merasa aneh. " Iya lah. Jadi kita tidak main belakang dari Jungkook." " Heii Sehun, itu terdengar seperti aku berselingkuh dari Jungkook." Protesku padanya. " Hehe. Maaf deh maaf. Tapi aku benar-benar ingin bertemu denganmu. Boleh ya boleh?" " Aku tanya Jungkook dulu yah?" " Ya sudah deh." Aku pun menutup sambungan telepon dengan Sehun dan segera beranjak mencari Jungkook. Saat aku membuka pintu, kulihat Jungkook sedang berkutat di dapur. Dia menoleh padaku saat aku membuka pintu kamar. " Kamu lagi ngapain?" Tanyaku merasa heran melihat Jungkook yang sibuk dengan peralatan dapur. " Aku membuat makanan untukmu. Kamu belum makan sejak pagi dan menolak makan di luar tadi jadi aku berinisiatif membuat makanan untukmu." Mendengar hal itu aku jadi merasa bersalah padanya. Apa aku akan tetap meminta ijin Jungkook untuk Sehun main ke sini? Sepertinya terdengar keterlaluan. Dia sibuk menata makanan ke meja makan. Entah apa yang di buatnya, aku masih berdiri terdiam di depan kamar. " Makanlah. Aku hanya membuat kalguksu dan memasak teokpokki instan." Ujarnya. Aku masih belum bergeming dan Jungkook akhirnya menghampiriku dan menuntunku duduk di kursi makan. Dia berjalan ke seberang meja dan langsung duduk di hadapanku. " Cobalah! Mungkin rasanya tidak seenak bikinanmu tapi aku sudah berusaha semaksimal mungkin agar terasa enak di lidah." Ujarnya yang kemudian ku turuti. Aku bahkan mengurungkan niatku untuk meminta ijin Sehun datang ke sini. Drrtt... Drrttt... Suara ponsel Jungkook bergetar di atas meja. Aku meliriknya dan sudah ku tebak nama Sewon muncul lagi di layar ponselnya. Jungkook menatapku yang langsung ku balas dengan sengit. Jungkook membiarkan ponselnya terus bergetar hingga panggilan itu terselesaikan dengan sendirinya. Jungkook mengabaikan panggilan dari Sewon? Aku merasa terkejut dengan sikapnya. " Kenapa tidak di angkat?" Tanyaku datar pura-pura tak peduli sambil memakan kalguksu buatan Jungkook dengan santai. " Tidak. Habiskan saja makananmu!" Ucapnya yang sungguh di luar dugaanku. Mungkinkah Jungkook mencoba menghargaiku? Lalu bagaimana dengan Sehun? " Aku ke atas sebentar." Ucapnya yang membuatku jadi curiga. Apakah dia akan menelpon Sewon di atas? Ah kenapa juga aku harus kepo dengan urusannya? Mau dia menelpon Sewon, menemui Sewon, bercinta dengan... Eh tidak jangan sampai bercinta dengan Sewon. Aku yang istrinya saja belum pernah bercinta dengannya. Loh? Kenapa pikiranku jadi seliar ini? Aku memukul-mukul kepala sendiri untuk membuang jauh-jauh pikiran vulgar yang baru saja melintas dalam otakku. Setelah beberapa lama aku baru sadar bahwa semua makanan buatan Jungkook sudah tandas ku makan. " Wooaaa.. Benarkah ini semua masuk dalam perutku? Hahaha aku rakus juga ternyata." Aku menertawakan diriku yang menghabiskan semua makanan buatan suamiku itu. Tuk.. Tuk.. Tuk... Jungkook turun dari lantai atas dengan pakaian yang rapi. Aku menoleh curiga padanya. Perasaanku mulai tidak enak. Ini pasti dia ingin menemui Sewon. Aku yakin. " Luna aku...." " Kamu mau menemui Sewon?" Potongku langsung pada intinya. Dia menganggukkan kepala tanpa merasa bersalah. " Aku usahakan untuk pulang cepat." Ujarnya kemudian bersiap pergi. " Kamu pergi seolah-olah Sewon lah istrimu dan aku hanyalah selingkuhanmu." Jungkook menghentikan langkahnya. Dia menoleh padaku dengan sendu. " Aku belum bisa menceritakan semuanya sekarang Luna. Tapi percayalah aku tidak mengkhianati pernikahan kita, aku ...." " Sudahlah Tuan muda Jeon, aku tidak ingin mendengar alasanmu. Aku bebaskan kamu melakukan apapun. Dan aku juga akan melakukan apa yang aku mau." Aku langsung pergi meninggalkan meja makan menuju kamar. Aku segera menghubungi Sehun agar kemari. Biarlah aku tidak akan segan lagi pada Jungkook. ___ bersambung___
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN