Ting... Tong...
Bel apartemenku berbunyi. Aku segera membuka pintu.
" Annyeong Aluna Lee."
Sehun langsung menyapaku saat aku baru saja membuka pintu apartemen.
" Masuklah!" Ujarku mempersilahkan Sehun masuk. Dia pun mengekoriku di belakang.
" Duduklah Sehun!" Ujarku kemudian berjalan ke arah dapur untuk mengambilkan minuman untuknya.
Kulihat Sehun menoleh kanan kiri seperti mencari sesuatu. Aku yang datang dari arah dapur pun menanyainya.
" Kamu cari apa?"
Sehun menggaruk telinganya kemudian nyengir memperlihatkan giginya.
" Kata kamu ada Jungkook di rumah. Dimana dia?"
Ah rupanya Jungkook yang di cari Sehun.
" Dia pergi." Jawabku ketus.
" Kemana?"
" Mana aku tahu." Jawabku malah sewot pada Sehun.
" Yah padahal aku membawakan hadiah untuknya." Ujar Sehun sambil menunjukkan sebuah paper bag dan memberikannya padaku.
" Ini aku titipkan saja padamu." Ujar Sehun yang kemudian ku terima paper bag itu.
" Muka kenapa ditekuk gitu? Kamu tidak suka dengan kedatanganku ke sini?" Tanya Sehun.
Aku menggelengkan kepala.
" Bukan. Aku sedang kesal dengan Jungkook."
" Pengantin baru kok udah marahan aja." Ucap Sehun meledekku.
" Yak Sehunie? Kamu bukannya tidak tahu kan kalau aku dan Jungkook menikah bukan atas dasar cinta?" Jawabku protes.
" Hehe. Iya iya aku tahu. Maaf cantik."
Aku dan Sehun banyak berbincang. Bersyukur Sehun bukan orang yang memaksakan kehendaknya. Meski dia bilang dia menyukaiku tapi dia tetap tahu batasan, kami bertemu hanya sekedar melepas bosan dan bercanda saja, selain itu kami juga memainkan berbagai macam permainan mulai dari Jenga sampai mabar PUBG. Setelah itu aku dan Sehun menonton film bersama.
***
Di waktu yang sama di rumah Sewon
Jungkook POV
Tok... Tok... Tok...
" Sewon, ini aku Jungkook." Ucapku dari luar rumahnya.
" Masuklah Jungkook!" Jawabnya dari dalam yang terdengar lemah.
Aku langsung masuk saja ke rumah Sewon tanpa ragu seperti dua hari sebelumnya saat dia dalam keadaan frustasi dan menghubungiku. Aku cukup terkejut dengan pengakuannya yang bilang bahwa dia sedang hamil dan ingin menggugurkan kandungannya.
Flashback on
" Aku bingung harus bagaimana Jeon Jungkook? Aku takut." Ucapnya dengan terisak. Dia menutupi wajahnya dengan telapak tangan tapi tidak juga bisa meredam kerasnya isakan yang terdengar.
Aku menarik Sewon ke dalam pelukanku.
" Haruskah aku menggugurkan janin ini Jungkook-a?"
" Hajima (*jangan) Kenapa kamu memikirkan hal seburuk itu?" Cegahku cepat saat Sewon bilang ingin menggugurkan kandungannya.
" Aku bingung Jungkook. Aku takut. Kamu tahu keadaanku seperti apa kan? Kamu juga tahu orang tuaku di Busan seperti apa kan? Aku tidak mungkin membesarkan anak ini sendirian Jungkook. Bahkan untukku bertahan hidup saja sulit."
" Jangan gugurkan anak ini Sewon. Aku akan bertanggung jawab padanya secara finansial. Yang penting kamu harus pertahankan anak ini." Ucapku.
Flashback off
Dan sejak aku berjanji pada Sewon untuk bertanggung jawab ternyata yang terjadi adalah kandungan Sewon lemah sehingga aku harus sering bolak balik ke rumahnya dengan membawa dokter pribadiku untuk memeriksanya. Bahkan aku harus meninggalkan Luna istriku, yang membuat hubungan kami jadi kurang baik.
" Sewon-a? Kamu baik-baik saja?" Tanyaku begitu melihat Sewon tiduran di ranjang sambil memegangi perutnya.
" Aku baik-baik saja Jungkook. Seharusnya kamu jangan terlalu sering ke sini. Kasihan istrimu. Aku menelponmu tadi hanya ingin mendengar suaramu saja. Sepertinya anak ini menyukai suaramu, sebab perutku akan berhenti kram saat aku sudah mendengar suaramu."
" Tidak apa-apa Sewon. Lagi pula selain aku siapa lagi tempatmu bisa meminta tolong?" Jawabku yang kemudian berjalan mendekatinya.
Aku berlutut di samping ranjang dan perlahan mengusap lembut perut Sewon yang sudah terlihat sedikit membuncit.
" Hai baby? Kamu merindukanku?" Aku berbisik di perut Sewon dan janin itu meresponku dengan sebuah gerakan yang baru pertama ini kurasakan.
" Baby nya merespon." Ucapku antusias dan Sewon tersenyum padaku.
" Apa kamu sudah menceritakan semuanya pada istrimu Jungkook?"
Pertanyaan Sewon langsung membuat ekspresiku berubah dan aku langsung menggelengkan kepala.
" Dia bilang dia menyukai pria lain Sewon. Meski aku berusaha untuk menjadi suami terbaik tapi jika kenyataannya Luna memang tidak berniat bersamaku, maka aku harus bagaimana? Jangankan jujur mengenai bayi ini, dalam urusan apapun aku selalu di salah pahami. Aku cuek salah, aku baik juga salah. Memang salahku sih tidak bisa jujur pada Luna. Aku takut meskipun aku jujur, semua ini pun akan tetap di salah pahami olehnya."
" Perlukah aku yang menjelaskannya?" Tawar Sewon padaku.
" Jangan, ini akan semakin membuat Luna salah paham. Dia sudah cukup kesal melihat namamu di ponselku."
" Lalu kamu ke sini istrimu tahu?" Tanyanya yang kujawab dengan anggukan kepala.
" Yakk.. Michinnom (* orang gila) Cepatlah pulang sana! Pantas saja Luna marah, kamu selalu datang hanya karena teleponku saja, padahal aku tidak memintamu kemari."
Sewon malah mengomeliku padahal aku datang karena mengkhawatirkannya.
Akhirnya setelah memastikan Sewon baik-baik saja, aku bergegas pulang untuk menemui Luna.
" Jungkookie?"
Aku menoleh ke belakang saat mendengar seseorang memanggilku. Padahal aku sudah sangat tertutup tapi kenapa masih ada yang mengenaliku?
" Namjoon hyung?" Panggilku.
" Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Namjoon hyung terlihat curiga padaku.
Aku bingung untuk menjawabnya. Ku usap-usap cepat tengkukku untuk menetralisir rasa gugup.
" Aaahh.. Ini, aku baru saja..."
" Apa kamu masih menemui Sewon Jungkook-a?" Potong Namjoon hyung yang membuatku diam tidak bisa menjawab.
" Benarkah itu?" Nada bicara hyung terdengar menekan.
Aku tahu dia pasti akan memarahiku. Aku menunduk merasa bersalah.
" Kamu sadar yang kamu lakukan Jeon Jungkook? Apa istrimu tahu kamu masih menemui Sewon?" Tanya Namjoon hyung terdengar kecewa.
Aku sama sekali tidak bisa menjawabnya hanya terus menunduk tidak berani mengangkat wajah.
" Ikutlah denganku dan ceritakan semuanya." Perintah Namjoon hyung yang tidak bisa ku bantah. Aku mengekorinya sampai ke sebuah rumah makan kecil yang berada di dalam gang. Aku hafal tempat ini karena dulu, di sinilah aku dan Sewon sering makan bersama.
" Jungkook-a, hyung harap kamu jujur pada hyung apa yang kamu lakukan di sekitar rumah Sewon? Apakah benar kamu masih berhubungan dengannya?" Namjoon hyung menanyaiku pertanyaan yang sama sesaat setelah dia memesan makanan.
" Jawablah Jungkookie. Jika kamu diam maka hyung menganggap apa yang hyung katakan memang benar adanya." Sambung Namjoon hyung karena aku tidak kunjung menjawab apapun.
" Aku memang menemuinya hyung." Jawabku pelan.
" Aiissshh." Namjoon hyung menghela napas kasar.
" Apa kamu sadar kamu sudah menikah Jungkook?"
Aku menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan Namjoon hyung.
" Lalu bagaimana kamu bisa masih berhubungan dengan Sewon? Kamu tidak memikirkan istrimu? Apa kamu tidak sakit hati dengan pengkhianatan Sewon dulu? Kamu bodoh sekali Jungkook."
Namjoon hyung terlihat geram padaku.
" Masalahnya Sewon sedang hamil hyung."
" MWO?"
" MWO?"
Namjoon hyung terkejut, dan lebih membuatku terkejut lagi saat ku dengar suara seseorang yang juga terkejut di belakangku.
" Jungkook-a, neo michin sekiya (*kamu berandal gila) Kamu menghamili Sewon?"
Jin hyung tiba-tiba muncul dan langsung ikut dalam percakapan kami. Dia langsung memarahiku sambil menampar punggungku dengan keras.
" Aww hyung apo (*sakit)" Protesku padanya.
Jin hyung langsung duduk di sebelah Namjoon hyung sambil menatap tajam padaku.
" Jelaskan pada kami Jungkook, kamu benar menghamili Sewon?" Jin hyung kembali mencecarku.
" Aniyo (*tidak ) aku tidak menghamilinya hyung." Jawabku cepat sambil menggoyangkan telapak tanganku.
" Lantas kenapa kamu menemuinya?" Tanya Namjoon hyung.
" Anak ini menemui Sewon, Joon?" Jin hyung bertanya pada Namjoon hyung.
" Iya hyung."
" Yak neo jinjja... (*kamu sangat...)"
Jin hyung mengangkat tangannya hendak memukulku tapi namjoon hyung menghentikannya.
" Tahan hyung, biarkan Jungkook ceritakan dulu semuanya."
" Apa yang perlu ku ceritakan hyung? Aku hanya menemui Sewon karena dia frustasi dengan kehamilannya dan aku menawarkan diri bertanggung jawab atas bayinya." Jawabku.
Namjoon dan Jin hyung membelalakkan matanya mendengar jawabanku.
" Apa kamu bilang? Bertanggung jawab? " Tanya Jin hyung memastikan.
" Iya." Jawabku singkat.
" Katamu tadi kamu tidak menghamilinya, kenapa kamu mau bertanggung jawab atas anak orang lain hah? Atau sebenarnya kamu berbohong? Coba kamu jujur pada kami, kamu menghamili Sewon atau tidak?" Jin hyung memarahiku keras. Urat-urat di lehernya bahkan sampai terlihat. Wajahnya pun memerah.
" Maldo andwae hyung (*tidak masuk akal) aku dan Sewon bahkan tidak pernah berhubungan intim. Bagaimana aku bisa menghamilinya?" Protesku.
" Lalu bagaimana bisa kami percaya dengan omonganmu jika kenyataannya kamu menemui Sewon dan bilang ingin bertanggung jawab atas bayi itu?" Tanya Namjoon hyung lagi.
" Aku...."
" Berhentilah menemuinya dan jangan bertanggung jawab pada apa yang bukan tanggung jawabmu. Itu pun jika benar kamu tidak menghamili Sewon, Jungkook. Kami tidak berhak mencampuri urusan rumah tanggamu tapi hyung menyarankan agar kamu tidak menyakiti hati Luna, istrimu. Dan hyung juga minta tolong jika yang sebenarnya adalah kamu menjadi ayah dari anak yang ada di kandungan Sewon, hyung minta jangan sampai membuat nama bangtan tercoreng. Dan jujurlah pada istrimu. Luna berhak tahu kebenarannya." Namjoon hyung menasehatiku tapi jelas ada rasa tidak percaya dalam raut wajahnya.
Aku menoleh pada Jin hyung dan kurasa jin hyung pun berekpresi sama.
" Tapi hyung, aku benar-benar bukan ayah dari bayi itu. "
***
Aku bergegas pulang setelah menyelesaikan kesalahpahamanku dengan Namjoon dan Jin hyung.
Aku masuk ke apartemen dan melihat ada sepatu pria di depan. Apakah Luna bersama dengan pria? Apa Luna memasukkan pria ke dalam rumah bahkan saat aku tidak ada?
" Luna?" Panggilku.
Aku bergegas membuka kamarnya tapi tidak ku temukan Luna. Ku cari di seluruh tempat di lantai bawah dan sama sekali tidak ku temukan keberadaan Luna.
Aku berlari menaiki tangga dan ku lihat Luna bersama dengan pria.... Sehun?
" ALUNA LEE?" Teriakku saat tersadar Luna sedang berdiri menatap ke luar jendela bersama Sehun.
Mereka berdua menoleh padaku.
" Jungkook?"
" Hai Jungkook?" Sapa Sehun padaku.
Wajahku tidak bersahabat. Seketika aku merasa marah mengetahui mereka berduaan saat aku tidak ada di rumah.
Aku berjalan menghampiri Luna dan menariknya keras ke sampingku.
" Ahh sakit Jungkook-a." Protes Luna padaku.
" Apa yang kalian lakukan berduaan di sini?" Tanyaku benar-benar menahan emosi.
" Ya kamu lihatnya kami sedang apa?" Jawab Luna tanpa merasa bersalah sedikitpun. Wajahnya malah terlihat kesal.
" Jungkook, aku hanya main ke sini karena Luna bilang tadi kamu ada di rumah. Kami tidak berbuat yang macam-macam." Sehun menjawab pertanyaan yang membuatku menoleh padanya.
" Siapa yang akan percaya saat kalian hanya berduaan saja di dalam rumah hah?" Tanyaku dingin pada Sehun.
" Aku tahu kalian berdua saling jatuh cinta tapi aku tidak bisa menerima istriku berduaan dengan pria lain di dalam rumah kami. Siapa yang tahu kalian berbuat apa di dalam rumahku kan?"
Luna menoleh cepat padaku. Wajahnya terlihat marah.
" Kamu menuduhku Jeon Jungkook?"
Aku hanya membalas tatapannya tajam tanpa menjawab.
" Bukankah aku pantas mempertanyakannya Aluna Lee?" Tanyaku tak kalah sengit.
" Lalu kamu? Apa yang kamu lakukan di luaran sana hah? Kamu...."
Luna menghentikan kalimatnya.
" Sehun? Lebih baik kamu pulang dulu!"
Luna menyuruh Sehun untuk pulang. Aku merasa aneh tapi juga setuju dengan apa yang Luna lakukan. Perbincangan ini bukankah terlalu pribadi untuk orang lain seperti Sehun?
" Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu." Pamit Sehun yang sepertinya mengerti keadaan.
Dan akhirnya tinggallah aku dan Luna di lantai dua apartemen kami. Luna menghadapku sengit setelah mengantar kepergian Sehun dengan pandangannya.
" Berkacalah sebelum mencurigai seseorang Jeon Jungkook." Ucapnya dengan nada yang menekan.
" Aku pantas mencurigaimu Aluna, kamu istriku dan kamu memasukkan seorang pria ke dalam rumah kita tanpa sepengetahuanku." Balasku mencoba menahan diri.
" Haha ( tertawa terpaksa ) Sejak kapan kamu jadi memperdulikan urusanku? Sejak awal kamu bilang kamu membebaskanku melakukan apapun. Bahkan saat aku meminta ijinmu kamu bilang aku tidak perlu meminta ijin untuk melakukan apa yang aku mau tapi ini bahkan belum seminggu pernikahan kita tapi aku sudah merasa muak denganmu yang selalu berubah-ubah Jeon Jungkook. Sebenarnya mau kamu sebenarnya apa? Kamu mencurigaiku yang jelas-jelas aku dan Sehun tidak melakukan apa-apa tapi kamu pergi ke tempat Sewon yang bahkan aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di sana. KAMU EGOIS JEON JUNGKOOK. HAAAAARRRRGGHH."
Luna tiba-tiba saja berteriak frustasi setelah membalas kata-kataku dengan telak. Bahkan matanya memerah entah sebab apa. Mungkin dia terlalu marah denganku.
" Jawab Jungkook! Jangan diam saja. Apa yang sebenarnya kamu mau dari pernikahan kita hah? Berpisah?" Tanyanya lagi, tapi entah kenapa aku tidak bisa berkata apa-apa.
" Hah ( menghela napas kasar ) percuma bicara denganmu. Jika berpisah lebih baik, maka kita bercerai saja. Kamu bisa kembali kepada Sewon."
Luna meninggalkanku tepat di saat aku ingin mengatakan kebenarannya. Aku menoleh dan mengejar Luna. Ku hentikan langkahnya dengan memeluknya dari belakang.
" Maafkan aku Aluna Lee."
" Lepaskan aku Jungkook." Ujarnya berusaha melepaskan pelukanku. Tapi aku sama sekali tak memperdulikan permohonannya, aku semakin mengeratkan pelukanku padanya.
" Maafkan aku Luna. Aku tidak ingin pernikahan kita berakhir. Maafkan aku. Aku janji akan menjadi suami yang lebih baik untukmu. Aku minta maaf Luna."
" Percuma Jungkook percuma. Pernikahan kita tidak akan berhasil. Kesepakatan yang kita buat saja sudah salah sejak awal. Terlebih kamu juga tidak bisa melepaskan Sewon. Cepat atau lambat pernikahan kita memang akan berakhir. Jadi lebih baik tidak perlu berusaha."
Aku semakin erat memeluk Luna. Entah kenapa aku tidak sanggup membayangkan perpisahan di antara kami. Aku menggeleng cepat.
" Tidak Luna. Aku tidak akan melepaskanmu. Beri aku kesempatan untuk menjadi lebih baik. Dan aku akan jujur mengapa aku tidak bisa melepas Sewon. Dan hubungan kami bukan seperti yang ada dalam bayanganmu. Meski pernikahan kita bukan atas dasar cinta tapi ternyata aku tidak bisa melihatmu dengan pria lain. Beri aku kesempatan untuk menjadi priamu Luna. Berikan aku kesempatan untuk menjadi suamimu Aluna Lee, istriku."
___ bersambung___