" Joeun achim yeobo (* Selamat pagi sayang)"
Pagi-pagi Jungkook sudah berkutat di dapur. Padahal jam saja belum menunjukkan pukul enam pagi.
Aku mengerutkan kening melihat tingkahnya.
" Kamu sedang apa pagi-pagi begini sudah sibuk berantakin dapur?" Tanyaku padanya.
" Membuatkanmu sarapan. Aku kan sudah bilang aku ingin berubah menjadi suami yang baik untukmu."
Aku kembali mengerutkan kening mendengar jawabannya. Memang benar semalam dia minta maaf padaku dan ingin memperbaiki pernikahan kami yang semula hanya permainan menjadi pernikahan sungguhan. Entah malaikat apa yang membuat Jungkook punya pikiran seperti itu. Lalu jika bertanya bagaimana perasaanku sekarang? Tentu saja aku bingung untuk menjawabnya. Di satu sisi aku juga tidak ingin pernikahanku berantakan meskipun pada awalnya aku menerima pernikahan ini dengan alasan baktiku pada papa dan mendiang mama tapi ku pikir aku sudah menjalani sebuah pernikahan sungguhan, mana bisa main-main kan? Tapi jika menilik hatiku, sungguh bukan Jungkook yang kusukai melainkan Sehun. Tapi bagaimanapun juga bukankah posisi Jungkook lebih berhak atasku dari pada Sehun? Jadi aku memutuskan memberinya kesempatan menumbuhkan cinta di antara kami. Aku akan membatasi interaksiku dengan Sehun selagi Jungkook juga memenuhi janjinya menjadi suami yang baik untukku.
Tapi untuk saat ini, jujur saja aku belum bisa menerima sikapnya yang tiba-tiba berubah manis.
" Cuci mukamu dulu sayang, sebentar lagi sarapannya siap. Nanti ku antar kamu ke tempat kerja yah? Sekalian aku mau ke dorm."
Aku hanya menjawabnya dengan senyuman kemudian ngeloyor masuk ke kamar untuk bersiap-siap berangkat kerja.
Lima belas menit berlalu, aku keluar dari kamar dan Jungkook terlihat sudah menungguku dengan dua piring nasi goreng kimchi dan dua gelas s**u di atas meja.
" Duduklah, kita sarapan dulu sebelum berangkat." Ucapnya begitu melihatku keluar dari kamar.
Aku menurutinya dan langsung duduk kemudian menyuap nasi goreng kimchi buatannya.
" Mwoya? Kenapa kamu memandangiku terus Jungkook? Aku jadi salah tingkah jika kamu terus menatap seperti itu." Ujarku saat menyadari tatapan Jungkook yang tidak pernah terlepas dari wajahku.
" Jika ku pikir-pikir aku bodoh sekali tidak menyadari betapa cantiknya istriku ini."
" Uhuk... Uhuk... Uhukk..."
Aku terbatuk mendengar gombalannya yang begitu tiba-tiba untukku.
" Pelan-pelan makannya sayang. Ini minumlah dulu." Ujarnya sambil menyodorkan segelas s**u yang sebenarnya bisa ku ambil sendiri dengan tanganku.
Aku meminum beberapa teguk s**u sampai batuknya mereda.
" Jungkook-a?" Panggilku sesaat setelah batukku benar-benar telah berhenti.
" Eung?"
" Aku memang memberimu kesempatan tapi jujur saja bagiku ini terlalu mendadak. Panggilan sayang, pujian dan perhatianmu ini bagiku terlihat aneh." Ucapku jujur.
" Jadi kamu tidak suka dengan perlakuanku padamu?" Tanya Jungkook.
" Bukan. Aku hanya belum terbiasa saja."
" Baiklah tapi setidaknya biarkan aku seperti ini. Aku ingin menumbuhkan rasa cintaku untukmu dengan memperlakukanmu dengan manis."
Aku kembali menjawabnya hanya dengan senyuman kaku.
Setelah sarapan, Jungkook benar-benar mengantarku ke kantor.
" Nanti sore pulang jam berapa? Biar aku jemput." Ujarnya membuka pembicaraan di dalam mobil.
" Tidak pasti. Tapi mungkin lebih baik aku pulang sendiri saja Jungkook, aku juga tidak mau kamu terlalu sering terlihat di tempat ramai. Pernikahan kita masih harus di rahasiakan kan? Aku juga tidak mau jadi bulan-bulanan army karena mungkin saja aku tidak cocok denganmu di mata para army."
" Heiii. Kamu cantik, baik, mana mungkin army tidak menyukaimu. Jika aku menyukaimu, army juga pasti akan menyukaimu."
" Tapi bukankah pernikahan kita memang masih harus di rahasiakan kan?"
" Iya sih. Tapi aku akan tetap menjemputmu nanti. Tolong jangan menolak yah?"
" Ya sudah baiklah. Nanti akan ku kabari jam berapa aku pulang."
***
Jungkook POV
Aku melajukan mobilku ke dorm bangtan setelah mengantar Luna ke kantor.
Setibanya di dorm, orang yang ku lihat pertama kali adalah hoseok hyung.
" Yaaakk Jungkookie, kamu baru datang? Hyung jadi penasaran bagaimana rasanya jadi pengantin baru dan menikmati malam pertama? Cepat sini ceritakanlah mumpung tidak ada Luna." Hoseok hyung menyambutku dengan candaan dan pertanyaan yang sama sekali tidak bisa ku jawab.
Menikmati malam pertama? Apa itu malam pertama? Aku dan Luna hanya tidur di satu ranjang yang sama tanpa adanya sentuhan fisik.
Tiba-tiba pikiran nakal muncul di kepalaku. Bagaimana jika aku meminta hak ku sebagai suami pada Luna? Ah.... Mwoya mwoya? Kenapa aku bisa berpikiran seperti itu sih? Luna saja belum bisa menerimaku, tak mungkin aku meminta hal-hal yang seperti itu. Lagi pula perasaanku pada Luna juga masih hanya sebatas rasa kagum saja. Tapi aku masih berusaha untuk menumbuhkan rasa cintaku padanya demi pernikahan kami yang sudah terlanjur terjadi. Seperti kata pepatah ikhlas itu sesuatu yang hampir mustahil, yang ada hanya terpaksa lama-lama menjadi terbiasa. Dan sekarang aku sedang memaksakan diriku agar menjadi terbiasa dengan Luna. Dan aku juga pernah mendengar ada pepatah yang mengatakan, cinta muncul karena kebiasaan. Dan saat ini aku juga sedang membiasakan diriku bersama dengan Luna untuk menumbuhkan rasa cinta untuknya.
" Yaaak hobi hyung, bukankah hyung sudah merasakannya?"
Jimin hyung tiba-tiba datang menimpali obrolan kami.
" Yak yak, Jimin-a, apa yang kamu bicarakan? Hyung merasakan apa?"
" Ya merasakan ena ena dong hyung."
" Pftt ( Menahan tawa ) ena ena? Bahasa apa itu hyung?" Tanyaku pada Jimin hyung.
Jimin hyung menoleh padaku yang juga sambil menahan tawa.
" Ah kamu tuh. Itu tuh hal yang kamu lakukan bersama Luna, Jungkookie. Aku yakin hobi hyung pasti sudah melakukannya dengan Minji noona kan? Waktu itu aku mendengar desahan di kamarmu hyung."
" YAK YAK PARK JIMIN. Apa yang kamu bicarakan?" Hoseok hyung terlihat salah tingkah.
" Jujur saja lah hyung. Suara desahannya bahkan bukan hanya aku yang mendengarnya tapi juga suga hyung." Jimin hyung membeberkan aib hoseok hyung padaku.
" Jimin-a kenapa kamu membawa-bawa namaku?"
Suga hyung tiba-tiba juga datang bersama dengan v hyung. Dia protes karena namanya di catut Jimin.
" Eh hyung. Bukankah waktu itu kita mendengar suara-suara kenikmatan dari kamar hobi hyung?" Jimin masih berusaha untuk meledek Hoseok.
" Bwahahaha. Yak Jimin-a, kamu pun pernah melakukannya dengan Da Eun kan?"
Tiba-tiba v hyung mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut. Bahkan aku sampai menutup mulutku.
" Heoll. Jinjja hyung? (*benarkah hyung?)" Tanyaku.
" Yaakk V. Kapan aku melakukannya dengan Da Eun?"
" Kamu yakin ingin ku katakan di sini?" Tanya V hyung.
" Tidak tidak. Jangan." Jimin hyung terlihat khawatir. Dan aku jadi berpikir jangan-jangan semua hyung ku sudah pernah melakukannya? Apakah kenyataannya memang hanya aku saja yang belum?
" Jungkook-a, ikut hyung sebentar."
Jin hyung tiba-tiba datang dari arah belakangku, menepuk bahu sebelah kananku dan menyuruhku mengikutinya. Wajahnya juga terlihat tidak bersahabat.
" Ah, ne hyung."
Aku mengekori Jin hyung masuk ke kamar tidurnya. Dia berhenti kemudian menoleh padaku.
" Tutup pintunya!" Perintah Jin hyung yang langsung ku turuti.
" Ada masalah apa hyung?" Tanyaku tanpa basa basi.
Wajah Jin hyung terlihat dingin. Kepalaku jadi di penuhi tanda tanya.
" Kemarin hyung bertemu dengan Chanyeol, kami banyak berbincang mengenai member dan Chanyeol bilang kalau Sehun menyukai seorang wanita, seorang fansnya yang bertemu di acara fan sign. Kemudian katanya mereka jadi dekat."
Aku memperhatikan kata-kata Jin hyung. Jujur saja perasaanku jadi tidak enak mendengar nama Sehun dan wanita yang dekat dengannya. Aku takut yang di ceritakan Jin hyung adalah Luna.
Jin hyung menatap tajam mataku.
" Sampai sini kamu paham apa yang akan hyung katakan Jungkook?" Tanya Jin hyung yang benar-benar tidak bisa ku respon.
Aku menggelengkan kepala pelan, berpura-pura tidak tahu. Lagi pula belum tentu juga kan Jin hyung akan mengatakan yang ku pikirkan tadi?
" Hyung tidak tahu apakah hyung harus mengatakan hal ini atau tidak Jungkook tapi sepertinya wanita yang fotonya ditunjukkan Chanyeol adalah Luna, istrimu."
" Hyung minta maaf kalau...."
Kalimat Jin hyung terhenti saat melihat responku yang menarik senyum kecil untuknya.
" Jungkook kamu? Kamu tersenyum? Kamu membenarkan yang hyung katakan?" Jin hyung terkejut dengan reaksiku.
Aku masih tersenyum getir.
" Kamu mengetahui hal ini?"
Aku menganggukkan kepala.
" Ne, hyung."
" Yak.. Apa semua itu benar adanya?" Jin hyung terlihat khawatir sampai memegangi lenganku.
Aku kembali tersenyum getir.
" Hyung? Bisakah hyung menjaga rahasia kami?"
" Rahasia apa? Kamu membuat hyung jadi khawatir Jungkook-a."
" Berjanjilah dulu bahwa cerita ini cukup hyung saja yang tahu karena aku sendiri sedang mencoba mengubah keadaan agar lebih baik."
Jin hyung masih menatapku dengan tatapan penasaran. Tapi sesaat kemudian Jin hyung menjawabku.
" Baiklah hyung janji tidak akan menceritakannya pada siapapun. Jadi apa yang ingin kamu ceritakan?"
Aku terdiam sejenak, menarik napas dalam-dalam kemudian mulai menceritakannya.
" Hyung tahu kan kalau aku dan Luna menikah karena perjodohan?"
" Eung, hyung tahu tapi bukankah kamu bilang kalau kalian sudah jatuh cinta pada pandangan pertama makanya kalian tidak menolak perjodohan itu kan? Hyung lihat kalian juga mesra."
Aku menunduk menekuri lantai.
" Sejujurnya kami tidak memiliki perasaan suka sama sekali hyung. Kami memutuskan menikah murni karena tidak ingin mengecewakan orang tua kami. Dan kami juga telah membuat kesepakatan untuk tidak mencampuri urusan masing-masing."
" Yaaakk Jeon Jungkook, kenapa kalian melakukan hal itu? Itu sama saja kalian mempermainkan pernikahan."
" Aku tahu hyung tapi..."
" Lalu kemarin saat kamu bertemu Sewon pun Luna tahu?"
Aku menganggukkan kepala.
" Iissshhh. Neo jinjja (* Kamu benar-benar ). Apa Sewon hamil pun Luna tahu?"
" Tidak. Luna tahu aku bertemu Sewon tapi dia tidak tahu kalau Sewon hamil. Aku takut Luna salah paham hyung. Jadi aku mohon hyung juga rahasiakan kehamilan Sewon dari Luna ya?"
Jin hyung geleng-geleng kepala tidak percaya dengan apa yang ku katakan.
" Lalu Luna dengan Sehun?"
" Itu benar adanya hyung tapi mereka hanya sekedar saling menyukai. Luna masih menghargaiku sebagai suaminya. Mereka murni hanya berteman."
" Lalu bagaimana dengan pernikahan kalian? Kalian ingin jalan dengan pasangan masing-masing? Pernikahan macam apa yang seperti itu? Harusnya kalian tidak usah menikah saja."
Jin hyung benar-benar terlihat kesal.
" Aku tahu aku salah hyung. Makanya aku sedang berusaha untuk memperbaiki pernikahan kami. Aku sadar aku yang banyak melakukan kesalahan di pernikahan ini. Dari awal Luna sudah ingin menolak tapi aku yang meyakinkannya untuk menerima perjodohan. Dan di saat Luna jujur tentang perasaannya, dia tetap memilihku sebagai suaminya meskipun dia sangat menyukai Sehun tapi aku dengan gampangnya meninggalkan Luna untuk menemui Sewon. Aku merasa bersalah padanya dan aku ingin memperbaiki pernikahan kami hyung."
" Baguslah kalau kamu punya pikiran seperti itu Jungkook. Ke depannya hyung ingin kalian berdua benar-benar tidak akan mempermainkan pernikahan kalian lagi."
Tok.. Tok.. Tok..
" Jin hyung? Jungkook?"
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Suaranya terdengar seperti suara Namjoon hyung.
" Eoh Joon kami di dalam. Sebentar lagi kami keluar." Teriak Jin hyung yang kemudian berjalan ke arah pintu.
" Hyung?" Panggilku yang membuat langkah Jin hyung terhenti. Dia menoleh padaku.
" Tolong rahasiakan semua ini dari semuanya." Pintaku padanya.
" Eoh." Jin hyung menjawab singkat dan langsung pergi meninggalkanku.
***
Sore hari setelah latihan aku mendapat pesan dari Luna. Entah kenapa mendapat pesan dari istriku sendiri ternyata membuat hati merasa bahagia. Padahal aku tadi merasa sangat kelelahan tapi begitu membaca pesan dari Luna, seketika kekuatanku terisi lagi. Apakah secepat ini Luna bisa membuatku menyukainya? Ah tidak, mungkin ini hanya efek terlalu lama jomblo dan sudah lama juga tidak ada pesan dari orang terdekat.
* Aku sepertinya pulang jam 7
* Oke sebentar lagi aku jemput ya. Aku baru selesai latihan. Habis ini aku mandi terus langsung jalan.
Aku membalas pesannya sekaligus mengiriminya fotoku. Terdengar gila sih tapi apa salahnya mengirim foto pada istri sendiri kan?
" Lihat tuh si bontot ngapain coba selca gitu? Udah gitu mesem-mesem sendiri pula. " Ku dengar suara V hyung berkata pada Jimin dari belakangku. Mereka terlihat dari cermin di ruang latihan.
" Aku mendengarnya hyung." Ucapku.
" Hahaha. Kamu lagi ngapain emangnya pakai acara selca segala? senyum-senyum sendiri pula kaya orang gila. Mau update status buat gombalin army?" Tanya V hyung yang kali ini langsung padaku.
" Yak V palingan dia mau ngajakin army lihat kucing di rumahnya. Hahahaha." Jimin hyung ikut meledekku bersama v hyung.
" Heii kalian, jangan samakan pria beristri sepertiku dengan lelaki bujang yang bisa tebar-tebar pesona pada wanita lain. Aku tentu saja mengirimi fotoku untuk Luna. Kalaupun aku mau mengajak lihat kucing, ku ajak saja istriku, ngapain ajak orang lain?" Jawabku sengit.
" Hahaha gitu aja pakai marah." Ujar V hyung.
" Siapa yang marah? Ah sudahlah aku mau mandi terus mau jemput Luna."
" Bawa Luna ke sini saja Jungkook, Jin hyung bilang dia ingin memasak untuk kita semua untuk merayakan pernikahan kalian. " Namjoon hyung tiba-tiba menyuruhku untuk membawa Luna ke dorm. Tapi apa Luna mau? Ku coba saja lah.
" Baiklah nanti ku ajak Luna ke sini." Jawabku yang kemudian ngeloyor pergi ke kamar mandi.
Jungkook POV End
***
" Mwoyaa? Kenapa Jungkook mengirimiku photo? " Gumamku pelan di dalam bilik kerja setelah membaca balasan dari Jungkook.
" Anak ini lama-lama membuatku ngeri sendiri. Apa iya aku akan benar-benar bisa membuka hatiku untuknya?" Monologku lagi.
" Kamu berbicara sendiri Luna?"
Ji eun seonbae (*senior Ji eun ) melongok dari bilik sebelahku. Aku terkejut dan langsung menutup ponselku dengan tangan, menaruh ke meja hati-hati dengan membalik layarnya.
" Aaa Ji eun seonbae. Ini.. Aku hanya melihat pesan dari temanku." Balasku beralasan.
Aku tidak mungkin mengatakan bahwa ini dari suamiku apalagi dari Jungkook BTS. Sudah pasti satu divisi akan memberondongku dengan pertanyaan. Lagipula aku cuti kemarin tidak sama sekali mengatakan bahwa aku akan menikah. Aku hanya cuti liburan saja sehingga karyawan di kantor ini sama sekali tidak ada yang tahu bahwa sekarang statusku adalah wanita yang sudah bersuami.
" Ah matta (*oh iya) Apa aku sudah memberitahumu bahwa kita sudah mendapatkan BA baru untuk produk kita?"
Aku menggelengkan kepala cepat.
" Belum. Memang sudah di putuskan siapa yang akan terpilih? Song Jong Ki atau Lee Min Ho? Ah atau mungkin Park Hyung Sik? Mereka bertiga bukannya dapat vote terbanyak?"
" Ani ani (*tidak tidak ) Tidak satupun dari mereka. Ternyata timjangnim (*kepala tim) mengusulkan sebuah nama yang langsung di setujui Lee Sajangnim dan dua hari yang lalu timjangnim langsung melakukan penandatanganan kontrak dengan idol ini."
" Siapa?" Tanyaku penasaran karena Ji Eun Seonbae sama sekali tidak menyebutkan nama.
" OH SEHUN." Ji Eun Seonbae menekankan nama yang sama dengan pria yang sudah merebut hatiku.
" Oh Sehun? Oh Sehun Exo?" Tanyaku memastikan apakah Oh Sehun yang dimaksud adalah pria yang ku sukai atau bukan?
" Majayo. Sehun EXO. Keren sekali bukan kepala tim kita ini?" Jawab Ji eun Seonbae.
Aku langsung terdiam dengan mulut menganga. Ternyata berusaha untuk setia adalah hal yang sulit. Padahal aku semalam memutuskan untuk mengurangi interaksiku dengan Sehun tapi kenapa hari ini aku mendapat kabar bahwa Sehun akan menjadi BA salah satu produk perusahaan papa? Dan dengan posisiku yang berada di tim humas dan kreatif mau tidak mau aku pasti akan sering bertemu dengan Sehun.
" Kamu kenapa melongo gitu? Kamu terkejut kan dengan kehebatan kepala tim kita?"
Aku langsung menganggukkan kepala saja untuk menjawabnya.
" Sama aku juga. Dan kamu beruntung sekali Luna bisa ketemu sama Sehun. Katanya kamu yang terpilih mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan syuting bersama dengan timjangnim dan anggota tim 1. Waaaahh daebak, aku iri sekali." Ucap Ji eun Seonbae.
" Oh ya? Aku? Kenapa tidak ada yang mengatakannya padaku?"
" Hehe aku lupa. Sebenarnya aku yang di tugaskan memberitahumu tapi seharian ini aku sibuk sampai lupa. Ku pikir ada yang sudah memberitahumu." Ujarnya lagi.
" Ah sudah dulu aku ada janji dengan pacarku jadi aku harus pulang duluan. Jam nya juga sudah tepat pukul 6. Aku pergi duluan ya?" Ujar Ji Eun yang malah langsung pamit untuk pulang sementara aku masih harus menunggu sampai pekerjaanku selesai. Ternyata cuti tiga hari saja sudah membuat pekerjaanku menumpuk. Semoga saja tepat pukul 7 aku sudah bisa menyelesaikannya sebab aku sudah terlanjur bilang pada Jungkook bahwa aku selesai kerja pukul 7.
" Ah matta Jungkook."
Aku langsung teringat bahwa aku sedang berkirim pesan dengan Jungkook. Aku mengambil lagi ponselku.
" Tapi aku harus jawab apa lagi?"
* Oke.
Akhirnya ku jawab singkat saja pesan Jungkook karena jujur saja aku bingung harus merespon apa. Masa iya aku harus mengirim photoku juga untuknya?
Setelah membalas pesan, aku kembali berkutat menyelesaikan pekerjaanku sampai tak sadar sudah satu jam berlalu. Jika bukan karena telepon dari Jungkook aku bahkan tidak akan tahu bahwa jam sudah menunjukkan pukul 7.
" Yeobo? Aku sudah di depan gedung." Ujarnya saat aku menerima panggilan teleponnya.
" Ah mian Jungkook, aku terlalu fokus dengan pekerjaan sampai tak sadar sudah jam 7. Tunggu sebentar ya aku beres-beres dulu."
" Oke. Aku tunggu."
Akhirnya panggilan telepon pun di putus. Aku langsung bergegas menutup lembar kerjaku dan mematikan laptop kemudian berjalan keluar gedung untuk menemui suamiku.
___ bersambung___