Chapter 8

2278 Kata
Aku dan Jungkook pergi ke dorm bangtan. Saat aku baru saja menemuinya, Jungkook mengatakan bahwa kakak-kakaknya di bangtan mengundangku untuk makan di dorm sebagai perayaan atas pernikahan kami. Tadinya kupikir aku ingin langsung pulang dan beristirahat tapi rasanya kurang pantas jika aku menolak undangan saudara dari suamiku kan? Alhasil saat ini aku sudah berada di dorm bangtan bersama dengan suamiku, Jeon Jungkook. " Luna annyeong." Taehyung oppa yang baru saja keluar dari kamar langsung menyapaku. " Annyeonghaseyo oppa." Balasku. " Yang lain di mana hyung?" Tanya Jungkook pada Taehyung oppa. " Lagi bantuin Jin hyung siapin makanan. Ya udah kita langsung ke ruang makan aja yuk sekalian bantuin mereka." Ajak Taehyung oppa yang langsung kami turuti. " Manten udah dateng nih. Makanan udah siap belum?" Teriak Taehyung oppa begitu kami sampai di ruang makan. Mereka berlima, Suga, Jimin, Jin, Jhope dan RM oppa langsung menoleh begitu mendengar teriakan Taehyung. " Annyeong adik ipar." " Annyeong Luna." Mereka bersamaan menyapaku. Suasana langsung riuh dengan sapaan mereka. Bahkan riuhnya terdengar seperti paduan suara. " Annyeonghaseyo oppa semua." Aku membalas sapaan mereka dengan membungkukkan badanku 90°. Jimin oppa kulihat menghampiri kami dan langsung menarik tanganku menuju meja makan. Sebelum sampai, Jungkook sudah membuntuti kami dan langsung memukul tangan Jimin yang sedang memegang tanganku. PLAK. Tangan Jimin pun langsung terlepas " Awww. Sakit bontot. Kamu tak sadar dengan kekuatanmu hah?" Omel Jimin oppa sambil memegangi tangannya yang kesakitan akibat pukulan Jungkook. " Ya lagian hyung ngapain main tarik-tarik tangan Luna?" Ucap Jungkook terlihat kesal. " Ya kan hyung cuma mau bawa Luna duduk Jungkookie." " Kan tinggal ngomong aja. Kenapa harus pegang-pegang tangan istriku?" Balas Jungkook sengit. " Astaga bontot kamu posesif sekali dengan istrimu. Maaf Luna, Kookie ini emang tipikal pasangan yang posesif. Semua mantannya di giniin." Ucap Taehyung oppa. Aku tersenyum kaku menanggapi ucapan Taehyung. " Yak hyung kenapa harus sebut-sebut mantan? Luna pasti cemburu." Protes Jungkook pada Taehyung oppa dengan mencatut namaku. Aku jadi bertanya-tanya apakah ini bagian dari akting atau bagaimana? " Sudahlah Jungkook tidak usah di perpanjang." Ucapku mencoba menengahi. " Baiklah. Kalau gitu kamu duduk sini sayang." Ujar Jungkook kemudian menuntunku duduk. Dia menarik sebuah kursi dan mempersilahkanku untuk duduk. " Jungkook langsung nurut hyung. Sepertinya Luna benar-benar bisa menjadi pawangnya." Ujar Jhope pada Suga oppa. " Haha mudah-mudahan saja." Akhirnya kami pun makan malam bersama menghabiskan sajian yang katanya di buatkan spesial oleh Jin oppa. " Luna? Coba kamu ambil foto kita sedang dinner. Kami ingin bagikan pada army." Namjoon oppa memintaku untuk mengambil foto mereka. " Benar Joon, kita sudah lama tidak memberi kabar pada army." Jin oppa mengamini pernyataan Namjoon. " Boleh boleh. Mau pakai kamera siapa?" Tanyaku. " Pakai punyaku saja sayang." Ucap Jungkook memanggilku dengan panggilan sayang yang mulai terdengar biasa di telingaku. Aku langsung mengambil ponsel milik Jungkook dan mulai memotret mereka. " Hana dul set (* satu dua tiga )" CEKREK. " Hanbeonman hanbeonman (* sekali lagi sekali lagi)" Ujar Hoseok oppa. " Oke hana..." " Jamkanman yeobo (*tunggu sayang ) aku udah ganteng belum?" Potong Jungkook yang membuatku jadi menurunkan kamera ponsel. " Udah." Jawabku singkat kemudian mengarahkan lagi kamera ponsel Jungkook pada mereka. " Jinjja yeobo? (*beneran sayang?)" Tanyanya sekali lagi sebelum aku menekan tombol untuk mengambil gambar. " Iya honey tanya melulu deh." Omelku yang tanpa sadar memanggilnya honey. Kulihat Jungkook mengulum senyum. Dan saat aku akhirnya menyadari kesalahan panggilanku, tiba-tiba aku jadi salah tingkah. Untung saja situasi dapat ku kendalikan. " Oke Hana dul set." CEKREK. Akhirnya setelah beberapa kali pengambilan gambar, kami pun kembali menyelesaikan makan dan di akhiri dengan minum-minum. " Yeobo kamu mau minum?" Tanya Jungkook padaku. Terdengar pelan hampir seperti berbisik. " Tidak. Aku tak bisa minum Jungkook. Dua gelas saja sudah membuatku mabuk." Jawabku. " Luna? Ayo minum." Yoongi oppa menyuruhku untuk minum. " Istriku tidak kuat minum hyung." Jawab Jungkook memberitahukan keadaan yang sebenarnya. " Minumlah walau satu gelas. Di sini kan ada suamimu, seandainya kamu mabuk kan ada Jungkook, kamu tidak perlu khawatir. " Ucap Suga oppa yang berada di sebelah kananku. " Tapi kami menyetir oppa. Harus ada satu yang tidak mabuk." Jawabku lagi. " Menginaplah di sini Luna. Jungkook juga ada kamar di sini." Ucap Jin oppa. Aku tersenyum bingung kemudian menoleh pada Jungkook mencari jawaban. " Aku ikut keputusanmu saja sayang." Ucap Jungkook yang malah jadi membuatku tambah bingung. Jadi? Tak mungkin ku tolak kan? Apa masih mungkin jika ku tolak? Aarrrgghh kenapa aku harus terjebak di situasi seperti ini sih? " Baiklah kalau gitu oppa." Akhirnya aku menyetujui permintaan Jin oppa. Mereka semua minum-minum dan aku hanya melihatnya saja tanpa berani menyentuh segelas alkohol pun. Aku takut jika mabuk nanti malah berbuat sesuatu yang memalukan. Malah bisa jadi aku melakukan kesalahan atau keceplosan dengan rahasia yang selama ini ku tutupi seperti pernikahanku dengan Jungkook atau hubunganku dengan Sehun misalnya. Setelah beberapa lama aku merasa lelah sekali. Rasanya aku ingin beristirahat. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku mengamati satu persatu member, mereka terlihat sudah mabuk parah. Bahkan kulihat Jhope dan Taehyung oppa sudah pamit masuk ke kamarnya. Aku menoleh pada Jungkook yang sepertinya masih kuat untuk minum padahal wajahnya sudah terlihat memerah. Aku menarik lengan bajunya dan mendekatkan wajahku pada telinganya. " Jungkook, aku lelah." Bisikku padanya. " Eum? Mworago? (*apa yang kamu katakan)?" Tanyanya yang membuatku harus mengulang kalimat. " Aku lelah, ingin istirahat." Ulangku. " Dia mungkin lelah Jungkook. Kamu pergilah ajak istrimu ke kamar!" Ternyata Jin oppa malah yang justru peka denganku di banding suamiku sendiri. " Aahhh. Kamu lelah yeobo?" Tanya Jungkook memastikannya padaku dan aku menjawabnya dengan anggukan kepala. " Kalau gitu kita ke kamar saja ya?" Jungkook mulai berdiri namun kulihat berdirinya tidak seimbang. Dia pasti sudah mabuk. Aku langsung memeganginya saat dia mulai berjalan dengan limbung. " Hati-hati." Ujarku saat Jungkook tersandung kaki meja. " Oppa, aku dan Jungkook pamit ke kamar duluan ya?" Pamitku pada member yang tersisa. Akhirnya aku menuntun Jungkook masuk ke kamarnya di dorm bangtan. Dia menunjukkan kamarnya sesaat sebelum akhirnya dia tertidur di pundakku. " Ahh sial kamu berat sekali Jeon Jungkook." Aku masih memapahnya yang kali ini terasa lebih berat karena dia tak sadarkan diri. Tentu saja semua berat badannya bertumpu padaku. Bisa bayangkan seberapa kesulitanku membawanya ke kamar? Dia yang bahkan badannya hampir 2 kali lebih besar dariku dan tingginya yang juga lebih tinggi dariku membuatku seperti di tiban benda yang sangat besar. Untung saja dia tak sadarkan dirinya saat kita sudah hampir sampai ke kamar. Aku membuka pintu kemudian memapah Jungkook dan menjatuhkannya di atas kasur. " Woaaaahhhhhh. Kamu benar-benar berat sekali Jeon Jungkook. Badanku rasanya sakit sekali." Kulanjutkan membetulkan posisi tidur Jungkook. Ku angkat kakinya yang masih menjuntai di bawah ke atas ranjang. Ku buka sepatunya dan ku tarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Sekilas ku pandangi wajah pria yang saat ini sedang berusaha merebut hatiku dari Sehun. " Apa kamu sungguh serius untuk memperbaiki pernikahan kita Jeon Jungkook?" Gumamku sendiri. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ku temukan satu sofa di pojok ruangan ini. " Mungkin aku tidur di sofa saja. Ranjang ini terlalu sempit untuk di pakai berdua." Ucapku yang kemudian beranjak berdiri dan pergi. Sebelum sempat melangkah tiba-tiba Jungkook menarik tanganku sehingga aku terjatuh di ranjang. Dia langsung menarikku ke dalam pelukannya. " Jungkook-a apa yang kamu..." " Sstttt... Tidak apa-apa kan kalau aku memelukmu? Aku kan suamimu Luna." Ucapnya tanpa membuka matanya. " Ii..iya tapi ini terlalu dekat Jeon J..." " Istirahatlah! Dan terima kasih kamu sudah memberiku kesempatan Aluna Lee." Dia malah semakin mengeratkan pelukannya padaku dan itu membuatku menjadi membeku. Degupan jantungku tiba-tiba menjadi sangat cepat. Mungkin karena ini pertama kalinya untukku tidur di peluk seseorang, apalagi seorang pria. Semoga saja Jungkook tidak merasakan degupan jantungku. Bisa malu aku nanti. Entah sudah berapa lama Jungkook memelukku. Aku yang awalnya berniat melepaskan diri saat Jungkook sudah lelap akhirnya malah ketiduran sendiri dalam pelukan Jungkook. *** Alarmku berbunyi tandanya jam sudah menunjukkan pukul 6. Mataku terbuka perlahan untuk mematikan alarm tapi tak dapat ku percaya, Jungkook masih erat memelukku. Artinya semalaman kami tidur dalam posisi berpelukan. " Jungkook-a bangunlah dan lepaskan aku, ini sudah pagi." Ucapku mencoba membangunkannya. Ku coba memindahkan tangannya dari perutku dan berhasil. Pelan-pelan aku bangun dari ranjang agar tidak membuat Jungkook terusik. " Yeobo kamu sudah bangun?" Aku terkejut saat sedang berjalan mengendap-endap untuk keluar kamar, tiba-tiba Jungkook terbangun dan memanggilku. Aku kembali menoleh ke ranjang dan melihat Jungkook telah membuka matanya. Dia berusaha bangun kemudian duduk. Kulihat dia mengaduh memegangi lengannya. " Aahhh.. lenganku sakit." " Ya bagaimana tidak sakit, lenganmu menjadi bantalku semalaman." Ucapku. " Oh ya?" Tanyanya seolah tidak sadar bahwa dia sudah memelukku semalam. " Kenapa kamu terkejut? Memangnya kamu tidak ingat menahanku dalam pelukanmu semalaman?" Jungkook malah menggaruk-garuk pelipisnya. " Hehe maaf aku tidak ingat. Tapi hanya memeluk saja? Tidak lebih?" Tanyanya. " Maksud kamu?" Aku malah bingung dengan pertanyaannya. " Ya maksudnya semacam hubungan suami istri sungguhan. Hehe." Aku terkejut mendengarnya dan langsung membelalakkan mata. " Yakk apa yang kamu pikirkan? Kamu hanya memelukku saja tidak lebih." Protesku agak salah tingkah. " Hehe maaf becanda Luna." Ujarnya kemudian bangkit dan menghampiriku. Dia berdiri tepat di hadapanku. " Kamu ngapain berdiri di depanku?" Tanyaku agak risih dengan keberadaannya. " Bolehkah aku memberimu morning kiss?" Tanya Jungkook yang langsung membuatku menahan napas. Morning kiss? Kenapa dia meminta hal seperti itu? Ini morning kiss yang bagaimana maksudnya? " Mm....mmorning kiss?" Tanyaku mengulang pertanyaan Jungkook. CUP. Tiba-tiba saja dia mencium keningku. Dan aku sama sekali tidak bisa bergerak. Keterkejutanku saja belum usai tapi Jungkook sudah memberiku kejutan yang lain. CUP. Dia mencium mata kananku. CUP. Dia mencium mata kiriku. Dan sampai saat ini aku tidak bisa bergeming ataupun menolak perlakuannya. Kecupannya pun dilakukannya dengan cepat. CUP. Dia mencium pucuk hidungku dan bibirnya menuju bibirku. Dia menghentikan gerakannya. " Bolehkah aku mencium bibirmu Luna?" Tanpa menunggu jawabanku telapak tangannya memegang tengkkukku kemudian menarikku lebih mendekat. Dia langsung menciumku tanpa aba-aba. Aku yang tidak siap dengan serangan ciumannya hanya bisa pasrah menerima perlakuan dari pria yang sudah menjadi suamiku ini. Tanpa terasa jantungku kembali berdetak tidak karuan. Jungkook melepas ciumannya setelah beberapa lumatan di bibirku. Dia menatap mataku intens kemudian tersenyum. " Terima kasih untuk tidak menolak semua perlakuanku Luna. Sepertinya aku mulai jatuh cinta padamu." Ucap Jungkook mengungkapkan perasaannya. Aku hanya diam tidak bisa merespon. Semua perlakuan manis Jungkook terus terang saja aku tidak siap untuk menerimanya. Dan bagaimana perasaanku pun aku tidak tahu. Tapi dua kali menerima serangan cintanya membuat jantungku berdetak tidak beraturan. Mungkinkah aku sudah siap menerimanya sebagai suamiku? *** Pukul delapan pagi Jungkook mengantarku ke kantor. Kami berangkat dari dorm bangtan setelah berpamitan dengan para member. Di dalam mobil, kami berdua hanya saling diam. Sejak kejadian ciuman bibir kami tadi pagi, selain di depan member bangtan, aku dan Jungkook hanya saling diam. Entahlah aku harus bersikap bagaimana? Tapi jika Jungkook mengatakan bahwa dia mulai jatuh cinta padaku, bukankah seharusnya saat ini dia kembali berlaku manis seperti biasanya? Tapi kenapa sejak pagi tadi dia justru banyak diam dan sama sekali tidak memanggilku sayang, dia hanya memanggilku dengan panggilan Luna. " Luna?" " Jungkook?" Kami bersamaan memanggil nama masing-masing. " Kamu duluan saja." " Kamu duluan saja." Kembali kami berbicara bersamaan lagi. " Aaa.. Tidak apa-apa kamu duluan aja Jungkook." Ucapku cepat mendului Jungkook. Dia menggaruk belakang telinganya sambil tersenyum canggung. " Tentang ciuman tadi...." " Hmmm?" Sejujurnya aku masih terkejut, meskipun aku juga ingin membahas hal itu tapi ternyata jika mendengarnya sendiri malah membuatku salah tingkah. " Aku harap kita... kita bisa sering melakukannya." " Hah?" Aku terkejut dengan pernyataan Jungkook. Dia berharap sering melakukannya? Maksudnya bagaimana? Dia memintaku untuk sering berciuman dengannya? " Kamu jangan salah paham dulu Luna, maksudku aku berharap kita bisa lebih sering berinteraksi mesra seperti tadi." Ucap Jungkook langsung mengklarifikasi pernyataannya sebelum aku makin over thinking. Tapi meskipun maksudnya adalah lebih sering berinteraksi mesra, bukankah sama saja yah dengan dia meminta untuk sering berciuman? Aaarrgghh jangan menyimpulkan sendiri Luna, nanti kamu malu kalau kenyataannya yang di maksud Jungkook bukan itu. Aku salah tingkah sampai bingung harus merespon bagaimana pernyataan Jungkook barusan. Aku hanya mencoba menarik senyum menunjukkan gigiku. Setelah pembicaraan itu aku dan Jungkook sama-sama diam. Dan sekitar 45 menit berlalu, kami sampai di depan kantorku. " Nanti pulang kerja kabari aku ya, aku akan menjemputmu." Ucap Jungkook tepat sebelum aku membuka pintu mobil. " Baiklah." Jawabku. " Luna?" Panggilnya yang akhirnya membuatku mengurungkan niat untuk membuka pintu. Aku kembali menoleh padanya. " Ya." Jawabku. Jungkook mengulurkan tangannya ke leher belakangku dan menarikku mendekat. CUP. Dia mengecup cepat keningku. Aku sungguh terkejut karena aku sama sekali tidak menyangka Jungkook akan mengecupku secara tiba-tiba. Kutatap matanya setelah dia melepaskan kecupannya. Kami berdua sama-sama terdiam saling menatap. Dan aku memberanikan diri memanggilnya setelah kami berdua terdiam cukup lama. " Jungkook-a?" Panggilku pelan. " Hem yeobo?" Jawabnya tanpa mengalihkan sedikitpun tatapannya dari mataku. " Apa kamu sungguh serius ingin memperbaiki pernikahan kita?" Tanyaku. " Kamu masih meragukanku?" Tanya Jungkook. " Jawab aku dulu." " Perlukah kamu bertanya lagi Aluna?" Tanya Jungkook yang menurutku tidak menjawab pertanyaanku sama sekali. Aku memperdalam tatapanku agar dia mengerti aku butuh jawabannya. " Aluna Lee? Aku ingin mencintaimu sebagai istriku. Dan aku juga ingin kamu mau mencintaiku sebagai suamimu. Apa itu sudah menjawab rasa penasaranmu sayang?" Jawab Jungkook dengan menarik senyum. " Aku berharap aku bisa menjadi satu-satunya pria yang kamu cintai Aluna Lee dan aku juga ingin kamu menjadi satu-satunya wanita yang kucintai. Apa kesepakatan kita bisa di ubah menjadi seperti ini saja?" Mendengar jawaban Jungkook membuatku terdiam. Apakah aku bisa memenuhi permintaannya? " Tidak perlu menjawabnya sekarang. Masuklah! Nanti kamu terlambat." Ucap Jungkook sambil mengusap pucuk kepalaku. Aku menganggukkan kepala kemudian keluar dari mobilnya. __bersambung__
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN