Chapter 9

3027 Kata
" Omo omo omo. Nae simjang (* oh my god, hatiku)" Aku berjalan ke pantry sambil menepuk-nepuk dadaku yang terasa seperti ingin melompat. Detakan jantungku terasa terlalu kuat. Sesaat setelah Jungkook mengusap pucuk kepalaku tadi jantungku berdetak tidak beraturan. Beruntung aku langsung keluar dari mobil kalau tidak mungkin wajahku yang memerah akan di lihat oleh Jungkook. " Luna kamu kenapa?" Suara Ji Eun seonbae mengejutkanku. " Ah kamjagiya." Aku terlonjak saat melihat Ji Eun seonbae ada persis di sebelahku. " Seonbaenim kamu mengagetkanku." protesku padanya. " Yak. Aku sudah ada di sini sejak tadi. Bahkan aku melihatmu menepuk-nepuk dadamu dari baru masuk pintu pantry." Ujarnya. " Jinjja? (*benarkah?) Kenapa aku tidak melihatnya?" Ucapku tak percaya. " Hisshh kamu ini. " Balas Ji Eun seonbae sedikit kesal. " Kamu itu seperti orang yang sedang gugup saja. Kamu gugup karena hari ini akan bekerja sama dengan idol besar seperti Sehun?" sambung Ji Eun. Ah betul juga aku sampai lupa kalau aku akan bekerja bersama Sehun. Apa lebih baik aku memberitahukan hal ini pada Jungkook ya? " YAK ALUNA LEE." Ji Eun menepuk bahuku karena aku tak kunjung merespon perkataannya. " Ah ne seonbaenim (*ah ya senior ) Aku harus berangkat bersama siapa?" Tanyaku yang baru saja tersadar begitu Ji Eun menepukku. " Harusnya sih dengan timjangnim. Tapi entahlah kamu bisa lihat memo di mejamu. Tadi kulihat timjangnim menempelkan memo di meja kerjamu." Ucapnya. " Aaahhh.. Gomawoyo seonbaenim (*terima kasih senior) Aku langsung ke ruangan saja kalau gitu." Aku ngeloyor pergi setelah berpamitan pada Ji Eun seonbae. Dalam perjalanan ponselku bergetar. Tanpa melihat layar aku langsung mengangkatnya. " Ne, yeoboseyo. (*ya hallo)" " Aluna mwohae? (*Aluna lagi ngapain?)" Ucap seseorang di ujung telepon sana. Dia tahu namaku? Aku menghentikan langkah dan bergegas melihat layar ponselku. Ternyata Sehun lah yang menelpon. Ah padahal aku sudah berjanji pada diriku untuk lebih membatasi diri dengan Sehun tapi kenapa aku malah mengangkat telepon darinya? " Aahhhhh Sehunie. Aku sedang bekerja. Ada yang perlu ku bantu?" Tanyaku. " Tidak sih aku hanya ingin tahu kabarmu, sejak malam itu kamu sama sekali tidak menghubungiku." Benar, sejak kejadian Jungkook dan aku bertengkar karena kehadiran Sehun di rumah, aku sama sekali belum menghubunginya. Meskipun aku ingin membatasi diri dengan Sehun tapi bukan berarti aku memutus pertemanan dengannya kan? " Aaahhh maaf Sehun, karena aku sudah mulai bekerja jadi aku tidak sempat mengabarimu." " Oh gitu. Ya sudah nanti saja kita sambung lagi ya managerku sudah menyuruh untuk bersiap." Akhirnya panggilan teleponpun terputus. Aku bergegas ke meja kerjaku dan mencari memo dari timjangnim seperti yang di katakan Ji Eun seonbae. *** Aku berangkat menuju lokasi di mana aku akan bertemu dengan Sehun. Entah kenapa saat ini hatiku seperti merasa was-was padahal ini adalah pertemuan tentang pekerjaan. Aku memutuskan untuk tidak memberitahu Jungkook karena kupikir hal ini hanya tentang pekerjaan saja. Tapi entah kenapa aku malah merasa bersalah yah? Aku berjalan ke dalam bilik vip sebuah restoran mengekori seorang pelayan di sana. Dan sampailah kami di bilik vip itu. Pelayan tadi segera membukakan pintu. " Permisi Tuan, tamu yang anda tunggu sudah tiba." Ucap pelayan itu pada dua orang pria yang berada di dalam. Pelayan itu segera pergi setelah mendapat perintah dari manager Sehun. Kulihat Sehun masih asik dengan ponselnya. " Annyeonghasimnika." Aku menyapa mereka berdua dengan membungkukkan badan. " Ne, annyeonghasimnika." Sang manager membalas sapaanku tapi tidak dengan Sehun. Dia masih asik menekuri ponselnya. Sang manager kulihat menyenggol Sehun. Dia kemudian melepas bluethoot earphone di telinganya. Ah pantas saja Sehun tidak mendengar sapaanku, rupanya dia sedang menggunakan earphone. " Annyeonghasimnika Oh Sehun-ssi." Ucapku kemudian melangkah masuk menghampiri mereka. Sehun menoleh dan cukup terkejut dengan kehadiranku. " Luna?" Aku tersenyum menghampirinya kemudian mengulurkan tanganku untuk bersalaman dengannya. " Kalian saling mengenal?" Tanya sang manager. Sehun menerima uluran tanganku dan kami bersalaman sebagaimana seorang rekan kerja. Setelah bersalaman dengan Sehun aku juga menyalami managernya. " Dia temanku hyung." Jawab Sehun atas pertanyaan managernya tadi. " Ah jinjja?" Aku tersenyum pada mereka. " Benar manager-nim. Kami memang saling mengenal." Jawabku mengamini ucapan Sehun. " Kamu kenapa tidak bilang jika kita akan bertemu di sini?" Tanya Sehun padaku. " Bisakah kita bicara mengenai pekerjaan dulu?" Aku mengalihkan pertanyaan Sehun. " Ah baiklah." Ucap Sehun terdengar agak kecewa. Kami pun akhirnya membicarakan mengenai pekerjaan. Sekitar satu jam berlalu dan akhirnya pembicaraan mengenai pekerjaan sudah selesai. Manager Sehun meminta ijin pada kami untuk menelpon seseorang dan akhirnya tinggallah aku dan Sehun berdua saja. " Bagaimana kamu dengan Jungkook?" Tanya Sehun membuka pembicaraan. " Kami baik-baik saja. Dan Jungkook memutuskan untuk membuat pernikahan kami menjadi pernikahan yang sesungguhnya. Dia sedang mencoba mencintaiku." " Oh ya? Aku turut bahagia tapi juga jadi kecewa." Ucapnya. " Kenapa kecewa?" " Ya ini artinya aku harus merelakan cintaku padamu untuk Jungkook kan?" Aku tersenyum canggung tanpa menjawabnya. " Tapi kita masih bisa berteman kan?" Tanya Sehun lagi. Sejujurnya aku juga merasakan hal yang sama dengan Sehun tapi bukankah memang sudah seharusnya aku memilih Jungkook di banding Sehun? Meskipun saat ini kenyataannya hatiku masih di miliki Sehun. " Of course. Why not?" Jawabku kemudian tersenyum padanya. " Tapi ingat kata-kataku Luna, jika Jungkook menyakitimu datanglah padaku." Aku kembali tak bisa menjawabnya, hanya kembali menarik senyum canggung. Tak berapa lama manager Sehun kembali ke bilik. " Sehun-a, kita sudah harus berangkat." Ujarnya pada Sehun begitu dia membuka pintu bilik. " Luna-ssi, kami harus segera berangkat untuk jadwal Sehun selanjutnya." Sambung manager Sehun padaku. " Ah ne manager-nim. Saya juga harus segera pamit. Jika ada sesuatu yang masih terasa kurang pas tolong kabari kami maksimal dua hari sebelum proses syuting." Ujarku. " Baiklah. Kalau begitu kami pamit duluan." Ujar manager Sehun berpamitan padaku. Aku segera berdiri dan membungkuk. " Sehun-a palli." Ujar sang manager mengajak Sehun yang sejak tadi hanya duduk saja sambil menatapku. Kulihat Sehun berdiri dengan malas. " Ne." Jawabnya singkat. " Aku akan menghubungimu nanti luna. Aku pergi dulu." Ujarnya berpamitan padaku. Aku menganggukkan kepala tanpa menjawabnya. *** Sebuah pesan masuk yang langsung ku buka begitu ponselku berbunyi. Kulihat layar tertera nama 남편 (nampyeon/ suami) di sertai emotikon hati berwarna ungu. " Heiii sejak kapan nama Jungkook berubah menjadi nampyeon?" Aku bingung sendiri sebab seingatku, aku menamai kontak Jungkook dengan nama aslinya yaitu Jeon Jungkook tapi kenapa saat ini tiba-tiba saja berubah? Mungkinkah Jungkook merubahnya? Tapi kapan dia memegang ponselku? Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya. Ku buka isi pesan dan langsung membacanya. * Yeobo? Mwohae? (*sayang? Lagi ngapain?) Baru saja aku ingin mengetik balasan, sebuah pesan muncul lagi di kolom pesan kami. Ternyata Jungkook mengirimkan foto selca nya. " Mwoya? Kenapa dia mengirimkan foto dirinya?" Monologku sambil memandangi fotonya yang terlihat tampan menurutku. Seketika aku menarik senyum melihat wajahnya yang menggemaskan. * Kamu sedang sibuk? Sebuah pesan sudah muncul lagi dari Jungkook. Sebelum dia mengirimiku pesan lagi, aku segera mengetik balasan. * Tidak. Aku baru saja selesai meeting dengan BA baru. * Kamu udah makan yeobo? * Udah. Kamu? * Udah dong. * Kamu tidak menanyakanku sedang melakukan apa? Jungkook kembali mengirimiku pesan yang menanyakan mengapa aku tidak bertanya dia sedang apa. * Memang kamu sedang melakukan apa? * Aku sedang mencintaimu ? Aku langsung tertawa membaca pesan terakhir dari Jungkook, apalagi dia kembali mengirimiku foto dirinya dengan jari tangan yang membuat lambang saranghae ( finger heart ). * Kenapa tidak menjawabku yeobo? Dia kembali mengirimiku pesan. * Harus ku jawab apa gombalanmu ini Jeon Jungkook? ? * Cobalah untuk memanggilku dengan panggilan yang lain. Memanggil Jeon Jungkook seperti aku bukan suamimu. Jungkook melakukan protes padaku karena aku tak pernah memanggilnya dengan panggilan sayang seperti halnya dia memanggilku. Dan kenyataannya aku memang selalu memanggilnya dengan panggilan Jungkook, Jungkook-a atau memanggil dengan nama lengkapnya, Jeon Jungkook. Memang terdengar tidak mesra sih tapi aku lebih nyaman memanggilnya seperti itu. * Jadi aku harus memanggilmu apa? * Sayang, yeobo, baby atau mungkin honey seperti kemarin kamu memanggilku. Aku menganga seketika. Ternyata Jungkook masih mengingat kesalahan panggilanku kemarin. Seketika aku jadi malu sendiri. " Sewon-a?" Aku menghentikan langkah saat mendengar seseorang memanggil nama Sewon. Padahal nama Sewon di Korea ini pasti sangat banyak tapi kenapa aku harus penasaran dengan orang yang baru saja kudengar namanya. " Bagaimana kabarmu?" Tanya seorang perempuan pada seseorang yang bernama Sewon itu. Aku mengurungkan niat untuk keluar dari restoran dan mengambil tempat duduk di dekat mereka. Aku sengaja memesan minuman agar tidak terlalu mencurigakan. " Aku baik-baik saja." " Jungkook masih menemuimu?" Jungkook? Jungkook suamiku kah? Apa dia Sewon, seseorang yang selalu di temui Jungkook? Aku kembali menajamkan pendengaranku. " Masih. Dia bahkan selalu datang saat aku menelponnya meskipun aku tidak pernah menyuruhnya datang." " Mungkin Jungkook masih menyukaimu Sewon." " Entahlah. Aku pun masih menyukainya tapi aku tidak berani mengharapkan Jungkook kembali padaku. Meskipun jujur saja hati kecilku masih menginginkan dia. Siapa yang tidak jatuh cinta dengan pria selembut Jungkook coba?" Seketika hatiku memanas. Ya benar siapa yang tidak jatuh cinta dengan pria selembut suamiku? Ah tapi ada yang tidak jatuh cinta pada Jungkook dan jawabannya adalah aku. Jika di pikir-pikir Jungkook baik padaku baru sejak kemarin. Sebelumnya dia dingin sekali bukan? " Kalian berdua cocok sekali padahal Sewon, sayang yah kalian harus berpisah." " Ini sudah takdir kami mungkin. Tapi aku senang Jungkook bersedia...." Belum selesai mendengar pembicaraan mereka, sebuah panggilan masuk di ponsel membuatku harus menghentikan pendengaranku. Aku langsung mengangkat panggilan itu. " Ne timjangnim?" " Ne algeseumnida." Ah kenapa di saat seperti ini aku malah harus segera pergi? Dengan terpaksa aku berdiri dan meninggalkan kesempatanku mengetahui lebih lanjut hubungan antara Sewon dan Jungkook. Sambil pergi aku mengecek ponselku yang terdapat pesan masuk dari Jungkook. Aku bahkan sampai lupa untuk membalas pesan darinya tadi. * Kamu sibuk sekali ya? Ya sudah kita bertemu nanti malam saja ya yeobo. Jangan lupa kabari aku kapan kamu pulang kerja. Saranghae Aluna Lee. Aku kembali tersenyum melihat pesan Jungkook. Jantungku kembali berdegup kencang saat membaca kalimat " Saranghae Aluna Lee ". Pantas saja Sewon bilang siapa yang tidak jatuh cinta dengan pria seperti Jungkook? Kenyataannya Jungkook memang pria yang lembut dan romantis. Seketika aku teringat dengan beberapa ciuman yang sudah kami lakukan. Lebih tepatnya sih serangan ciumannya padaku. Aku jadi mengulum senyum sendiri. " Ah mwoya kenapa aku malah memikirkan hal itu?" Aku merutuki diri sendiri yang berpikiran vulgar secara tiba-tiba. Aku kembali melihat sekilas foto yang di kirimkan Jungkook padaku. " Ah kiyowo (*imutnya)." Monologku yang kemudian memasukkan ponselku ke dalam tas dan langsung pergi dari restoran. Aku bergegas ke sebuah hotel yang di maksud timjangnim. Sampai di lobby aku langsung bertemu dengan beliau. " Ada masalah apa timjangnim?" Tanyaku. " Ada beberapa berkas tambahan untuk Sehun tapi saya tidak bisa mengantarnya langsung. Meeting saya belum selesai. Apa kamu bisa mengantarkan berkas ini padanya? Soalnya waktu kita sangat mepet. Dan saya lupa tidak membawa soft copy nya. Saya pun baru ingat saat membuka tas." Jawab timjangnim. " Baiklah." Jawabku singkat yang langsung menyetujui permintaan timjangnim. Ya aku memang jarang menolak pekerjaan apapun di kantor. Bahkan aku sampai lupa jika yang di maksud timjangnim adalah aku harus kembali bertemu Sehun. Meskipun aku senang bertemu dengannya tapi aku tetap saja selalu merasa bersalah pada Jungkook jika menemui Sehun walaupun ini hanya tentang pekerjaan saja. Dan aku malah menjadi canggung sendiri jika berhadapan dengan Sehun padahal sebelumnya biasa saja kan? Mungkin nanti aku akan jujur saja pada Jungkook bahwa aku akan bekerja bersama Sehun agar aku tidak selalu merasa bersalah padanya. *** Aku datang ke tempat pemotretan Sehun. Aku langsung menemui managernya yang sedang mengamati Sehun di belakang fotografer. " Mwoya? Seksi sekali." Aku memperhatikan Sehun yang berpose seksi memperlihatkan dadanya yang bidang. Aku langsung memalingkan wajah ketika tak sengaja pandangan mata Sehun mengarah padaku. " Manager-nim? Ini berkas titipan timjangnim. Katanya beliau sudah memberitahukannya padamu." Ucapku sambil menyerahkan berkas yang di titipkan timjangnim tadi. " Ah ne, kamsahamnida (*terima kasih)" Manager Sehun menerima berkas tersebut dan mengucapkan terima kasih. " Saya langsung pamit saja kalau begitu." Ujarku yang langsung berpamitan pada manager Sehun. Sebenarnya aku hanya ingin menghindari terlalu sering bertemu Sehun. Sebabnya pasti kalian tahu kan? Aku tidak bisa membiarkan rasa sukaku pada Sehun terus berlanjut jika terlalu sering bersamanya. " Eoh? Tidak ingin menemui Sehun dulu?" Tanya manager Sehun padaku. " Ah tidak, lagipula dia juga sedang sibuk kan?" " Iya juga. Pemotretannya belum selesai." Jawab manager Sehun menyetujui pernyataanku. " Kalau begitu saya pamit duluan manager." Ujarku kemudian membungkuk dan pergi meninggalkan tempat pemotretan. " LUNA?" Sehun berteriak memanggilku. Aku mau tak mau berhenti. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Sehun berlari ke arahku. Semua orang di tempat pemotretan bahkan mengalihkan perhatiannya padaku. Seketika aku menutupi wajahku dengan menunduk. " Kenapa menunduk?" Tanya Sehun begitu sampai di hadapanku. " Aku malu menjadi pusat perhatian karena panggilanmu tadi." jawabku jujur. " Ah matta." " Aku minta break sebentar untuk bicara dengan sahabatku." Teriaknya pada kru foto. " Ne." Semua orang mengiyakannya serempak. Aku langsung di tariknya ke sebuah ruangan yang kupikir adalah ruang gantinya. " Yak Sehun-a, kenapa bicara harus di dalam sini sih? Kita cuma berdua loh ini." Ujarku protes. Aku membuang pandangan ke arah lain. " Katanya tadi kamu malu jadi pusat perhatian." " Iya tapi kan tidak harus di dalam ruangan berdua seperti ini juga." " Tidak ada tempat lain yang lebih privasi Luna." Jawabnya. " Terus kamu kenapa tidak mau menatapku?" Sambungnya lagi karena aku tak kunjung menatap ke arahnya. " Kamu tidak berniat mengancingkan bajumu? Apa kamu berniat memperlihatkan abs mu padaku?" Sindirku langsung padanya. " Hahaha. Ternyata gara-gara ini. Maaf maaf aku lupa. Sebentar ku kancingkan dulu bajuku." Jawabnya yang kemudian membelakangiku. Tak lama Sehun kembali menghadapku. " Sudah. Kamu bisa menghadap padaku sekarang Luna." Aku menuruti perkataannya. Aku kembali menatap Sehun yang saat ini sudah berpakaian dengan benar. Kulihat Sehun mengulum senyum sembari menatapku. " Kamu kenapa mesam mesem gitu?" Tanyaku yang merasa aneh dengannya. " Lucu saja seorang yang sudah menikah masih tidak biasa dengan pemandangan laki-laki bertelanjang d**a seperti tadi. Bukankah kamu sudah melihat Jungkook full naked?" Ledek Sehun padaku. " YAK OH SEHUN. " Aku memukul kepalanya dengan tas yang ku pegang. " Awww. Kamu menyakitiku Luna." " Ah maaf maaf aku reflek memukulmu dengan tas." Ujarku meminta maaf pada Sehun sambil mengusap kepalanya. " Kalau berdarah bagaimana Luna?" Tanya Sehun yang semakin menundukkan kepalanya padaku. Aku yang semula reflek mengusap kepalanya lama-lama merasa risih dan mendorongnya menjauh. " Modus saja kamu." Protesku kesal padanya. " Hehe. Lagian kapan lagi aku bisa mendapat usapan darimu kan?" Sehun tertawa geli yang membuatku jadi memandanginya. Seketika aku terpesona dengan caranya tertawa. Rasanya persis sama seperti saat pertama kali aku jatuh cinta padanya sebagai seorang fans. " Sehun?" Panggilku lembut padanya. " Ya." Jawabnya singkat. Aku menatap matanya dalam-dalam. " Aku sudah menikah Sehun." Aku masih menatapnya. Aku berharap Sehun mengerti bahwa meskipun kita saling menyukai tapi kenyataannya tidak mungkin untuk kita terlalu berlebihan dalam berinteraksi. Sehun malah menarikku dalam pelukannya. " Aku tahu Luna tapi aku baru kali ini menyukai seorang wanita sampai rasanya aku akan gila. Kamu wanita yang sangat berbeda. Bagaimana mungkin Jungkook bisa mendapatkanmu? Karma baik apa yang dia lakukan? Jujur saja aku iri dengannya." " Sehun tolong jangan seperti ini." Ucapku berusaha melepaskan pelukan Sehun. " Sebentar saja Luna. Mungkin ini menjadi kesempatan terakhirku untuk memelukmu." " Tapi Sehun...." " Tolong biarkan aku memelukmu sebentar saja." Sehun semakin mengeratkan pelukannya dan aku mau tak mau membiarkannya memelukku. Tanpa ku sadari mataku malah berkaca-kaca. Ternyata seperti inilah rasanya cinta tapi tidak bisa memiliki. Hatiku terasa nyelekit. Aku mulai mengangkat tanganku ingin membalas pelukan Sehun tapi kemudian kuhentikan tanganku di tengah-tengah dan kuturunkan kembali sebelum menyentuh punggung Sehun. " Berjanjilah padaku kamu akan bahagia dengan Jungkook, Luna." Aku menganggukkan kepala di dalam pelukan Sehun. Air mata sama sekali tak bisa terbendung. Ia jatuh setetes tanpa bisa ku cegah. " Jika kamu tidak bahagia maka aku akan mengambilmu dari Jungkook." Ucap Sehun yang akhirnya membuat pertahanku jebol seutuhnya. Air mata yang semula hanya terjatuh setetes akhirnya menjadi deras tanpa bisa ku tahan lagi. Perlahan Sehun melepaskan pelukannya dan mendapati pipiku basah dengan air mata. Dia langsung mengusap air mata di kedua pipiku dengan cepat. " Jangan menangis Luna. Bukan ini yang aku inginkan, eoh?" Aku menganggukkan kepala tanpa bisa menjawabnya dengan suara. Drrttt... Drrrttt... Suara ponselku berbunyi, kulihat di ponsel Jungkook melakukan panggilan. Aku dengan cepat mengusap kasar sudut mataku. " Aku pergi dulu Sehun." Ujarku yang langsung pergi meninggalkan Sehun kemudian mengangkat panggilan Jungkook. " Hemm ada apa?" Tanyaku membuka pembicaraan. " Suaramu kenapa? Terdengar agak bergetar." Tanya Jungkook yang curiga dengan suaraku yang memang terdengar lain. " Ekhem.. Ekhem...( berdehem ) Tidak kenapa-kenapa. Aku tadi agak batuk sedikit." Jawabku berbohong. Tidak mungkin ku katakan bahwa aku bertemu Sehun dan berpelukan dengannya kan? " Batuk? Kamu sakit?" Tanya Jungkook terdengar khawatir. " Tidak tidak tadi hanya sedikit batuk karena debu." Jawabku beralasan. " Oh gitu. Kupikir kamu sakit tapi tidak bilang padaku." " Tidak tuan muda Jungkook." Jawabku meledeknya. " Heiii aku kan sudah bilang jangan memanggilku hanya nama saja. Panggil aku dengan panggilan sayang dong yeobo." " Tuan muda kan juga panggilan sayang." Ledekku padanya. " Tidaaakk. Bukan seperti itu maksudnya. Kamu seharusnya..." " Iya suamiku." Potongku yang langsung membuat Jungkook terdiam di ujung telepon sana. " Yeoboseyo?" Aku memanggilnya karena Jungkook sama sekali tidak bicara dalam waktu yang cukup lama. " Jungkook-a kamu masih di sana?" Tanyaku sekali lagi. " Eoh. Kenapa kamu kembali memanggilku Jungkook yeobo?" " Ya habisnya kamu ku panggil suamiku malah diam. Berarti kamu tidak suka kupanggil seperti itu kan?" " Heiii. Mana mungkin. Aku justru terlampau senangnya sampai tidak bisa berkata-kata." Jawabnya. " Haha masa sih?" " Bener yeobo. Eh iya ngomong-ngomong ini sudah jam 5.30, kamu jam berapa pulang?" " Aaaahh.. Sebenarnya aku bisa pulang sekarang tapi aku sedang tugas keluar. Cukup jauh dari kantor, biar aku pulang sendiri saja ya?" " Tidak tidak. Aku tidak mengijinkannya. Katakan saja kamu ada di mana, aku akan datang menjemputmu sekarang." " Tapi ini agak jauh dan kamu malah harus bolak balik Jungkook." " Tidak masalah untukku. Kirimkan saja alamatnya aku akan segera berangkat." Akhirnya aku menyerah dan menuruti permintaan Jungkook. Aku mengirimkan alamat restoran di sebelah gedung tempat pemotretan Sehun. Aku melakukannya untuk berjaga-jaga saja supaya tidak terjadi kesalahpahaman. ___ bersambung ___
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN