Aku dan Jungkook sampai di apartemen setelah kurang lebih satu setengah jam sejak aku menunggunya di restoran tadi.
" Yeobo kamu mau makan?" Tanya Jungkook begitu kami baru saja masuk ke apartemen.
" Tidak Jungkook. Aku belum lapar." Jawabku.
" Tapi aku lapar." Jawabnya terdengar manja.
Aku menoleh padanya.
" Kamu ingin di buatkan sesuatu?"
" Tidak perlu nanti aku pesan antar saja." Jawabnya.
" Beneran?" Tanyaku memastikan.
" Iya beneran yeobo."
" Ya udah aku mandi dulu, badan pada lengket rasanya." Ucapku yang langsung ngeloyor masuk ke kamar kemudian bergegas masuk ke kamar mandi.
Aku langsung mengguyur tubuhku dengan air. Mengambil shampo dan meratakannya di rambut.
" Ah matta. Aku lupa membawa handuk." Ucapku di sela-sela guyuran air yang membasahi seluruh tubuh.
Aku langsung menutup kran shower.
" Jungkook?" Teriakku dari dalam kamar mandi tapi Jungkook tidak memberikan jawaban.
" Jungkook-a?" Ulangku sekali lagi. Dan kali ini ku keraskan lagi volume suaraku.
Kutunggu beberapa saat tapi Jungkook tetap tidak meresponnya.
" Dimana dia? Apa suaraku kurang keras?" Monologku.
Aku berjalan menuju pintu kamar mandi, kubuka sedikit dan kusembulkan kepalaku keluar.
" Jungkook-a?" Panggilku lagi.
" Jeon Jungkook." Aku memanggilnya lagi dengan berteriak cukup keras tapi sepertinya Jungkook tidak mendengarnya.
Aku memutuskan untuk mengambil sendiri handukku dan melanjutkan mandi ke kamar mandi.
Setelah selesai, aku keluar untuk berganti baju. Seingatku tadi saat aku kembali ke kamar mandi, Jungkook tidak ada di kamar jadi aku dengan santainya melenggang keluar kemudian memilih pakaian.
Ku lepas handukku begitu saja karena kupikir hanya ada aku saja di kamar.
Tapi saat aku sudah melepas semua dari tubuhku tiba-tiba suara seseorang mengejutkanku.
" Yeobo."
Aku terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Ku lihat Jungkook sedang tiduran bersandar di ranjang sambil memandangiku.
Jungkook tersenyum padaku, aku bahkan sampai tidak ingat bahwa aku sudah bertelanjang total tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhku.
" Kamu sengaja menggodaku yeobo?" Ucap Jungkook dengan mengulum senyum.
Seketika aku tersadar dan langsung berteriak sambil mengambil handukku yang tergeletak di lantai.
" AAAAAA.. JEON JUNGKOOK SEJAK KAPAN KAMU DI SITU? PALINGKAN WAJAHMU PALLI (*cepat)" Teriakku sambil menutupi tubuhku dengan handuk kemudian menghambur ke arah Jungkook, menarik selimut dan langsung menutupi Jungkook menggunakan selimut itu.
" Luna aku tidak bisa bernapas." Ucap Jungkook dari dalam selimut mencoba melepaskan diri.
" Jangan coba-coba membuka selimut sebelum ku suruh." Ancamku keras padanya.
" Tapi aku susah bernapas sayang."
Aku bergegas berlari mengambil pakaian di lemari kemudian menuju kamar mandi. Setelah berpakaian lengkap aku keluar menemui Jungkook dengan tatapan tajam sedangkan dia sudah duduk di ranjang sambil menatap ke arahku sembari mengulum senyum.
" Sejak kapan kamu ada di dalam kamar?" Tanyaku sengit.
" Aku sudah di sini sejak kamu masih mandi tadi yeobo."
" Bohong." Ucapku tak percaya.
" Kok bohong? Aku memang sedang menunggumu mandi tadi."
" Tadi saat aku berteriak kamu tidak meresponku. Dan aku pun tidak melihatmu saat aku mengambil handuk."
" Kapan?" Tanyanya.
" Hisssh (kesal ) intinya kenapa kamu ada disini saat aku berganti pakaian?"
" Lah kan ini memang kamar kita sayang."
" Tapi kan tadi kamu tidak ada di dalam. Kkk..kamu pasti sudah melihat semuanya kan?" Tanyaku terbata-bata.
Jungkook malah mengulum senyum.
" Aku harus jawab bagaimana biar kamu tidak marah padaku?" Tanya Jungkook padaku.
" Hishh." Aku menghentakkan kakiku kemudian berjalan cepat meninggalkan kamar. Wajahku pasti sudah memerah sekarang. Bodoh bodoh bodoh Luna. Aku merutuki diri sendiri di dalam hati. Aaaarrggghh aku maluuu.
" Yeobo kamu mau ke mana?" Ku dengar Jungkook bertanya tapi tak ku hiraukan sama sekali karena aku sudah terlanjur malu dengannya.
Tiba-tiba saja tanganku di tarik Jungkook dan tubuhku langsung menghambur ke belakang bertabrakan dengan tubuh kekarnya. Jungkook langsung memelukku.
" Kamu mau kemana Luna? Kamu tidak perlu malu eoh? Aku kan suamimu." Ucapnya memelukku erat.
" Bagaimana aku tidak malu Jungkook, kamu sudah melihat semuanya kan?"
Jungkook melepaskan pelukannya dan menunduk menatap mataku.
" Kita kan suami istri sayang jadi kamu tidak perlu malu eoh?"
Aku masih diam menatap matanya.
" Kalau kamu malu aku bisa juga bertelanjang di depanmu." Ucap Jungkook menoel hidungku.
" Hishhh dasar mesum." Aku mencebik tapi ucapan Jungkook sukses menenangkanku dari rasa malu.
" Jungkook-a?" Panggilku.
" Hemm?"
" Kenapa kamu bisa tiba-tiba berubah manis seperti ini?" Tanyaku.
" Kamu tidak suka caraku memperlakukanmu?" Tanya Jungkook masih menatapku.
" Bukan. Maksudku kamu bisa secepat ini bersikap manis padaku padahal sebelumnya kamu dingin sekali kan?"
" Aku kan sudah bilang sayang, ini salah satu caraku untuk membuat diriku sendiri jatuh cinta padamu."
Aku menatap tajam mata bulatnya yang juga menatapku. Memang ada ketulusan di sana. Jadi apakah aku juga harus melakukan hal yang sama seperti Jungkook?
" Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Jungkook.
" Haruskah aku juga melakukan hal yang sama denganmu?"
" Eoh?" Jungkook terlihat bingung dengan pertanyaanku.
Tanpa menjawabnya, aku langsung berjinjit dan mengecup bibirnya sekilas.
Kulihat Jungkook terkejut saat aku melepas kecupanku padanya.
" Luna?"
Dia memanggil namaku tanpa sekalipun melepas tatapannya dari mataku.
" Perlukah kita berciuman lagi Jungkook?" Tanyaku.
Dan kali ini tanpa menjawabnya Jungkook langsung melumat bibirku ganas. Benarkah yang kulakukan ini? Pelan-pelan kucoba menikmati ciuman Jungkook yang semakin lama terasa semakin liar.
Aku yang awalnya diam akhirnya memberanikan diri membalas ciuman Jungkook. Aku mengikuti permainannya yang awalnya lembut kemudian menjadi ganas. Dia melumati bibir atas dan bawahku secara bergantian. Lidahnya juga ikut masuk mencari lidahku. Aku menyambutnya dengan menautkan lidah kami. Jujur saja ada rasa panas yang tiba-tiba menjalar di tubuhku. Haruskah kulanjutkan dengan adegan yang lebih panas dari ini? Haruskah aku menyerahkan kesucianku padanya sekarang? Apakah dengan begitu pernikahan kami akan menjadi pernikahan yang sesungguhnya?
Tangan Jungkook mulai mencoba meraih gundukan kembarku tapi aku segera menepisnya. Dia mencobanya sekali lagi dan akhirnya aku malah melepaskan ciuman kami. Aku langsung mendorong tubuh Jungkook agar menjauh.
" Maaf Jungkook tapi sepertinya aku belum siap." Ujarku yang kemudian membuka pintu kamar dan berlari keluar meninggalkan Jungkook seorang diri.
" Michinom michinom (*orang gila)."
Aku memukul-mukul kepala dan merutuki diri sendiri. Bagaimana bisa aku tiba-tiba meminta berciuman pada Jungkook?
Aku mempercepat langkah kemudian naik ke lantai dua. Aku keluar ke balkon dan berdiri di area yang tertutup gordyn dari dalam. Aku memang berharap Jungkook tidak menemukanku sekarang.
" Hissshh. Aluna Lee. What happened with you? Kenapa kamu bisa-bisanya cium Jungkook duluan. Malah kamu juga nawarin diri untuk berciuman untuk kedua kalinya. Kamu gila apa gimana sih Luna?"
Aku mengomeli diri sendiri sampai merasa frustasi.
" Baboya (*dasar bodoh)"
Aku kembali memukul-mukul kepalaku sendiri. Dan tiba-tiba seseorang mencekal tanganku. Aku menoleh ke samping dan mendapati Jungkook menghentikan tanganku yang sekali lagi ingin memukul kepala sendiri.
" Kamu ngapain di sini Luna? Aku cariin kamu kemana-mana." Ucap Jungkook.
Aku mencoba melepas tangannya yang memegang lenganku.
" Lepasin Jungkook, aku belum ingin bertemu denganmu sekarang." Ucapku tanpa berani memandang ke arahnya.
" Kenapa? Kamu malu?" Tanya Jungkook dan aku tidak menjawab. Aku hanya terus mencoba melepaskan diri tanpa berani menatap apalagi menjawab pertanyaannya.
Jungkook akhirnya kembali memelukku karena aku yang terlalu berusaha untuk melepaskan diri.
" Aku kan sudah bilang sayang kalau kita itu suami istri. Aku malah senang kamu berinisiatif untuk menciumku, itu artinya kamu juga berusaha untuk menumbuhkan rasa cintamu untukku kan? Kita pelan-pelan saja ya? Aku juga tidak akan memaksamu jika kamu memang belum siap untuk melakukannya. Aku hanya minta tetaplah menjadi istriku dan tetaplah berusaha untuk mencintaiku seperti tadi Aluna." Ucapnya lembut kemudian memberikan kecupan di keningku.
" Saat ini aku sedang berusaha mencintaimu Aluna. Tapi jujur saja meski belum sampai tahap mencintai tapi aku bersumpah aku sudah menyukaimu. Dan semakin melihatmu aku semakin menyukaimu. Jadi tetaplah selalu di sampingku Luna agar aku bisa sampai tahap mencintaimu. Aku benar-benar tidak ingin pernikahan kita berantakan. Dan aku mohon tetaplah bersamaku meski hatimu saat ini dimiliki orang lain."
Aku benar-benar tidak bisa menjawab perkataan Jungkook. Apalagi pada kalimat terakhirnya. Jungkook bahkan tahu bahwa hatiku bukan miliknya tapi dia sangat berusaha untuk meluluhkanku.
" Ayo masuklah, di sini terlalu dingin." Ujar Jungkook yang kemudian menuntunku untuk masuk ke dalam.
Kami berjalan kembali ke kamar. Dan saat ini Jungkook benar-benar menjadikan kamarku menjadi kamar kita berdua. Katanya sebisa mungkin dia ingin aku selalu berada di dekatnya. Ah perlakuan Jungkook padaku memang romantis pantas saja Sewon mengatakan siapa yang tidak jatuh cinta pada seorang Jungkook? Mungkin jika hatiku belum terlanjur jatuh pada Sehun, aku mungkin akan bisa cepat jatuh cinta pada suamiku ini.
Mengingat tentang Sehun dan Sewon, banyak yang ingin ku ceritakan dan kutanyakan langsung pada Jungkook. Tapi kupikir lebih baik aku menundanya dulu.
Aku merebahkan diriku di ranjang dan Jungkook berbaring telungkup di sebelahku. Tangannya menopang dagu dan wajahnya di dekatkan padaku. Dia juga menatapku terus menerus.
" Kenapa kamu memandangiku begitu Jungkook?" Tanyaku agak risih dengan keberadaannya yang terlalu dekat.
" Kamu benar-benar cantik yeobo, bahkan tanpa make up pun kulihat tidak berkurang sedikitpun kecantikanmu." Gombalnya padaku.
" Dih gombal banget."
" Kok gombal sih? Beneran loh aku tidak bohong. Kamu benar-benar cantik."
Jungkook kembali memujiku kemudian dia menyelipkan anak rambutku yang memang sejak tadi ada di pipi. Dia menyelipkannya ke belakang telinga. Setelahnya telapak tangannya mengelus lembut pipiku.
" Eoteokkaji? (*gimana nih?) sepertinya aku memang jatuh cinta padamu yeobo. Wajahmu benar-benar candu untukku." Ucap Jungkook terlihat tulus.
" Mwoya? Aku merinding mendengarnya. Jangan katakan sesuatu yang menggelikan Jungkook." Balasku yang sejujurnya menutupi kesalahtingkahanku.
" Aku serius yeobo. Tolong jangan tinggalkan aku ya? Bertahanlah denganku apapun yang terjadi."
Aku menatap mata besarnya yang begitu menggemaskan.
" Jungkook?" Panggilku pelan.
" Eum?"
" Sejujurnya aku sedang terlibat pekerjaan dengan Sehun."
Akhirnya akupun jujur pada Jungkook.
" Eoh?"
Jungkook langsung berpindah dari posisinya. Dia bangkit kemudian duduk di sebelahku.
" Kamu bilang apa?" Jungkook kembali bertanya untuk memastikan.
" Ya seperti yang kamu dengar Jungkook, aku saat ini sedang terlibat pekerjaan dengan Sehun. Tadinya aku tidak ingin mengatakannya padamu karena kupikir ini hanya tentang pekerjaan saja, tapi hatiku selalu diliputi rasa bersalah padamu. Jadi kuharap ke depannya kamu tidak akan salah paham apabila mendapati aku bersama Sehun."
Kali ini Jungkook yang terdiam.
" Jungkook? Kamu marah?" Tanyaku yang melihat raut wajahnya berubah tidak baik.
" Bolehkah aku marah?" Tanyanya dengan wajah yang menggemaskan.
Aku malah jadi menahan tawa sendiri melihatnya.
" Kenapa kamu malah tertawa yeobo?" Tanyanya makin memajukan bibirnya.
" Kiyowo (*imut) sekali suamiku." Ucapku sambil mencubit kedua pipinya gemas.
" Aa... Aaaww sakit baby." Protesnya karena aku memang mencubitnya lumayan keras.
Aku langsung melepaskan cubitanku padanya sedangkan Jungkook mengusap-usap kedua pipinya yang terlihat memerah.
" Jahat sekali kamu baby." Rutuknya lagi yang malah membuatku gemas, bukannya merasa bersalah.
" Sudah lah aku mau tidur." Ujarku kemudian memperbaiki posisi tidurku jadi membelakangi Jungkook.
" Heiii siapa yang suruh kamu tidur membelakangiku?" Jungkook kembali protes.
Aku menoleh ke arahnya dan dia sudah memposisikan dirinya sembari merentangkan tangan.
" Kemarilah Luna, aku ingin tidur memelukmu."
Aku terdiam sambil berpikir namun tak lama Jungkook menarikku masuk ke dalam pelukannya.
" Selamat tidur sayangku. Mimpiin kita berdua yah?" Ucapnya yang kemudian mengecup lembut keningku. Aku memejamkan mata menerima perlakuannya. Sungguh saat ini hatiku lebih ikhlas menerimanya sebagai priaku. Menerima setiap perlakuan romantisnya yang kadang membuatku luluh.
***
Pagi hari aku terbangun dan tidak mendapati Jungkook di kamar.
" Jungkook-a?" Aku memanggilnya sampai keluar kamar.
Kulihat Jungkook sudah sibuk dengan peralatan dapur. Ku tengok jam bahkan baru menunjukkan pukul 6 pagi.
" Good morning yeobo." Sapanya begitu melihatku.
" Kamu pagi-pagi gini udah masak? Kamu tidak lelah apa? Semalam kan kita tidur saja sudah dini hari." Ucapku sambil berjalan menghampirinya.
Jungkook terlihat menata makanan di meja kemudian melepas celemeknya dan berjalan ke arahku kemudian merengkuhku ke dalam pelukannya.
" Mulai hari ini kita biasakan morning kiss ya sayang?" Ucapnya yang kemudian mengecup keningku cukup lama.
Dia menatapku cukup intens setelah melepaskan kecupannya. Kedua tangannya di taruh di pinggangku.
" Jungkook-a?" Panggilku.
" Hem?"
Aku hanya menjawabnya dengan tersenyum.
" Mwoya? Ada apa sayang?" Tanya Jungkook penasaran.
" Geunnyang (*tidak ada apa-apa) Aku cuma mau bilang kalau aku sangat tersentuh dengan semua perilaku manismu Jungkook. "
CUP.
Aku berjinjit mengecup bibirnya.
" Ini morning kiss dariku." Ujarku setelah melepaskan kecupanku pada bibirnya. Kulihat Jungkook tersenyum salah tingkah.
" Kenapa mesam mesem?" Tanyaku yang juga ikut mengulum senyum.
Mendengar pertanyaanku, Jungkook malah makin tersipu.
" Ini masih pagi loh yeobo, kamu udah bikin aku olahraga jantung."
" Kok gitu? Aku kan tidak melakukan apa-apa."
" Heiii morning kissmu bikin jantungku berdetak kencang sayang."
" Ish lebay sekali kamu. Ya udah aku mau mandi dulu." Ucapku kemudian meninggalkan Jungkook sendiri dan bergegas bersiap-siap untuk bekerja.
***
Aku kembali di antar Jungkook ke kantor. Di perjalanan dia banyak berbicara, entah mengenai hari-hari yang di laluinya maupun awal mula bertemu dengan hyung bangtan. Dia kelihatan sangat cerewet.
Di perjalanan kami mampir sebentar untuk membeli kopi. Tapi aku di larang untuk keluar dari mobil. Katanya biar dia saja yang akan pergi membelinya. Akhirnya akupun menuruti perkataan Jungkook.
Aku menunggu di mobil sedangkan Jungkook bergegas membeli kopi. Cuaca dingin memang cocok sekali untuk menikmati kopi di pagi hari kan?
Drttt... Drrtttt...
Terdengar suara ponsel bergetar. Kupikir ponselku yang bergetar tapi ternyata bukan. Pandanganku menyusuri setiap tempat di dalam mobil mencari sumber getaran itu. Kulihat ponsel Jungkook menyala dari dalam coat yang di tinggalkannya.
Aku ragu-ragu untuk mengambil ponselnya dari dalam coat. Kupikir hal ini adalah privasi masing-masing. Kubiarkan saja ponselnya bergetar di dalam coat sampai akhirnya getarannya berhenti sendiri.
Drrtt.... Drrrttt...
Tak lama ponselnya kembali bergetar.
" Haruskah ku angkat saja?" monologku.
" Mungkin kulihat saja dulu dari siapa?" Sambungku lagi yang akhirnya memutuskan untuk mengambil ponsel Jungkook dari coatnya.
Kulihat layar tertera nama Sewon.
" Sewon?" Tanyaku pada diri sendiri.
Sejenak aku terdiam. Apa Jungkook masih berhubungan dengan Sewon? Bahkan setelah perilakunya yang sangat manis padaku? Aku berpikir keras, haruskah panggilannya ku angkat untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaanku barusan?
Ragu-ragu aku terdiam sambil menimbang apakah aku harus mengangkatnya atau tidak. Akhirnya kuputuskan menekan tombol hijau di layar ponsel. Ku dekatkan ponselnya ke telingaku.
" Jungkook-a? Kamu jadi ke sini? Kita jadi ke dokter kand....."
Seseorang menarik ponsel dari telingaku. Aku menoleh ke samping dan mendapati Jungkook dengan wajahnya yang tidak bersahabat. Dia melihat ke layar kemudian memutus panggilan secara sepihak.
" Jungkook tadi aku cuma...."
" Ayo kita jalan." Ujarnya memotong pembicaraanku. Nadanya pun terdengar datar. Aku yang ingin bertanya pun jadi mengurungkan niat. Tapi jujur saya pikiranku saat ini sudah negatif pada Jungkook. Bagaimana tidak, Sewon bertanya apa Jungkook jadi menemuinya? Bukankah artinya Jungkook sudah mengatakan bahwa dia akan menemui Sewon? Dan Sewon menelpon hanya untuk memastikannya saja kan?
Aku menoleh ke samping tapi Jungkook sama sekali tidak menoleh balik padaku padahal jelas-jelas sebelum ini Jungkook terlihat cerewet.
Kulihat dia fokus hanya pada jalanan saja. Mungkinkah Jungkook memang masih berhubungan dengan Sewon? Lalu kenapa aku tidak berani menanyakannya?
Sebelum aku sempat memutuskan untuk bertanya atau tidak, Jungkook sudah menghentikan mobilnya di depan kantor. Mau tidak mau aku harus turun tanpa sempat bertanya apapun.
___ bersambung___