Chapter 12

2929 Kata
Hari sudah beranjak malam. Bahkan matahari sudah tenggelam dalam peraduannya sejak satu jam yang lalu. Ruangan humas pun sudah mulai sepi. Rekan-rekan satu persatu meninggalkan kantor. Hingga akhirnya tinggal aku sendirian di dalam ruangan yang saat ini sudah gelap. Aku enggan beranjak dari tempat dudukku. Biasanya aku selalu ketakutan saat sendirian, apalagi jika di tambah dengan tempat yang gelap, aku pasti sudah lari ketakutan atau berteriak. Tapi kali ini berbeda. Rasa malas untuk pulang, rasa kesal serta rasa campur aduk yang kurasakan saat ini membuatku mempunyai keberanian untuk berada di ruang yang biasanya kutakuti. Ponselku sudah bergetar entah sudah berapa lama. Jungkook tak henti-hentinya mengubungiku. Pesan masuk pun kulihat sangat banyak darinya. Aku tak membukanya sama sekali hanya beberapa terbaca saat aku menoleh pada ponselku. * Yeobo kamu dimana? Ini sudah malam. Aku minta maaf. Itu adalah pesan terakhir yang k*****a dari notifikasi bar di ponsel. Aku memang sama sekali tidak membuka satupun pesan dari ponselku. Ku letakkan kepalaku di meja bertopang kedua tangan yang melipat di bawah sebagai sandaran. Aku benar-benar malas melakukan apapun. Bahkan sejak tadi pun aku tidak makan sama sekali. Jangankan makan, seteguk air pun tidak masuk sama sekali dalam tubuhku. Kupejamkan mataku sejenak dan aku terbangun saat mimpi buruk tiba-tiba menyerangku. Bayangan makhluk-makhluk astral yang membuatku trauma tiba-tiba saja muncul yang membuatku akhirnya mulai merasa takut dengan ruangan humas ini. Dengan terpaksa kuputuskan untuk pulang saja. Kulirik jam di ponsel bahkan sudah menunjukkan pukul 11 malam. " Sudah selarut ini rupanya." Monologku yang kemudian pergi dari ruangan dan bergegas keluar gedung setelah sebelumnya aku menelpon security untuk memesankan taksi untukku pulang. Sekitar 45 menit akhirnya sampailah aku di apartemen. Aku langsung berjalan menuju ke kamar tanpa menoleh kemana-kemana seperti yang sering ku lakukan sejak aku pindah ke apartemen ini. Di depan pintu kamar, aku ragu untuk membukanya. Aku takut Jungkook ada di dalam kamar. Jujur saja aku tidak ingin bertemu dengannya. Akhirnya kuputuskan untuk merebahkan diriku di sofa ruang keluarga. Aku langsung tertidur saking lelahnya. Tak lama aku terbangun oleh sentuhan seseorang di lenganku. Perlahan aku membuka mata dan mendapati Jungkook berada di depan wajahku. " Yeobo kenapa kamu tidur di sini?" Aku menatap matanya tajam tanpa mengatakan apapun. " Ayo kita ke kamar!" Ucapnya sekali lagi tapi sama sekali tidak ku gubris ucapannya. " Maafin aku ya? Maafin aku karena sudah menyakitimu." Ucapnya lagi tapi aku justru malah meninggalkannya memejamkan mata. Aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi. " Apa kamu mau mendengarkan penjelasanku dulu Luna?" Aku sama sekali tidak berniat untuk membuka mataku ataupun merespon ucapannya. Lama tak mendapat jawaban, Jungkook mengusap pucuk kepalaku kemudian menciumnya lembut. " Aku benar-benar tidak mengkhianatimu Aluna. Anak yang di kandungan Sewon juga bukan anakku. Aku dan Sewon tidak ada hubungan apa-apa. Maafin aku sayang. Jujur aku takut kehilanganmu sekarang." Ucapnya. Aku tetap memejamkan mata berpura-pura tertidur meskipun aku dapat mendengar semuanya. Benarkah semua yang di katakannya? Sekuat tenaga kutahan agar aku tidak menitikkan air mata padahal hatiku sudah mulai nyelekit saat pertama kali aku menatapnya tadi. Aku sama sekali tidak bergerak dan tidak membuka mataku. Biarkan saja Jungkook mengira aku tertidur. *** Pagi hari aku terbangun dan mendapati Jungkook masih ada di hadapanku. Dia tertidur di lantai dengan kepala bersandar pada sofa. Tangannya menggenggam tanganku mungkin sejak semalam. Pelan-pelan kulepaskan genggaman tangannya dan mencoba duduk. Namun meskipun pelan ternyata hal ini mampu membuat Jungkook terbangun. " Sayang? Kamu udah bangun?" Ucap Jungkook yang kemudian perlahan membenarkan posisi duduknya. Aku sama sekali tidak berniat merespon. Aku langsung berdiri dan bersiap meninggalkan Jungkook masuk ke kamar. " Luna?" Panggil Jungkook sambil menahan lenganku. " Maafin aku." Jungkook kemudian berdiri dan berjalan ke hadapanku. " Maafin aku sayang. Aku salah, aku tidak ingin membela diri tapi kenyataannya aku memang tidak mengkhianatimu." Aku masih tidak ingin bicara dengan Jungkook. Aku tetap diam bahkan aku tidak ingin melihat wajahnya. " Tolong jangan diam seperti ini Luna. Bicaralah! Kamu boleh memakiku jika...." " Untuk apa?" Akhirnya aku mencoba meresponnya. Kali ini pandanganku pun ku arahkan pada matanya. " Aku tidak harus memakimu karena hubunganmu dengan dia kan? Itu hak kamu. Sejak awal pernikahan, bukankah kita sepakat untuk tidak mengurusi urusan masing-masing? Jadi tak perlu menjelaskannya. Silahkan kamu bisa memilih hidup bersama Sewon dan calon anak kalian. Aku akan mengurus perceraian kita setidaknya 6 bulan lagi agar orang tua kita tidak curiga. Dan selama waktu itu, kamu kubebaskan bertemu dengannya. Bahkan bercinta dengannya sekalipun. Aku......" " Tidak Luna aku tidak menginginkan perceraian. Aku dan Sewon tidak ada hubungan apa-apa. Memang benar Sewon adalah mantan kekasihku tapi selama kami berpacaranpun kami tidak pernah melakukannya. Anak yang di kandung Sewon juga bukan anakku. Aku bersumpah untuk itu." " Jangan jadi lelaki pengecut Jeon Jungkook. Bertanggung jawablah pada calon anakmu." Aku langsung menepis kasar tangannya di tanganku kemudian pergi ke kamar untuk bersiap bekerja. Ku dengar langkah Jungkook yang mengekoriku di belakang. " Luna? Aku bersumpah, aku tidak pernah menghamili Sewon..." BRAK. Aku membanting pintu kamar tepat saat Jungkook hampir sampai di kamar. Ku kunci pintu kamar dan aku merosot begitu saja di lantai. Tok.. Tok... Tok... Jungkook mengetuk pintu kamar. " Aluna? Buka pintunya. Aku tidak membohongimu mengenai hal ini Luna." Jungkook kembali mengetuk pintu. " Aku hanya membantu Sewon saja Luna. Janin itu bukan anakku." " Maafin aku sayang. Aku tidak mau kehilanganmu. Tolong buka pintunya!" Jungkook masih memohon di balik pintu ini. Kata-katanya selalu sama, dia bilang dia tidak mengkhianatiku. Dia bilang Sewon bukan hamil anaknya, lalu bagaimana aku bisa percaya jika kenyataannya mereka berdua keluar dari ruangan dokter kandungan dengan bergandengan tangan? Apakah seorang mantan mau dengan bodohnya mengantar mantannya yang sedang hamil atas janin yang katanya bukan darah dagingnya? Bukankah itu terdengar mustahil? Selain itu Jungkook selalu berubah setiap kali dia mendapat panggilan dari Sewon. Dia bahkan bisa mendiamkanku begitu saja hanya karena aku mengangkat telepon wanita itu. Jadi bagaimana caranya aku bisa percaya padanya? " Luna tolong percaya sama aku. Aku benar-benar ingin pernikahan kita menjadi pernikahan yang sesungguhnya. Aku mulai jatuh cinta padamu. Aku tidak bisa kehilanganmu sayang." Jungkook masih terus berusaha meminta maaf padaku sementara aku masih bertahan di lantai sambil memikirkan semua hal ini. Kenapa rasa sakitnya terasa luar biasa padahal hubunganku dan Jungkook belum terbilang dekat? Memang tidak bisa ku pungkiri semua tingkah manis Jungkook selama ini seringkali membuatku tersentuh. Aku bahkan nyaman bersamanya hingga saking nyamannya aku mampu bertindak agresif pada Jungkook seperti menciumnya duluan seperti kemarin. Mungkinkah sebenarnya hatiku sudah terbuka untuknya? Tapi kenapa di saat aku merasa bahwa hubungan kami akan berjalan baik, justru badai pertama datang pada kami. Tidak tanggung-tanggung bahkan bukan hanya perselingkuhan tapi juga suamiku akan memiliki anak dari perempuan lain. Meskipun jika dipikir lagi usia kandungan perempuan itu lebih tua dari usia pernikahan kami tapi bukankah hal ini pun sama saja di sebut dengan pengkhianatan? Kembali kurasakan hatiku nyelekit. *** Aku bersiap pergi ke kantor. Ku buka pintu kamar ternyata Jungkook masih setia berdiri di depan. " Sayang?" Langkahku terhenti sejenak karena melihatnya. Tapi kemudian aku kembali berjalan melewatinya begitu saja. Ku dengar langkah Jungkook mengekoriku di belakang. " Sayang? Ku antar ya?" Ucapnya sambil berjalan menyejajariku. " Tidak perlu." Jawabku sinis kemudian berjalan lebih cepat mendahuluinya. Tiba-tiba ku rasakan tubuhku di rengkuh dari belakang. Aku terpaksa berhenti karenanya. " Maafin aku." Ucap Jungkook yang kemudian mengeratkan pelukannya padaku. " Lepaskan aku Jungkook. Aku harus pergi bekerja." Ucapku sambil berusaha melepaskan diri tapi yang terjadi justru Jungkook lebih mengeratkan lagi pelukannya. " Maaf Luna." Suaranya terdengar bergetar. " Ku mohon jangan tinggalkan aku karena hal ini. Aku sudah mencintaimu Luna. Aku yang salah. Aku tidak berani jujur sejak awal." Jelasnya lagi yang terdengar seperti menangis. " Tolong maafin aku Luna." Suaranya kali ini berubah terisak. Mungkinkah Jungkook jujur? Tapi hatiku belum bisa mempercayainya. " Lepaskan aku Jeon Jungkook. Terlepas kamu jujur atau tidak padaku, hatiku sudah terlanjur sakit. Jadi aku mohon jangan berada di sekitarku untuk saat ini. Aku tidak ingin melihatmu." Kulepaskan kuat-kuat pelukannya dan aku langsung pergi meninggalkan Jungkook tanpa menoleh lagi. *** Aku sampai di kantor dan mendapati meja kerjaku sudah di penuhi cukup banyak orang. " Kalian sedang apa di meja kerjaku?" Ucapku begitu tiba di bilik kerja. " Nah ini dia. Hei Luna_ssi, siapa sebenarnya kamu?" Tanya seseorang yang tidak ku kenal. " Siapa apanya?" Tanyaku bingung. " Kenapa idol-idol besar mengenalmu?" Sambung seseorang lagi yang ku tahu berasal dari divisi keuangan. " Idol besar? Maksud kamu Sehun?" " Bukan hanya Sehun tapi kemarin kata resepsionis Jungkook BTS mencarimu di kantor. Bahkan dia sampai mau menunggu lama di lobby. Dan menurut security dia juga kembali lagi sore harinya. Jadi sebenarnya siapa kamu sampai dua idol besar kenal dan cari kamu?" berondong seseorang dari divisi keuangan yang di amini semua orang yang mengerumuni mejaku. Jungkook sampai mencariku ke sini? Apa dia sudah gila? Bagaimana jika pernikahan kami terekspos? " Hei kami tanya sama kamu Luna_ssi." Salah satu di antara mereka menekankan padaku agar menjawab. " Apa yang harus aku jawab? Aku cuma karyawan di sini. Masalah mereka mencariku, kalau Sehun memang ada pekerjaan denganku tapi Jungkook? Aku tidak tahu tujuannya." Bohongku karena tak mungkin ku katakan alasan yang sebenarnya kan? " Sudah... sudah bubarlah, hari ini Lee Sajangnim pulang dari Jepang. Kalian tidak ingin kena semprot kan?" Ucapku yang tiba-tiba jadi ingat bahwa papa hari ini pulang dari Jepang. Kujadikan saja itu sebagai alasan untuk membubarkan kerumunan. Dan akhirnya ucapan terakhirku pun sukses membubarkan semua orang dari divisi humas. Setelah ruangan sepi, aku duduk di bangku dan kembali memikirkan ucapan mereka tentang Jungkook. Jadi Jungkook sampai datang ke kantor? Apa dia tidak memikirkan resikonya? Ah untuk apa aku memikirkan Jungkook? Terserahlah dia mau melakukan apa, aku sudah tidak ingin perduli. " Luna_ssi?" BRAK. Seseorang menggebrak mejaku yang membuatku terlonjak. " Ah kamcagiya." Aku langsung menoleh ke samping dan papa sudah berdiri di sebelahku. " Pa.. Eh Lee Sajangnim?" Aku langsung berdiri kemudian membungkuk hormat. " Ikut saya ke ruangan." Ucap papa yang kemudian langsung pergi menuju President room. Aku langsung mengekorinya di belakang di ikuti pandangan rekan-rekan di ruangan ini. Aku ikut masuk ke president room mengikuti papa yang sudah lebih dulu masuk ke ruangan. Beliau langsung duduk di sofa. Aku mengikutinya duduk di sofa seberang papa. " Muka kusut sekali Luna. Kenapa?" Tanya papa sambil memandangi wajahku. " Banyak sekali pekerjaan pa." Jawabku berbohong. " Oh ya? Kalau begitu kenapa kamu tidak ambil cuti lagi saja? Atau sekalian resign, papa rasa Jungkook juga tidak keberatan jika kamu memutuskan resign." Ucap papa. " Luna tidak ingin resign pa. Luna suka bekerja di bidang ini." Jawabku cepat. " Begitu? Ya sudah. Oh iya nanti malam ke rumah ya dengan Jungkook. Papa kangen makan malam sama kamu." Ujar papa yang membuatku jadi bingung. Pasalnya aku sedang menghindari Jungkook tapi kenapa papa malah menyuruhku untuk datang bersama Jungkook. " Sepertinya Jungkook sedang sibuk latihan untuk konser di Las Vegas pa." Ucapku yang baru ingat bahwa Jungkook pernah mengajakku untuk ikut ke Las Vegas untuk jadwal konser BTS bulan depan. " Coba ajak dulu saja. Masa hanya untuk makan saja tidak bisa? Apa perlu papa yang bilang sama Jungkook?" " Eh jangan pa. Ya sudah nanti biar Luna coba ajak Jungkook." Aku akhirnya menyerah dan menuruti keinginan papa daripada nanti Jungkook cerita hal yang macam-macam pada papa jika papa langsung menghubungi Jungkook. Aku langsung mengirim pesan pada Jungkook begitu aku sudah ada di bilik kerjaku. Ketika membuka kolom pesan Jungkook aku baru sadar bahwa aku sama sekali tidak membuka pesannya sama sekali. Kulihat ada 50 pesan yang belum terbaca dan 96 panggilan tidak terjawab darinya. " Wah niat sekali dia meminta maaf padaku." Ku abaikan semua pesannya, aku langsung mengetikkan pesan untuknya. * Papaku undang kita berdua makan malam di rumah. Nanti sore jemput aku jam 6. Tolong jangan tunjukkan bahwa kita berdua sedang ada masalah. Tak sampai lima menit Jungkook langsung membalas pesanku. * Oke sayang nanti aku jemput. Kamu jangan lupa makan yah? Tadi pagi kamu tidak sarapan. Sekali lagi aku minta maaf ya cantik. I love you. Tanpa sadar aku tersenyum membaca balasan dari Jungkook. Dia selalu perhatian padaku. Jujur saja perhatiannya ini kadang membuatku luluh. Aku makin tersenyum saat membuka foto yang di kirimkan Jungkook selanjutnya. Dia membuat lambang hati menggunakan kertas dan menunjukkannya dengan wajah yang begitu menggemaskan. " Kiyowo (*imut)." Aku tanpa sadar mengatakan bahwa dia imut. " Ah mwoyaa? Apa yang baru saja ku ucapkan?" Aku merutuki diri sambil memukul kepala menyadari perkataanku barusan yang tanpa sadar mengatakan bahwa Jungkook imut sekali. Padahal jelas-jelas aku sedang marah padanya tapi kenapa melihatnya mengirim pesan semesra ini, aku sama sekali tidak bisa membencinya. Apalagi melihat wajahnya yang seperti bayi membuatku merasa bersalah sudah mendiamkannya. Tapi... Jangan pernah tertipu hanya dari penampilan seseorang saja. Yang terlihat seperti bayi ternyata sudah membuat bayinya sendiri di rahim perempuan lain. Seketika hatiku terasa berdenyut lagi. Sebenarnya aku ingin percaya bahwa Jungkook bukan ayah dari janin dalam kandungan wanita bernama Sewon itu. Tapi mengingat kembali bagaimana wajah mereka yang sumringah keluar dari ruangan dokter kandungan berdua bahkan tangan Sewon mengamit lengan Jungkook membuat otakku berpikir tidak mungkin jika Jungkook bukan ayah dari janin itu. *** Tepat pukul 6 sore, sebuah pesan masuk di ponselku. * Sayang, aku udah di depan kantor ya? Ku buka isi pesan itu ternyata dari Jungkook yang mengabarkan bahwa dia sudah menjemputku di depan kantor. Tak lupa dia selalu mengirimkan foto selcanya. Entah apa maksudnya selalu menyertakan foto dalam pesannya. Tapi jujur saja melihat fotonya saja mampu membuat hatiku luluh walau selintas. * Ya aku segera turun. Aku hanya membalas singkat kemudian bergegas menemuinya. Aku langsung masuk ke mobilnya begitu saja seperti biasa. Dia sudah menyambutku dengan senyuman manisnya. Setelah aku duduk di kursi sebelah Jungkook, tiba-tiba saja dia membuat gerakan cepat ke depanku. Aku terkejut dengan pergerakannya yang sangat tiba-tiba ini. Aku bahkan sampai menahan napas saat tubuhnya menempel padaku. Dengan cepat pula dia menarik seatbelt dan memasangkannya. Ah ternyata Jungkook hanya memasangkan seatbelt saja. " Lelah?" Tanyanya lembut seperti biasa setelah berhasil memasangkan seatbeltku. Dia langsung kembali ke tempatnya kemudian melajukan mobil. " Tidak perlu berperilaku manis saat kita hanya berdua." Jawabku ketus. " Maafin aku Luna. Aku...." " Jangan membahasnya. Aku sedang tidak ingin membahas apapun denganmu." Aku langsung memalingkan wajahku keluar jendela. " Kamu tidak perlu meresponku, cukup dengarkan aku saja. Bisa?" Tanyanya. " Aku tidak ingin mendengar apapun." " Baiklah. Kita bahas nanti saja ya?" Aku tidak menggubris perkataan terakhir Jungkook. Dia mencoba meraih sebelah tanganku tapi langsung kutepis dengan cepat. Kulirik melalui ekor mataku, Jungkook terlihat kecewa. Dan akhirnya dia menyerah dan mengikutiku untuk diam selama dalam perjalanan. Sekitar satu jam perjalanan akhirnya kami berdua sampai di rumah papa. Jungkook membukakan pintu mobil untukku dan kami berjalan masuk ke rumah yang ternyata bukan hanya ada papa tapi juga eomma serta appa nya Jungkook yang aku tidak tahu bahwa mereka berdua ternyata di undang papa dalam acara makan malam bersama ini. " Anak perempuan kesayangan eomma?" Eomma langsung menghambur memelukku sesaat setelah melihatku masuk bersama Jungkook. Beliau kemudian menciumi kedua pipiku gemas. " Eomma? Luna aja nih yang di cium?" Ucap Jungkook. " Iya lah ngapain kamu eomma ciumin juga." " Isshhh." Jungkook mencebik. Setelah eomma melepaskan pelukannya, aku membungkuk hormat pada appa. Demikian juga dengan Jungkook yang ikut membungkuk hormat pada papa. Papa langsung saja mengarahkan kami semua ke ruang makan. " Ngomong-ngomong kalian tidak ingin berbulan madu?" Tiba-tiba eomma membuka pembicaraan yang membuatku cukup terkejut. Untung saja tidak sampai tersedak. " Aku masih ada jadwal konser eomma." Ucap Jungkook. " Maaf ya pa, Saya belum bisa ajak Luna bulan madu." Sambung Jungkook yang kali ini meminta maaf pada papa. " Tidak apa-apa. Melihat kalian mesra saja papa sudah bahagia. Setidaknya kalian bisa menerima pernikahan ini walaupun kalian berdua menikah atas perjodohan. Kalian saling mengenal dulu saja. Tumbuhkan rasa cinta dulu di antara kalian. Lagipula kalian berdua masih sangat muda." Ucap papa. " Betul juga itu Lee. Yang terpenting kalian bisa menerima dulu satu sama lain." Appa menimpali ucapan papa. " Ne. Saya juga saat ini sudah mulai jatuh cinta dengan Luna pa. Pribadinya sangat mengagumkan sampai saya bisa jatuh cinta secepat ini padanya." Tiba-tiba Jungkook menggengam tanganku sambil memandangiku dengan senyuman manisnya. Aku ingin menarik tanganku tapi pandangan eomma, appa, papa semua mengarah pada kami. Aku mau tidak mau membiarkan saja tangan Jungkook menggenggamku. Aku memaksakan diri untuk tersenyum agar orang tua kami tidak curiga. " Heii anak eomma romantis sekali." Ucap eomma memuji Jungkook. " Bukan romantis eomma, aku memang sudah jatuh cinta dengan Luna. Aku jujur kok pada kalian." Ucap Jungkook meyakinkan mereka semua. Pandai sekali aktingnya. Semua orang yang tidak tahu pasti akan tertipu dengan mulut manisnya. Saat para orang tua lengah aku langsung menarik tanganku dari genggaman Jungkook. " Papa bersyukur kamu bisa mencintai anak papa Jungkook. Ke depannya jaga anak papa baik-baik ya?" Ucap papa pada Jungkook. " Pasti pa." Akhirnya setelah acara makan malam selesai, kami pamit pulang. Dalam perjalanan aku masih mendiamkan Jungkook. Ku palingkan wajahku darinya. Aku tak pernah mengalihkan pandanganku dari jendela mobil. " Luna?" Panggil Jungkook lembut tapi aku tak berniat menjawabnya. Dia mengusap kepalaku lembut. Aku membiarkannya saja karena malas jika nanti harus bertengkar dengannya. Aku sudah terlalu lelah hari ini. Raga juga hatiku. " Yang ku katakan pada papa tadi semuanya jujur. Aku memang sudah mulai mencintaimu." Ucapnya yang tidak ku gubris sama sekali. " Kamu lelah ya? Ya sudah tidurlah, nanti ku bangunkan jika sudah sampai." Ujarnya yang terus menerus bicara meski aku sama sekali enggan meresponnya. Tak lama aku benar-benar tertidur saking lelahnya. Hari ini memang cukup berat untukku. Banyak sekali hal yang ku pikirkan hingga membuat seluruh tenagaku terkuras habis. ___ bersambung___
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN