Complicated

1496 Kata
Elvira membuka pintu utama begitu mendengar suara mobil berhenti dihalaman rumahnya. Alvin datang bersama Kalvin. Awalnya ia pikir Alvin tak akan datang, karena ia sudah menunggu sejak siang hingga hampir melewati makan malam.   "Besok Papa jemput lagi." Ujar Kalvin pada Alvin.   Papa?   Elvira menggigit bibirnya sendiri saat mendengar kata-kata itu. sangat aneh dan... Memang belum terbiasa.   "Papa sebaiknya masuk dulu. Kita makan malam." Alvin menarik tangan Kalvin. Pria itu bahkan kini menatap Elvira yang masih diam menatap keduanya bergantian.   "Ma." Panggil Alvin pada Elvira. "Boleh Papa masuk?."   Elvira tersenyum tipis. Ingin rasanya ia mengusir pria itu. Tapi ia tak ingin Alvin tau jika hubungannya dengan pria itu kurang baik. Alvin tak seharusnya tau perseteruan mereka. Sehingga ia kini membukakan pintu lebih lebar.   "Mari masuk."   "Kebetulan aku memasak banyak." Lanjut Elvira.   Elvira memang memasak banyak makanan untuk Alvin. Entahlah... Ia hanya takut yang Kalvin ucapkan tadi siang benar-benar akan menjadi kenyataan. Ia takut, Alvin benar-benar diambil selamanya. Jadi ia menyiapkan semu makanan kesukaan Alvin, agar ia berpisah tanpa penyesalan.   "Terimakasih... Tapi aku memang harus pergi sekarang." Ucap Kalvin pada Elvira. Dia beralih pada Alvin. "Papa akan mengurus jadwal Papa dulu. Paman Danny kasihan menunggu dirumah."   Elvira dapat melihat raut wajah kecewa dari Alvin. Anaknya itu menghela nafas berat dengan wajah merengut. Ia tak tega melihatnya.   "Kau bisa menunda pekerjaanmu sebentar. Masuklah." Ujar Elvira pada Kalvin. "Alvin, ajak Papa-mu masuk." Lanjutnya seraya berjalan memasuki rumah terlebih dulu.   Elvira sadar, Alvin adalah kelemahan terbesarnya. Selama ini setelah ia memutuskan membeli rumah sendiri, ia telah terbiasa hanya berdua. Alvin, hanya Alvin yang menemaninya. Sehingga Alvin adalah prioritas sekaligus kelemahan terbesarnya.   Elvira menyiapkan piring dan peralatan makan lainnya untuk Kalvin. Ia menghela nafas panjang saat mendengar langkah kaki yang mulai mendekat kearahnya, dalam hati Elvira berdoa semoga pria itu tidak menyulut emosinya lagi.   "Papa... Masakan Mama selalu yang terbaik. Mama selalu memasak sendiri untuk Alvin." Ujar Alvin dengan sangat antusias.   "Kau bilang kemarin masakan Papa yang terbaik." Goda Kalvin.   Alvin melirik Elvira sesaat. "Ih! Papa... Masakan kalian yang terbaik!."   Elvira hanya diam saja. Disini ia bahkan merasa seperti orang asing yang hanya ikut duduk makan dimeja yang sama. Saat dirinya menyiapkan makanan untuk Alvin, anaknya sibuk berbicara dengan Kalvin. Bercerita banyak hal yang berkaitan dengannya.   "Alvin... Ini makananmu." Elvira memberikan sepiring lauk pada Alvin. "Kau... Ingin aku ambilkan juga?." Tanyanya pada Kalvin.   Kalvin tersenyum. "Jika kau tak keberatan."   Elvira menyesal menawarkan diri. Ia pikir pria itu akan menolak, tapi malah menerima tawarannya. Seharusnya ia tau, pria itu memang sedang mencari kesempatan. Disini hanya ia saja yang terlalu naif.   Elvira mengambilkan makanan untuk Kalvin dengan terpaksa, setelah itu ia memberikannya.   "Selamat makan." Seru Alvin setelah itu menyantap makanannya dalam diam.   Suasana menjadi sangat canggung, apalagi saat hanya ada dentingan sumpit yang terdengar. Elvira tak pernah merasa secanggung ini sebelumnya, juga tak pernah sesunyi ini saat makan.   "Tumben Alvin diam." Ujar Elvira berusaha menghilangkan kecanggungan.   Alvin kali ini menatap Elvira. "Kata Papa, tak baik makan sambil berbicara."   Elvira melirik Kalvin yang kini sedang menatapnya juga. Lalu ia mengalihkan pandangan pada Alvin lagi kemudian tersenyum.   "Benar. Memang tak baik." Ujar Elvira pelan.   Baru satu hari. Tapi Kalvin sudah mampu mempengaruhi anaknya seperti ini. Memang itu hal baik, namun dari sini ia dapat merasakan jika Kalvin ini benar-benar berbahaya. Sudah dapat dipastikan jika dia bahkan bisa lebih mempengaruhi Alvin daripada Damian.   Elvira menghela nafas panjang. Kenapa ia jadi selalu membandingkan Damian dengan Kalvin?.   Jujur saja, saat berpikir seperti itu. Ia jadi merasa sangat buruk.   Tak seharusnya ia melakukan itu. Bagaimanapun Damian tetap Damian dan Kalvin tetap Kalvin. Dua orang yang tentu saja sangat berbeda.   Setelah makan malam, Kalvin pamit pulang karena manager-nya terus saja menelpon. Sehingga sekarang hanya ada Elvira dan Alvin yang diliputi rasa canggung.   Kini Elvira duduk diatas pembaringan milik Alvin, seraya menatap puteranya yang sedang berkemas.   Alvin bilang, selama libur dia akan berlibur bersama Kalvin keluar negeri jadilah ia mengemas sekoper pakaian sebagai gantinya.   "Alvin sebenarnya ingin berlibur dengan Mama juga. Tapi Papa bilang mungkin Mama masih canggung dan belum terbiasa. Jadi dua minggu ini Alvin akan bersama Papa dan dua minggu lagi akan bersama Mama."   Elvira tersenyum tipis. "Tak apa. Alvin bisa bersama Papa selama libur ini, yang terpenting saat sekolah nanti Alvin kembali kerumah ini ya... Papa pasti sangat sibuk dan akan sering meninggalkan Alvin sendiri."   Ya... Begini, setidaknya begini terdengar lebih baik. Daripada ia harus meributkan hak asuh, ia lebih baik seperti ini. Yang terpenting Alvin akan kembali padanya.   Alvin kini menutup koper kemudian menyimpannya disudut ruangan. Setelah itu ia membaringkan kepalanya diatas pangkuan Elvira.   "Mama...."   "Hm...."   "Maaf, Alvin begini."   Elvira tersenyum seraya mengelus kepala putera kesayangannya itu. "Apa?."   "Alvin tak bilang ingin menemui Papa."   Elvira tersenyum lagi. "Tak apa."   "Tapi lain kali, kalau Alvin ingin sesuatu katakan... Mama tak mungkin menolak jika Alvin ingin sesuatu."   Alvin menghela nafas panjang. "Saat Mama bertemu Papa, Mama seperti tak suka sekali pada Papa. Jadi Alvin takut Mama tak mengijinkan Alvin bertemu Papa."   Elvira menghela nafas panjang. Ya... Salahnya juga dulu bersikap seperti itu pada Kalvin. Seharusnya ia biasa saja. Tapi saat itu sebenarnya ia hanya jengkel saja. Selain itu, penampilannya sangat aneh. Ia tak menyukainya.   "Mama... Ara bilang, Mama sedang dekat dengan Paman Damian ya...."   Elvira menatap Alvin. Menunggu kearah mana anaknya ini akan berbicara.   "Paman Damian memang baik Ma, mungkin lebih baik dari Papa. Tapi Mama... Bagi seorang anak, sebaik apapun orang lain tak akan ada yang lebih baik daripada orangtua kandung. Papa mungkin masih banyak kekurangan karena Papa belum terbiasa dengan Alvin. Tapi Papa baik... Papa berusaha melakukan yang terbaik untuk Alvin."   Elvira menatap Alvin yang sedang berbicara, anaknya itu memang berbicara padanya tapi dia terus menghindari tatapannya dan malah menunduk, memainkan jari tangan.   "Alvin memang iri pada Ara karena Ara memiliki Papa sebaik Paman Damian. Alvin juga iri saat Ara sangat dimanja. Tapi Mama... Alvin bukan ingin mengambil Paman Damian dari Ara. Alvin bukan seperti itu. Alvin... Ingin Papa... Papa Alvin."   Elvira menghela nafas panjang. Ia mengerti ucapan Alvin. Ia sangat memahaminya. Tapi... Ia sudah terlanjur memiliki komitmen dengan Damian.   "Apa... Alvin tak suka pada Paman Damian?."   Alvin menghela nafas panjang. "Alvin bukan tidak menyukai Paman Damian, Alvin... Menyukainya. Paman Damian juga baik pada Alvin, Paman Damian juga sepertinya sangat peka dan mengerti keinginan Alvin... Walaupun kita cuma bertemu satu hari. Tapi Mama... Paman Damian bukan Papa Alvin. Dia... Papa Ara...."   Elvira menghela nafas panjang. Kepalanya mendadak pusing. Keinginan dan kenyataannya sepertinya tak akan pernah selaras. Ia tak bisa memaksakan kehendak atas keinginannya, namun... Apa yang harus ia katakan pada Damian?.   "Mama...."   Elvira menatap Alvin. "Sekarang Alvin tidur. Sudah malam. Mama juga akan keruang kerja sebentar. Ada yang harus Mama kerjakan. Selamat malam sayang."   Alvin mengangguk. "Selamat malam juga Mama. Jangan tidur terlalu larut."   Elvira mengangguk, ia mengusak puncak kepala Alvin sesaat kemudian berlalu meninggalkan kamar anaknya itu.   Sebenarnya Elvira tak benar-benar akan bekerja. Ia hanya merasa sakit kepala dan ingin menenangkan diri saja.   Pilihannya benar-benar bertolak belakang dan terasa sangat sulit. Semuanya... Jika ia pilih akan menghasilkan resiko.   Elvira menatap ponselnya, haruskah ia menghubungi Damian sekarang? Membicarakan masalahnya untuk segera mendapatkan solusi. Tapi... Ia takut, ia akan menyakiti pria itu. Ia tak ingin membuat pria itu terluka.   Bertepatan dengan itu ponsel Elvira berdering. Sebuah panggilan masuk dari Damian. Seseorang yang sedang ia pikirkan.   Haruskah ia mengatakannya sekarang? Apakah ini saat yang tepat?.   "Hallo...."   "Hallo Damian...."   "El... Maaf sebelumnya, tapi bisakah aku menitipkan Ara?."   Elvira mengerutkan keningnya. "Memang kau mau kemana?."   "Aku akan ke Jepang untuk tiga hari, dia tak ada yang menjaga kebetulan pengasuhnya sakit. Tadinya aku akan mengajaknya. Tapi dia ternyata tak mau. Dia juga tidak mau aku titipkan pada oranglain selain kau."   Elvira menghela nafas. "Baiklah. Tak apa. Antarkan saja kesini."   "Baiklah. Terimakasih banyak."   "Iya Damian."   Sunyi, tak ada lagi percakapan antara keduanya. Elvira diam, dia masih memikirkan jalan keluar terbaik agar tak menyakiti siapapun. Sementara Damian, ia tak tau perempuan itu sedang apa. Yang jelas dia juga diam.   "El... Kau kenapa?." Tanya Damian setelah diam cukup lama.   "Ah... Aku? Aku baik-baik saja."   "Apa kau sedang ada masalah? Aku juga dengar tadi kau pulang mendadak. Apa terjadi sesuatu?."   Ya... Sesuatu yang sangat buruk.   "El... Apa aku harus kesana?."   Elvira mengerjapkan matanya. "Tidak Damian, tak perlu."   "Jika ada sesuatu yang membebanimu katakan saja. Aku akan berusaha membantu." Ucap Damian dengan sangat lembut.   "Terimakasih Damian... Tapi aku baik-baik saja. Mungkin hanya terlalu lelah."   "Butuh pelukan, hm?."   Ya... sangat. Aku butuh sandaran. Pikir Elvira.   "Jika kau ingin, aku akan kesana sekarang...."   Elvira tersenyum. "Kau bilang akan ke Jepang besok. Sebaiknya kau istirahat saja. Aku juga akan segera istirahat."   Damian terdengar menghela nafas. "Baiklah kalau begitu. Istirahat yang cukup dan selamat malam...."   Elvira bergumam sekali sebelum akhirnya berkata. "Kau juga, selamat malam Damian."   Setelah mengatakan itu Damian mengakhiri panggilannya. Membuat Elvira kembali terdiam. Mendengar suara Damian saja membuatnya ragu menjelaskan semua yang terjadi hari ini. Apalagi jika bertemu.   Elvira hanya tak ingin menyakiti pria itu. Damian terlalu baik untuk ia sakiti. Ia akan sangat buruk jika menyakitinya dan melukai perasaannya.   Lalu apa yang harus ia lakukan?.   ***   Bersambung...   ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN