Davin memasuki gedung agensi bersama Ivan disisinya. Hari ini merupakan rapat pertama dengan produser yang menangani pemotretan yang akan dilakukan Ivan beberapa hari kedepan. Begitu memasuki gedung agensi suasana sudah cukup ramai, banyak sekali yang membicarakan Damian dan Ara disetiap penjuru. Mereka bilang pasangan ayah dan anak itu sangat serasi.
"Sepertinya Ara sudah sampai Pa."
"Sepertinya begitu. Ayo kita langsung menemui produser saja." Ucap Davin seraya merangkul Ivan.
Begitu memasuki ruangan mereka berdua disambut oleh pemandangan yang sangat menyebalkan menurut Davin. Disana... Ternyata bukan hanya ada Damian dan Ara. Tapi ada Cindy yang entah datang untuk keperluan apa. Padahal disini dia tidak memiliki kepentingan sama sekali.
"Paman Davin, Ivan.... Sini.... Produser belum datang. Jadi kami sedang mengobrol." Ujar Ara. "Van... Kenalkan... Ini Bibi Cindy. Teman Papa-ku."
Ivan mengerjapkan matanya beberapa kali saat bersitatap dengan Cindy yang kini tersenyum. Ia kini menunduk sekali seraya memperkenalkan diri. Rasanya aneh, mengenalkan diri pada orangtua sendiri. Pikir Ivan.
Sementara Davin menatapnya tak suka. Apalagi saat menyadari Cindy duduk terlalu dekat dengan Damian. Ia masih dalam mode cemburu pasca kejadian kemarin dan melihat itu sekarang.... Tentu saja membuat mood nya lebih buruk lagi.
"Kau bukannya akan ke Jepang hari ini? Kenapa masih disini?." Tanya Davin seraya mendudukan diri dihadapan Damian.
"Iya nanti siang. Memangnya kenapa? Sepertinya kau tak suka sekali aku disini." Goda Damian, sengaja memancing Davin.
Ya memang, aku sangat tidak menyukainya!.
Davin menghela nafas, berusaha tak mengeluarkan kalimat itu sekarang.
"Damian, aku keruangan Danies dulu. Ara... Sampai jumpa lagi nanti hm?." Ujar Cindy, kemudian ia beralih pada Ivan. "Sampai jumpa lagi sayang...." Ujarnya. Setelah itu berlalu tanpa menyapa Davin sedikitpun.
Davin menatap Damian yang sedang berbicara bersama Ara dan Ivan kemudian berdiri.
"Aku ke pantry sebentar." Pamitnya.
Begitu keluar ruangan itu Davin dapat melihat punggung Cindy, dia berdiri tak jauh darinya, sedang menunggu lift. Ia segera mendekati perempuan itu kemudian menarik tangannya tanpa permisi, membawanya memasuki pintu darurat.
"Lepas... Kau ini kenapa sih?."
Davin menghembuskan nafas kasar kemudian melepaskan lengan ramping itu, lalu berbalik menatap perempuan manis yang kini sedang menatapnya dengan tatapan sangat jengkel.
"Shin, aku sudah bilang. Jangan terlalu dekat dengan Damian. Kau ini... Bukannya menurut, kau malah semakin menjadi mendekatinya. Ah... Sepertinya kau juga sekalian sedang mendekati Ara, hm?. Kau ini kenapa keras kepala sekali?."
"Aku juga sudah bilang padamu kalau ini bukan urusanmu. Kau tak berhak mengaturku Davin."
Davin gelagapan. Ya... Ia memang tak berhak mengatakan itu lagi. "Aku tak peduli aku memiliki hak atau tidak yang jelas jangan pernah dekati Damian lagi."
"Ini hidupku! Terserah aku akan mendekati siapapun."
"Aku bilang aku tak peduli! Sekali aku bilang jangan mendekati Damian ya jangan! Tak bisakah kau hanya mengangguk dan menurut saja?!."
Cindy mendesis. "Kau gila."
"Ya! Aku memang gila. Jika kau terus begini aku akan benar-benar gila. Puas?!."
"Kau ini kenapa sih? Apa masalahmu? Saat pertama kita bertemu kau bertindak seolah aku bukan siapa-siapa. Bahkan kau bilang kita tidak memiliki hubungan apapun. Kau menganggapku orang asing!." Cindy menatap Davin jengkel. "Tapi sekarang, kau memperlakukanku begini? Mengaturku seenakmu. Kau cemburu aku bersama Damian?."
"Iya!!! Aku memang cemburu. Aku sangat cemburu. Aku benci kau terus mendekati Damian. Aku benci kau terus memperlakukanku seperti ini. Sementara bersama Damian kau selalu tersenyum, kau selalu menatapnya, kau selalu memperlakukannya dengan baik." Davin mengatur nafasnya yang memburu. "Aku juga benci kita selalu bersikap seperti orang asing. Aku benci itu! Aku ingin kita seperti dulu. Aku ingin kita bersama! Aku ingin kau! Aku ingin kau ada bersamaku dan Ivan... Aku ingin... Kita kembali...."
Davin menatap Cindy yang hanya menatapnya dalam diam. Pria manis itu tak mengeluarkan ekspresi apapun, dia hanya diam tanpa ekspresi tapi tatapan itu menatapnya dalam. Membuat perasaannya mulai gundah, jantungnya mulai berdebar tak karuan. Apa yang dia pikirkan? Apakah ia keterlaluan dan salah bicara?.
"Shin.... Aku...."
"Ayo kita berkencan."
Davin membulatkan matanya saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Cindy.
Ini terasa seperti dejavu. Dulu... Belasan tahun lalu.... Cindy juga mengatakan hal yang sama.
"Shin... Ini...."
Cindy berdecak. "Kau memang tak pernah berubah ya... Kau selalu begini. Kau ini masih belum bisa ya menyatakan perasaan dengan benar? Tinggal bilang, 'aku masih mencintaimu, ayo kita kembali'. Sampai harus selalu aku yang mengajakmu berkencan." Cercanya.
"Jangan-jangan nanti harus aku juga yang mengajakmu menikah lagi." Lanjut Cindy menggerutu.
Davin mengerjapkan matanya beberapa kali, masih mencerna rentetan kalimat yang keluar dari mulut Cindy. Sebentar... Ia tidak sedang bermimpikan?.
"Apa aku bermimpi?." Guman Davin.
Plak!
Cindy memukul belakang kepala Davin cukup keras.
"Aw! Sakit."
"Apa dalam mimpimu kau akan merasa sakit?." Tanya Cindy dengan jengkel.
Davin mulai tersenyum dengan ekspresi seperti orang bodoh. "Jadi... Ini nyata?."
Cindy memutat bola matanya. "Menurutmu? Sudahlah. Kau ini hanya membuang waktu saja."
Davin menahan lengan Cindy, kemudian membawa perempuan manis itu dalam pelukannya. Ia bahkan memeluk perempuan itu dengan sangat erat.
"Seharusnya kau memelukku sejak tadi." Rajuk Cindy seraya membalas pelukan itu.
Davin mengangguk. "Aku bahkan ingin memelukmu sejak pertama kali kita bertemu."
"Lalu... Kenapa kau tak melakukannya?."
Davin menghela nafas. Kali ini ia melepaskan pelukan Cindy. "Aku juga tidak tau. Mungkin aku sedang tak waras saja kemarin."
"Memang kapan kau pernah waras?."
Bukannya marah, Davin malah tertawa ringan.
"Tuh lihat. Sepertinya kau sekarang lebih tak waras lagi. Dasar gila."
Davin kembali memeluk Cindy kemudian berbisik. "Aku gila karenamu."
Cindy tersenyum malu. "Aku tau...."
"Davin... Bukankah kau harus meeting dengan Produser? Aku juga harus bertemu Danies sekarang."
Davin malah mengeratkan pelukannya. "Aku tak ingin melepaskanmu."
"Dave...."
Davin menghela nafas panjang. "Baiklah. Kau bisa keruangan Danies sekarang dan aku akan rapat. Setelah itu, kau harus ikut aku. Kita pulang bersama, hm?."
"Pulang?."
Davin mengangguk. "Kerumah kita Shin...."
"Aku tak bilang akan kembali tinggal bersamamu Dave." Cindy mengerlingkan mata, berniat menjahili Davin.
Namun Davin malah menghela nafas, menatap Cindy dengan tatapan seriusnya. "Aku juga tak memintamu untuk tinggal bersamaku Shin...."
Cindy menyipitkan matanya, tak terima dengan jawaban itu. "Ya!!! Beraninya kau!."
Davin kali ini tertawa lagi melihat reaksi Cindy yang terlihat sangat kesal padanya. "Makanya jangan menjahiliku terus." Ujarnya seraya mengusak puncak kepala Cindy.
Cindy mencebik. "Kau tak asik. Aku kan hanya menjahilimu."
"Aku juga hanya menjahilimu. Tapi kau marah. Licik sekali, kau ingin menjahiliku tapi kau tak mau di jahili." Keluh Davin. "Sudah jangan marah. Sekarang... Aku antar keruangan Danies... Bagaimana? Kau mau?."
Cindy mengangguk. "Mau...." Ujarnya manja seraya merangkul lengan Davin.
Davin tersenyum lebar lalu mengusak puncak kepala Cindy lagi. Perempuan manisnya ini sampai kapanpun akan selalu manis dan menggemaskan. Bahkan sekarang, Cindy terasa lebih manis lagi dibandingkan dengan bertahun-tahun lalu.
***
Rapat akhirnya selesai setelah membicarakan konsep dan jadwal. Setelah itu Damian mengantarkan Ara menuju rumah Elvira sebelum ia berangkat ke Jepang siang nanti.
Saat ini mereka baru saja sampai di halaman rumah Elvira, namun keduanya belum keluar dari dalam mobil yang mereka kendarai. Ara, anak manisnya sedang merajuk.
"Papa bilang akan melihat pemotretan pertamaku." Rajuk Ara.
Tangan kanan Damian mengusak puncak kepala Ara sesaat. Ara akan melakukan pemotretan mulai besok, saat ia ada pekerjaan di Jepang. Andai pekerjaannya bisa di undur. Ia pasti akan melakukannya.
"Akan Papa usahakan selesai lebih cepat hm? Maafkan Papa...."
Ara mengangguk kecil. "Jadi besok, Ara hanya bersama Paman Davin dan Ivan?."
Damian tersenyum. "Maafkan Papa..."
Ara menghela nafas panjang. "Yasudah Papa. Tak apa. Ayo keluar. Itu... Bibi Elvira sudah menunggu." Ujarnya seraya keluar dari dalam mobil.
Damian menghela nafas pelan, kemudian segera menyusul Ara yang berjalan tanpa berbalik lagi kearahnya. Untuk pertama kalinya Ara marah seperti ini. Lihatlah, bahkan anaknya itu tidak tersenyum padanya sama sekali. Jangankan tersenyum, melihatnya saja tak mau.
"Kalian kenapa?." Tanya Elvira begitu Damian sampai dihadapannya.
Damian menghela nafas lagi. "Besok Ara akan mulai pemotretan, tapi aku tak bisa menemaninya." Ujar Damian seraya menatap Ara yang kini duduk diatas sofa sendirian.
"Memang pekerjaanmu tidak bisa di tinggalkan?."
Damian membasahi bibirnya. "Jadwalku kedepannya lebih sibuk. Jadi tak bisa di tunda lagi."
Elvira menghela nafas. "Lebih baik kalian bicara dulu sebelum kau berangkat. Masuklah... Aku akan mengambil minuman untuk kalian."
Damian mendekati Ara yang menyibukan diri dengan ponselnya. Sementara Elvira pergi ke dapur.
"Ra...."
Ara tidak menyahutinya. Dia fokus pada ponsel.
"Papa berjanji lusa akan pulang." Bujuk Damian.
Tapi Ara masih juga diam. Anak itu bahkan kini memasang headphone guna menutupi telinganya.
Damian menghela nafas. Kini ia menatap Elvira yang sedang berjalan kearahnya. Meminta tolong.
"Ra...." Panggil Elvira.
Damian melihat Ara merespon Elvira. Anak itu bahkan kini menatap Elvira yang melepaskan headphone-nya begitu saja.
"Papa sedang berbicara. Tak baik Ara begitu." Tegur Elvira.
Ara menunduk takut, bibirnya mulai mengerucut menahan tangis. "Ara hanya kesal." Ujarnya.
Elvira merangkul Ara, mengelus pundak anak itu beberapa kali. Elvira memahami, Ara pasti sangat kecewa. "Besok Bibi yang antar. Bagaimana?."
"El... Besok kau kan bekerja juga...." Tegur Damian.
Elvira meminta Damian diam dengan jarinya. Ia kembali menatap Ara.
"Ra...."
Ara akhirnya menghela nafas dan mengangguk. "Baiklah...."
Elvira tersenyum, tangannya kini terangkat mengusak puncak kepala Ara. "Anak pintar. Sekarang Ara makan, setelah itu tidur siang."
Damian tersenyum lega melihat Ara mengangguk patuh. Apalagi kini anaknya itu juga mendekatinya, kemudian memeluknya.
"Maafkan Ara, Papa.... Papa hati-hati dijalan."
Damian terkekeh pelan kemudian mencium puncak kepala anaknya. "Tak apa. Papa yang salah. Maafkan Papa.... Ara jangan usil ya pada Bibi Elvira. Jangan menyusahkan Bibi Elvira juga."
"Iya... Papa."
Damian lega melihat anaknya kembali sedikitnya tersenyum. Meski tak selebar biasanya tapi membuatnya begitu lega. Ia kini menatap Ara yang kini berjalan kearah dapur. Terlihat sangat terbiasa.
"Ara pasti sering merepotkanmu." Ujar Damian.
"Tidak. Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya. Dia biasanya sangat menghibur dan ceria."
Damian menatap Elvira yang terlihat sangat berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Perempuan itu nampak lebih pendiam dari sebelumnya. Bahkan tatapannya juga sayu. Terlihat banyak sekali pikiran.
"Ingin bercerita?." Tanya Damian, kali ini ia berpindah tempat duduk menjadi berdampingan dengan Elvira.
"Aku ingin pelukan." Jawab Elvira jujur. Ya... Karena memang itu yang ia butuhkan. Dibanding dengan menceritakan semua masalahnya sekarang.
Damian meraih Elvira dalam pelukannya. Tangannya terulur mengelus punggung sempit itu beberapa kali. Tak lama kemudian Elvira melepaskan pelukan itu.
"Merasa lebih baik?."
Elvira tersenyum kemudian mengangguk. "Terimakasih."
"Aku akan mendengarkanmu jika kau ingin bercerita. Katakan saja."
Elvira menggeleng pelan. "Kau akan terlambat. Kita bicara setelah Kau pulang saja."
"Baiklah jika begitu. Sekarang aku berangkat dulu."
Damian berjalan kearah Ara kemudian memeluk dan menciumnya sesaat. Setelah itu ia beralih kearah Elvira, memeluk perempuan itu lagi lalu mencium puncak kepalanya.
"Sampai jumpa lagi." Ujar Damian seraya tersenyum.
***
Elvira melambaikan tangannya pada Damian sebelum pria itu pergi. Jujur saja, ini semua terasa lebih gamang dari yang ia pikirkan. Ia pikir akan mudah mengatakannya, lagipula hubungan mereka baru berjalan beberapa hari. Tapi entah kenapa rasanya sangat berat. Ia tak ingin kehilangan Damian secepat ini.
Elvira.... Ya.... Elvira memang sedang jatuh cinta. Membuat logikanya tunduk patuh pada perasaannya. Logikanya bahkan seolah tak bekerja lagi.
Elvira kini menatap Ara yang sedang menikmati makanannya. Ia sangat menyayangi Ara. Bahkan dari sebelum ia mengenal Damian. Jika hubungannya dengan Damian berakhir begitu saja. Apakah Ara juga akan menjauhinya? Ia hanya merasa sedikit tak rela. Tapi... Jika ia bertahan dengan keegoisannya. Ancaman terbesarnya adalah Kalvin. Ia takut, pria itu benar-benar akan mengambil Alvin darinya.
Bagaimana ia menjelaskan semuanya pada Damian nanti? Apa saja yang harus ia katakan?.
"Bibi... Dimana Alvin?." Tanya Ara.
"Ah... Alvin?."
Ara mengangguk. "Apa dia sedang dikamar?."
Elvira membasahi bibirnya. Haruskah ia jujur?.
"Bibi...."
"Alvin sedang berlibur."
Ara menatap Elvira aneh. "Berlibur? Sendiri?."
Elvira menggeleng. "Bersama Papa-nya."
Ara semakin mengerutkan keningnya. "Papa? Ara tak tau, Alvin memiliki..... Papa? Papa... Kandung?."
Elvira tersenyum. "Iya...."
Ara menghentikan kunyahannya. Bahkan sumpit ditangannya terjatuh keatas piring. "Jika begitu...."
Elvira mengusak puncak kepala Ara. "Jangan dipikirkan. Semuanya akan baik-baik saja."
"Ah? benarkah?." Tanya Ara dengan sedikit ragu. Entah kenapa perasaannya menjadi sedikit risau.
Elvira mengangguk seraya tersenyum. "Sekarang lebih baik habiskan makananmu."
Elvira menggigit pipi bagian dalamnya. Ia merasa tak seharusnya mengatakan itu. Apakah ia salah mengatakannya? Lihatlah... Ara bahkan menjadi lebih murung setelah ia mengatakan itu.
Elvira... Seharusnya kau jangan katakan ini pada Ara. Tapi Damian.
Aku memang gila.
***
Bersambung...
***