Damian mengetuk-ngetuk pintu kamar Ara entah untuk keberapa kalinya. Sejak dua jam yang lalu, begitu sampai dirumah, anaknya itu langsung mengurung diri di kamar. Selama perjalanan pun Ara tak berbicara apapun lagi, setelah menangis beberapa saat Ara hanya terdiam dan melamun saja. Lalu begitu sampai rumah dia mengurung diri seperti ini. "Ara... Jangan begini... Sayang...." Damian mengetuk-ngetuk pintu kamar anaknya itu lagi. "Ra... Apa Ara tidak kasihan pada Papa? Jika Ara begini, Papa akan sangat sedih Ra." "Princess...." Damian mengetuk pintu kamar itu lagi. "Ra... Jangan begini, lebih baik Ara katakan saja. Jangan malah mendiamkan Papa begini." "Ra...." Ketukan itu semakin melemah, Damian kini mengepalkan tangannya. Marah pada dirinya sendiri. Seharusnya ia t

