Super Model

2400 Kata
Kyra sebenarnya dia sudah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Damian, semenjak Cindy memutuskan untuk bergabung dengan agensi ini. Namun tetap saja, ia tak bisa mengontrol dirinya. Jantung terasa melonjak dan berdetak dengan sangat kencang, bahkan tubuhnyapun serasa lemas saat penciumannya menghirup aroma maskulin dari pria itu. Aroma yang tetap sama memabukannya dengan aroma yang dimiliki pria itu dulu.   Awalnya, Kyra ingin sekali ia menolak saat Cindy memutuskan untuk bergabung diagensi ini, tapi ia tak bisa melakukan apapun karena ia bahkan tak sanggup untuk menceritakan tentang Damian pada Cindy yang merupakan alasan ia tak ingin disini. Sehingga ia hanya bisa menurut dan ikut saja dengan keputusan model-nya itu.   "Ky...."   "Ah... Iya Shin... Ada apa?." Kyra menatap Cindy yang baru saja duduk dihadapannya.   Saat ini mereka berdua sudah berada di unit apartemen mereka. Ia dan Cindy memang memutuskan tinggal bersama sejak dulu, dengan tujuan untuk saling menjaga. Bagaimanapun Dunia ini cukup kejam, apalagi bagi kedua perempuan itu.   Cindy nampak berpikir, ia bahkan menimang-nimang minuman dalam gelas di jari tangannya. Terlihat bingung dan sedikit kalut.   "Kau kenapa?."   "Apa keputusanku bergabung disana salah? Aku merasa disana tak sesuai dengan harapanku."   Kyra menghela nafas panjang, kali ini ia menatap Cindy dengan tenang. "Memang apa yang kau harapkan?."   Tak ada jawaban. Cindy hanya diam dengan pandangan menerawang. Seolah berpikir sangat jauh dan sangat dalam.   Apakah ada masalah? Pikir Kyra.   Selama ini Kyra tak pernah melihat Cindy sesendu itu, bahkan sekalipun terlibat skandal, dia tak pernah seperti ini. Tapi dia kenapa sekarang begini? Bahkan sejak pulang dari kantor agensi Cindy menjadi sangat diam dan sering melamun.   Tak lama setelah itu Cindy berdecak pelan seraya beranjak. "Aku ingin mandi sekarang. Tolong segera susun jadwalku Ky, aku tak ingin menganggur."   Kyra menghela nafas panjang. Entah kenapa ia merasa berada disini akan sangat berat? Apa karena ia yang akan sering bertemu dengan Damian? Ataukah hal lain?.   Kyra hanya berharap dalam hati agar Damian dapat bekerja sama dengannya. Ia tak ingin kembali jatuh pada Damian, ia tak ingin kembali mencintai lelaki itu. Tidak.   ***   Sementara itu Cindy yang baru saja memasuki kamarnya hanya terdiam, duduk diatas pembaringan.   "Memang apa yang Kau harapkan?"   Pertanyaan itu sangat menusuk hatinya. Benar, apa yang ia harapkan dari seseorang yang sudah ia tinggalkan begitu saja? Apa yang bisa ia harapkan dari seseorang yang sudah ia sakiti?   Awalnya, Cindy pikir Davin akan menyambutnya dengan baik. Karena selama ini Davin memang sangat baik, bahkan terkadang terlalu baik. Namun mengingat jawabannya di ruangan CEO tadi, membuatnya sangat terluka.   Davin, kenapa dia justru mengatakan hal itu seolah mereka adalah orang asing yang tak memiliki masalalu? Dia sungguh, sangat berhasil membuatnya merasa terluka.   Niat hati, ia ingin kembali dan memperbaiki semuanya. Tapi ternyata, semua itu sepertinya tak akan pernah mudah.   Cindy menatap ponselnya, mengusap layar benda pipih itu beberapa kali. Disana terdapat sebuah foto putera kecilnya yang sudah sangat besar, yang tentu saja ia dapatkan dari akun sns Davin beberapa bulan yang lalu. Puteranya tumbuh menjadi remaja yang sangat tampan dan juga manis. Terlihat sangat amat menggemaskan. Ia akui, Davin membesarkan putera mereka dengan baik. Meskipun tanpa dirinya.   "Ivan sayang... Apa kau merindukanku?."   Cindy menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang hampir meluncur. Ia sangat merindukan anaknya itu hingga terasa sangat sesak dalam dadanya. Benar-benar sesak, seolah terhimpit ribuan beton yang tak bisa ia hancurkan.   Cindy menarik nafas berat sebelum akhirnya menggulir ponsel, membuka aplikasi berita.   Deg!   Jantung Cindy berdetak lebih kencang saat melihat headline news disana. Memuat foto Davin dengan seseorang yang memeluknya.   ---   [HOT] Berpose sangat Romantis disebuah Kamar, Model Finn dan Aktris pendatang baru Selena, Berkencan?   Bukan kali pertamanya Super Model Finn yang memiliki nama asli Davin ini terlibat scandal kencan dengan seseorang. Setelah dengan Samanta dan Milly, kali ini Aktris baru Selena yang dikabarkan berkencan dengan model tampan itu.   Hari ini (30/6) Selena mengunggah foto romantis bersama Finn yang berada dalam pelukannya. Tak hanya itu, mereka juga tampak sangat bahagia dengan senyuman yang mereka perlihatkan.   Meskipun terlihat sangat romantis, tapi hampir tak ada yang tau awal mula kedekatan mereka seperti apa.   Benarkah mereka berkencan?   ---   Cindy meremat ponselnya dengan kencang. Jika bisa, ia bahkan ingin menghancurkan ponsel ditangannya itu sekarang juga.   Benar ini bukan kali pertamanya Davin terkena skandal. Bukan. Tapi entah kenapa rasanya selalu sama. Ia sakit, ia tak rela. Ia tak suka Davin-nya bersama perempuan lain.   Cindy termenung. Kali ini ia tertawa miris.   Davin-nya? Apakah ia masih pantas menyebut pria itu dengan sebutan demikian? Seolah dia masih miliknya, padahal sekarang pria itu bukan miliknya lagi.   ***   Esoknya Cindy kembali berada di gedung agensi untuk membicarakan beberapa tawaran yang datang untuknya. Begitu kabar dirinya bergabung diagensi ini, tawaran memang semakin banyak datang padanya. Sehingga ia akan mempertimbangkan banyak hal dengan Danies mengenai hal ini.   Cindy dan Kyra memasuki ruangan Danies setelah mendapatkan ijin. Sementara itu didalam sana ada Danies yang sedang berbicara dengan seseorang menggunakan ponsel dan terlihat sangat kesal.   "Aku tak mau tau, buat Davin mengatakan sesuatu. Jangan sampai skandal ini membesar! Lagipula kenapa dia tak mau melakukan sesuatu? Biasanya dia akan langsung membantah."   Cindy menatap Danies yang mungkin sedang berbicara dengan manager Davin.   Skandal Davin memang meluas, setelah foto itu. Ternyata banyak foto lain yang mulai terungkap kemedia. Darimulai makan malam bersama, liburan bersama ke sebuah pulau, pantai dan banyak lagi yang lain. Membuat Cindy semakin terluka. Kenapa kabar ini mencuat disaat ia datang? Apakah Davin sengaja? Tapi, untuk apa pria itu melakukannya? Apakah lelaki itu benar-benar tak ingin bersamanya lagi?   "Maksudmu foto itu benar? Mereka benar-benar berkencan?."   Deg!   Jantung Cindy terasa berdetak semakin kencang, terasa menyesakkan dan menghimpit dadanya. Tangannya bahkan kini saling meremat, mencoba saling meraih untuk meringankan luka yang ia rasakan. Cobaan apa lagi ini? Davin mulai berkencan? Mereka benar-benar berkencan?.   Tak lama kemudian Danies duduk di single sofa tak jauh darinya.   "Shin, maaf membuatmu menunggu. Seperti yang kau tau. Davin terlibat skandal. Tapi anehnya dia justru tak membantah apapun. Tidak seperti biasanya. Membuatku pusing, semua orang bertanya padaku."   Cindy berusaha tampak biasa saja setelah menarik nafasnya, kali kini tersenyum tipis. "Tak apa. Aku mengerti. Kau pasti sangat kesulitan sekarang."   Danies menghela nafas panjang. "Tadinya aku sudah menjadwalkanmu pemotretan dengan Finn, untuk koleksi musim panas ini. Tapi sepertinya tak mungkin. Bagaimana jika Kalvin?."   Cindy nampak berpikir. "Aku lebih tertarik dengan Damian daripada Kal. Bagaimana jika Damian saja?." ucapnya. Tanpa menyadari raut panik dari Kyra yang duduk disisinya.   "Damian sebenarnya sangat sibuk. Bahkan untuk tiga bulan kedepan jadwalnya sudah penuh."   Cindy mengangguk-anggukan kepalanya. "Jadi begitu?."   "Lagipula, Kenapa kau ingin Damian Shin? Ahh kalau tak salah, kau juga menanyakan Damian  pada Kalvin kan?."   Cindy terkekeh pelan. Ia memang sempat menanyakan tentang Damian pada Kalvin saat berada di Paris. Jujur saja, ia sempat tertarik pada Damian. Dilihat dari manapun, dia terlihat sangat tampan dan menawan. Apalagi katanya sikapnya juga sangat baik. Siapa yang bisa menolak pesonanya, kan? Tapi jujur saja, itu hanya kekagumannya saja sebagai penggemar. Bukan sesuatu hal romantis dan bukan hal spesial juga.   "Aku hanya merasa mungkin saja aku dan Damian akan cocok. Banyak yang membicarakannya, jadi aku sangat penasaran. Semua teman-temanku bahkan ingin berkolaborasi dengannya jika memungkinkan."   "Hohoo.... Kau ingin membuat teman-temanmu iri ya?." goda Danies seraya terkekeh pelan.   Cindy memamerkan giginya, ia sebenarnya sedikit malu dengan jawaban yang ia berikan tadi. "Bukan begitu juga."   "Jangan terlalu berharap pada Damian. Dia sedikit sulit." ujar Danies. "Tapi aku akan membicarakan ini terlebih dulu padanya. Kalau kau beruntung dia pasti setuju."   Cindy mengangguk. "Semoga aku beruntung." ujarnya seraya terkekeh pelan.   Sementara itu lain hal nya dengan Cindy yang berharap ada jawaban bagus dari Damian. Kyra dalam hati terus berdo'a agar Damian menolak tawaran itu. Ia hanya tak ingin semakin sering bertemu dengan Damian dan kembali terjebak. Karena jika ia boleh jujur dengan perasaannya, ia masih mencintai lelaki itu. Tapi ia belum siap jika harus kembali terjatuh.   Ia tak ingin kembali jatuh pada pesona Damian. Itu semua terlalu menyakitkan hati dan perasannya.   Sekali lagi Kyra tegaskan, ia tak ingin kembali jatuh lebih dalam pada pesona Damian.   ***   Saat yang lain sibuk membicarakan pemotretan edisi musim panas, Kalvin justru malah berdiri dengan bersandar pada mobilnya tepat didepan sekolah Ara.   Kalvin sudah dari dua jam yang lalu menunggu Ara. Ia bahkan sempat-sempatnya menikmati kopi disebuah kedai dekat sekolah itu. Bukan karena Ara yang tak kunjung datang, tapi karena dirinya memang datang terlalu cepat.   Kalvin menjemput Ara bukan tanpa alasan. Ia justru membawa sebuah misi penting demi ketenangan dan kelangsungan hidupnya.   Sejak hari itu, hari dimana ia menjemput Ara dengan Damian. Ia terus terbayang tatapan sendu perempuan yang tanpa sengaja ia temui itu. Jujur saja, tatapan itu sangat mengganggunya, hingga membuatnya tak tenang. Ia menjadi tak fokus saat bekerja, bahkan dua malam ini ia hampir tidak tidur karena setiap ia memejamkan mata, ia selalu terbayang tatapan itu.   Ia merasa tatapan itu tak asing, ia pernah melihatnya disuatu tempat. Tapi dimana? Dan... Kapan?.   Apalagi saat semakin terbayang tatapan itu, ada suatu desiran aneh yang terus saja mengganggu hati dan perasaanya.   Hingga batinnya terus bertanya-tanya.   Dia.... Siapa? Apakah mantan kekasihnya? Tapi Kalvin tak pernah memiliki kekasih. Ia tak pernah terlibat dengan sesuatu seperti itu, hingga membuatnya semakin bingung dan sangat kalut. Jika bukan cinta pertamanya, lalu siapa?   Karena beberapa hal itulah Kalvin kini  bertekad. Ia harus bisa menemui perempuan itu hari ini, untuk mencari jawaban dari segala kebingungannya.   Beberapa orang siswa akhirnya mulai keluar dari gerbang yang kini terbuka. Membuatnya memokuskan diri kearah sana. Memastikan Ara bersama anak itu lagi.   Saat pandangannya fokus ke depan, seseorang baru saja memarkirkan mobil tepat dibelakang mobil miliknya. Seseorang keluar dari bangku kemudi.   Dia... perempuan itu.   Kalvin menimbang beberapa kali, haruskah ia mendekati perempuan itu sekarang juga?.   Tanpa Kalvin duga perempuan itu berbalik kearahnya kemudian menunduk dan tersenyum tipis. Bukannya membalas, Kalvin justru menoleh kebelakangnya. Siapa tau ada seseorang di belakangnya kan? Tapi ternyata tak ada.   "Aku?." Tanya Kalvin seraya menunjuk dirinya sendiri.   perempuan itu hanya tersenyum tipis kemudian mengabaikannya.   Hey... Apakah ia sekarang sedang di permainkan perempuan itu?.   Kalvin akhirnya memberanikan diri mendekatinya.   "Permisi... Apakah kebetulan kita pernah bertemu?."   Bukannya menjawab, perempuan itu justru terkekeh pelan. Lalu menatapnya. "Kau bercanda? Mana mungkin orang biasa sepertiku pernah bertemu seorang super model sepertimu. Aku hanya berusaha bersikap sopan, karena kau sejak tadi memperhatikanku."   Entah kenapa Kalvin merasa ucapan itu terdengar seperti sebuah sindiran baginya. Ia cukup tersinggung mendengar kalimat itu.   Kalvin menatap perempuan dihadapannya dengan melipat tangan didada. "Apa kita pernah saling mengenal?."   "Kau ini kenapa? Seperti orang linglung saja. Bagaimana kita saling mengenal? Aku bilang mana mungkin...."   ".... Orang biasa sepertiku pernah bertemu seorang super model sepertimu." ujar Kalvin memotong kalimat menjengkelkan itu.   "Nice." Ujar perempuan itu diiringi sebuah kekehan pelan.   Kalvin menghela nafas panjang. "Tapi kenapa kau menatapku seperti itu kemarin lusa? Kau seperti kalut... Kau menatapku sangat sendu seolah aku melakukan kesalahan yang sangat besar padamu."   Perempuan itu menghembuskan nafasnya, menatap Kalvin dengan berani. "Mungkin kau hanya salah faham. Aku tak bermaksud begitu padamu. Saat itu aku memang sedang banyak pikiran dan itu tak ada kaitannya denganmu." dia terkekeh pelan. "Kau terlalu percaya diri tuan."   Kalvin nampak berpikir keras. "Benarkah begitu? Hm... Kalau begitu kenapa aku tak bisa melupakanmu sejak kemarin?."   "Kau mungkin hanya penasaran."   "Aku tak yakin. Perasaan ini terasa sangat aneh. Tak mungkin hanya penasaran." ujar Kalvin lagi. "Mungkin aku jatuh cinta pada pandangan pertama?."   Perempuan dihadapannya itu terkekeh geli. "Aku tau aku mempesona, tapi aku tak tertarik pada seseorang sepertimu."   "Tapi aku tertarik padamu, bagaimana jika kita berkenalan dan mulai berkencan?,"   "Kau gila?!." Perempuan itu menatap jengkel padanya.   "Ayolah...."   "Dasar gila." Ujar perempuan itu lagi kemudian beranjak pergi, berjalan menghampiri seorang anak remaja yang berjalan dengan Ara.   "Ya.... Aku serius." Kalvin tak gentar. Ia mengikuti perempuan itu hingga berhenti tepat didepan Ara dan anak remaja itu.   "Sebaiknya kau segera pulang dan basuh wajahmu. Kau tau, saat ini kau seperti orang yang mengigau. Tak jelas." Perempuan itu mengalihkan pandangan pada anak remaja itu. "Alvin... Ayo kita pulang."   "Hey... Kita belum berkenalan."   Sayangnya perempuan itu kini telah memasuki mobilnya kemudian pergi.   Saat ia sibuk melihat mobil yang dikendarai perempuan itu pergi. Ia mendengar decakan kesal di sampingnya.   "Memalukan sekali." ujar Ara seraya beranjak memasuki mobil milik Kalvin.   "Ya ya ya.... Dimana letak memalukannya? Paman ini tampan Ra." ucap Kalvin saat dirinya sudah berada didalam mobil.   "Memang siapa yang akan tertarik pada seseorang berpenampilan seperti ini? Paman bercanda? Paman ingin menjemputku pulang sekolah atau mau pergi ke club malam? Seharusnya Paman lebih rapih. Setidaknya pakai pakaian normal. Ini, kau memakai celana bolong-bolong, kemeja gak jelas. Setidaknya kancing. Malah dibiarkan terbuka. Lagian tumben-tumbenan sekali mau menjemput Ara. Biasanya juga tak mau dan jika menjemputpun pasti selalu terlambat." omel Ara.   "Sampai kapanpun Bibi Elvira tak akan pernah tertarik padamu. Lagipula, kenapa Paman ingin mendekatinya? Padahal masih banyak yang suka pada Paman, pilih saja satu yang menyukai Paman. Jangan memaksa Bibi Elvira."   Kalvin mengerjapkan matanya setelah mendengarkan rentetan kata-kata yang keluar dari mulut anak remaja disampingnya ini. Tapi, bukannya marah. Ia justru tersenyum lebar.   "Jadi namanya Elvira?." ujarnya seraya tersenyum bodoh. Ia melirik kearah Ara kemudian mencubit pipi anak itu gemas.   Ara mendelik seraya mengeluarkan smirk nya. "Ara akan mendekatkan Bibi Elvira pada Papa. Bukan pada Paman. Jadi jangan coba-coba mendekati Bibi Elvira lagi."   "Loh... Kenapa?."   "Ara bilang akan Ara kenalkan pada Papa!!! Jangan mendekati Bibi Elvira lagi. Titik!!!."   Kalvin menarik nafas panjang. Tapi kemudian ia menyeringai saat mengingat sesuatu.   "Tapi kau harus tau Ra. Papa-mu itu tak akan pernah mau menikah. Tak akan pernah mau memiliki komitmen. Jadi sebaiknya, Paman saja yang akan mendekatinya." Ujar Kalvin dengan senyuman penuh kemenangan.   Ara menghela nafas panjang. "Paman tau siapa yang paling Papa sayangi?."   "Ara... Iya kan?." Lanjutnya.   "Lalu? Apa hubungannya?."   "Apa Papa pernah menolak keinginanku?."   "Tentu saja tidak. Kau yang paling Papa-mu sayangi."   "Benar sekali. Jadi... Jika Ara mau Papa menikah dengan Bibi Elvira. Tentu saja Papa tak akan menolakkan?." Tangan Ara terulur menepuk-nepuk bahu Kalvin. "Jadi... Sebaiknya paman jangan lama-lama bermimpi ya...."   Kalvin memicingkan matanya. "Ya! Bocah!!!."   "Why?!."   "Aku turunkan juga kau disini. Biar kau hilang dan tak menggangguku lagi!."   Ara mengedikkan bahunya. "Turunkan saja. Ara tinggal menelpon Papa dan bilang Paman menurunkanku di tengah jalan. Lalu Ara akan curhat pada Alvin dan juga Bibi Elvira. Agar Paman Kalvin semakin tidak bisa mendekati Bibi Elvira. Bagaimana? Masih mau menurunkan Ara?." Tanyanya seraya menatap Kalvin dengan wajah yang sangat menggemaskan.   Kalvin menggeram kesal. "Dasar licik." Desisnya yang mengundang tawa lebar dari Ara.   Melihat tawa itu, Kalvin ikut tersenyum lebar. Meskipun dia licik dan menyebalkan. Tapi ia sangat menyayangi Ara juga. Layaknya ayah pada anaknya sendiri.   Mungkin begini rasanya memiliki anak? Pikir Kalvin.   ***   Bersambung...   ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN