Davin menatap ponsel ditangannya tanpa reaksi apapun, notifikasi bahkan terus saja masuk tanpa henti. Ia tak menduga hanya karena sebuah foto gosip mengenai dirinya semakin meluas, bahkan ia tak bisa menjemput Ivan sekarang karena media pasti sedang mengincarnya. Biasanya ia akan segera membantah jika berita itu tak benar. Tapi kali ini, ia hanya diamkan saja. Ia merasa malas untuk sekedar mengonfirmasi.
Beberapa saat lalu, ia menghubungi Selena, sahabatnya. Mereka hanya tertawa melihat headline berita yang membahas mereka berdua itu. Mereka sebenarnya bersahabat sejak lama, hanya saja tak banyak yang tau karena memang kesibukan mereka yang berbeda dan juga mereka tak pernah menunjukkan kedekatan di depan publik sama sekali.
"Papa...."
"Sydney...." Davin memeluk Ivan sesaat kemudian mengusak puncak kepalanya. "Cepat mandi dan ganti baju. Setelah ini kita makan malam bersama."
Ivan mengangguk patuh. "Iya... Papa...."
Setelah memastikan Ivan memasuki kamar. Kini ia beralih menatap Jinna, managernya.
"Dave sebaiknya segera hubungi Danies. Aku bosan mendapatkan telpon darinya." keluh manager cantik itu.
"Biarkan saja."
Jinna mendesis. "Dibiarkan bagaimana? Dia terus-terusan menelpon ku. Dia juga memarahiku tadi." Ujarnya seraya berlalu.
Tak lama kemudian Jinna kembali dengan segelas air minum ditangannya. "Lagipula Kau ini kenapa? Tak biasanya mendiamkan skandal begini. Biasanya juga langsung membantah. Kalian benar-benar berkencan ya?."
Davin mendesis. "Aku hanya malas. Setiap aku bersama seseorang selalu dibilang berkencan. Pada akhirnya aku selalu disebut playboy meskipun aku sudah mengkonfirmasi jika berita itu tak benar. Jadi apa gunanya berbicara? Diamkan saja. Gosip nanti akan surut sendiri."
Jinna akhirnya mengalah, ia mendudukan dirinya didekat Davin seraya menyandarkan kepalanya ke sandaran tempat duduk.
"Kau ini kenapa? Aku sudah bilang jangan terlalu pusing dengan skandal itu." Ujar Davin saat melihat Jinna yang terlihat sangat kelelahan.
"Bukan hanya karena itu Dave."
"Lalu?."
"Harry melamarku."
"WOW. KAU SERIUS?!"
Jinna mengangguk lemah seraya memperlihatkan cincin yang kini melingkar di jari manisnya.
Davin menggelengkan kepalanya tak percaya. "Lalu apa yang membuatmu bingung?."
"Aku masih ragu."
Davin menghela nafas panjang. "Pernikahan memang tak mudah. Tapi jika kalian bisa saling menguatkan dan terus berdampingan, semuanya akan terasa mudah."
Kali ini Jinna menatap Davin. "Dulu... Kenapa Kau bercerai dengan Ibu-nya Ivan?."
Davin menghela nafas panjang. Jinna memang tak mengetahui apapun mengenai dirinya selain kenyataan ia memiliki seorang anak dan ia seorang duda. Karena Jinna baru bekerja sekitar 7 tahun dengannya. Sehingga wajar saja dia menanyakan hal itu.
"Mungkin karena dia tak cukup yakin denganku. Dia sangat obsesif, dia sangat ingin menggapai mimpinya yang bahkan akupun tak tau itu. Padahal sebenarnya dia tak perlu meninggalkan kami. Aku bahkan tak pernah melarangnya melakukan apapun dan tentu saja akan selalu mendukungnya jika dia memang ingin mencapai semua yang dia mimpikan. Jika saja dia mengatakan semuanya, mungkin kami masih bersama. Jika saja dia cukup yakin denganku, kami mungkin masih bertahan. Tapi keyakinannya padaku tak sekuat itu hingga memutuskan untuk pergi meninggalkan kami." ucap Davin diiringi senyuman lirihnya.
Saat menceritakan itu, tiba-tiba ia teringat pada Cindy, semua kenangan manis yang pernah mereka lalui bersama dan juga luka yang pernah ia rasakan. Sebenarnya kenangan manis mereka lebih banyak daripada luka. Tapi tetap saja, luka itu terasa lebih nyata daripada kebahagiaan yang pernah ia rasakan. Kebahagiaan itu, terasa semu. Bahkan kadang Davin berpikir, apakah kebahagiaan yang pernah ia rasakan dulu adalah kenyataan? Ataukah hanya mimpi dan angan saja? Karena ia merasa luka yang ia rasakan lebih terasa nyata daripada apapun.
Sebuah pelukan di leher menyadarkan Davin dari lamunan panjangnya. Ia menoleh kearah kanan, mendapati Ivan yang kini sedang tersenyum padanya.
"Papa! Ayo kita makan malam."
Davin terkekeh pelan. Ah... Tidak, kebahagiannya tak semu. Kebahagiaan itu nyata. Ya, sangat nyata. Apalagi saat melihat senyuman putera tercintanya ini. Saat melihat senyuman Ivan, semua luka yang bersarang dalam hatinya seketika melebur. Ivan, cintanya. Sumber kebahagiaannya sekarang.
Davin melirik kearah Jinna yang kini tengah tersenyum juga saat melihat Ivan.
"Kau ingin ikut makan malam Na?."
Jinna menggeleng. "Aku akan pulang saja. Kalian nikmati saja kebersamaan kalian." ujarnya seraya mengusak kepala Ivan. Kini Jinna menatap Davin. "Terimakasih Dave dan... Maaf."
Davin terkekeh pelan. "Tak apa Na, kau sudah seperti adikku. Sudah sepatutnya kau tau dan jika ada apapun atau butuh sesuatu, katakan saja padaku." ucapnya yang segera diangguki oleh Jinna.
Tak berapa lama Jinna akhirnya beranjak pergi dari kediaman Davin, menyisakan pasangan Ayah dan Anak yang kini telah bersiap untuk makan malam bersama. Kini Davin sedang memasakkan sesuatu yang tidak Ivan mengerti sehingga ia hanya duduk dimeja makan dan menunggu makanan itu tersedia.
Tanpa Davin sadari, Ivan menatap punggung ayahnya itu dengan sendu. Sesekali ia menghela nafas panjang. Tadinya, ia ingin meminta pada ayahnya itu agar dipertemukan dengan ibunya. Bagaimanapun, ia ingin bertemu dengan orang yang melahirkannya secara langsung. Jika bisa ia ingin memeluknya. Hanya saja, mendengar cerita yang ayahnya katakan. Membuatnya mengurungkan niat itu.
Jika membahas mengenai ibunya akan melukai perasaan ayahnya ini. Maka sebaiknya ia tak mengatakan apapun menyangkut ibunya itu. Ia tak ingin ayahnya terluka ataupun sedih. Apalagi selama ini hanya ayahnya lah yang merawatnya seorang diri.
***
Ara keluar dari kamarnya dengan semangat, sesekali ia bersenandung kecil saat berjalan menuju dapur rumahnya. Hari ini hari terakhir ujian semester dan ia sudah menyusun sebuah acara dengan Alvin setelah ujiannya selesai. Ia berencana menginap di rumah Alvin dan makan malam bersama, kemudian maraton menonton film. Membayangkannya saja, sudah membuatnya bahagia.
"Anak Papa ini kenapa masih pagi sudah senyum-senyum begitu?."
Ara mengerjapkan matanya, heran. Biasanya ayahnya itu akan keluar kota selama dua atau tiga hari. Tapi kali ini hanya satu hari? Tumben sekali menurutnya. "Papa! Kapan Papa pulang? Ra pikir Papa masih ada pekerjaan hari ini."
Damian terkekeh pelan, ia membawakan sebuah roti bakar yang sudah ia olesi selai kehadapan Ara. "Makanlah. Papa sengaja segera menyelesaikan pekerjaan karena hari ini tes terakhirmu. Hari ini juga Papa sangat senggang, hanya akan bertemu Danies dan sudah."
Ara bertepuk tangan kemudian memeluk ayahnya sesaat. "Terimakasih Papa... Papa memang terbaik!!!."
Damian tersenyum. Beruntung ia memiliki anak sesabar Ara, sehingga tak menuntut banyak dan juga selalu menghargai semua usahanya.
"Selamat makan Papa."
Damian tersenyum. "Selamat makan juga Adeul."
"Karena hari ini ujianmu berakhir... Bagaimana jika nanti malam kita makan malam bersama diluar?."
Ara merengut. Ia sudah memiliki janji lebih dulu dengan Alvin dan ayahnya Alvin. Ia tak enak jika harus membatalkannya.
"Loh, kenapa malah cemberut? Ara tak senang makan malam bersama Papa?."
"Ara pikir Papa tak pulang hari ini, jadi Ara sudah membuat janji dengan Alvin. Kami akan makan malam bersama Mama Alvin juga. Setelah itu kami akan nonton." Ara mendesah kecewa. "Ara tak enak membatalkan janji, tapi makan malam bersama Papa juga Ara jarang sekali."
Damian tersenyum melihat tingkah anaknya itu. "Kita bisa makan malam bersama dengan Alvin dan Mama Alvin juga. Mudah kan?."
Ara mengerjapkan matanya. Benar, dengan begini bukankah rencananya mendekatkan mereka jugs akan menjadi sangat lancar? Ara menyeringai kemudian tersenyum bahagia.
"Yey! Okay Papa. Nanti Ara akan katakan pada Alvin kalau Papa akan ikut. Papa... Papa harus merasakan masakan Bibi Elvira. Masakannya sangat enak, Papa tak akan percaya jika itu masakan yang dimasak Bibi Elvira."
Damian terkekeh mendengar cerita Ara yang terlihat antusias itu. "sangat enak hm?."
"sangat! Seperti di restaurant!." seru Ara penuh semangat.
Damian bersedekap seraya menatap Ara yang tak hentinya bercerita disela-sela kunyahannya. Anaknya ini tampak selalu bahagia dan sangat ceria. Sebenarnya ia sedikit takut, jika ia tak mengetahui sesuatu. Ia takut anaknya memiliki rahasia yang tidak ia ketahui, karena bagaimanapun ia mengakui, ia tidak memberi perhatian penuh pada Ara karena terlalu menikmati pekerjaannya. Sehingga terkadang ia berpikir, apakah Ara benar-benar bahagia?
Satu hal yang membuatnya merasa sangat aneh. Ara tak pernah sekalipun membahas tentang ibunya. Dia tak pernah menanyakan tentang ibunya sama sekali. Membuatnya lega sekaligus takut. Lega karena tak perlu menceritakannya tapi ia juga takut jika sebenarnya Ara diam-diam ingin tau tentang sosok perempuan yang melahirkannya itu.
Selama ini ia tidak pernah menyembunyikan tentang Kyra dari Ara. Tapi Ara yang tak pernah bertanya dan juga selalu menghindar jika ada pembahasan tentang topik mengenai seorang ibu.
"Ra...."
"Iya Pa."
"Ara tak pernah bertanya tentang Mama. Apa Ara tak merindukannya?."
Ara tersenyum tipis kemudian meneguk segelas air di depannya. "Papa Ara harus berangkat. Sampai bertemu makan malam nanti Papa."
Lihat. Dia menghindarinya lagi.
"Papa akan mengantarmu. Tunggu sebentar."
Begitu memasuki mobil, bahkan hingga kendaraan itu melaju. Tak ada yang keluar dari mulut Ara. Anak itu hanya diam dan memokuskan diri pada buku pelajaran ditangannya.
"Ra jangan pikirkan yang tadi. Maafkan Papa, hm?."
Ara hanya mengangguk.
"Ra... Satu hal yang ingin Papa ingatkan." jeda sesaat. "Jangan pernah membenci Mama-mu sedikitpun."
Kali ini Ara meletakkan bukunya. Ia melirik ayahnya sesaat kemudian bersandar seraya menatap jalanan didepannya.
"Ara tidak membenci Mama Papa. Ara hanya tak ingin Papa sedih jika Ara bertanya atau membahas Mama. Sebenarnya Ara pernah satu kali menanyakan tentang Mama pada Kakek. Tapi Kakek bilang sebaiknya Ara jangan menanyakan itu pada Papa. Karena mungkin saja Papa akan terluka."
Damian lagi-lagi hanya dapat tersenyum tipis mendengar ucapan puteri cantiknya itu. Sungguh diluar dugaan.
"Bagaimana jika Papa membawamu bertemu Mama?."
Ara menghela nafas panjang. Bertemu Ibunya? Apakah akan menyenangkan? Tapi....
"Ara belum siap. Selama ini Ara hanya tinggal bersama Papa. Ara juga tak pernah terpikirkan tentang itu Papa..."
Ara memang tak pernah terpikirkan lagi mengenai ibunya. Sejak hari itu, ia mencoba menahan diri dan tidak mencari tau. Bukan tak ingin, tapi ia hanya berusaha menghargai ayahnya yang berjuang membesarkannya sendiri. Ia tak ingin membuat ayahnya terluka. Karena hal itu pula Ara menjadi terbiasa hanya berdua, tanpa orang lain lagi. Selain itu ia sedikit takut, bagaimana jika ibunya itu tidak menyukainya?
Meskipun terkadang ia iri melihat orang lain yang memiliki orangtua lengkap. Tapi entah kenapa, baginya ayahnya ini sudah cukup. Meski sangat sibuk. Tapi ayahnya ini tak pernah sekalipun menolak keinginannya. Jika ada ibunya, akankah semuanya masih sama? Ia juga takut, perhatian ayahnya menjadi berbeda setelah datang ibunya itu.
Damian melirik Ara begitu mereka sampai didepan sekolah, ia mencoba memahami maksud dari anaknya itu. Ara mungkin memang belum siap, apalagi dia tidak tau sama sekali mengenai Kyra. Ia mengerti perasaannya, mencoba mengerti. Mungkin saja, ia takut jika ibunya itu tidak sesuai dengan ekspektasinya atau hal lain yang belum ia pahami.
Tangan Damian terulur mengusak puncak kepala anaknya itu saat Ara sedang membereskan tas.
"Maaf membahas ini pagi-pagi. Seharusnya Papa tak membahas ini. Jangan pikirkan apapun lagi, hm? Sekali lagi maafkan Papa."
Ara tersenyum tipis kemudian memeluk sang ayah. "Ra sayang Papa...."
Damian membalas pelukan itu seraya memberikan ciuman-ciuman ringan di puncak kepala puteranya. "Papa juga sayaang sekali padamu. Papa berjanji akan merawatmu lebih baik lagi dan berusaha memenuhi semua keinginanmu."
Ara terkekeh kecil. "Apa benar-benar akan memenuhinya?."
"Tentu saja. Kau anakku."
Ara berseru senang. "Baiklah, akan Ra pikirkan."
Damian terkekeh kecil melihat tingkah puteri mungilnya itu. Dadanya terasa penuh dan menghangat, apalagi saat melihat senyuman ceria anaknya yang seperti matahari dipagi hari. sangat cerah dan hangat.
"Ara sekolah dulu, jangan lupa jemput Ara Papa...."
Damian mengangguk. "Semangat untuk ujiannya Ra."serunya seraya mengacungkan kepalan tangan, memberi semangat.
"Semangat!!!." serunya seraya mengangkat kepalan tangan kanan tinggi-tinggi.
Damian tersenyum bahagia melihatnya. Memang, tak ada yang lebih menyenangkan dari ini, tingkah Ara yang sulit di tebak selalu sukses membuatnya tersenyum dan merasa bahagia.
Setelah memastikan Ara memasuki area sekolah dengan aman, Damian segera tancap gas menuju agensi. Danies kemarin tiba-tiba menelponnya dan mengatakan bahwa dirinya harus ke kantor hari ini untuk membahas koleksi musim panasnya bersama Cindy.
Jujur saja, Damian sedikit bersemangat saat mendengar nama Cindy. Bukan karena ia tertarik secara pribadi dengan perempuan cantik itu. Bukan. Tapi karena jika ia bekerjasama dengan Cindy, bukankah itu artinya ia akan semakin sering bertemu dengan Kyra? Dengan begitu ia bisa memastikan perasaan Kyra dan berusaha merebut perhatiannya lagi, bukan?
Damian bertekad. Ia harus membawa Kyra dalam hidupnya lagi dan memastikan perempuan itu tidak pergi.
Bagaimanapun Kyra ibu dari anaknya. Tentu saja ia ingin Kyra ada untuk Ara, meskipun anaknya itu masih belum bisa menerima sosok Ibu. Ia hanya ingin, Ara merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya juga seperti anak-anak lain.
Tapi apakah semua itu akan mudah seperti yang ia rencanakan?.
***
Bersambung....
***