Relix merasa sangat frustasi karena keesokan harinya ketika ia mencari keberadaan Syafira di kantornya istrinya itu ternyata tidak berangkat, ia sungguh menyesal telah membentak istrinya. Bahkan tamparan Syafira di pipinya tak sebanding dengan perasaan Syafira, seharusnya malam itu ia bisa mengendalikan emosinya. Seharusnya ia bisa bertanya baik-baik pada Syafira apa yang terjadi, rasa cemburu butanya lah yang membuat dirinya seperti ini. Cemburu menguras akal pikirannya hingga tak dapat berpikir jernih lagi, dan kini ia sangat menyesal. Syafira kini menghilang entah kemana, tidak mungkin ia mencari di rumah kedua orangtua Syafira. Bisa-bisa masalah akan bertambah runyam, mengingat sesayang apa papa Serdi pada putrinya itu. Syafira pun tidak akan mungkin pulang ke rumah orangtuanya, ia y

