Rheiny menceritakan semuanya pada Aland malam hari itu. Bagaimana asmanya kumat, apa saja pemicunya, dan yang paling penting adalah apa yang dilakukan oleh Rheiny saat asma datang menyerangnya.
Aland mengepalkan tangannya kuat saat mendengarkan cerita Rheiny.
Merasa kesal atas kejadian yang telah berlalu itu.
Rheiny membelalakan matanya saat Aland membawanya mendekat padanya, lalu memeluknya begitu erat.
"T–Tuan?!" panggil Rheiny pelan dan terbata-bata.
"Aland! Panggil aku dengan nama, jangan memanggilku tuan!" ucap Aland melembut dengan tatapan penuh arti.
"Ya?! Ba–bagaimana mungkin saya berani bersikap tidak sopan seperti itu?" ucap Rheiny dengan wajah bingunngya.
Rheiny mencoba menghindar saat Aland mendekatkan wajah diantara mereka berdua.
"Maaf, saya masih berstatus istri seseorang," ucapnya lirih.
Bukan berarti, jika dia sudah bercerai dan berstatus janda, siapapun dapat mencium bibirnya.
Dia hanya membuat batasan dan tidak ingin melakukan hal yang lebih jauh dari ini. Meskipun Amar telah mengkhianatinya seperti sedemikian rupa. Namun, Rheiny ingin tetap menjadi wanita baik untuk putranya.
Setidaknya, dia harus melakukannya demi Putra semata wayangnya. Walaupun bukan demi putranya, Rheiny sejak dulu memang selalu menjadi wanita baik, yang tidak pernah berpikiran macam-macam atau bertindak liar.
Dia juga tidak ingin, kalau sampai Amar mengetahuinya. Hal itu menjadi serangan balik untuk dirinya. Mengatakan bahwa dia tidak jauh berbeda dari Amar yang berselingkuh di belakangnya.
Rheiny tidak suka akan hal itu. Memikirkannya saja, membuat Rheiny merasa murka, jika harus disamakan oleh kedua orang rendah itu.
"Maaf..," ucap Aland lirih.
"Apa kamu akan menerima tawaranku?!" tanyanya pelan dan penuh harap. Aland saat ini berbeda dari yang tadi siang. Sikapnya, cara bicaranya, perlakuannya pada Rheiny sangat berbeda.
Membuat wanita itu tak mempercayai, bahwa yang dihadapannya saat ini tetap orang yang sama, yaitu Aland Wycliff.
"Aku mohon, terima dan tandatangani surat itu. Aku berjanji, kalau aku akan memperlakukanmu dengan baik. Aku tidak akan bersikap atau melakukan semua yang dilakukan oleh si Berengsek itu! Aku berbeda. Entah kamu mempercayainya atau tidak, kamu satu-satunya wanita yang pernah masuk ke dalam rumah ini. Satu-satunya wanita yang aku ijinkan untuk mendekat padaku!" jelas Aland sekaligus mengakui bahwa Rheiny adalah wanita pertama dalam hidup. Rheiny sangat penting untuk Aland.
Oleh sebab itu, Aland seperti memohon pada Rheiny untuk menerimanya menjadi suaminya. Meski cara dan awal pertemuan mereka salah, tapi semua perkataan Aland barusan dapat dipercaya sepenuhnya.
Rheiny hanya diam. Dia tidak percaya akan hal itu. Aland, pria dihadapannya memohon padanya. Padahal pria itu bersikap kejam dan dingin sejak awal mereka bertemu.
"Ta–tapi..., saya..., kondisi saya seperti ini. Bukankah Anda pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari saya? Bukan dengan wanita yang sebentar lagi menjadi seorang janda dan memiliki satu anak yang masih kecil?!" tanya Rheiny tak percaya.
Bagaimana mungkin dia bisa percaya begitu saja. Bahkan pertemuan mereka bisa dihitung dengan jari dan berapa banyak waktu dihabiskan, disetiap waktu tersebut.
Rheiny saja bahkan masih belum mengetahui identitas dari Aland sepenuhnya.
Tentang pekerjaannya di Perusahaan W, status pria itu yang dia duga memang masih seorang diri, dan bagaimana dengan keluarga. Semuanya berkumpul di dalam otak kecilnya.
"Aku menginginkanmu!" tandas Aland tanpa ragu sambil menatap mata Rheiny.
Justru, Rheiny yang merasa salah tingkah saat mendengar Aland mengatakannya.
"Aku tahu apa yang aku mau dan aku bukan orang bodoh yang asal memilih wanita. Kamu adalah pilihanku sendiri setelah sekian lama hal itu tidak pernah terjadi. Kamu membuat hatiku goyah dan sukses membuatku merasa bahwa aku harus menjadikanmu sebagai wanitaku, agar aku dapat melindungimu sepenuhnya dari si Berengsek ataupun yang lainnya!" ungkap Aland membuat rasa haru di dalam hati Rheiny.
"Saya masih memiliki waktu, hingga besok pagi. Bolehkah saya memberikan jawabannya besok? Maaf, bukan bermaksud menyinggung Anda. Sa–saya hanya ingin mencoba memikirkannya. Menjadi janda, lalu menjadi istri seseorang lagi. Itu bukan hal yang mudah. Terlebih lagi bagaimana dengan keluarga Anda. Apa mereka bisa menerima saya yang seperti ini?!" tanya Rheiny dengan nada yang ragu.
"Tidak usah memusingkan hal lain. Mereka akan menerimamu. Percayalah! Mereka berbeda dari keluarga si Berengsek itu!" tandas Aland dengan sangat percaya diri.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang. Tapi aku mohon, berikanlah jawaban seperti yang aku inginkan. Akan aku pastikan, kamu tidak akan pernah menyesal!" ungkap Aland tegas.
Rheiny hanya diam dan menatap Aland. Dia dapat merasakan, bahwa Aland sangat serius padanya serta dapat dipercaya. Semua perkataan Aland, dimata Rheiny saat ini adalah sebuah harapan.
Dia tahu, jika dia menolak Aland. Maka dia dan putranya tidak akan mungkin dapat kehidupan yang layak. Mungkin akan sangat jauh dari kata layak.
Rumahnya dikuasai oleh pria yang masih berstatus suaminya, beserta keluarga suaminya. Kakak laki-lakinya tidak akan mungkin bisa diharapkan, karena Rheiny tidak bisa dimanfaatkan atau membuat keuntung baginya. Kakak laki-laki Rheiny tidak akan mau menampungnya, yang hanya akan menjadi beban untuknya.
"Sekarang istirahatlah, sudah malam. Perhatikan tubuhmu yang lemah itu!" sarkas Aland.
Akhirnya, Aland kembali ke mode dingin yang biasanya. Membuat Rheiny merasa bingung dengan sikap Aland yang berubah-ubah.
Terkadang dia baik, lembut, dan perhatian. Namun, sisi Aland yang dingin, kasar, dan ketus seperti ini, selalu membuatnya takut dan ragu akan Aland.
Entah apa yang harus dilakukan oleh Rheiny, dia sangat bingung sekali. Bagaikan berdiri diujung tebing yang sampingnya jurang begitu dalam.
***
Hari sudah mulai terang. Namun, Rheiny tak sedetik pun tidur sejak Aland menghampirinya semalam.
Seakan banyak pertanyaan.
Mulai dari, bagaimana Aland tahu saat itu dia sedang mengalami gejala asmanya, bagaimana Aland mengetahui hampir semua kisah hidupnya, dan lain halnya.
Membuat Rheiny memikirkan dengan seksama, apa Aland adalah pria yang tepat untuknya atau malah sebaliknya.
Meski tertulis bahwa pernikahan hanya akan berlangsung selama tiga tahun. Namun, tiga tahun itu adalah rentang waktu yang cukup lama untuk dijalani bersama dengan orang asing, yang tidak dia kenal sama sekali.
Tok Tok
"Permisi, Nyonya. Saya Ani, Pelayan yang bertugas untuk membantu Anda pagi hari ini!" seru Pelayan bernama Ani di balik pintu kamar Rheiny.
"Apa saya boleh masuk ke dalam?" tanyanya sopan pada Rheiny.
"Oh, iyah. Silahkan masuk!" jawab Rheiny sambil membukakan pintu kamarnya.
Dia hendak menolak, tapi dia mengurungkan niat tersebut. Dia teringat perkataan seorang Pelayang tadi malam, jika Rheiny menolak mereka. Maka, mereka akan dipecat dan tidak bisa lagi bekerja di mana pun.
Perintah Aland adalah mutlak dan harus dilakukan tanpa bantahan. Oleh sebab itu, Rheiny dengan terpaksa mengiyakan bantuan dari para Pelayan. Padahal, dia bisa melakukannya sendiri.
"Maaf, jika kamu tidak keberatan, mungkin kamu bisa membereskan kamar tidur saja. Biar saya yang akan memandikan dan mengurus anak saya," ucap Rheiny pelan.
Namun, ekspresi Pelayan itu terlihat ragu dan cemas. Rheiny dapat menangkap hal itu.
"Ta-tapi...," Pelayan ingin menolak. Namun, dia juga tidak berani membantah perkataan Rheiny.
Semua serba salah. Jika dia membiarkan Rheiny melakukan semua seorang diri, dia akan kehilangan pekerjaannya.
Namun, jika dia membantah Rheiny dan ketahuan oleh Aland, hal yang sama juga akan tetap terjadi padanya.
"Baiklah, lakukanlah semua yang bisa kamu kerjakan. Saya akan mempercayai kamu," ucap Rheiny lagi. Dia tahu Pelayan itu kesulitan akan permintaannya.
Oleh sebab itu, dia pun mengalah. Rheiny tidak ingin orang lain mengalami kesusahan, hanya karena dirinya seorang.