"Permisi, Tuan Aland. Saya ingin ...,"
"Sarapan dulu!" sela Aland.
"Setelah ini baru kita menbahas yang lain!" ucap Aland sekali lagi. Membuat Rheiny mengangguk paham dan meneruskan sarapannya.
Sementara Valden hanya melihat tanpa mengomentari apa pun dan kemudian kembali mengalihkan pandangan pada sajian di depan matanya, yang terlihat sangat menggiurkan bagi anak berumur lima tahun.
"Kamu menyukainya?!" tanya Rheiny tersenyum. Dia ingin tertawa melihat Valden yang bersikao acuh tak acuh, padahal sangat menyukai hidangan tersebut.
"Biasa saja!" jawab Valden tak mau mengakui.
"Vald, kalau enak harusnya kamu bilang enak dan suka. Jangan sebaliknya ya, Sayang!" ungkap Rheiny dengan lembut. Valden masih dengan sikapnya. Namun, dia tanpa henti memakan habis semua yang disajikan untuknya.
"Terima kasih makanannya!" seru Valden saat sudah menghabiskan semua makanan dipiringnya.
"Nak, ada yang mau Mama bahas dengan Om Aland. Kamu bisa tunggu Mama di dalam kamar?" pinta Rheiny lembut.
"Dia bukan Om aku, Ma. Dia orang asing!" ketus Valden tak suka kalau harus memanggil Aland dengan panggilan Om.
Entah belajar darimana, tapi sikap Valden seakan sudah hampir seperti orang dewasa.
"Sayang, jangan tidak sopan. Om Aland kan sudah bantuin kita dan mau menerima kita di rumahnya, walau hanya sementara," jelas Rheiny lembut dan pelan pada putranya, Valden.
Aland sedikit tercengang dengan perkataan Rheiny saat mengatakan kata sementara. Aland berpikir-pikir, apa mungkin Rheiny akan tetap menolaknya.
"Kamu harus bersikap sopan pada seseorang yang telah membantu kita. Mama tidak pernah mengajari kamu untuk mengatakan hal seperti itu, bukan?! Sekarang Mama minta tolong agar Valden minta maaf pada Om Aland," Rheiny tetap tenang dan nada suaranya tetap terdengar halus serta lembut. Tidak ada nada marah atau apa pun saat menasihati Valden.
"Maaf, Om Aland!" ucap Valden.
Dia menuruti perkataan ibunya. Dia tidak ingin membuat ibunya sedih.
Meskia dia tidak begitu menyukai Aland, tapi memang tidak dipungkiri. Jika bukan karena Aland, mereka berdua masih akan tersiksa di dalam rumah dan keluarga busuk itu.
Valden sedikit menyesali tindakannya saat meminta tolong pada Aland malam itu. Andai dia tahu, jika Aland tertarik pada ibunya. Dia tidak akan melakukannya.
Namun, bagaimanapun dia ingin menyangkal. Andaikan malam itu Aland tidak menolong mereka, mungkin ibunya sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Meski Valden ingin menolaknya sekeras apa pun, tidak dipungkiri, bahwa Aland yang menyelamatkan mereka berdua.
"Lalu telima kasih atas bantuannya untuk malam itu. Meski tidak ingin, tapi Anda telah menyelamatkan Mama saya!" ucap Valden terkesan dewasa, padahal umurnya baru mencapai lima tahun.
"Vald akan tunggu Mama di kamal. Lakukanlah yang halus Mama lakukan dengan tenang tanpa memikilkan aku. Aku akan menunggu dengan baik!" seru Valden dsn beranjak dari kursinya menuju kamar mereka, bersama dengan seorang Pelayan yang akan siap sedia untuk membantu Valden.
Rheiny menatap kepergian sang putra dengan haru dan bangga. Valden bersikap dewasa, meski itu agak disayangkan.
Namun, disisi lain Rheiny bangga akan kebijaksanaan putranya yang masih kecil. Valden dapat diandalkan sekali, bahkan tanpa dia pinta, Valden melakukannya.
Setidaknya Rheiny merasa lega untuk hal ini. Valden tidak sampai harus mengalami trauma mendalam atau berkepanjangan, akibat disiksa oleh keluarga suaminya dan ayah kandungnya sendiri.
Setidaknya, hal itu harus disyukuri oleh Rheiny.
"Nyonya, silahkan!" ucap Tanu sopan sambil mengarahkan Rheiny untuk mengikuti Aland yang sudah lebih dulu melangkah pergi, tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Terima kasih!" balas Rheiny dan berjalan mengikuti Aland. Sedangkan Tanu, dia bergerak setelah kedua orang.
"Jadi?!" tanya Aland langsung tanpa basa basi atau lainnya.
Dia hanya ingin segera mengetahui jawaban Rheiny. Dia tidak suka merasakan sesuatu seperti saat ini.
Perasaan menanti dengan cemas akan suatu hal, yang bisa dia pastikan, kalau dia bisa mendapatkannya dengan cara yang diinginkan.
Namun, dia mencoba melakukan dengan cara lain, yang lebih manusiawi. Seperti saran dari Tanu sebelumnya.
Aland menginginkannya juga, karena dia ingin mendapatkan Rheiny tanpa harus menggunakan kekerasan ataupun mengancam.
"Saya akan menerimanya," ucap Rheiny dengan wajah tertunduk. Namun, dia langsung mengangkat wajahnya dan menatap Aland dengan percaya diri, sesaat dia hampir menyelesaikan kalimatnya.
"Kenapa meno ...!" Aland terdiam setelah menyadarinya.
"Kamu menerimanya?!" tanya Aland tak percaya.
Sedangkan Tanu, dia hanya menghela napas tanpa ketahuan oleh Aland. Dia sedikit mengejek majikannya itu. Hampir saja Aland melakukan kesalahan, dengan memarahi Rheiny.
Seolah tahu, Aland sekilas menatap tajam Tanu.
"Iyah, Tuan. Saya akan menandatangani surat kontrak tersebut. Tapi, bolehkah saya menambahkan beberapa syarat? Maaf, jika saya bertindak lancang," ucap Rheiny tegas. Meski dalam hati, dia merasa sangat gugup.
"Katakanlah!"
Aland mencoba mengatur ekspresinya. Andaikan saja Rheiny tidak ada dihadapannya saat ini. Mungkin Aland sudah akan berteriak dengan heboh.
Perasaan yang baru pertama kali dirasakan olehnya semakin membuncah, saat Rheiny menerima lamarannya. Lebih tepatnya lamarannya yang disamarkan melalui sebuah kontrak kerjasama atau bisa juga disebut kontrak pernikahan.
"Saya ingin Anda membantu saya untuk merebut rumah peninggalan orang tua saya," jelas Rheiny dengan tenang.
"Saya ingin membalas semua perbuatan mereka. Seperti yang pernah Anda katakan, kalau Anda akan membantu saya untuk membalas semua perbuatan mereka! Apa pun itu yang diperlukan, saya harap Anda mendukung saya!"
Rheiny seolah menagih perkataan Aland, meskipun dia masih belum tahu identitas Aland yang sebenarnya.
"Jangan pernah membawa wanita lain pulang ke rumah!" tandasnya dengan wajah serius, membuat Aland terkejut tak menyangka dengan syarat ketiga Rheiny.
"Meski kita hanya menikah kontrak. Tapi tolong hargai saya yang berstatus sebagai istri Anda. Saya tidak akan melarang Anda untuk tidur dengan wanita mana pun, asal Anda tidak membawa wanita itu pulang. Saya tidak akan mempermasalahkannya!"
Bagi Rheiny yang sudah tersakiti akibat perselingkuhan suaminya. Hal ini menjadi trauma yang cukup besar dan menyakitkan. Dia tidak mempermasalahkan, jika Aland memiliki kekasih lain diluar sana.
Namun, dia hanya meminta agar tidak membawa wanita lain pulang
Dia ingin menghabiskan kontrak pernikahan, yang akan berjalan selama tiga tahun ini dengan baik dan lancar. Tanpa harus melihat hal-hal yang tidak diinginkan. Terlebih, setidaknya demi putranya.
Dia tidak ingin putranya mengetahui lagi tentang hal menjijikkan itu.
"Jangan pernah libatkan putra saya dengan permainan Anda dan wanita lain atau apa pun itu. Saya ingin Anda tetap memperlakukan putra saya dengan baik dan layak! Jangan pernah melakukan hal kasar atau fisik lainnya pada kami berdua! Asal Anda dapat menyetujuinya, saya akan melakukan apa saja sebagai Istri Anda selama tiga tahun kedepan!" Rheiny mengakhiri perkataan dengan sempurna.
Segala sesuatu yang dia inginkan, sudah dia katakan. Dia berharap Aland menyetujuinya.
"Hanya empat saja syarat yang kamu inginkan?!" tanya Aland memastikan.
"Betul! Hanya itu saja!" jawab Rheiny tegas.
"Mungkin satu lagi. Kita akan langsung bercerai, meski tiga tahun belum berjalan. Jika Anda, melanggar syarat yang saya katakan tadi!" tandas Rheiny tegas. Dia tidak ingin lagi merasa kecewa atau dibodohi. Dia harus memastikan, bahwa perjanjian ini juga akan menguntungkannya dan membuat putranya aman.