bc

Pelangi

book_age12+
668
IKUTI
2.7K
BACA
others
badboy
sporty
student
sweet
mxb
icy
highschool
basketball
Writing Academy
like
intro-logo
Uraian

Mengejar cinta ?

Apa yang kalian pikirkan jika mendengar kata tadi. Pasti dalam pikiran kalian akan terlintas bahwa 'seorang lelaki yang mengejar cinta seorang perempuan`?

Jika benar pikiran kalian seperti tadi, maka jawabannya SALAH.

Disini, seorang perempuan yang mencoba mengejar cinta lelaki yang diyakininya adalah cintanya. Padahal, dia tak tahu bahwa cinta sesungguhnya bukan lelaki itu.

Saat mimpinya tercapai, saat cintanya terbalaskan. Sayangnya, mimpi itu terhempas begitu saja. Dan sayangnya, cintanya harus kembali bertepuk sebelah tangan.

Apa yang akan dilakukan perempuan itu? Membuka hatinya untuk lelaki lain yang selalu ada saat dirinya membutuhkan atau apa?

****

"Apa gue gak pantas buat lo cinta? Apa sebegitu rendahnya gue, sampai-sampai lo cuma jadiin gue pelampiasaan?" tanya Pelangi parau, napasnya tercekat ditenggorokan. Rasanya, ia tak bisa bernapas dengan benar.

"Gue gak masalah, kalau lo gak balas cinta gue. Tapi, gue gak mau, gak mau cuma lo jadiin pelampiasaan. Ini hati, Gen, gak seenaknya bisa lo permainkan. Gue, punya perasaan." sambungnya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter - 1 ✓
“Seriusan, ini Lo?” Dia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, laki-laki yang menjadi idola semua kaum hawa kini ada dihadapannya, didepan matanya. Si laki-laki bertubuh jangkung dengan kulit putih mulus, senyum menawan juga pesona nya yang kuat yang tak bisa diabaikan siapapun, membuat dia hanya bisa ternganga, diam tak percaya. Seriously? Pelangi, perempuan itu tak henti-hentinya berdecak kagum. Melangkah lebih dekat pada objek didepannya, hanya ingin memastikan apakah ini nyata atau tidak? Park Chanyeol ini beneran atau hanya halu-an dirinya semata? Tangan Pelangi terulur menyentuh kulit putih mulutnya itu, dia bisa merasakan sehalus apa kulit lelaki itu. Bahkan jika dibandingkan dengan kulitnya akan sangat jauh berbeda. Tahu begini membuatnya semakin iri saja, rasanya dia sudah kalah sebagai perempuan. Tak bisa dipungkiri, jantung Pelangi berdebar tak karuan. Pelangi mengibaskan tangannya saat pipinya terasa panas kini, tak sangka dirinya bisa sedekat dan bahkan menyentuh kulit dari idol nya sendiri. Dia menutup mulutnya, masih tak percaya dengan ini semua. “Seriusan nih? Ini bukan mimpi kan? Lo beneran Pcy?” tanya Pelangi senang, dia mengepalkan tangannya erat, gemas sekali dengan ini semua. “Ah... Senang banget gue bisa ketemu Lo! Ya Allah... Mimpi apa gue bisa ketemu dan dekat, sedekat ini sama Lo? Ah...” Pelangi tak henti-hentinya menjerit histeris, dia teramat senang kini. Jelas, bertemu dengan idolanya, siapa sih yang tak akan senang seperti Pelangi? Pasti semuanya senang. “Boleh peluk gak?” Dan, anggukan dari Chanyeol membuat Pelangi tersenyum lebar. Bersiap Pelangi memeluk idolanya ini, namun apa yang dia dapat justru berbanding terbalik dengan harapannya. Bukannya mendapatkan kehangatan dari pelukan itu, yang dia dapat justru kedinginan dari air. Pelangi tersentak seketika, dia menatap sekeliling dan ternganga. Diusap pelan wajahnya yang basah itu, matanya mengerjap-ngerjap mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi. Pelangi bertemu Chanyeol, menyentuh kulit lelaki itu, hendak memeluknya namun kini... Tck, jadi tadi itu mimpi? Mimpi? Tck. Khm! Suara deheman keras itu menyadarkan Pelangi. Dia langsung menunjukkan deretan giginya saat melihat siapa yang berdiri disamping ranjangnya yang kini tengah melipat tangan didepan d**a, Bunda. Sambil beringsut, Pelangi terkekeh pelan.“Bangun kok ini,” ucap Pelangi, dia mengangguk-angguk dan kini sudah berdiri di tempat berlawanan dengan Bunda nya disana, “Kesiangan, lagi?” Pelangi mengucek pelan matanya, dia bahkan belum sepenuhnya mengumpulkan nyawa namun sudah terpaksa berdiri kini. “Ya, salahin mata aku gak mau dibuka, maunya merem terus." jawab Pelangi yang membuat Maya—bunda nya membulatkan mata. “Ngejawab?” Pelangi mengerucutkan bibirnya, “Iya, iya, maaf. Yaudah, aku mandi dulu deh.” ucap Pelangi, dia berjalan mengambil handuk yang tersimpan ditempatnya, kemudian menyampirkannya di pundak. “Ya, emang harus. Jangan lama-lama.” “Iya, bunda cantik!” Hanya butuh 30 menit untuk Pelangi siap. Dia kini siap dengan seragam sekolahnya. Pelangi menjatuhkan bokongnya di kursi depan meja rias, menatap pantulan dirinya disana. Satu persatu skincare mulai dia aplikasikan ke wajah, tak juga bodycare untuk tubuhnya. Jadi, tidak hanya cantik dan bagus kulit wajah saja, namun juga kulit tubuh. Saat dirasa dirinya sudah selesai dengan rutinitas nya. Dia beranjak berdiri, mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya yang dihiasi banyak poster-poster cowok ganteng. Dan, satu yang selalu menarik atensinya hanyalah poster milik laki-laki yang baru saja masuk ke alam mimpinya. Park Chanyeol. Kecupan udara pun dia layangkan untuk lelaki yang selalu dia anggap sebagai kekasih, tunangan, bahkan suami. Pokoknya, pasangan hidupnya gitu. “Oke, saatnya siap-siap.” Iya, Pelangi menyiapkan semua hal yang akan dia bawa ke sekolah. Buku pelajaran, alat tulis dan yang terpenting dan jangan sampai ketinggalan adalah laptop. Barang wajib yang harus selalu dibawanya. “Selesai, tinggal berangkat deh.” Pelangi keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Dia langsung mendengus seketika melihat santapan matanya di pagi hari. Dua orang dewasa yang tengah bermesraan yang terkadang tak tahu waktu dan tempat. Dan, itu orangtuanya. Ayah dan bundanya. Huft. Pelangi mendengus, kembali melanjutkan langkahnya dan langsung menghampiri mereka yang seketika berakting seakan tak terjadi apa-apa. ”Tolong, ya, dikondisikan. Ada anak-anak nih disini.” ucap Pelangi, dia menarik kursi kemudian duduk disana dan mengambil sehelai roti tawar. Adam—ayahnya terkekeh pelan, kembali menikmati sepiring nasi goreng yang sempat tertunda karena suatu hal. Dia melirik putrinya, “Emangnya kamu umur berapa? Masih anak-anak toh? Pantas.” ucap Adam, dia menyuap kembali nasi goreng. Pelangi yang hendak mengoleskan selai cokelat kacang ke rotinya seketika menghentikan gerakannya itu, memincingkan mata menatap kesal ayahnya yang berucap demikian. “Ih... Nyebelin banget sih ayah!” kesal Pelangi, dia melirik bundanya yang ikut terkekeh. “Masa Bun, umur anaknya aja sampai lupa gitu. Parah, ya, bun.” sambung Pelangi, dia menggeleng sambil berdecak. “Udah, ah. Anak sama ayah tuh dilarang bertengkar, ok? Jadi, sekarang mending kalian tenang dan nikmati sarapan kalian masing-masing. Bisa dipahami?” tanya Maya, dia melipat tangan diatas meja dan menatap serius anak dan suaminya. “Bisa...” “Yaudah, makan!” “Siap, laksanakan!” *** Setelah membayar sejumlah uang kepada Abang ojek, Pelangi bergegas memasuki area sekolahnya yang bisa dibilang cukup besar. Iyalah besar, ini sekolah favorit yang tak sembarang orang bisa masuk dan jadi murid disini, serta ada 3 tipe muridnya. Satu, masuk karena memang benar-benar berprestasi. Dua, masuk hanya karena uang yang berbicara. Dan, tiga, masuk karena punya dua-duanya. Coba tebak, Pelangi masuk ke tipe yang mana. Oke, sepertinya hari ini Pelangi sedang beruntung. Bagaimana tidak beruntung coba, masuk ke area sekolah dan matanya langsung di manjakan dengan ciptaan Tuhan yang menurutnya paling menawan, paling sempurna. Ya, siapa lagi kalau bukan pujaan hatinya. Genta. Si cowok keren yang sering jadi bahan obrolan semua orang. Ya, gimana gak jadi bahan obrolan coba. Mana punya muka ganteng, tubuh indah, aktif di bidang olahraga, pokoknya images Genta tuh bagus banget. Dan, selalu dijadikan angan-angan sebagai kekasih setiap orang. Termasuk, Pelangi. Pelangi bergegas menghampiri Genta yang tengah duduk dianak tangga bersama dua temannya—Alvaro dan Fabian. “Hallo, calon imam...” Pelangi berdiri dihadapan mereka, lebih tepatnya dihadapan Genta. Senyum lebar tak lepas dari bibirnya, berharap Genta akan luluh dengan senyumnya yang kata orang begitu manis adanya. Genta menatap jengah Pelangi dihadapannya, dia paling tak suka melihat keberadaan perempuan itu disekitarnya. Apalagi semua orang tahu, bagaimana agresifnya Pelangi mendekatinya sehingga membuatnya tak nyaman jadinya. Pelangi itu terlalu menganggu menurutnya. Tak ada respon dari Genta dan ini bukan yang pertama, namun sudah kesekian kalinya. Tapi, Pelangi mana peduli. Dia tak gentar hanya karena penolakan Genta. Pelangi cepat-cepat menggeser tubuh Alvaro, membuat lelaki itu mendengus seketika. “Minggir," cicit Pelangi pada Alvaro yang masih juga menunjukkan wajah datarnya. Kini, pemusatan mata Pelangi hanya tertuju pada Genta. “Oppa!” Tck. Bahkan yang seperti ini yang paling mengganggu Genta. Pelangi yang tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan itu kemudian merangkul lengannya, benar-benar mengganggu. Genta melepaskan tangan Pelang, “Apaan sih, Lo!” kesal Genta. Pelangi mencebik, mengerucutkan bibirnya. “Ih... Lo suka gitu deh,” Genta menghela napas kasar, dia menatap tajam Pelangi. “Stop, panggil gue opa! Gue bukan opa Lo, ingat!” tukas Genta dengan telunjuk mengarah pada Pelangi. Dia bergegas pergi meninggalkan Pelangi, bisa gila dia jika terus-menerus dekat dengan perempuan itu. Pelangi mendengus kesal dan semakin kesal saat mendengar kekehan dari kedua teman Genta. Dia berdecak pinggang, menatap mereka yang seketika menghentikan tawanya melihat tatapan tajamnya. “Ketawa aja terus! Awas, ya, kalau gue udah jadian sama Genta, gue pecat Lo berdua jadi temannya! Ingat, itu!” kesal Pelangi kemudian melenggang pergi dengan kaki yang di hentakkan. Pelangi kesal, sangat! Karena kesalnya sampai membuat dia tanpa sengaja menabrak seseorang, membuat orang yang ditabraknya itu terjatuh jadinya. “Eh, sorry... sorry...” Pelangi bergegas membantu perempuan yang ditabraknya, dia langsung ternganga seketika melihat wajah perempuan itu. Cantik sekali, pujinya dalam hati. “Maaf, ya aku gak sengaja tadi.” Sudah cantik, tutur katanya baik. Sempurna sekali perempuan ini. Jauh berbeda dengan Pelangi. Pelangi menggeleng, bukan perempuan itu yang salah, tapi dirinya. “Eh, enggak kok. Gue yang harusnya minta maaf. Gue yang tabrak Lo kok.” ucap Pelangi, dia mengerutkan keningnya melihat seragam yang dikenakan perempuan itu, bukan seragam sekolahnya. “Lo anak baru, ya?” “Iya, kamu tahu?” “Tahulah, seragam Lo beda gitu.” jawab Pelangi cepat yang membuat perempuan itu terkekeh dibuatnya. Pelangi dengan cepat mengulurkan tangannya, berniat berkenalan. “Gue, Pelangi.” “Aditha.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

MENGGENGGAM JANJI

read
484.2K
bc

Si dingin suamiku

read
501.1K
bc

Noda Masa Lalu

read
205.6K
bc

Jodoh Terbaik

read
183.1K
bc

Long Road

read
148.3K
bc

MANTAN TERINDAH

read
10.0K
bc

Undesirable Baby (Tamat)

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook