Tok.. Tok.. Tok...
Pelangi mengalihkan atensinya dari buku gambar yang tengah dicoret-coret asal tangannya sehingga membentuk sebuah gambar manusia kearah pintu kamarnya yang baru saja di ketuk.
"Pe, ini ayah sayang."
"Masuk aja, yah. Gak di kunci." Sahut Pelangi sambil menutup hasil karya tangannya menggunakan kertas putih. Dia paling malu kalau gambarannya ini dilihat orang, meskipun sebenarnya gambarnya tak jelek-jelek amat.
Detik berikutnya, pintu terbuka menampilkan ayah yang baru saja pulang kerja. Terlihat dari pakaian yang dikenakannya masih sama seperti tadi pagi, hanya saja sudah tak ada dasi rapi yang melingkar di kerah bajunya. Ayah berjalan menghampiri Pelangi yang sudah duduk tegak diatas ranjangnya.
Ayah duduk di pinggir ranjang, menaikkan sebelah kakinya yang sudah terbebas dari sepatu. Memang, kebiasaan di rumah ini adalah selalu membuka alas kaki setiap kali berhenti didepan pintu rumah. Sudah peraturan bundanya dan wajib di patuhi.
"Lagi ngapain?" Tanya ayah, melihat ranjang Pelangi yang berserakan dengan semua alat untuk menggambar.
Pelangi menggeleng. "Gak ngapa-ngapain kok, cuma lagi iseng aja." Jawab Pelangi, dia segera menjauhkan gambarannya dari jangkauan sang ayah. Karena dia yakin, ayah itu iseng sekali. Meskipun dia sudah melarang nantinya untuk dilihat, tetap saja ayah memaksa ingin melihat gambarnya.
Ayah tersenyum. "Ayah ganggu, gak?"
"Enggak lah. Emangnya ada apa, yah?" Tanya Pelangi, dia memincingkan matanya menatap ayah. "Jangan bilang, mau nyuruh aku nongkrong di luar lagi karena ayah sama bunda mau mesra-mesraan." Tuduh Pelangi, dia masih ingat betul kejadian semalam.
Ayah terkekeh, menggeleng mendengar tuduhan Pelangi. "Enggak lah. Lagian kedepannya ayah mau pesen hotel aja. Supaya kamu gak ternodai." Balas Ayah dengan santainya yang membuat Pelangi mengerucutkan bibirnya.
"Syukur deh kalau gitu. Terus, ada apa ayah kesini? Kok kayak ada yang mau di omongin."
"Memang ada,"
"Tentang?"
"Kamu."
Pelangi mengerutkan keningnya, dia menunjuk dirinya sendiri. "Aku?" Tanya Pelangi memastikan yang mendapat anggukan dari ayah. "Aku, kenapa?" Tanya Pelangi bingung. Apa apa gitu?
Ayah meronggoh saku celana bahannya. "Kamu kenapa lagi di sekolah? Sampai-sampai ayah sama bunda lagi-lagi di panggil." Ucap ayah sambil menunjuk sebuah amplop putih di tangannya yang terdapat logo sekolahnya.
Pelangi terdiam, dia yakin, amplop itu adalah amplop cinta dari Bu Aci. Gurunya yang satu itu, hobi sekali mengirimkan amplop cinta pada orangtuanya. Dan kalau sudah mendapat amplop itu, dia harus siap-siap mendengarkan segala wejangan dari sang bunda nantinya.
Pelangi terkekeh, dia menampilkan deretan gigi putihnya. "Aku ngapa-ngapain kok, yah. Serius, deh." Ucap Pelangi, keningnya yang mengerut tak bisa membohongi ayahnya.
"Masa sih?"
"Beneran, yah. Bu Aci aja kali yang sensi sama aku."
"Masa sih? Kok ayah gak percaya ya."
Pelangi mengerucutkan bibirnya, dia mendekati ayahnya. "Beneran, yah." Jawab Pelangi, dia mengerjap-ngerjap kan matanya, berharap ayahnya percaya yang justru semakin membuat ayah tak percaya.
"Terus, kenapa kamu tidur di kelasnya Bu Aci."
Pelangi menelan ludahnya susah payah, dia memundurkan kembali tubuhnya. Kalau sudah begini, dia susah untuk membantah lagi. Lagian, apa yang dikatakan memang benar adanya. Dia itu mengantuk sekali tadi.
"Bener, kamu tidur di kelasnya Bu Aci?"
Pelangi dengan pelan, mengangguk.
Ayah menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, dia senang anaknya jujur. "Kenapa sampai tidur di kelas Bu Aci? Kan kamu tidur di rumah juga."
Pelangi mendesah pelan. "Yah ... Semalam tuh aku tidurnya malam banget, aku cuma tidur beberapa jam. Dan itu karena ayah."
"Kok ayah sih yang dibawa-bawa?"
"Ya emang bener kok. Suara ayah sama bunda tuh merusak pendengaran aku. Aku gak bisa tidur, berisik. Makanya aku nonton aja, sampai-sampai keasikan dan lupa tidur."
Glek.
Pelangi tersenyum dalam hati melihat keterdiaman ayahnya. Dia senang sekali melihat wajah ayah yang terlihat serba salah. Dia yakin, hukuman dan wejangan nantinya tak akan begitu panjang setelah dia memberikan alasan ini. Ini asli loh, alasannya asli, bukan di buat-buat karena memang kenyataan seperti itu.
Ayah menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia susah sekali kalau sudah begini. "Oke, oke. Terus, siapa Genta?" Tanya balik ayah yang sekarang membuat Pelangi terdiam seketika.
Bola mata Pelangi membulat sempurna, dia terkejut mendengar nama sang pujaan hati bisa terlontar dari mulut ayahnya. Padahal selama ini dia tak pernah bercerita sedikitpun tentang Genta. Alasannya, malu. Malu banget kalau sampai orangtuanya tahu, dia begitu sangat memuja Genta.
"Kakak kelas yah,"
"Kamu suka?"
Bola mata Pelangi semakin membulat sempurna, dia meneguk ludah nya sendiri sudah payah. Kemudian bergumam tak jelas. "Aduh yah ..." Ucap Pelangi sambil menutup mulutnya yang menguap. Bohong.
"Kok tiba-tiba ngantuk yah. Tidur duluan ya, yah. Assalamualaikum ayah, good night." Lanjut Pelangi sambil merebahkan tubuh dan berpura-pura tertidur, meninggalkan sang ayah yang hanya bisa menggeleng melihat kelakukan anak semata wayangnya.
***
Ketiganya duduk santai di apartemen milik salah satu dari mereka. Menikmati snack sambil bermain PlayStation. Fabian yang asyik dengan camilannya dan Genta bersama Alvaro yang tengah fokus pada PlayStation nya.
Fabian bersandar pada sandaran ranjang milik Genta dengan camilan kentang yang tengah dinikmatin, matanya terfokus pada perbaikan sepak bola yang dimainkan kedua sahabatnya.
"Gimana Gen sama dia?"
Genta terdiam, dia mempause sejenak permainannya membuat Alvaro mau tau mau melakukan hal yang sama. Dia berdiri, berjalan kearah balkon apartment miliknya. Menatap gedung-gedung pencakar langit dan juga beberapa kendaraan yang masih berseliweran malam ini. Kedua tangannya bertumpu pada pagar pembatas.
"Masih sama, kayak pendiriannya waktu itu. Dia tetap mau kita selesai. Gak ada yang bisa di usahain lagi." Jawab Genta.
"Lo masih ngarepin dia?"
Itu bukan Fabian yang bertanya, melainkan Alvaro yang sudah menatap punggung Genta. Lelaki itu menatap lurus pada sahabatnya yang kini sudah berbalik, bersandar pada pagar pembatas.
"Jelas, dia cewek satu-satunya yang bisa buat gue jatuh cinta. Dulu sampai sekarang." Jawab Genta mantap.
Fabian beranjak, dia mengambil kaleng sodanya dan membuka kaleng tersebut. "Menurut gue, mending Lo move on deh. Cari cewek lain, daripada Lo berharap terus sama dia. Sedangkan dia, udah gak mau lagi." Ucap Fabian kemudian meneguk minuman tersebut, membuat Genta tertawa atas ucapannya.
"Kalau move on segampang yang diomongin, udah sejak dulu gue ngakuin itu. Tapi, sayangnya, susah banget. Apalagi kalian tahu, perubahan apa yang di lakuikan sama gue. Sampai-sampai gue bisa kayak gini." Jawab Genta, dia mengendikan bahunya. Pikirannya masih mengingat betul, bagaimana perjuangan perempuan itu dulu sehingga membuatnya bisa seperti sekarang.
"Kenapa Lo gak terima Pelangi aja?" Ucap Alvaro, dia mencoba membiasakan nada suaranya. Tak mau terdengar aneh di telinga kedua sahabatnya.
Genta menatap tak percaya Alvaro. Bisa-bisanya lelaki itu malah membawa nama perempuan yang sama sekali tak disukainya, perempuan agresif yang terlalu obsesi terhadap dirinya dalam pembicaraan mereka. Apalagi yang tengah mereka bicara itu perempuan spesial, sangat berbanding terbalik dengan Pelangi.
Genta terkekeh mendengar ucapan Alvaro. "Gue bahkan jijik liat cewek kayak gitu. Cewek agresif, ngejar-ngejar cowok. Dimana-mana, cowok yang ngejar cewek, bukan sebaliknya. Kayak perempuan gak bener aja." Tukas Genta yang justru menyulut emosi Alvaro.
"Apaan sih, Lo, Gen!" Tukas Alvaro marah, wajahnya tak bisa berbohong. Dia marah mendengar ucapan Genta yang tak baik mengenai Pelangi.
Mereka menatap Alvaro tak percaya, tak percaya karena tiba-tiba berucap begitu kerasnya. Matanya memincing tak suka, menatap sebal Genta. Kemudian segera beranjak dari duduknya dan mengambil kasar jaket kulit beserta kunci motor dan tas yang sudah tersampir di bahu kanannya. Pergi meninggalkan mereka yang kebingungan dengan sikap Alvaro yang tak biasa.
"Al kenapa?" Tanya Fabian bingung dan terkejut, bahkan saking terkejutnya camilan kentang di tangannya masih melayang belum sempat masuk ke mulutnya.
Genta hanya mengendikkan bahunya tak tahu, namun hati dan pikirannya terus di penuhi pertanyaan, mengapa Alvaro sampai marah.
Apa mungkin, dia suka sama si Pelangi?
****