Monica langsung sadar kalau panggilan iitu hanya Anastasia dan dia yang tahu. Spontan wanita itu tersenyum malu. “Maaf, maksudku Clark.” “Oh,” sahut Clark dengan tawa kecil. “Kenapa kau mau pulang? bukannya kita janji bertemu di atap?” tanyanya. Monica menatap pria di depannya dengan dingin. “Apa yang mau kau katakan? Kau mau memamerkan hidupmu yang tenang?” tuduhnya. Clark menggeleng cepat. “Tidak, Monica. Mengapa kau bicara seperti itu?” tanyanya. “Karena aku melalui hidup menyedihkan dan kau tidak perlu tahu harusnya,” jawab Monica kemudian mundur selangkah. Clark langsung menarik tangan wanita yang merasa minder tersebut. “Monica, aku-“ “Clark, kau tahu kan semua yang kuucapkan di pengadilan benar?” tanya Monica. “Ya, aku tahu.” Clark mengangguk. “Lantas mengapa pengadilan meng

