David membersihkan kekacauan yang baru saja diperbuat oleh Damian. Pria itu selalu menghilang begitu saja, begitu noda darah di tangannya terhapus oleh jejak air. Ia mengambil beberap potong daging untuk memberi makan Alexander, buaya sepanjang dua meter dengan nafsu makan ekstra.
Pisau bedah, tali, pisau daging, semua dikembalikan ke tempat masing-masing. Meja bedah dan lantai sudah mengkilat, potongan tubuh korbannya sudah dimasukkan dalam lemari sesuai bagian-bagiannya. Bekas pakaian dan ponsel wanita itu sudah dibereskan oleh istrinya. Selesai. Sambil bersiul kecil, pria itu membuka pintu dan naik ke atas, mencari istrinya.
"Kenapa?" tanyanya, menghampiri Vina yang sedang duduk di atas ranjang.
Wanita itu sudah berganti pakaian dan sedang sibuk mengoleskan obat pada jari tangannya.
Istrinya meringis, desisan pelan lolos dari bibir mungilnya sebelum menceritakan seluruh kejadian saat mencari panti asuhan tadi. Termasuk membunuh dua orang b******n yang hendak menodai gadis di bawah umur.
"Kamu terlalu nekat," kecam David, meraih tangan istrinya dan memperhatikan luka gores cukup dalam di telapak tangannya.
"Itu kayanya kena kaca tadi," ujar istrinya, seakan bisa menebak isi kepala David. "Maaf, aku tidak bisa berdiam diri melihat seorang gadis tak berdaya diperlakukan seperti itu," ujarnya lagi seraya membuang muka, matanya mulai berembun.
"Sshh ... Aku tidak marah, tapi lain kali jangan terlalu gegabah. Oke?" kata David, "bagaimana kalau ada yang melihat perbuatanmu itu?"
"Maaf." Wanita itu mengusap sudut mata, mengerti kekhawatiran yang dirasakan oleh suaminya.
David mencium kening Vina, kemudian dengan telaten membersihkan dan mengobati luka di tangan dan bagian belakang kepala istrinya. Ia sangat mengerti, apa pendapat wanita itu tentang pelecehan terhadap anak di bawah umur. Bagi gadisnya, itu hal yang tidak bisa diampuni.
Pria itu merasa sedikit lega karena ilmu beladiri yang ia ajarkan pada istrinya selama ini ternyata tidak sia-sia. Lima tahun belakangan ini David mengajari istrinya perkelahian dengan tangan kosong, maupun dengan senjata tajam. Teknik dasar menyerang dan bertahan hampir semuanya telah dikuasi oleh wanita itu. Kemampuannya dalam menghabisi dua pria seorang diri membuktikan bahwa istrinya mengalami kemajuan yang signifikan. Meskipun tetap saja menurut David, istrinya itu tetap ceroboh.
"Mayatnya?" tanya David sembari membalut tangan wanita di hadapannya dengan kain kasa dan perban.
"Semoga membusuk dimakan binatang liar," istrinya menyumpah, "aku tinggalkan di bawah kolong jembatan."
David tertawa lebar, ia merasa takjub. Gadisnya ini telah berkembang sangat jauh dibanding gadis yang dijumpainya enam tahun silam.
"Istirahatkah, aku mau memberi makan Alexander sebentar." Dikecupnya kening istrinya, kemudian berjalan menuju kolam.
Hewan raksasa itu menunggu jatah makannya dengan tidak sabar, menggeliatkan ekor ke kanan dan kiri dengan kasar. Potongan daging merah segar yang dilemparkan padanya ditelan dalam sekali lahap tanpa di kunyah.
David mengamati rumahnya yang terletak di perbatasan kota Bogor ini dengan puas; tidak ada tetangga, halaman luas, dikelilingi hutan bambu dan sungai. Sumbangan dengan nominal tidak sedikit yang mereka berikan untuk desa dan lingkungan, membuat posisi mereka aman. Tidak ada yang berani bertanya, apalagi berpikiran macam-macam. Pria itu mencibir sinis, manusia bukankah memang seperti itu? Selalu memandang sesamanya dengan materi, uang membungkam segalanya.
David selalu berpesan pada wanita-wanita yang datang ke rumahnya agar jika berpapasan dengan orang-orang di kampung, mereka harus mengatakan bahwa ingin membeli daging. Selebihnya, selalu berjalan lancar dan aman seperti yang sudah-sudah.
***
Sejak pagi hari Vina sudah berkutat di basemen, membuka lemari pendingin dan membongkar isinya. Memasukkan potongan-potongan tulang dan dagin dalam masing-masing wadah kedap udara. Suaminya membantu mengangkut wadah-wadah itu ke mobil box yang terparkir di halaman. Hari masih pagi, kabut menutupi pandangan, sangat mendukung kegiatan yang sedang dilakukan oleh kedua suami istri itu.
“Sayang, tolong pesan dua ekor sapi ke Mang Asep,” pinta Vina, “langsung dipotong-potong aja kaya biasa,” ujarnya lagi seraya mengosongkan stok terakhir dari dalam freezer.
Mang Asep adalah salah seorang supplier daging yang mejadi langganan Vina sejak membuka usaha lima tahun yang lalu. Daging wanita-wanita simpanan David lebih sering diumpankan kepada Alexander, hanya tulang belulang mereka yang dicampur oleh Vina dengan tulang sapi untuk menutupi jejak pembunuhan yang ia dan suaminya lakukan.
Suaminya menuruti permintaan Vina tanpa banyak cakap, menekan beberapa digit angka dan memesan sesuai perintah istrinya, kemudian membawa wadah terakhir ke atas. Vina menutup pintu basemen dan mengekor dari belakang.
"Hati-hati," gumam Vina saat suaminya mulai menjalankan mobil box berisi daging dan tulang dalam wadah kedap udara.
Toko masih sepi ketika ia dan suaminya tiba, waktu baru menunjukkan pukul 07.00 pagi. Mereka masih mempunyai waktu dua jam lagi sebelum semua pegawai datang. Vina mulai membuka wadah yang sedang dipindahkan lagi oleh suaminya dari dalam mobil ke ruang penyimpanan di dalam toko. Ia memakai sarung tangan karet dan mulai menimbang tiap potongan daging dan tulang, memasukkannya dalam wadah styrofoam dan menutupnya dengan plastik wrapping. Wanita itu lebih suka mengerjakan sendiri proses ini, tidak mau terjadi kesalahan yang bisa berakibat fatal.
Suaminya yang telah selesai memindahkan semua wadah, kini berdiri di samping Vina dan ikut membantu menimbang dan membungkus. Tak sampai dua jam, pekerjaan mereka telah selesai. Vina dan David sedang mencuci tangan ketika tersengar suara pegawai yang mulai berdatangan.
"Vetma." Vina memanggil salah satu pegawai kepercayaannya. "Tolong susun wadah styrofoam ini di etalase, saya mau ke lokasi pabrik dulu."
"Baik, Bu." Gadis manis itu mengangguk dengan sopan, segera memanggil teman-temannya untuk membantu membawa daging yang telah terbungkus rapi ke depan.
Vina menggandeng tangan suaminya ke luar toko, membuat pegawainya menatap dengan perasaan iri. Bagaimana tidak? Wajah suaminya itu memang tampan, dengan aura yang mampu memikat siapa saja. Tak heran banyak wanita jatuh dalam perangkapnya dengan mudah.
***