Vina terbangun keesokan harinya dengan kepala berdenyut. Ia sedikit linglung saat melihat tubuhnya berbaring dengan nyaman di atas kasur. Bukankah semalam ... Apa yang terjadi tadi malam? Kepalanya terasa akan meledak saat otak berusaha keras mengulang memori. Ia sedang di atas ranjang saat seseorang hendak, pria b******k itu ingin—pria j*****m itu! Terkutuklah laki-laki laknat itu. Semoga jiwanya yang kotor membusuk selamanya.
"Sayang." Suaminya membawa nampan berisi sarapan ke dalam kamar. Pria itu luar biasa tampan dibalut kaos biru muda dan celana navy selutut. "Makanlah." Ia menyuapkan sesendok bubur yang masih mengepulkan uap panas.
Vina menghabiskan semangkuk bubur yang nikmat itu dengan lahap. Suaminya menyodorkan segelas teh hangat setelahnya.
"Terima kasih," kata Vina, senyum manis membingkai wajahnya. Suaminya selalu menjadi obat yang ampuh.
Suaminya merengkuh Vina dalam dekapan. "Perlu kumandikan?" tanya pria itu dengan suara serak.
Vina menyurukkan kepalanya di leher pria itu, menghirup aroma maskulin yang begitu menggoda. Senyum simpul tersungging di bibir manisnya.
"Aku masih mampu mandi sendiri," gumam Vina, mengecup ujung dagu suaminya yang ditumbuhi jambang.
"Apakah itu berarti aku boleh pergi?" tanya suaminya dengan nada menggoda. "Pak Mandor barusan menelepon soal pembangunan pabrik, aku harus ke sana sekarang."
"Pergilah, aku akan baik-baik saja."
"Terakhir kali kau mengucapkan kalimat itu, berakhir dengan aku menemukan dirimu sedang mencincang kepala di basemen."
Vina tertawa, hilang sudah semua rasa takutnya semalam. "Berhati-hatilah, sepertinya sebentar lagi akan hujan."
"Pasti, sekarang mandilah. Aku sudah menahan napas sejak tadi," goda pria itu, namun tetap memberikan ciuman sampai Vina kehabisan napas sebelum menghilang di balik pintu.
Wajah Vina berbinar bahagia, ia bangun dari ranjang dan mengisi bathtub dengan air hangat. Berendam dengan sabun aroma therapy akan sangat membantu.
***
Seorang wanita muda berdiri di pinggir jembatan, gemetar di bawah rintik hujan. Gelegak air berwarna coklat yang menggulung di bawah sana tak menyurutkan langkah kaki untuk menapaki pagar pembatas.
David yang kebetulan lewat di jalan yang sepi itu menepi, ingin menghampiri namun langkahnya tertahan saat seorang pria paruh baya di atas motor bebek butut berhenti di jembatan dan meneriaki wanita itu. Ayahnya, kah?
"Sini kamu perempuan s****l!" Maki pria itu, ia menarik rambut perempuan yang berusaha tetap berpegang erat pada pagar jembatan. "Kamu pikir bisa kabur dariku, hah?!" Tangan gempal itu menghantam wajah wanita yang terlihat tak berdaya, tak kuasa melawan. Tubuh kurusnya terpental dan menghantam aspal.
David melangkah mendekat tanpa suara, sepertinya pria tambun dengan wajah menjijikkan itu tidak menyadari kedatangannya. Tentu saja, siapa yang cukup gila untuk keluar rumah dalam keadaan seperti ini. Tanpa membawa payung atau jas hujan. Kecuali memang ada yang tak beres dengan orang itu, seperti dirinya.
Wanita yang tergeletak di atas jalan itu hanya bisa menjerit putus asa saat tangan yang tadi menampar wajahnya hingga terjungkal, kini mulai mengoyak pakaiannya dengan paksa, ia telah setengah telanjang sekarang.
"Jangan, Ayah. Aku mohon," isak pilu tanpa tenaga itu diabaikan oleh pemilik wajah yang dipenuhi bekas luka.
Air liur pria itu menetes karena gairah melihat tubuh molek terpampang di bawah sana. Dengan tak sabaran kedua tangan itu berusaha melucuti celananya sendiri. Kemudian, bunyi berdebam menghentikan kegiatan yang belum tuntas itu. David memukul kepala pria durjana itu dengan bongkahan batu.
"Kamu, tidak apa-apa?" tanya David. Mata David memandang tubuh wanita di bawah sana yang begitu ... menyedihkan, dipenuhi bekas luka yang beragam sementara ibirnya sepucat mayat dengan permukaan kulit mulai membiru karena kedinginan
Tanpa menjawab, wanita itu beringsut mundur setengah merayap di atas aspal, rasa takut terpancar jelas dari wajahnya. Ia membuang muka karena jengah, berusaha menutupi tubuh dengan sia-sia karena seluruh kaos kumal yang ia pakai tadi telah sobek tak beraturan. Air matanya bercampur dengan air hujan, merasa terluka dan hina.
David melepaskan jaket yang ia pakai dan mengangsurkannya pada wanita itu tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ragu-ragu, wanita itu menerima pemberian David dan menutupi tubuhnya. Ia mengulurkan tangan menjemput jemari David yang ingin membantu berdiri. Kedua insan itu tersentak saat kulit mereka bersentuhan, saling menatap dalam diam. Merasakan hati yang mulai menghangat, seakan menemukan belahan jiwa.
"David," gumam David pelan, menatap tepat ke manik mata wanita di hadapannya.
"Vina," balas wanita itu, kemudian menundukkan wajah. Semakin mengetatkan jaket di tubuhnya.
"Kau ingin membunuhnya?"
Pertanyaan David membuat wanita itu terbelalak, matanya melotot seperti sedang melihat hantu. Lalu, perlahan sorot itu berubah dingin dan teguh saat kepala itu mengangguk dengan mantap.
"Ikut aku," ujar David seraya menarik rambut b*****h yang masih pingsan di bawah kakinya. Vina mengekor dengan patuh, masuk ke dalam mobil box yang terpakir di bawah pohon.
David kembali ke pinggir jembatan, mengangkat satu-satunya saksi mati kejadian senja itu dan membuangnya ke sungai. Motor butut itu hilang, ditelan air sungai yang menggelora.
***