BAB EMPAT BELAS

2265 Kata
Jam dua siang Aira baru saja sampai rumah, ya hari ini ia sengaja pulang lebih cepat karena sudah merindukan putri kesayangannya. Saat memasuki rumah Aira langsung disambut oleh Mba Tri yang sedang menyiapkan makanan untuk makan siang. "Anak-anak masih pada tidur mba?" Tanya Aira "Iya bu, saya mau bangunin gak berani. Soalnya tadi pas dateng kayaknya pada lelah banget. Cuma sekarang udah lewat waktunya makan. Kebetulan kalo ibu dateng, mungkin ibu berani buat bangunin Non Zelin sama temen-temennya." "Yaudah iya mba, biar saya aja yang bangunin. Tapi saya mau ke kamar mandi dulu." Ujar Aira lalu meninggalkan meja makan untuk masuk ke kamarnya dan menuju kamar mandi. Setelah selesai dengan kegiatannya dikamar mandi Aira juga mengganti pakaian yang lebih santai. Lalu ia keluar dari kamarnya dan menuju kamar tamu untuk membangunkan Zelin dan yang lainnya. Karena walaupun mereka lelah, tapi tidak baik melewatkan jam makan siang. Aira membuka pintu kamar tamu dan mulai melangkahkan kakinya masuk keruangan itu. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah putrinya yang berpelukan dengan Vathan dengan begitu nyaman, tak berbeda dengan Zelin dan Vathan. Livia juga berpelukan dengan Zafran dan tidur sangat pulas, bahkan guling yang sebelumnya dijadikan pembatas antara mereka sudah tergeletak di lantai. Sejujurnya Aira ingin sekali marah melihat posisi tidur mereka, namun logikanya masih berjalan dengan baik. Anak satu-satunya yang ia tinggal beberapa bulan ini baru datang untuk melepas rindu dengannya dan suami, tak mungkin ia dengan tega memarahi hanya karena posisi tidur mereka. Aira juga sudah memberikan kepercayaan penuh pada Vathan untuk menjaga putrinya, ia yakin Vathan anak yang baik dan tidak akan merusak masa depan putrinya. Sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri, sebenarnya Aira sudah tahu Vathan yang sering tidur dengan posisi memeluk Zelin. Karena sudah beberapa kali Maya mengirimkan foto saat mereka tertidur. Namun biasanya mereka tidur bertiga dalam satu ranjang, tapi kali ini berbeda. Tapi ya kembali lagi, Aira sangat mempercayai anak-anaknya adalah anak yang baik, tidak akan mengecewakan orangtua mereka. Aira memang baru kali ini melihat Zafran, namun lagi-lagi Maya sudah menceritakan sedikit banyak tentang Zafran. Selain bercerita Maya juga kerap meminta saran pada Aira harus bagaimana menyikapi keadaan, saat anak gadisnya didekati oleh seorang pria, Dengan komunikasi seperti itu, membuat Maya dan Aira jadi semakin akrab. Mereka pun berharap hubungan mereka akan semakin baik, apalagi jika ditambah hubungan anak mereka yang akan lebih serius nantinya. "Sayang, Zelin bangun yuk. Kita makan siang dulu." Ucap Aira saat sudah berdiri disamping putrinya, mencoba membangunkan anak gadisnya itu sambil menggoyangkan pundak Zelin. Beberapa kali Aira membangunkan, namun Zelin tak bergeming sedikitpun. Namun Vathan yang mendengar ada seseorang yang sedang berbicara langsung mengerjapkan matanya beberapa kali, sampai penglihatannya sempurna dan langsung menatap Aira seraya tersenyum. "Bunda." Ucap Vathan lalu langsung mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Aira. "Bangun dulu yuk Bang udah jam setengah tiga kalian belum pada makan siang." "Iya bun, Abang bangunin yang lain dulu ya." "Yaudah bunda tunggu di meja makan ya." "Oke bun." Setelah mendengar jawaban Vathan, Aira pun keluar dari kamar itu. Namun ia tak langsung pergi ke meja makan, Aira memperhatikan bagaimana Vathan membangunkan putrinya. Karena sebenarnya Zelin bukan tipe orang yang susah dibangunkan saat tidur. Tapi hari ini berkali-kali ia memanggil nama anaknya tak kunjung bangun juga. Aira berpikir anaknya itu sudah sangat ketergantungan dengan kehadiran Vathan. *** "Sayang bangun yuk, kita ditungguin makan siang sama bunda." Ucap Vathan sangat lembut, namun Zelin hanya menggeliatkan tubuhnya lalu kembali memejamkan matanya. Vathan yang merasa gemas dengan kelakuan sang pacar pun langsung memberi ciuman bertubi-tubi di seluruh wajah Zelin. Sampai akhirnya Zelin membuka matanya sempurna, "Iya udah bangun ini udah, jangan cium-cium terus. Geli sayang udah." Ujar Zelin disela kekehannya karena Vathan yang masih terus saja menciumi wajahnya. Aira yang menyaksikan adegan romantis anaknya hanya tersenyum dan berlalu pergi menuju meja makan, karena ia tak mau anaknya melihat jika bundanya masih berdiri didepan pintu. Bagaimana pun seorang anak punya area privasinya sendiri. "Ayok bangun sayang, gak enak sama bunda." Vathan membantu Zelin untuk bangun dari posisi tidurannya. Saat Zelin sudah duduk dengan benar, Vathan membalikan tubuhnya untuk membangunkan Zafran. Karena dari posisinya lebih mudah membangunkan Zafran daripada adiknya. "Kava,,," "Iya, kenapa sayang?" Vathan menoleh dan langsung melihat kekasihnya yang sedang merentangkan kedua tangannya. Vathan yang sangat mengerti keadaan, langsung meraih pergelangan tangan Zelin. Ia pindahkan Zelin jadi duduk dipangkuannya, Vathan biarkan Zelin memeluknya dan membenamkan wajahnya ceruk leher Vathan. "Zaf,,, bangun. Kita makan siang dulu, cepetan bangunin Livia." Ucap Vathan mencoba menggoyangkan tubuh Zafran, walaupun sebenarnya agak sulit karena ada Zelin dipangkuannya. "Iya kak, ini gue bangun." Zafran langsung mendudukan dirinya, walaupun matanya masih terpejam. "Yaudah bangunin Livia, terus ke ruang makan ya. Gue sama Zelin duluan ya." "Iya kak." "Sayang ini ke ruang makannya mau di gendong?" Bisik Vathan ditelinga kekasihnya, namun Zelin tak bergeming sedikitpun. Sampai akhirnya Vathan memposisikan Zelin menghadap kearahnya dengan tangan yang melingkar di tengkuknya, kedua kaki Zelin melingkar di pinggangnya. Dengan sedikit usaha Vathan mencoba berdiri, lalu membawa Zelin dalam gendongannya menuju ruang makan. *** "Abang itu anak bunda kenapa di gendong?" Tanya Aira saat meilhat Vathan sudah ada diruangan itu dan sedang mendudukan tubuhnya di salah satu kursi yang ada, masih dengan Zelin yang berada dalam gendongannya. "Manjanya lagi kumat bun." Jawab Vathan "Zelin duduk sendiri dong sayang, itu nanti abang makannya susah." Aira mencoba merayu putrinya agar turun dari pangkuan Vathan. Namun Zelin hanya menggelengkan kepalanya. "Udah bun gapapa." "Maaf ya bang, Zelin pasti sering ngerepotin abang selama ayah sama bunda disini." "Enggak kok bun, Abang ikhlas lakuin apapun buat Zelin. Yang penting itu bisa buat Zelin bahagia, ya contohnya nurutin semua kemauannya kalo lagi manja gini." Aira menanggapi kalimat Vathan dengan senyuman saja. "Bunda." Ucap Livia yang sudah berdiri disamping Aira. Lalu Livia dan Zafran bergantian mencium punggung tangan Aira. Setelah itu Livia dan Zafran langsung duduk berhadapan dengan Aira dan Vathan. "Zelin sakit bang?" Tanya Livia pada Vathan yang tepat dihadapannya, Vathan menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Lagi manja kata abang, udah biarin aja. Sampe lupa cium tangan sama bunda tuh." Aira menyindir putrinya "Ihh gak gitu ya bun, aku kan sengaja mau puas-puasin peluk kakak. Nanti malem aku mau tidur bareng Ayah Bunda." Gumam Zelin pelan, namun masih terdengar oleh Vathan dan Aira. Livia dan Zafran yang ada di seberang tak mendengar jelas kalimat yang diucapkan Zelin. "Iya tapi sekarang makan dulu sayang, malemnya kan masih lama. Itu kakaknya susah makannya kalo kamu disitu." Aira masih mencoba untuk merayu Zelin, namun putrinya tetap diam saja dalam pelukan Vathan. "Udah bun gak apa-apa." Vathan menjawab ucapan Aira yang hanya dibalas gelengan kepala oleh wanita itu. Ia tak menyangka anaknya akan semanja itu pada Vathan. Aira pun mempersilahkan semuanya memulai makan siang, bahkan dengan suka rela Aira membantu mengambilkan makanan untuk Vathan. Mengisi piring yang ada dihadapan Vathan dengan nasi dan beberapa lauk yang tersedia. Semuanya menikmati makan siang hari ini dengan sesekali berbincang membahas sekolah mereka dan bagaimana saat di perjalanan semalam. Selesai makan, dengan lembut dan penuh perhatian Vathan menyuapi kekasihnya makan. Ketiga orang lain yang ada diruangan itu hanya bisa menyaksikan adegan romantis dihadapan mereka dengan sesekali memberi ledekan. Namun Zelin yang sedang dalam mode manja itu sepertinya mengacuhkan semua ledekan yang dilontarkan untuknya, terutama ledekan dari Livia. Ia tak memperdulikannya sama sekali, walaupun ia ingin menjawab perkataan Livia. Namun ia urungkan karena benar-benar ingin menikmati saat-saat bersama Vathan. *** Sesuai dengan ucapan Zelin waktu makan siang, malam ini Zelin akan tidur bersama Ayah dan Bundanya. Dengan begitu dikamar tamu akan diisi oleh tiga orang saja, Livia tidur sendiri sedangkan Vathan dan Zafran berdua dalam satu kasur. Sungguh Vathan sulit untuk memejamkan mata malam ini, ia sangat merindukan kekasihnya. Namun ia tak bisa egois, karena Zelin pasti sangat merindukan kedua orangtuanya. Walaupun sulit akhirnya Vathan pun bisa tidur malam ini, karena ia mengingat besok akan memulai kegiatan berliburnya. Keesokan harinya, Vathan, Zelin, Zafran dan Livia akan mengunjungi Ciputra Waterpark. Ya mereka ingin berwisata air hari ini. Mereka ingin memberi kesegaran pada tubuh dan merelakskan otak mereka yang selama hampir enam bulan ini terus-terusan belajar untuk mendapat nilai terbaik di sekolah. Ciputra Waterpark adalah Taman Wisata Air yang terletak di Sambikerep, Made, pinggiran barat kota Surabaya. Tempat ini menawarkan berbagai wahana yang menarik yang berada di lahan seluas kurang lebih lima hektar. Lahan ini tepatnya berada di kawasan komplek perumahan Citraland yang disebut dengan "The Singapore of Surabaya." Vathan dan yang lainnya baru saja sampai ditempat tujuan, mereka semua langsung menuju ruang ganti untuk berganti pakaian. Keempatnya mengenakan kaos polos dan celana pendek saja untuk hari ini, Vathan yang super protektif itu melarang adik dan kekasihnya mengenakan pakaian renang. "Jadi kita mau maen apa dulu?" Tanya Zelin pada ketiga orang yang berdiri disamping kanan dan kirinya. "Sinbad's Playground yuk. Kayaknya seru deh." Ajak Livia "Ayok." Jawab ketiganya serempak Sinbad's Playground menggunakan konsep menara istana dimana masing-masing menaranya tersambung satu sama lain oleh jembatan goyang. Beberapa perosotan dan drum air raksasa pun dapat dinikmati di wahana ini. Setelah selesai dari Sinbad's Playground, Vathan dan yang lainnya menikmati Roc Tower. Menara seluncur setinggi lima belas meter yang dapat dinikmati dengan atau tanpa menggunakan pelampung. Roc Tower termasuk dalam salah satu wahana ektrim di Ciputra Waterpark. Setelah bermain-main di beberapa wahana, Vathan dan ketiga orang lainnya sedang menikmati makan di food court. Vathan duduk disisi kanan Zelin, Livia dan Zafran duduk dihadapan mereka. Livia dan Zafran menikmati mie cup dan es lemon tea, sedangkan Vathan sedang menyuapi Zelin nasi goreng. Ya Zelin harus makan nasi sekarang, karena tadi pagi ia hanya sarapan minum s**u. "Abis ini kita kemana?" Tanya Zelin disela mengunyah makanannya "Kamu maunya kemana sayang?" "Aku ngikut aja pada mau kemana. Hehehehe" "Ke Syracuse aja, soalnya kan kita abis pada makan nih. Gak mungkin naik-naik perosotan lagi." Sahut Zafran, dan ketiga orang yang lain hanya menganggukan kepala menanggapi ucapan Zafran. Setelah selesai dengan kegiatan makannya Vathan dan yang lainnya sudah sampai di Syracuse Beach, Kolam seluas seribu delapan ratus meter persegi dan kedalaman hingga satu koma dua meter. Pada wahana ini menghasilkan berbagai ombak seperti suasana pantai pada umumnya. Wahana ini juga merupakan salah satu wahana favorit pengujung Ciputra Waterpark, khususnya bagi para pecinta nuansa pantai. Sampai disana Vathan dan Zafran sudah membawa pelampung masing-masing, pelampung untuk dua orang yang mereka akan pakai. Karena selanjutnya mereka akan menikmati wahana Sirens River, wahana yang dirancang khusus agar para pengunjung bisa menghabiskan waktu bersama keluarga atau pasangan. Kolam arus buatan ini dibuat sepanjang empat ratus delapan puluh meter. Baik Vathan dan Zelin ataupun Zafran dan Livia, mereka duduk diatas pelampung saling memunggungi. Tujuannya agak mereka mudah untuk saling berbincang-bincang. "Sayang seneng gak liburan bareng aku?" Tanya Vathan sambil menikmati pemandangan sekitar, namun tak pernah sedikitpun Vathan melepaskan genggaman tangan mungil kekasihnya "Ya seneng banget lah Kava, Kava sendiri gimana?" "Gak perlu ditanyakan sayang, gimana bahagianya aku. Ya walaupun semalem aku gak bisa cepet-cepet tidur karna gak bareng sama kamu. Tapi aku ngerti dan gak boleh egois, kan kamu pasti kangen sama ayah bunda." "Dasar bucin." Ucap Zelin menggoda kekasihnya "Emang kamu gak bucin ya? Dari siang gak mau lepas peluk-peluk aku, duduk dipangkuan aku." Vathan balas menggoda sambil mencuri ciuman di pipi kekasihnya "Ih jangan cium-cium dong sayang, kan malu." "Cieee malu mukanya merah gitu pacar aku." "Kava ih nyebelin." "Tapi sayang kan?" "BANGET." "I Love You anaknya Bunda Aira." "I Love You Too anaknya Ibu Maya." Lalu mereka menikmati pemandangan sambil berkeliling menikmati kolam arus Sudah jam tiga sore, Vathan pun mengajak ketiga orang yang sedang asik menikmati cemilan untuk berganti pakaian. Semuanya berganti pakaian dan siap-siap untuk pulang, sudah cukup melelahkan kegiatan mereka hari ini. Ya walaupun berlibur adalah hal yang menyenangkan, tapi tidak bisa di pungkiri jika badan akan merasa lelah. Apalagi masih banyak destinasi wisata lain yang ingin mereka kunjungi selama di Surabaya. Vathan dan Zelin sudah ada didalam mobil, karena tadi Livia ingin membeli nasi goreng terlebih dahulu. Tadi siang ia hanya memakan mie cup, jadi ia merasakan lapar dan memutuskan untuk membeli makanan untuk dimakan di mobil. Zafran dengan sangat setia selalu menemani, walaupun Livia sudah mengatakan tak apa jika Zafran menunggu di mobil. Namun laki-laki yang sedang memperjuangkan cinta dan perasaannya itu tak mungkin membiarkan gadis pujaan hatinya sendirian. Vathan duduk dibalik kemudi dan Zelin disampingnya, Zelin sedang melihat-lihat beberapa foto yang tadi diabadikan melalui ponselnya. Sedangkan Vathan merangkul pundak kekasihnya dan ikut melihat apa yang sedang kekasihnya lihat. "Pacar aku cantik banget." Ucap Vathan memecahkan keheningan. "Jadi Kava suka aku karna aku cantik?" Tanya Zelin sambil menoleh ke sisi kanannya menatap kekasihnya. "Aku suka kamu ya karna kamu cantik, tapi aku sayang dan cinta kamu ya karna itu kamu sayang. Zelina Airani bukan perempuan lain." Vathan mencium punggung tangan Zelin berkali-kali. "Kava liat deh." Ujar Zelin saat mengalihkan pandangannya kearah depan, disana ada Zafran dan Livia yang sedang berjalan menuju kearah mobil mereka. Namun hal yang membuat Zelin meminta Vathan untuk melihat kearah mereka adalah karena Zafran dan Livia berjalan sambil berpegangan tangan. "Ya udah biarin aja sayang, mungkin mereka udah ganti status atau mereka mau mencoba buat jalanin hubungan yang lebih dekat lagi." "Hmm,,, iya juga sih ya. Oke deh." Tak lama setelah itupun Zafran dan Livia masuk kedalam mobil dikursi belakang untuk penumpang. Zelin dan Vathan pura-pura tidak tahu saja apa yang tadi mereka lihat, lalu Vathan mulai melajutkan mobilnya meninggalkan kawasan Ciputra Waterpark. Di sepanjang perjalanan keempatnya hanya berbincang ringan membahas tempat mana lagi yang akan mereka kunjungi besok. Livia dan Zafran pun asik memakan nasi goreng mereka satu bungkus berdua, bahkan sesekali Livia menyuapi Zafran. Karena tangan Zafran yang memegang cup minuman mereka, Vathan dan Zelin asik dengan kemesraan mereka sendiri, Zelin yang selalu bergelayut manja ditangan kekasihnya yang sedang menyetir itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN