BAB SATU
Mallory Vocational High School hari ini ramai oleh siswa-siswi baru yang akan menjalani Masa Orientasi Siswa. Siswa-siswi sudah berbaris di Lapangan sekolah tersebut untuk mendengar sambutan dari Kepala Sekolah. Dua puluh menit kepala sekolah memberi sambutan dan memberi tahu apa saja peraturan yang harus dipatuhi dan berbagai kegiatan yang tersedia di sekolah tersebut.
Vathan Asvatama atau yang biasa disapa Vathan, sang ketua osis tampan dan berprestasi yang sebentar lagi jabatan ketua osisnya akan diturunkan pada kelasnya, dibuat terpana oleh kecantikan gadis manis salah satu siswi baru yang sedang berjalan menuju salah satu kelas setelah barisan dilapangan dibubarkan. Senyum tak kunjung pudar dari wajahnya saat memperhatikan Zelin dari kejauhan.
"Ah kenapa jantung gue deg-degan gini ya cuma liatin tuh murid baru dari jauh, masa iya gue jatuh cinta pada pandangan pertama?" ucap Vathan dalam hati sambil memegang dadanya, merasakan degub jantung yang bertalu kencang.
Didalam sebuah kelas gadis manis sedang duduk santai karena hari ini masih masa orientasi siswa, jadi belum ada kegiatan belajar mengajar. Seorang gadis lainnya menghampiri seraya mengulurkan tangannya "Hai, gue Livia". Sang gadis manis yang sedang duduk pun membalas uluran tangan itu sambil tersenyum sangat manis, dengan lesung pipi yang membuatnya terlihat manis dan cantik dalam waktu bersamaan. "Gue Zelina Airani, tapi biasa dipanggil Zelin." Setelah berkenalan dan sedikit berbincang ternyata kedua gadis yang sama-sama cantik itu akan mengambil jurusan yang sama, dan sejak saat itu mereka menjadi semakin akrab. Walaupun mengambil jurusan yang sama mereka memiliki alasan yang berbeda. Livia dengan alasannya mengikuti jejak sang kakak, dan dengan alasan akan mempunyai tempat bertanya saat tidak begitu paham dengan materinya, namun Zelin dengan alasan atas perintah kedua orangtuanya.
Dua minggu berlalu melewati Masa Orientasi Siswa kegiatan belajar mengajar mulai aktif dengan segudang materi pelajaran yang sangat Zelin tidak pahami sedikitpun. Tiada hari tanpa mengeluh, gadis itu merasa pusing dengan semua materi yang harus dipelajari. Namun beruntungnya Zelin mendapatkan teman baru Seperti Livia, yang sekarang sudah ia anggap sahabat karena begitu banyak kecocokan. Dengan sabar Livia selalu membantu Zelin untuk memahami pelajaran, walaupun dirinya sendiri belum begitu menguasai semua materi setidaknya bisa membantu kegusaran sang sahabat.
***
Pukul dua Livia baru saja memasuki rumah sederhananya, yang selalu terasa hangat. Karena walaupun dengan kehidupan yang sederhana Livia selalu mendapat kasih sayang yang melimpah dari sang Ibu dan kakak laki-laki satunya.
"Hai bang". Sapa Livia pada sang kakak yang sedang makan siang, masih dengan seragam lengkapnya.
"Kok baru pulang sih dek?" jawab laki-laki itu sambil memasukan makanan ke mulutnya.
"Maaf bang tadi nganter temen ke toko buku. Soalnya dia bener-bener gak bisa paham sama materi pelajaran, jadi dia beli buku-buku akuntansi. Besok juga rencananya dia mau belajar disini bang, Boleh gak ya sama ibu?" Tanya Livia sambil mendudukan dirinya didepan sang kakak.
"Ya boleh lah dek, masa mau belajar bareng gak boleh. Kamu udah makan siang belum? Kalo belum makan dulu deh."
"Udah bang Vathan ganteng, tadi sekalian diajak makan sama temenku. Yaudah ya bang aku kekamar mau ganti baju terus istirahat. Besok kalo mau makan ganti baju dulu jangan pake seragam, ketauan ibu pasti abang diomelin. Hahahaha" Ya Vathan adalah kakak laki-laki Livia.
"Ibu gak akan tau kalo kamu gak bilang ya dek." Ucap Vathan dengan nada menyindir yang hanya dibalas tawa sang adik.
***
Ditempat lain Zelin juga baru masuk kerumah megahnya, seperti biasa suasana rumah yang sepi karena ayah dan bundanya pasti belum pulang kerja. Zelin pun langsung naik ke lantai dua rumahnya dan masuk ke kamarnya, kamar yang begitu besar dan megah dengan segala fasilitas yang tersedia namun terasa sangat sepi. Apalagi Zelin yang merupakan anak tunggal. Zelin merebahkan dirinya dikasur dan langsung memejamkan mata, bukan untuk tidur tapi tiba-tiba saja merenungi kehidupannya. Sepanjang perjalanan bersama Livia tadi mereka saling bertukar cerita, Zelin merasa sedikit iri dengan kehidupan Livia yang sederhana namun mendapat limpahan kasih sayang. Sedangkan dirinya hanya diberi limpahan materi oleh kedua orangtuanya, semua fasilitas mewah bisa ia dapatkan dengan mudah tapi pelukan kasih sayang orangtua sulit sekali untuk ia peroleh.
Kring...Kring...Kring...
Suara telpon rumah Zelin terdengar sangat nyaring, dan Zelin mendengarkan dari kamarnya apa asisten rumah tangganya sudah mengangkat telpon itu atau belum. Saat Zelin mendengan suara Bi Imah berbicara dengan seseorang disebrang sana melalui sambungan telpon, Zelin kembali memejamkan matanya. Tak berselang lama terdengar suara langkah kaki mendekati kamarnya, benar saja saat Zelin membuka mata dan menoleh kearah pintu kamarnya sudah ada Bi Imah sedang berdiri dengan senyum hangat keibuan. Ya sejak usia sepuluh tahun Zelin hanya mendapat kasih sayang layaknya orangtua dari Bi Imah Asisten Rumah Tangganya bukan dari sang Ibunda.
"Non, Bi Imah boleh masuk?" tanya Bi Imah dari balik pintu yang terbuka setengahnya
"Iya masuk aja bi kenapa harus nanya sih kayak baru kenal aku aja". Jawab Zelin kembali memejamkan matanya
"Kenapa belum ganti baju Non? Itu kan bajunya kotor abis dari mana-mana, nanti kasurnya gatel."
"Nanti aja ah bi, aku lagi cape banget. Oya tadi siapa yang telpon? Pasti bunda atau ayah ngasih kabar hari ini gak pulang kerumah." Ucap Zelin lirih nyaris tak terdengar.
"Kan ada Bi Imah yang selalu nemenin disini, Non Zelin gak akan pernah merasa kesepian."
"Aku mau jadi anak Bi Imah aja boleh gak?"
"Non Zelin selalu jadi anak kesayangan Bi Imah dong." Jawab Bi Imah dengan mata berbinar berusaha menghibur anak majikannya agak tidak bersedih lagi, walaupun ini bukan kali pertama Zelin meminta jadi anaknya.
"Bukan gitu maksud aku bi, kita tinggal dirumah Bi Imah bareng suami dan anak bibi. Aku udah gak mau disini, semuanya terasa hambar. Ayo culik aku Bi."
"Hahahaha Non mah becanda aja, masa iya atuh Non diculik teh minta. Lagian ya Non kalo Bibi culik Non Zelin kita gak bisa tinggal bareng, soalnya Bibi malah dipenjara karena dilaporin Tuan Abraham sama Nyonya Aira atas kasus penculikan."
Zelin hanya menundukan kepala mendengar tanggapan dari Bi Imah, karena apa yang dibilang Bi Imah semuanya benar. Mana ada orang malah minta diculik seperti yang dirinya lakukan, dan lebih parahnya ia malah akan menyusahkan hidup keluarga Bi Imah dan keluarganya kalau sampai Asisten Rumah Tangganya itu dilaporkan oleh Ayah Bundanya atas dugaan kasus penculikan. Melihat Zelin yang terdiam Bi Imah mendekati jarak duduknya dengan gadis itu, merangkul pundak seraya mengusap puncak kepalanya sambil mengucapkan kata-kata menenangkan. Menjelaskan bahwa majikannya yang merupakan kedua orangtua gadis itu sibuk bekerja untuk masa depan anaknya. Bi Imah pun memeluk Zelin dengan penuh kasih sayang.
"Bibi akan selalu disini sama Non Zelin, kalo Non butuh ditemenin bibi akan selalu ada. Jangan pernah merasa sendiri ya Non, lagian disekolah kan pasti banyak temennya." Zelin hanya menganggukan kepalanya sambil membalas pelukan Bi Imah erat, menumpahkan rasa rindu pelukan seorang ibu yang sudah lama tidak ia dapatkan.