BAB EMPAT

2571 Kata
Lima belas menit berlalu, suara tangis Zelin pun sudah tak terdengar walaupun gadis manis itu masih menundukan kepalanya. Livia dan Vatr masih dengan setia menemani dalam diam. Tiba-tiba Zelin merapatkan duduknya disisi kanan Livia. "Kak Vathan kenapa disitu? Gue malu." Bisik Zelin pelan namun tetap terdengar oleh Vathan. Karena mendengar ucapan itu Vathan pun berdiri dari tempat duduknya. "Yaudah kakak balik ke kamar ya, kalo ada apa-apa panggil aja." Vathan pun kembali masuk ke kamarnya. Walaupun dalam hatinya masih sangat penasaran apa penyebab Zelin menangis pilu tak lama setelah makan siang bersama. "Tadi gue ngomongnya kenceng ya Lip? Kok Kak Vathan langsung balik ke kamar?" Tanya Zelin dengan tatapan bingung "Lu ngomongnya pelan Zelin, tapi jarak duduk kita yang deketan jadi tetep kedengeran. Terus sekarang udah mau cerita kenapa nangis kayak tadi? Bikin panik tau." Tiba-tiba pandangan Zelin kembali mendung, matanya sudah siap menumpahkan lagi air matanya. "Kok malah mau nangis lagi sih Zelin, jangan gitu dong nanti Bang Vathan mikirnya gue ngapa-ngapain lu pas kita berdua doang lu malah nangis." Kesal Livia "Lip.. Hikss... Hikss..." "Iya, kenapa?" "Gue kangen Ayah Bunda Lip, hikss,,," "Mereka sibuk kerja buat bahagiain lu Zelin." "Tapi gue kangen bisa makan bareng kayak kita tadi. Bahkan gue udah lupa Lip kapan terakhir gue makan siang bareng sama mereka." "Mulai hari ini gimana kalo setiap pulang sekolah lu makan siang disini, bareng gue sama bang Vathan." "Gak mau ah." "Kenapa? Makanannya gak enak ya?" "Bukan gitu, makanannya enak kok. Karna masakan rumahan banget bikin gue makin kangen suasana bareng ayah bunda." "Yaudah kita ganti-gantian, nanti kapan-kapan gue yang numpang makan dirumah lu. Sekali-kali pengen coba makanan orang kaya." Canda Livia demi membuat suasana hati sahabatnya jadi lebih baik. "Beneran?" Tanya Zelin dengan mata berbinar menyiratkan kebahagiaan "Iya bener dong, udah ah jangan nangis lagi jelek tau." "Yaampun gue kalo lagi nangis jelek ya? Tadi kak Vathan liat gue pas lagi jelek dong Lip. Ih malu banget gue, lagian kenapa Kak Vathan pake kesini sih. Ah mau gue taro dimana nih muka kalo nanti ketemu lagi Kak Vathan. Iiihhh Lip gue malu." Cerocos Zelin sambil menggoyang-goyangkan pergelangan tangan Livia "Kenapa panik banget sih keliatan jelek didepan abang gue. Jangan-jangan kalian ada apa-apa dibelakang gue ya?" Ujar Livia penuh selidik "Ih gak gitu ya, Kak Vathan tuh terkenal di sekolah. Cowok ganteng, pinter, baik dan lain-lainnya. Cewek-cewek lain ketemu dia pasang muka cantik dengan senyum semanis mungkin. Lah gue malah nangis. Malu gue Lip." "Emang ada yang nyuruh lu nangis kenceng kayak tadi? Kamar Bang Vathan kan di sebelah, jadi ya wajar aja dia denger." "Ah bodoamat ah, tapi lu beneran janji sering main kerumah gue kan Lip?" "Iya gue janji Zelin." Jawab Livia dengan wajah yang sangat meyakinkan. "Yaudah ah gue udah gak mood belajar, besok lagi aja." Ucap Zelin sambil membereskan buku-buku yang berserakan di meja. "Terus mau pulang apa masih mau disini?" Zelin melihat jam di pergelangan tangannya lalu menggelengkan kepalanya. "Kenapa?" Tanya Livia bingung "Gue nangis lama banget ya? Udah jam lima aja, gue pulang deh." "Mau naik apa?" "Taksi online aja, mang Iyan gak bisa jemput lagi ke klinik anaknya sakit." "Minta anterin Bang Vathan aja ya, udah sore jangan pulang sendirian." "Ih lu gila ya Lip, abis dia liat jeleknya muka gue pas nangis malah minta dianter pulang. Gak mau gak mau." Ujar Zelin sambil menggelengkan kepalanya cepat "Gak apa-apa ih, lagian dianterin abang kan naik motor. Dia gak akan liatin muka lu terus." "Pokoknya gue gak mau!" Sarkas Zelin "Yaudah gue juga gak mau main kerumah lu kalo gitu," "Ih mainnya anceman, katanya sahabat." "Biarin, kalo gak gitu lu mah ngeyel terus." Livia dan Zelin keluar dari ruang tamu, Zelin ijin ke toilet dulu untuk membasuh muka dan merapikan rambutnya yang kusut setelah menangis tadi. Livia pun menuju kamar abangnya. Tok...Tok...Tok... "Iya." Terdengar suara dari dalam kamar. "Aku masuk ya bang?" Livia meminta ijin "Iya de masuk aja." Livia memasuki kamar abangnya, dan melihat sang kakak sedang belajar sepertinya. "Kenapa de?" Tanya Vathan saat adiknya sudah berdiri tepat disamping meja belajarnya "Minta tolong boleh?" Livia menjawab pertanyaan abangnya dengan pertanyaan. "Iya apa dulu?" "Tolong anterin Zelin pulang, supirnya gak bisa jemput anaknya sakit." "Abang anterin Zelin pulang? Pake motor abang? Terus berduaan? Sampe kerumahnya?" "Iya abang yang anterin, pake motor abang kecuali kalo punya helikopter ya silahkan aja. Nah karna pake motor yaiyalah berdua masa mau bertiga-tigaan, yang bener aja lah. Nganternya sampe depan kamarnya bang kalo perlu, minta tolong anterin pulang doang perntanyaannya banyak banget." Kesal Livia menjawab semua pertanyaan kakaknya itu. "Yaudah tunggu abang mandi dulu." Vathan pun sudah beranjak dari tempat semula dan bergegas mengambil handuk yang menggantung disamping lemari bajunya. "Ih gak usah mandi dulu, nanti Zelin nya kelamaan. Kayak mau nganter gebetan aja sih pake mandi dulu, apa jangan-jangan?" Goda Livia pada sang kakak. "Yee gak gitu ya, masa iya nganter cewek badannya bau. Yaudah kamu tunggu diluar abang gak mandi cuma ganti baju aja." Livia pun keluar dari kamar Vathan Livia melihat Zelin yang sedang duduk di sofa ruang tamunya. Ia pun duduk disamping Zelin "Kenapa ngelamun sih lu?" Tanya Livia "Gak ngelamun kok, cuma lagi seneng aja bisa kenal sama lu. Disini gue bisa ngerasain kehagangat keluarga, gak kayak dirumah merasakan kehangatan pelukan asisten rumah tangga." "Asisten rumah tangga lu banyak ya?" "Enggak kok cuma beberapa, tapi Bi Imah udah kayak Ibu gue sendiri. Dia sayang sama gue melebihi bunda." "Sekarang lu punya gue, jadi jangan pernah merasa sendiri. Lu juga bisa anggap Bang Vathan tuh kakak lu, biar lu bisa ngerasain gimana punya saudara. Hmmm anggap gue adek lu juga boleh, kan lengkap tuh punya kakak sama adek." "Thanks ya Lip dihari pertama masuk sekolah waktu itu lu ngajak gue kenalan dan kita jadi deket banget kayak sekarang." "Iya sama-sama, lagian ya Zelin yang gue denger gak cuma pacaran atau nikah yang harus punya kecocokan, berteman atau bersahabat juga harus ada kecocokan dan kenyamanan satu sama lain. Gue nyaman jadi sahabat lu Zelin. Gak boleh merasa kesepian lagi." "Udah ah lu gak pantes ngomong manis gitu, wleeee." Kedua gadis itu pun bersenda gurau sambil menunggu Vathan yang tak kunjung keluar dari kamarnya sampai terdengar suara salam dari wanita paruh baya yang masih sangat cantik dan muda untuk ukuran seorang ibu anak dua. "Waalaikumsalam." Livia menjawab salam sang ibu. "Eh lagi ada tamu?" Tanya Maya pada putrinya "Iya bu temen yang aku bilang mau belajar bareng." Livia menyalami ibunya "Zelin sini, kenalin ini Ibuku." Ujar Livia sambil melambaikan tangannya agar Zelin menghampiri ia dan ibunya "Zelin tante." Ucap Zelin sambil menyalami tangan Maya "Panggil Ibu aja biar sama kayak Livia, udah mau pulang?" "Iyaa tante,, eehhhh bu." "Nungguin abang daritadi bu ganti baju lama banget yaampun. Ibu sih gak ngijinin aku bawa motor, kan aku jadi gak bisa nganter Zelin pulang." Adu Livia yang kesal menunggu Vathan tak kunjung keluar kamar Belum sempat Maya menanggapi ucapan putrinya terdengar suara pintu terbuka dari arah kamar Vathan. Mereka bertiga pun mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang terbuka. Vathan yang merasa diperhatikan merasa bingung, sambil berjalan menghapiri ketiga wanita yang sedang berdiri diruang tamu ia terus memperhatikan penampilannya. "Apa ada yang salah?" Tanya Vathan pada dirinya sendiri sambil terus menatap bingung pada Livia dan Maya secara bergantian "Ibu baru pulang?" Tanya Vathan dan menyalami tangan ibunya "Abang mau nganterin Zelin pulang?" Tanya Maya "Iya bu, nantin langsung pulang lagi kok." Jawab Vathan "Kalo mau nganter cewek cantik harus gitu ya bang?" Sarkas Livia "Gitu gimana sih de?" "Minyak wangi satu botol ditumpahin semua ke baju sama jaket." "Ih enggak gi...." "Gitu, masa iya mau nganter cewek badannya bau? Itukan yang mau abang bilang?" Potong Livia karena sudah tau kalimat apa yang akan keluar dari mulut Vathan "Bilangnya mau ganti baju doang tapi setengah jam." Kesal Livia menatap tajam pada sang kakak "Udah de udah, kamu jadi perempuan kok gak ada anggun-anggunnya. Malu tuh sama temen kamu." Maya mencoba melerai perdebatan kedua anaknya "Yaudah ya bu Zelin pulang dulu, udah sore soalnya." Akhirnya Zelin mengeluarkan suara, karena ia sudah sangat hafal berdebat dengan Livia tidak akan ada habisnya. "Iya hati-hati dijalan ya Zelin, salam sama keluarga dirumah. Sering-sering main kesini sekalian ajarin Livia jadi perempuan anggun." Ucap Maya "Abang anterin Zelin dulu ya bu." Pamit Vathan "Jangan ngebut-ngebut ya bang anterin anak gadis ibu." "Anak gadis ibu?" Tanya Vathan "Iya temennya adikmu ya anak ibu juga. Lagian Livia juga sering cerita kalo Zelin anak baik." "Oh kirain mau jadiin Zelin menantu." Bisik Vathan "Apa bang?" "Ah enggak bu. Yaudah Vathan berangkat ya, Assalamualaikum." "Walaikumsalam." Maya dan Livia menjawab bersamaan Vathan dan Zelin pun keluar dari rumah, sedangkan Maya dan Livia masuk keruang kelurga. "Abang mu lagi jatuh cinta kayaknya de." Ujar Maya "Ade juga mikir gitu bu." *** Vathan dan Zelin sekarang dalam perjalanan, keduanya saling diam karena bingung harus membahas apa. Terutama Zelin yang masih merasa malu karena kejadian menangisnya tadi, hanya satu hal yang saat ini ada dalam pikiran Zelin. Apa lelaki didepannya ini sudah tau alamat rumahnya, karena sejak keluar dari rumah tadi dan sekarang sudah setengah perjalanan tak sekalipun Vathan bertanya. "Zelin..." Panggil Vathan memecahkan keheningan antara keduanya "Iya kak." "Maaf ya nganternya cuma naik motor." "Gak apa-apa kak, aku suka kok naik motor." "Apalagi naiknya sama aku ya?" Goda Vathan "Isshhh apaan sih." Sahut Zelin dengan mengulum senyumnya "Nah gitu dong senyum kan cantik." "Kalo lagi nangis kayak tadi jelak ya?" Tanya Zelin ketus "Aku gak bilang gitu lohh." "Tapi mengarah kesana kan?" "Enggak Zelin kamu tuh udah dasarnya cantik jadi mau lagi ngapain aja tetep cantik. Cuma aku gak suka aja liat kamu nangis-nangis kayak tadi. Ada apa sih Zelin?" Tanya Vathan sudah tidak tahan untuk tidak bertanya, karena sejak dirumah ia terlalu penasaran dengan penyebab Zelin menangis pilu. "Gak apa-apa kak lagi pengen aja." "Pengen kok nangis, yang bagusan dikit kek." "Contohin dong yang bagus tuh pengen apa?" Tanya Zelin "Pengen jadi pacar aku misalnya. Hahahahaha,,," "Ih Ketua Osis Mallory tukang modus." Sahut Zelin seraya memukul pundak kanan Vathan "Kok mukul sih? Sakit tau." Ucap Vathan dengan nada dibuat kesal "Ma,,, Maaf,,," Mata Zelin sudah berkaca-kaca karena mendengar nada bicara Vathan yang kesal padanya. Kebetulan saat ini mereka sedang berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah. Vathan menoleh ke sebelah kirinya, memperhatikan Zelin yang sudah menundukan kepala. Dengan cepat Vathan meraih tangan kanan kiri Zelin bersamaan, lalu melingkarkan kedua tangan mungil itu di pinggangnya. "Tangan cantik tuh mendingan buat meluk, jangan dipake buat pukul-pukul. Emang kamu mau jadi petinju?" Ujar Vathan dengan nada yang sangat lembut tidak seperti sebelumnya. Zelin yang masih merasa tak enak hati tangannya melingkar dipinggang lelaki yang bukan siapa-siapanya mencoba untuk melepas pelukannya. Namun dengan sigap sebelah tangan Vathan menahannya "Jangan dilepas aku mau ngebut." Ucap Vathan saat melihat warna lampu lalu lintas sudah berubah kuning dan sebentar lagi akan berubah hijau. Lima belas menit berlalu dalam diam motor Vathan sudah berhenti tepat di depan pintu pagar rumah Zelin. Rumah yang megah dan elegant, sangat jauh berbeda dengan rumahnya yang sangat sederhana. Zelin turun dari motor Vathan, saat ingin membuka Helmnya entah kenapa Zelin merasa sangat kesulitan. Ingin meminta tolong pada Vathan tapi rasanya sungkan dan ragu. Vathan yang masih memperhatikan gadis cantik dihadapannya itu berinisiatif untuk membantu. "Kalo gak bisa tuh minta tolong, jangan diem aja." Ucap Vathan sambil membuka helm dari kepala Zelin "Malu.." Cicit Zelin masih menundukan kepala "Malu kenapa sih? Diajak ngomong kok malah nunduk." "Kata Livia pas aku nangis tadi muka ku jelek." "Hahahahaha,, Livia kok di dengerin sih. Kamu slalu cantik, apalagi dimataku kamu paling cantik urutan ketiga dari seluruh wanita cantik yang ada di dunia." "Ketiga?" Beo Zelin "Iya ketiga, yang pertama Ibu kedua Livia." Jawab Vathan dengan senyum berkembang dikedua sudut bibirnya "Jadi aku sama Livia cantikan Livia?" Ceplos Zelin tanpa bisa mengotrol ucapannya "Yaiyalah kak Vathan pasti bilang cantikan Livia daripada gue. Livia kan adenya, duuuhhhh Zelin dodol banget sih punya mulut gak bisa di rem." Rutuk Zelin dalam hati pada dirinya sendiri "Pengennya kamu diurutan kedua tapi takut Livia ngambek, kan horor kalo dia ngambek." Ucap Vathan sambil bergidik ngeri membayangkan adiknya marah "Udah ah kak modus mulu dari tadi nanti aku baper lohhh." "Emang tujuannya begitu." "Iiihhhhh dasar ya, mana ketua osis yang katanya kalem dan dingin. Kok sekarang malah modus mulu." "Aku kayak gini cuma depan kamu, bahkan depan Livia atau ibu aja aku gak pernah." Ucap Vathan jujur "Masa?" Tanya Zelin meyakinkan "Iya bener, yaudah sana masuk udah malem." "Kak Vathan gak mau mampir dulu?" "Kapan-kapan aja ya." "Yaudah aku masuk ya, kak Vathan hati-hati dijalan." "Iya cantik, perhatian banget sih calon pacar." "Ih apaan sih." "Aku pulang dulu ya, kamu jangan nangis lagi." Pamit Vathan sudah bersiap untuk meninggalkan rumah Zelin "Iya kak, sekali lagi makasih ya. Oya besok Livia mau main kesini, kalo gak keberatan dan gak ada acara kakak ikut kesini juga ya. Gantian kita makan siang disini, tadi kan udah dirumah kalian." "Oke siap princess. Bye." Vathan pun meninggalkan Zelin yang masih mematung di tempatnya tadi berdiri. Sampai motor Vathan menghilang dari pandangan baru ia melangkahkan kakinya masuk melewati pagar rumahnya yang sejak tadi sudah dibuka oleh satpam yang bekerja dirumahnya. Senyum menghiasi wajah tampan Vathan, mengingat semua yang baru saja terjadi seperti mimpi. Vathan terus saja bertanya-tanya pada dirinya sendiri kenapa bisa ia menjadi orang yang beda dari biasanya didepan Zelin. Tapi satu hal yang membuat Vathan merutuki dirinya sendiri sepanjang perjalanan pulang, kenapa ia tidak minta no handphone Zelin. Kan hal yang tidak mungkin ia harus minta pada adiknya yang super rese itu, bisa habis dia di ledek oleh Livia. Tapi yasudah lah besok juga mereka ketemu lagi pikir Vathan, ada acara atau kegiatan apapun besok pasti ia batalkan. Tak mungkin Vathan menghilangkan kesempatan berkunjung kerumah gadis yang sudah mencuri hatinya semenjak pertama kali melihat senyum manisnya. Zelin memasuki rumah yang seperti biasa nampak sepi, ia berjalan menuju dapur untuk menemui Bi Imah. Karena Zelin ingin memberi tahu Bi Imah untuk menyiapkan makanan untuk besok siang. "Non Zelin kok jam segini baru pulang?" Tanya Bi Imah seraya memberikan segelas air mineral "Iya Bi aku abis belajar dirumah temen, soalnya banyak materi yang aku belum paham." Jawab Zelin setelah meminum air yang diberikan Bi Imah "Pulang naik apa?" "Naik motor dianter kakaknya temen." Jawab Zelin santai "Tumben mau naik motor non, biasanya marah-marah." "Ih seru ternyata bi naik motor, anginnya angin langsung dari alam." Ucap Zelin antusias "Iya apalagi yang boncenginnya cowok ganteng ya non." Goda Bi Imah "Ih gak gitu juga kali bi." Jawab Zelin ketus "Non udah makan malem?" "Gak laper bi, nanti kalo laper aku bilang kok." "Yaudah jangan sampe gak bilang ya kalo laper, gak usah coba-coba masak apapun di dapur." Ucap Bi Imah dengan nada penuh ancaman "Iya gak akan bi, oiya aku hampir lupa. Besok tolong masakin makan siang yang enak-enak ya bi. Temen aku gantian yang kesini besok." "Mau di masakin apa?" "Apa aja terserah bibi." "Oh yaudah, berapa orang non temennya?" "Dua orang bi, besok temen aku kesini sama kakaknya. Zelin ke kamar ya bi." "Iya non." Zelin pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju lantai dua rumahnya, sampai didalam ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi dan sudah memakai piyama, Zelin langsung merebahkan diri dikasur. "Kak Vathan modusin gue mulu tapi gak minta no handphone. Dasar aneh." Monolog Zelin dalam hati dan tak lama gadis itu pun memejamkan matanya, tenggelam dalam tidurnya. Mengistirahatkan badan dan pikirannya yang rasanya sangat lelah hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN