Bagian 16 || Bali ||

1144 Kata
Sampai di Bali, semuanya langsung cek-in hotel. Yuki dan Leon datang belakangan. Mereka masih asik berbincang bersama dengan para petinggi menteri yang lain.Leon nampak sangat posesif pada Yuki. Terlebih ketika melihat dengan jelas, tatapan tertarik dari petinggi kementrian Bali. Leon mendengkus keras, ia membenci pria yang tertarik dengan Yuki. "Ahh, perkenalan dulu nih. Gue Nauval!" "Leon, dan dia Yuki calon ibu dari anak-anak gue!" Nauval menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu menatap Yuki yang hanya tersenyum padanya. "Yuki ya?? Yuki aja atau Yuki kato?" Kekeh Nauval. Leon makin panas, andaikan ini bukan pertemuan resmi. Sudah ia tarik Yuki dari Bali ini. Lebih baik nongkir di cafe Frans. "Hanya Yuki aja, belakang nya Yuki punya Leon!" Kesal lelaki itu. "Laki Lo posesif banget Yu!" Yuki hanya mengedikkan bahunya cuek. "Udah Yok, kita langsung cek-in hotel aja!" Seru Nauval membantu Yuki membawa tas nya. Leon geram. "Selamat datang di hotel Ngurah Rai Bali, ini kunci kamar anda!" Ucap resepsionis itu ramah, sambil memberikan tiga kunci berurutan. Leon langsung menyambar kuncinya, memperhatikan nomor kamar mereka lalu mulai tersenyum licik. Ia memberikan Yuki kamar nomor 19, lalu dia nomor 20, lalu ia menyerahkan kunci kamar nomor 30 pada Nauval. "Wah, gak salah ngasih kunci kamar inih??" Kekeh Nauval. Ia lalu berjalan duluan, meninggalakan Leon yang nampak bingung dan Yuki yang sudah otw duluan. "Apa maksud nya?" Seru Leon bingung. "Jelas lah, kan kamar gue sebelahan sama Yuki dong. Orang nomor 19 20, dia kan nomor 30. Jauh dong!" Guman Leon. Ia lalu menarik kopernya lalu mengejar Yuki. *** "What the??? Apa maksud nya?? Kalian ini tidak benar, ini penipuan!" Leon memarahi resepsionis yang tadi memberikan kunci kamar kepadanya. Bukannya malah dekat dengan kamar Yuki, ia malah beda dua kamar. Sedangkan Nauval yang tadi ia beri nomor 30 malah bersebelahan dengan kamar Yuki. Dan parahnya, mereka satu ballroom! Astagah, apa-apa ini?? Nauval yang keluar dari ruangan nya hanya terkekeh seolah mengejek Leon. Banyak resepsionis yang berlalu lalang di koridor lantai 4 menatap iba resepsionis yang dimarahi Leon. "Maaf pak, ini memang sudah sistem yang mengatur. Bukan saya!" "Diam kamu, kamu mau saya tuntut huh?" Seru Leon makin murka. Yuki yang sedari tadi hanya diam, menghela nafas malas. Emang, apa bedanya jika beda dua kamar dari kamarnya?? Leon ini memang, sungguh keterlaluan. Ia mendekati Leon, lalu mengelus punggung nya. "Jangan dimarahin bang!" Ucap nya lembut sambil memegang pinggang Leon. Leon diam seketika Ia menarik Yuki memasuki kamar gadis itu. Nauval yang melihat mereka menaikkan alisnya penasaran. Tapi bodo ah, perut nya sedang lapar. "Kenapa harus marah?" Seru Yuki sambil mendengkus. "Paan sih? Tadi aja sok lembut, sekarang cuek macam bebek!" "Bang! Masalah sepele gini aja Lo Ampe ngamuk gitu??" "Sepele kata mu?? Gue khawatir aja kalo si nauval-nauval tadi itu berbuat buruk!" "Ya udah, tidur di sini aja!" Mata Leon berbinar "Sama kamu kan?" Tanya Leon. "Hmm!" "Yes, bentar! Gue ambilin koper gue dulu!" Yuki mengangguk, Leon langsung pergi dengan semangat. 5 menit Leon kembali lagi dengan kopernya. Menaruh nya di laci lalu mulai membongkar isinya. Sama halnya dengan Yuki, ia juga melakukan hal yang sama. Fasilitas hotel ini memang patut di acungi jempol. Dengan dua bad terpisah, lemari besar dua. Kamar mandi ada dua juga. Wow banget pokoknya. *** "Jadi si bigboss sekamar sama Lo?" Seru Agam kepo. Agam, Bagas dan karin sedang berada di balkon kamar Yuki. Tadi nya mereka heran, kenapa si bigboss yang bukain pintu??? "Hmmm!"ucap Yuki malas. "Astagahh, entar Lo di ena-ena gimana coba?" Tanya Agam heboh. "Yah kalo ena-ena, tinggal nikah!' seru Bagas santuy. "Nikah curut Lo!" Kesal Yuki. Ia kembali fokus ke layar laptopnya. Mereka bertiga masih asik ngegibahin si bigboss. Gak takut apa kedengaran orangnya??Atau memang sengaja begitu?? Pintu balkon sebelah terbuka, Karin Bagas dan Agam langsung menoleh. Sementara Nauval memamerkan senyum mautnya. "Astagah, tamvan banget!" Ucap Karin tidak sadar. Nauval terkekeh. Ia ikut nongkir duduk di samping Yuki. "Hai, gue Nauval!" Agam Bagas Karin Ucap mereka bergantian. Nauval mengangguk mengingat nama mereka, lalu melirik Yuki yang cuek bebek.  "Udah, gak usah diganggu si bos. Ntar laki nya ngambek!" Ucap Bagas mengerti lirikan Nauval. "Laki nya? Emang udah nikah ya?" "Belum sih, tapi si bigboss aja yang klaim kalo Yuki itu miliknya!" Ucap Agam menjawab. "Pantesan!" "Eh, noh kan. Baru aja diomongin udah nongol aja!" Mereka kompak melihat Leon. Astagah, kenapa ketika Leon memakai celana pendek aura ketampanannya langsung naik drastis. Leon diam, ia menggeser tempat duduk Yuki. Lalu mengambil duduk di sampingnya. Posesif sekali. Yuki tidak protes ketika Leon memindahkan tempat duduknya. Tidak membantah ketika Leon duduk di sampingnya sambil memeluknya.Ia tetap fokus dengan game di gandphone nya.  "Astagah boss, posesif amat sama si Yuki!" Geram Karin "Kenapa?? Lo mau gue pecat??" "Nauzubillah, enggak bos enggak. Ampun deh!" Ucap Karin "Yu, boleh minta nomor Lo ngak?" Ucap Nauval tiba-tiba. "Enggak!" Bukan Yuki yang jawab, tapi Leon. "Lo siapanya sih? Laki nya juga bukan!" "Gue suaminya!" "Gak salah lo?" "Gak! Mata Lo aja yang salah kali!" "Nih Val, jangan kasih sembarangan ya!" Ucap Yuki memberikan handphone nya pada Nauval. "Password nya Yu??" "Masih sama Val!" Nauval mengangguk lalu mulai memasukkan password handphone Yuki. Leon langsung menatap Yuki curiga. Ini, si Nauval ini siapa nya Yuki?? Kok bisa tau password handphone nya?? Sementara dia saja tidak tau! "Nih Yu, gue udah simpan kontak gue juga!" Ucap Nauval. Ia melirik Bagas,Karin, dan Agam yang memandangnya tanpa kedip. "Kenapa kalian natap gue kayak gitu??" Ucap Nauval. "Lo pacar nya Yuki ya??" Tanya mereka hampir berbarengan. Nauval terkekeh, opini mereka tidak sebenarnya salah sih. Karena sejak dulu sih, mereka juga sering di katakan pacaran. " ngak sepenuhnya salah sih!" Kekeh Nauval. "Maksud nya apa-an? Atau Lo itu tunangannya Yuki?" Ujar Agam Sebenarnya ia juga sudah sempat melihat Nauval dulu. Ketika dia dan Yuki masih kuliah. Waktu itu, Nauval menjemput Yuki dengan motor sportnya yang mengundang perhatian dari semua orang. Dulu, Agam juga kepo banget. Tapi, ya dasarnya Yuki mah diam-diam bebek. Kalo di tanya paling cuman jawab hmmm doang. "Kelihatan banget ya?" Kekeh Nauval. Ia berdiri dari duduknya, lalu berjalan mendekati Yuki. Leon menahan nafas sedari tadi. Apa-apaan ini?? Mengapa dia tidak pernah tau hubungan asmara Yuki?? "Yu!" Ucap Nauval lembut "Hmmm?" "Sini deh! Gue mau jujur sama mereka semua tentang hubungan kita berdua!" "Harus banget ya sekarang mas?" Ucap Yuki. "Iyalah, mas ngak mau nunda lagi. Waktu pas kamu kuliah juga, kamu nya ngak ngasih tau hubungan mu sama mas!" Yuki mengangguk, ia menoleh sebentar melihat ekspresi Leon. Yuki udah mau ngakak, sumpah. Wajah Leon pucat pasi, apalagi dengan keringat nya yang mulai membasahi wajahnya. Setegang itu kah Leon?? "Jadi, kenalin dia ini mas Nauval. Udah kenal sejak baru lahir!" Ucap Yuki setelah berdiri di samping Nauval. Dan mengecup pipi nya sembari memeluk pinggang Nauval. Wajah Leon bertambah pucat, nafasnya tinggal satu-satu. Ia menatap Yuki sendu. Jadi-Yuki sama gue itu......  Hahahah, hayo! Siapanya Yuki hayoo?? Kalo ada yang bisa jawab betul. Gue up dua chapter.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN