Yuki menatap Leon yang berada di hadapannya. Laki-laki itu masih saja melamun, tidak memakan makanannya. Setelah mengiyakan ajakan Leon untuk makan,di sinilah mereka sekarang. Di ruang kerja milik Leon.
"Kenapa hmm??" Ucap Yuki lembut.
Leon menatap nya sendu. Mengehela nafas nya lalu mulai memakan makanannya.
"Lo belum jawab bang!"
"Makan dulu Yu, nanti aku ngomong!"
Yuki diam, membiarkan acara makan mereka hening. Yuki sedikit heran dengan Leon. Mulai dari setelah rapat tadi, ia sama sekali belum mengatakan apa-apa. Bahkan gombalan yang biasanya selalu keluar darinya,kini entah hilang kemana. Tapi! Kenapa Yuki jadi peduli ya?? Wahh, parah ini. Dengan segera Yuki membuka kotak nasi nya, memasukkan bekal yang sudah di siapkan oleh Leon ke dalam mulutnya.
15 menit kemudian.
Leon masih saja bungkam. Yuki tetap hening. Ingin pergi, namun Yuki masih sedikit penasaran mengapa Leon tiba-tiba berubah diam.
"Apa gue keterlaluan ya Yu?"
Yuki menatap Leon, lalu menaikkan sebelah alisnya.
"Itu, apa gue keterlaluan langsung mecat mereka??"
Ohhhh, ternyata masalah tadi toh. Ehmm, gimana ya?? Kalau boleh jujur, Yuki sebenarnya mau bilang. Leon emang kejam dari dulu.
Tapi, itu emang tindakan yang paling tepat. Yang bersalah harus tetap di hukum, yang korupsi harus terkena dampak dari perbuatan mereka.
"Kenapa harus nanya?" Seru Yuki akhirnya.
Leon kicep, lalu menatap Yuki kesal. Kan, hancur sudah image nya tadi. Leon mati-matian untuk tidak menggoda Yuki yang sejak tadi menatapnya. Ia berusaha agar akting kecewanya berhasil merebut perhatian Yuki dan setidaknya berusaha menenangkannya, tapi apa coba. Yuki malah balik bertanya.
"Hmm, udah deh. Ancur juga akting gue!"
"Akting? Jadi ini akting ya bang!" Kesal Yuki. Padahal kan, emang ia simpatik sama Leon. Tapi emang dasar menyebalkan.
"Kok kamu gak bujuk gue makan sih?" seru Leon merajuk
"Kalo lapar dimakan juga kan?" jawab Yuki dengan wajah datar nya
"Ahh, menyebalkan!"
"Hmm! Udah deh bos. Gue pergi dulu ya! Ini tugas gue masih banyak!"
"Yu!!" Rengek Leon berusaha menahan kepergian Yuki.
Yuki menatap tajam sang bos. Ingin mengumpat, tapi Yuki masih takut dengan neraka nanti.
"Tauk ah, gue masih sibuk!"
"Yuuuu!" Rengeknya lagi.
"Apa sih?" Kesal Yuki.
"Jangan ngenit deh sama cowok lain, Lo hanya boleh genit sama gue!"
Baik, Yuki tidak tahan lagi untuk tidak mengumpat. Ia mengancingkan jari tengahnya lalu
"f**k !" Ucap Yuki mengacuhkan jari tengah nya dan menutup pintu Leon dengan kesal. Bahkan Akmal yang ingin masuk ke dalma ruangan Leon berhenti di depan pintu yang baru saja di banting dengan kuat itu. Akmal, sang sekretasi CEO besar itu mengelus pintu di depan nya,
"Untung gue mesen pintu tahan banting, kalo ngak? Pasti udah bolak-balik ganti pintu!" ujar Akmal merasa keren dengan pilihan nya.
Sementara Leon?? Ia tertawa terbahak-bahak mendengar Yuki mengumpat padanya. Ehhh?? Lihat saja nanti, kalau Yuki sudah resmi miliknya, ia akan menghabisi bibir itu ketika mengumpat. Untung juga kalau tiap hari Yuki mengumpat, bisa panjang umur dia.
Ahhh, Yuki emang luar biasa. Kekeh Leon.
****
"Maaf pak, anda ingin bertemu siapa?"
Resepsionis kantor bertanya. Yang disapa cuek-cuek bebek. Tidak terlihat ingin menjawab.
Frans hendak berlalu, namun sang resepsionis malah menahannya lagi.
"Maaf bapak, anda ingin bertemu dengan siapa? Sudah membuat janji?"
"Kepo banget sih Lo!" Kesal Frans.
Sekilas ia melihat name tag gadis yang menghalanginya "Cindy Oktavia" , nama yang bagus. Pikir Frans.
"Hello, bapak yang terhormat?? Mau ketemu siapa??" Kesal Cindy.
"Ketemu bos Lo lah nyet, ngomong ngegas banget sih? PMS Lo?" Kesal Frans tidak sadar diri bahwa dia lah yang ngegas tidak jelas.
"Eh monyet kenderuo, Lo yang ngegas. Di tanya mau ketemu siapa gak di jawab, malah mau main masuk segala. Gue panggil satpam nanti juga!"
"Eh cebol, minggir dah lo?!" Kesal Frans. Masa cowok tamvan sepertinya dipanggil monyet kenderuo sih?? Yang benar saja?
"Bilangin dulu mau ketemu sama siapa Anjir!" Kesal Cindy.
"Eh cebol, mau dipecat Lo ya!"
"Lama banget Lo Frans!"
Frans dan Cindy kompak menoleh ke arah yang sama. Yuki melihat mereka dengan pandangan bertanya.
"Selamat pagi Bu!" Ucap Cindy sedikit gugup. Allamak, ini dia gak salah?? Bos nya yang ternyata mau ketemu sama si monyet kenderuo satu ini. Bisa mampus dia.
"Noh resepsionis Lo yu, main hadang hadang segala!" Seru Frans menunjuk Cindy yang sekarang menundukkan kepalanya.
"Gue yakin Lo gak jawab pertanyaan dia tadi Frans . Udah yok, masuk aja! Oh iya Cindy, kalau sekali lagi ada orang main nyolot masuk kantor. Silahkan lakukan tindakan seperti tadi!"
Cindy terkejut, Frans melongo.
"Eh- i- iya Bu!" Ucap Cindy sedikit gugup. Bukannya kena marah, ia malah diberi apresiasi. Ternyata bukan hanya omong belakang saja kalau bos nya satu ini emang sangat profesional.
"Lah yu, Lo belain dia dari pada gue?"
"Itu emang peraturan di sini Frans. Udah yok, gue pengen ngopi!" Ucap Yuki mendahului mereka berdua.
Cindy terkikik tak jelas sambil memandang Remeh monyet kenderuo.
"Apa Lo cebol!" Kesal Frans, lalu berjalan mengejar Yuki. Ia sangat kesal dengan gadis cebol itu.
***
"Lo gak asik Yu, malu gue sama resepsionis Lo!" Kesal Frans menghempaskan bokongnya di sofa empuk milik Yuki.
Yuki terkekeh seolah mengejek.
"Emang Lo punya urat malu Frans? Baru kali ini gue lihat Lo malu!" Seru Yuki terkekeh.
Tak! Sofa bantal lantas mendarat di muka Yuki. Gadis itu malah kembali ngakak. Mengerjai Frans sejak jaman sekolahan emang nikmat kayak ngopi pagi-pagi.
"Babi loh Yu, udah gue bela-belain datang bawa kopi Lo. Malah gini gue, ngenes banget punya temen kayak Lo!" Kesal Frans.
Yuki ngakak lagi
"Kan elo yang salah b**o!"
"Ah, nyesal gue nyet! Diam nih!" Kesal frans. Ia mengeluarkan kopinya lalu memberikannya kepada Yuki. Dari pada terus diketawain lebih baik langsung ditutup aja mulutnya.
Bunyi pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Yuki dan Frans, Ternyata yang masuk adalah Leon. Ia langsung duduk di samping Yuki.
Yuki mesem.
Frans membuang wajah nya.
Bisa ngak sih, Leon gak ganggu aja? Buat badmood aja.
"Nih buat Lo!" Seru Frans pada Leon sambil memberikan secangkir kopi.
Yuki heran
"Tenang Yu, gue emang udah pesanin buat dia!" Kekeh Frans.
"Ahh, malas gue!" Kesal Yuki.
"Gak boleh malas sama masa depan Yu, nanti Lo bakal lihat gue tiap hari. Di ranjang, di kamar mandi, di dapur, di halaman dan di hati kamu!" Seru Leon.
"Muntah gue dengar gombalan Lo!" Kesal Frans.
"Gue bakal orang yang pertama Lo lihat waktu bangun. Jadi nggak usah malas!" Lanjut Leon menghiraukan protesan Frans.
"Eh k*****t, Yu?? Lo ngak geli dengar gombalan dia??"
"Udah kebal Frans, orang tiap ketemu. Every lah pokoknya. Kerjaannya ngegombal Mulu!" Seru Yuki cuek bebek.
"Pantesan gombalan gue gak mempan sama Lo!"
"Kan every udah dengar!" Kekeh Yuki mengabaikan Leon.
Leon mengembang kempiskan hidung nya, apa-apa ini?? Mengapa ia jadi di abaikan??
Ia menatap Frans tajam. Baik, sepertinya laki-laki itu harus di kasih pelajaran karena dengan beraninya merebut perhatian Yuki darinya.
"Lo!!!"
Belum sempat Leon berdiri, Yuki sudah lebih dulu memegang tangannya lalu menggelengkan kepalanya.
Seketika, amarah Leon hilang entah kemana. Lalu lanjut duduk di samping Yuki sambil merangkulnya dari samping.
Sementara Frans?
Melongo dengan mulut nya yang terbuka.
***TBC***