"Ck, paan sih Lo? Minggir dikit!"
Frans terkekeh melihat pemandangan di depannya. Ia akui juga, kalau Leon itu adalah tipe lelaki yang akan melakukan segala cara demi mencari perhatian Yuki.
"Gak ahh, kan yang nahan gue buat gak nonjok tuh curut kan elo!" Ucap Leon menunjuk Frans dengan dagunya.
"Eh, Lo mau baku hantam ya??" Kesal Frans.
Yuki malas, kan pasti akhirnya gini. Dia memang sengaja menahan leon, tapi kalau Frans?? Emosinya mudah tersulut.
"Frans, enough!"
Frans diam, ia kembali berbaring di sofa. Lalu menatap Leon benci. Namun tiba - tiba ia teringat sesuatu.
"Yu, itu resepsionis Lo yang tadi masih single gak??"
"Lo mau buat dia target Lo?" Sinis Yuki.
"Kan elo gak mau, yang terpaksa pindah haluan aja!"
"Yuki milik gue! Selamanya akan milik gue" Ucap Leon masih bermanja- manja di lengan Yuki membuat gadis itu sesekali merasa geli.
"Kayaknya sih iya, gue gak pernah lihat dia main cowok!" Seru Yuki.
"Good! Gue beraksi dulu ya beb!"
Frans pergi meninggalkan Yuki dan Leon yang masih betah berada di ruangannya.
"Bos, mau Lo apasih?" Kesal Yuki yang memang sudah merasa tidak tahan dengan tingkah Leon. Belum juga berpisah satu hari sudah begini. Apalagi kalau ditinggal berminggu-minggu?What the hell?? Leon
Pasti bakal menggila.
"Mau gue??" Ulang Leon terdengar misterius. Mendadak Yuki menjadi merinding, ia menyesal bertanya.
"Mau nya hati kamu!" Ucap Leon sambil mengecup pipi Yuki lalu kabur begitu saja.
"Leonnn!" Teriak Yuki kencang, sementara Leon hanya tertawa terbahak-bahak. Bahkan semua karyawan nya sampai terheran melihat sang bos. Meski bukan rahasia lagi di kantor, kalau bigboss nya itu memang bucin nya Yuki. Tapi kali ini berbeda, Leon mana pernah tertawa, tapi ini? Leon malah terbahak-bahak keluar dari ruangan Yuki.
Sungguh sebuah keajaiban
***
"Ada apa pak?" Kesal Cindy saat melihat Frans mendatangi meja resepsionis.
"Nama gue Frans, bukan bapak cebol!"
"Nama gue Cindy Oktavia, bukan cebol dasar monyet kenderuo!"
"Lo makan apa sih??"
"Maksud nya?" Seru Cindy bingung.
"Lo makan apa sih? cara ngomong Lo aja buat hati gue berdesir!"
"Ck, gila Lo kenderuo!"
"Kamu cantik!" Puji Frans tulus.
Blushhh- Wajah putih Cindy tiba-tiba saja memerah. Wahh, sialan ini. Kenapa wajahnya tidak tau malunya ya??
"Cie blusingg!" Goda Frans.
"Apaan sih? Sana pergi aja, ganggu orang lagi kerja!" Seru Cindy berharap Frans menurutinya.
"Nanti kangen!"
"Ck, pergi ngak?"
"Cantik-cantik tapi galak, gak ada yang mau nanti!"
"Apaan sih? Gue pasti ada yang doyan kali, dasar kenderuo!"
"Iya, gue emang doyan sama Lo! Udah ya, Abang mau kerja dulu, mau nyari duit,buat mas kawin nya Lo!" Seru Frans lalu berlalu dari meja Cindy.
Wajah Cindy benar-benar memanas. Dasar buaya, pasti kerjaannya cuman ngegoda Mulu. Tapi, Frans emang ganteng kok, pakek banget malah. Tuh kan, otak Cindy emang gak bisa nolak kalo udah ngomongin soal cogan.
"Dihh, habis digodaan nih??" Seru Bagas pada Cindy.
Cindy gelagapan lalu menyapa atasannya itu. Bagas, Agam dan karin hanya terkekeh melihat salting Cindy.
"Bukan kok pak!" Elak Cindy.
"Udah, jangan ngelak Cin. Buruan gih langsung embat aja itu anak orang!" Seru Karin.
"Eh- ck, main embat aja Lo Bu!" Kekeh Cindy.
"Iya Cin, buruan aja. Itu anak jadi penghalang buat si bigboss!" Seru Agam.
"Maksudnya? Wait, jadi si kenderuo itu suka sama si boss?" Tanya Cindy
"Lo bilang apa tadi dia?? Kenderuo??"
Karin, Bagas, dan Agam kompak ngakak lagi. Astagah, sepertinya makanan yang masuk tadi bisa-bisa keluar lagi karena kebanyakan ketawa. Karena emosi lama-lama ada di perut mereka.
"Emang iya, tadi aja masa manggil gue cebol?? Udah itu, tadi pas gue nanya ada urusan apa malah nyolot tuh kenderuo! Ya kesal lah gue!"
Mereka bertiga lagi-lagi ngakak. Nauzubillah emang kelakukan si Frans, emang ya, kawan nya Yuki aka bos nya mereka itu emang gak ada yang waras.
Pernah kemarin, laki-laki yang sepertinya mirip om-om datang ke kantor manggil-manggil Yuki di lobby kantor. Satpam sudah heboh mau ngusir. Dari tampangnya sepertinya bukan orang misqueen, karena jazz yang dipakai pun harganya,widihh selangit. Datang ke kantor juga make mobil Fortuner sport segala, tapi kelakuannya aneh.
Yuki yang kebetulan saat itu ada di lantai dua langsung turun. Semua menatap laki-laki itu yang berbicara ngerap segala. Astagahh?? Udah main teriak-teriak ngomong nya ngerap, apa lagi coba?? Model begituan emang temannya Yuki.
Setelah ngomong panjang lebar, tau- tau Yuki hanya ngangguk-ngangguk aja ngak ngomong.Trus laki-laki itu ngasih buku yang tebal banget sama Yuki. Udah gitu aja! laki-laki itu langsung pergi nanjap gas.
Berita itu sampai juga ketelingan Leon aka bigboss, Leon yang kebetulan baru pulang rapat langsung mendatangi ruangan Yuki dan sepertinya cemburu berat.
Dan setelah diinterogasi, ternyata laki-laki tadi itu adalah teman Yuki waktu SMA. Satu team olimpiade bidang kimia. Kata Yuki orangnya genius banget, gak ada yang bisa nandingi. Trus masuk Harvard jurusan kimia katanya.
Datang ke kantor Yuki cuman mau ngasih buku jitu buat naklukin kampus bergengsi dunia!
What the hell??
Bagas, Karin dan Agam langsung ngakak. Emang, teman Yuki gak ada yang waras.
"Tapi, emang iya ya, itu kenderuo suka sama boss??" Seru Cindy lagi.
"Ck, ya iyalah. Makanya si bigboss over banget. Secara bukan cuman Frans teman nya Yuki. Banyak malah, udah itu laki-laki semua. Tapi sayang, gak ada yang cukup waras!"
Mereka kembali ngakak lagi.
"Omongin atasan ya dari tadi!"
Mereka berempat langsung terdiam. Wah gawat ini, ternyata big boss aka Leon ada di pantri dengan dua cangkir kopi di tangannya. Wajah mereka menunduk, apa itu sejak tadi? Berarti BigBoss mereka mendengar mereka dong daritadi. Gawat ini.
"Eh boss? Di sana ya dari tadi?" Seru Bagas sok akrab.
"Pecat atau potong gaji?" Tanya Leon minim ekspresi.
"Yah boss, maap deh bos!' ucap Karin sambil mengacungkan dua jari nya. Membentuk vish.
Leon terdiam, menatap mereka yang menundukkan kepala. Lalu tersenyum miring, ia punya ide.
"Okeh, gak bakalan deh!" Ucap Leon.
"Aduhh, makasih ya bos!" Ucap mereka kompak.
Leon masih terkekeh jahat, tiba-tiba bulu kuduk mereka naik. Ini pertanda tidak baik jika sang bigboss sudah terkekeh jahat.
"Gak bakal, kalau Lo! Serunya menunjuk Cindy.
"Lo harus rebut perhatiannya itu si Frans. Jangan pernah lagi gue lihat dia ngegoda istri gue!" Seru Leon lalu terkekeh mengejek.
"Gue tinggal dulu, sempat gue masih lihat tuh curut goda istri gue. Kalian gue pecat!"
Leon langsung melangkahkan kakinya ringan lalu berjalan menuju lift.
Semua pandangan kini menatap Cindy iba. Sebenarnya ancaman itu sepertinya hanya ditujukan pada dia seorang.
Kalau sudah begini, mau bilang apa??
***TBC***