Ada kalanya kita bakal
Merasa bahwa pelarian terbaik,Saat jiwa misqueen melanda
Adalah caper sama sultan
***
Agam melajukan mobilnya menuju apartemen Yuki. Ia mendadak kesal karena macet yang tidak pernah bosan- bosannya selalu melanda ibu kota.Hampir 2 jam dilanda macet, akhirnya ia sampai di halaman Yuki. Memarkirkan mobilnya lalu mulai menuju ke dalam.
"Eh Gam?? Ngapain??"
Yuki yang tadi sedang ada di bawah,sedang minum kopi di pantri langsung memanggil Agam yang kelihatan akan menuju apartemen di lantai atas.
"Lo disini?"
"Yup, biasa!Lagi ngopi!"
"Yu, gue bisa minta tolong gak??"
"Ape?"
"Gue mau minjam duit Lo 20 juta, besok gue langsung kembalikan deh!"
"Mau kemana 20jt sekarang?" Heran Yuki.
"Tadi gue nabrak orang yu, untung gak mati. Tapi cedera parah, ya mau gak mau,gue kudu ganti rugi!"
"ATM Lo kosong?"
"Iya, dihabisin sama si lintah darat! Jijik banget gue lihat tuh cewek, murahan banget!"
"Hahaha, makanya Lo sih! Gak bisa nahan hasrat Lo!" Ledek Yuki.
"Ck, buruan deh Yu. Bantuin gue!" Mohon Agam
"Bukannya gue gak mau, tapi ATM gue limited!" Ucap Yuki
"Aduhh, gimana nih caranya?" Seru Agam frustasi. Mau ke bank, tapi ini udah larut, pasti udah tutup.
"Lo minjam ke bang Leon deh, dia di atas!"
Agam menatap Yuki, lalu mengangguk.
"Boleh deh, tapi Lo temanin ya! Plisss!" Ucap Agam.
Yuki mengangguk lalu mulai beranjak dari duduknya sambil membawa kopinya.
"Bukde, ntar Yuyu bayar ya!" Teriak Yuki pada bukde penjaga pantri.
"Iya non!"
Yuki mengikuti langkah Leon menuju apartemen nya. Memasukkan password lalu mulai memasuki apartemen nya.
"Aaaaaa!!" Teriak Yuki lalu tiba-tiba mundur lagi. Bahkan Agam yang hendak masuk, langsung terjatuh karena Yuki tiba-tiba keluar.
"Astagah Yu, Lo kenapa?? Ada setan' di dalam?"
Yuki kicep dan tidak menjawab. Ia mengatur nafasnya lalu membuangnya secara perlahan. Ia merasakan wajahnya yang sudah memerah. Agam menatapnya heran.
"Ck, Lo kenapa sih? Dari mimik Lo, kayak baru lihat cowok telanjang aja!"
"Hehehe, iya emang!" Kekeh Yuki setelah beberapa menit terdiam.
"Jangan bilang Lo lihat bigboss telanjang!"
"Ck, emang siapa lagi orang selain dia di rumah gue!" Kesal Yuki.
"Tapi kenapa Lo harus teriak segitunya? Biasanya juga kalo lihat pemandangan gratis kayak gitu,elo diam-diam aja sambil menikmati!"
"Ini masalahnya di rumah gue b**o!"
"Apa bedanya coba? Pas lihat gue telanjang aja kemarin Lo biasa aja!"
"Lo mah kagak cowok!"
"Astagfirullah, jadi itu tunangan gue yang udah gue hamilin tanpa sengaja masih belum cukup buat bukti gue ini cowok? Apa harus sama Lo?" Tantang Agam.
"Berani nyentuh milik saya barang sedikit pun, saya jamin besok Lo gak bisa lihat mentari lagi!"
Agam relfleks menoleh pada Leon yang tiba-tiba datang lalu menarik Yuki ke sampingnya dan memeluknya.Yuki memalingkan wajahnya dari Leon, ia harus sebisa mungkin menetralkan degub jantungnya yang saat ini tidak bisa di ajak kerja sama. Bukan nya berhenti berdegub kencang, jantung nya malah semakin memompa 3 kali lebih cepat.
"Kenapa tadi Lo langsung keluar pake acara teriak-teriak lagi!" Seru Leon.
"Masih aja nanya!" Kesal Yuki.
"Tapi tadi kan gue make boxer loh Yu, Lo juga harus mulai ngebiasain lihat pemandangan indah kayak tadi!"
"Pemandangan indah gundul mu, minggir ah mau masuk gue!"
Yuki mendorong Leon lalu masuk ke apartemennya diikuti oleh Agam.
"Apa badan gue gak bagus ya tadi, makanya Yuki main teriak-teriak?"
Leon masih saja melamun di depan pintu. Lalu meraba otot bisep nya.
"Gue kan atletis, semenjak kuliah selalu rajin olahraga. Ck, gue tamvan lah. Ahh kayaknya karena terlalu tampan deh!"
Leon mengangguk menyetujui ucapannya barusan lalu masuk ke apartemen Yuki. Ia langsung duduk di sofa single tempat Yuki duduk.
"Astagah bang, itu masih ada sofa. Kenapa harus disini!" Kesal Yuki. Karena sekarang ia menjadi sempit-sempitan.
"Maunya gini!" Seru Leon memeluk Yuki dari samping.
"Ck, udah lah Yu. Langsung terima aja tawaran akad nikah nya si bos!" Kekeh Agam melihat bagaimana sang bos sangat over kepada Yuki.
"Hmmm, iya Yu? Lu mau gue nikahin sekarang??"
"Astagah, lepas in Bang. Kalo enggak, Lo gak boleh tinggal disini!" Seru Yuki menatap Leon tajam.
Leon kicep, ia pindah ke sofa dekat Yuki.
Yuki akhirnya bernafas legah, tapi tetap merasa emosi.
"Mau ngapain Lo kesini malem-malem? Belum dengar omongan gue tadi siang?" Seru Leon saat menyadari Agam yang ternyata berada di ruang yang sama dengannya.
"Ehh, itu bos. Anu--" Agam sangat gugup, ia bahkan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu memberikan kode pada Yuki.
"Ngapain Lo nunjuk-nunjuk Yuki? Mau gue santet Lo?" Seru Leon tajam. Ia memang paling sensitif jika sudah bersangkutan dengan Yuki.
"Bang, dia mau minjam duit Lo 20jt sekarang!" Ucap Yuki lalu mengubah duduk nya menghadao Leon.
"Gak boleh!" Tegas Leon.
"Boss, ini penting banget. Gue tadi nabrak orang, bawa ke rumah sakit harus operasi. Biayanya 20jt lagi yang kurang bos. Pliss ya bos, saya langsung balikin besok!" Mohon Leon.
"Bacod Lo, dari tampang aja gak bisa dipercaya!" Ucap Leon.
"Bang, kasih ya. Gue jaminannya!" Ucap Yuki menyentuh tangan Leon.
Leon menatap lembut Yuki yang memohon. Kan udah di bilang, Leon paling anti kalau Yuki sudah lembut begini. Bisa- bisa langsung nyeret ke KUA ini mah.
"Iya deh, bentar gue ambilin handphone gue!"
"Keren banget ternyata pesona Lo yu!" Ucap Agam setelah Leon menghilang dibalik pintu kamarnya.
"Lo bakal bayar kan?" Seru Yuki mengintimidasi.
"Ya Allah, sumpah ya Yu. Besok bakal langsung gue bayar deh!" Ucap Agam serius.
"Ya haruslah, soalnya bukan uang gue Gam. Kalo uang gue mah, kayak biasa sih Lo bisa ngembaliinnya. Tapi ini beda!"
"Iya Yu, besok pagi! Lo tenang aja!"
"Oke deh!"
"Mana nomor rekening Lo!" Seru Leon yang sudah datang lagi.
Agam menyerahkan nomor ATM nya. Beberapa menit kemudian, biayanya sudah cair.Agam langsung pamit dan menuju rumah sakit. Entah kesialan apa yang melandanya sekrang. Tapi beruntung, ia punya teman seperti Yuki yang memang paling mengerti dirinya.
"Yang, tadi kenapa teriak sih?" Tanya Leon pada Yuki setelah gadis itu kembali lagi duduk di sofa setelah mengantar Agam keluar dari apartemen nya.
Yuki kicep, tidak tau harus bereaksi seperti apa. Baru kali ini ia gugup melihat laki-laki telanjang.
"Badan gue gak bagus ya Yu?? Buat ilfill ya??buat jijik ya?"
Nauzubillah
Yuki langsung menatap Leon yang juga sedang menatapnya. Gak bagus darimana nya?? Harus Yuki akui, dari semua laki-laki yang pernah ia lihat tubuhnya. Hanya Leon yang sangat sempurna.
"Hmm?? Yu, jawab dong! Gue frustasi kalo badan gue emang ternyata jelek dan apa karna badan gue Lo nolak gue?"
Kan pasti ujung-ujungnya lari kesini. Leon emang sialan deh.
"Ehmm, bukan bang. Badan nya bagus kok!" Seru Yuki lalu bangkit dan langsung menuju kamarnya. Ia perlu menenangkan saraf nya yang sepertinya mulai pemalu.
Bisa gawat kalau Yuki jadi cewek yang malu-malu kucing kan? Bukan tipe nya sekali.
***TBC***