Pukul 12.30, Ray kembali menyantap makan siangnya bersama wanita yang baru ditemuinya siang kemarin. Ray tak berselera makan, dia hanya menyantap seperempat makanan yang ada di atas piringnya sebagai pengisi tenaga, setelah itu bermenung, menatap pemandangan di balik kaca restoran yang sama dengan kemarin. Lily diam memperhatikan tingkah Ray. Laki-laki yang ada di hadapannya ini jelas tak menempatkan pikirannya di sini, hanya tubuhnya yang duduk di restoran, pikirannya melalang buana entah ke mana. "Menyisakan makanan itu tidak baik loh, kau harus memahami betapa banyak orang di luar sana yang butuh makan," ingat Lily, melirik makanan Ray yang bersisa banyak. "Kalau kau mau ambil saja, Nona," jawab Ray datar, tak menoleh pada Lily. Lily menghela nafas, meletakkan sendok dan garpunya di

