Bab 9 : Tom Meninggal?!

2035 Kata
'Tommy Noaminaka, meninggal dunia karena kecelakaan.' Nafas Ray dan Najwa benar-benar terhenti membaca berita itu. Tommy Noaminaka dinyatakan tewas 10 menit yang lalu karena mobil yang ditumpangi tertabrak bus wisata yang melaju dengan kecepatan tinggi dan terbalik di belokan jalan saat hendak menuju lokasi penjemputan. Tidak ada korban jiwa yang selamat, sopir Tommy dan sopir bus dinyatakan tewas. Najwa tertekuk, ekspresi wajahnya langsung kosong. Ray masih terdiam, menatap lamat-lamat isi berita itu, kini Ray membacanya sampai selesai. Ray kembali mengusap wajahnya, memberi perintah pada Dram yang sejak tadi sudah bersiap. "Segara siapkan mobil Dram, kita ke rumah keluarga Noaminaka sekarang!" "Siap Tuan!" Dram langsung berlari meninggalkan ruangan, pergi ke tempat parkir, menyiapkan mobil segera. Najwa masih berdiri diam di ruangan Ray, tak berkata apa-apa. Wajahnya benar-benar tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Yeye menepuk pelan bahu Najwa, membuat Najwa tersentak. Yeye tersenyum tipis, sedikit menunjukkan ekspresi berduka cita pada Najwa. Najwa balas tersenyum, memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. "Aku permisi dulu." Najwa melangkah cepat meninggalkan ruangan Ray. "Ye, perusahaan--" "Ya, serahkan saja padaku. Sekarang pergilah." Yeye memotong kalimat Ray, karena sudah tau dengan apa yang akan disampaikan Ray padanya. Ray tersenyum tipis, menganggukkan kepalanya, melangkah cepat meninggalkan perusahaan, menuju rumah duka. "Hari yang penuh kejutan," gumam Yeye sambil melangkah keluar dari ruangan Ray, menutup pintu, duduk di meja kerjanya, kembali fokus bekerja. Mobil Najwa sudah lebih dulu melaju meninggalkan perusahaan, Dram menyerahkan jas hitam pada Ray, Ray menerimanya, mengenakannya sebelum masuk ke dalam mobil. Sedan hitam itu melaju mulus meninggalkan perusahaan untuk ke rumah duka hari ini. Ada beberapa hal yang ingin dibuktikan Ray di sana, di rumah keluarga Noaminaka, keluarga tirinya Najwa. Ray diam menatap pemandangan dari balik kaca mobil, menghela nafasnya setiap beberapa menit. Dram sekali-kali melirik Ray dari balik spion, menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan Ray. "Tolak semua permintaan konsultasi selama seminggu penuh ini Dram!" seru Ray mengingatkan. Ada beberapa urusan yang akan dilakukan Ray setelah ini, Ray juga mau mencari hiburan untuk menenangkan kondisi psikisnya karena aksi tak terduga Tom, kenapa laki-laki itu bisa berubah drastis kurang dari semalam? Ray masih tak percaya kemarin Tom hanya acting, Ray yakin Tom benar-benar serius ingin menebus dosa-dosanya. Dram mengangguk mantap. "Baik Tuan!" Tak perlu urusan ini Tio tau, sebab sejatinya asisten Ray secara tak langsung memanglah Dram, Tio hanya perpanjangan tangan. Tio mana paham urusan administrasi begituan, pertemuan-pertemuan, jadwal dan segala macam bentuk perjanjian atau urusan pekerjaan sampingan Ray sebagai konsultan politik ini, semua itu diserahkan Tio pada Dram, Dram yang menerima segala permintaan konsultasi lalu menyampaikannya pada Tio dan Tio menyampaikan langsung pada Dram. Tentu Ray tau semua itu. Sejatinya dalam pekerjaan, Tio sebatas bodyguard dan sopir, bukan asisten. Mobil masuk ke perkarangan rumah mewah bernuansa istana putih itu. Ray turun dari mobil, disusul Dram yang sudah berdiri 2 jengkal di belakang Ray. Banyak orang-orang penting yang datang di rumah duka ini, pun kerumunan pers yang sudah mengerumuni pintu masuk, berdesak-desakan seperti orang-orang dalam perjalanan jauh yang sudah kebelet mau ke toilet. Mata Ray awas memperhatikan semua orang yang datang bertakziah, seperempat dari orang-orang dengan seragam hitam itu adalah pejabat, orang-orang penting di negeri ini. Ternyata Tom benar-benar terkenal dan diakui oleh para politikus-politikus ini, bahkan sampai menyempatkan diri datang di acara dukanya yang mendadak ini. Dari gerbang tadi, Ray tak melihat mobil Najwa terparkir, mungkin perempuan itu tidak kembali ke rumah ini walau tau kakak tirinya meninggal dunia. Dram membukakan jalan untuk Ray yang terhalang oleh kerumunan wartawan yang ada di pintu masuk. Seseorang menyapa Ray, Ray tersenyum tipis, mengangguk membalas sapaan laki-laki paruh baya itu. Dia adalah bapak walikota, lebih pendek 5 centimeter dari Ray, raut mukanya menyenangkan, dia orang yang penuh dengan kharisma, Ray adalah konsultan politiknya 5 tahun lalu saat dia dicalonkan oleh partainya untuk menjadi walikota. "Apa kabar Ray? Lama kita tidak bertemu." "Seperti yang Bapak walikota lihat, saya baik-baik saja." Ray tersenyum, terus melanjutkan langkah untuk melihat langsung jenazah Tom yang sudah dibawa ke rumah duka. Berbarengan dengan bapak walikota yang juga ingin melihat jenazah Tommy Noaminaka. Di dekat jenazah Tom yang sudah ditutup kain putih itu ada mama tiri Najwa, Eliza Noaminaka, dia menangis terisak, benar-benar seperti seorang ibu yang kehilangan anak tersayangnya. Seorang pemuda 20 tahunan mengusap punggung Eliza, menenangkan wanita paruh baya itu. Dram tau pemuda 20 tahunan itu adalah adik kandung Tom, mungkin usianya tak jauh beda dari Najwa. Di seberang Eliza dan putra bungsunya, ada istri Tom, Anna yang matanya sudah sembab, habis menangis tanpa henti setelah mengetahui kematian suaminya. Ray mendekat, begitupun dengan bapak walikota. Ray tak mau berbicara langsung dengan keluarga Noaminaka, dia menunggu di balik kerumunan tamu yang ada, menunggu seseorang datang untuk melihat langsung kondisi jenazah Tom. Ray melirik jam tangannya, melirik bapak walikota yang ikut-ikutan menunggu seperti dirinya. "Bapak walikota, boleh saya minta tolong?" tanya Ray sopan, tersenyum akrab. "Tentu saja Ray, jika saya bisa, saya akan membantumu." "Dengan posisi terhormat Bapak, keluarga Noaminaka pasti mengizinkan Bapak untuk melihat kondisi jenazah, bisakah Bapak melihatnya? Membantu saya menyingkirkan kain putih itu sebentar?" tanya Ray. Bapak walikota menoleh ke arah jenazah, memperhatikan satu-satu wajah keluarga Noaminaka, kemudian mengangguk, tersenyum tipis. "Baiklah, akan saya coba, Ray." "Terima kasih Pak." Ray balas mengangguk. Bapak walikota mendekati keluarga Noaminaka, berbincang-bincang sejenak, kamera sudah menyorot perbincangan itu. Lantas beberapa menit kemudian bapak walikota mengangkat kain putih yang menutupi wajah Tom, mengangkat seperempat sampai bahu. Ray memperhatikan dengan serius kondisi jenazah sampai bapak walikota kembali menutupkan kain putih pada jenazah. Ray berbalik, dia sudah tidak ada urusan di sini. Mencari alasan kenapa Tom tiba-tiba berubah pikiran itu memang penting, tapi situasi sekarang tidak mendukung, keluarga Noaminaka pasti akan sibuk selama beberapa waktu ke depan. Ada hal lebih mendesak yang harus diselesaikan Ray hari ini. Dram yang sejak dari berdiri di belakang Ray ikut menyusul, melangkah duluan dari Ray, membukakan jalan kembali untuk Ray dari kerumunan tamu yang datang untuk bertakziah dan meliput berita. Sebelum masuk ke mobil, ponsel Dram berbunyi, Dram mengeluarkan ponsel dari kantong celananya, masuk ke dalam mobil, mengangkat telepon dari Tio, kakak besarnya. Mata Dram awas menatap ke depan, melirik-lirik kaca spion, tetap memperhatikan sekitar mobil. "Maaf Kakak besar, Dram saat ini harus--" "Kenapa Tio meneleponmu Dram?" tanya Ray yang duduk di kursi belakang, tiba-tiba. Ray tau yang sedang berbicara dengan Dram adalah Tio, sejak Dram memanggil lawan bicaranya 'kakak besar' hanya Tio yang punya panggilan itu. "Kakak besar sudah sampai di bandara--" "Jemput dia!" seru Ray sebelum Dram menyelesaikan kalimatnya." Dram mengangguk. "Baik Kakak Besar, kami akan ke bandara segera. Tidak kurang 10 menit lagi kami akan sampai." Dram meletakkan ponselnya di kursi samping, melirik kembali kaca spion, berbelok menuju bandara, menambah kecepatan mobil. Ray memainkan ponselnya sejak awal berada di dalam mobil, mengirimi e-mail pada Yeye. Beberapa menit kemudian, Ray mendapat balasan e-mail dari Yeye, menekan link lokasi yang dikirimkan oleh Yeye, menscroll layar ponselnya, menghela nafas ringan. "Setelah ini kita ke Pemakaman Umum Gratin, Dram." "Baik Tuan." Dram mengangguk mantap, mobil sudah masuk ke lapangan bandara, menjemput laki-laki berpostur tubuh tegap yang pulang lebih cepat dari jadwal seharusnya itu. Tepat 9 menit mobil berhenti mantap di lapangan bandara. Pintu mobil sudah diketok seseorang, laki-laki dengan kaos hitam itu sudah masuk ke dalam mobil, melempar tas yang dirangkulnya tadi ke depan, melepas kacamata hitam yang sudah dikenakannya sejak dalam pesawat. "Oh Dram, kau ganti model rambut baru-- eh, kau sekarang udah normal, Dram? Syukurlah--" "Tidak juga Kakak Besar, ini hanya formalitas pekerjaan. Apalagi Kakak Besar sudah kembali, itu artinya besok saya sudah tidak menjemput Tuan Ray lagi," jelas Dram, memotong keterkejutan kakak besarnya. Drain langsung menginjak rem, melaju meninggalkan bandara. "Bukankah kau pergi 3 hari? Kenapa pulang sekarang?" tanya Ray melirik malas Tio. "Ah, pertandingannya berakhir lebih cepat. Makanya aku pulang juga lebih cepat. Omong-omong kenapa mukamu masam begitu Ray? Kau berbuat apa lagi?" tanya Tio yang tidak tau berita dan permasalahan terbaru. Ray hanya mendengus, tidak menjawab pertanyaan Tio. Dijelaskan pun, laki-laki otak otot itu tak akan paham. "Yeye sudah tau kau pulang?" "Dia orang pertama yang kuhubungi. Dram kedua, karena aku butuh jemputan, dan tentu saja, kau tak perlu kuhubungi karena Dram sudah di sampingmu," jelas Tio. "Tapi sayangnya dia hanya menjawab iya, lalu mematikan telepon, tak ada suara senang sama sekali saat mengetahui bahwa suami tercintanya sudah pulang." Tio menghela nafas pelan. Ray mengangguk samar, tau alasan kenapa Yeye tidak terlalu peduli akan kepulangan Tio. Yeye fokus dengan pekerjaan yang diberikan Ray di luar job listnya. "Oh, omong-omong mobil ini akan kemana?" tanya Tio mulai sadar bahwa mobil tidak melaju ke perusahaan, ataupun ke rumahnya. "Kita akan ke pemakaman umum Gratin, Kakak Besar," jawab Dram cepat. Tio diam sejenak, baru kaget. "Kenapa kita ke pemakaman umum?! Apa ada orang mati yang ingin kau temui Ray!?" tanya Tio dengan polosnya, khas dengan wajah tanpa dosa. "Tidak." "Lalu?" Ray melirik Dram dari spion depan yang fokus menyetir. "Kami di sana akan menguburmu," canda Ray, tentu saja Ray memasang wajah serius saat mengatakan kalimat itu pada Tio. Hening. Tio sedang mencerna kalimat Ray. "Untuk apa Ray? Aku bukan orang mati, dan tentu saja aku belum mati." Tio bertanya-tanya, tidak paham sama sekali candaan Ray. Ray mengusap wajahnya, memalingkan muka dari Tio, memilih menatap kembali pemandangan dari balik kaca mobil. Dram diam-diam tertawa kecil. Tio masih berusaha mencerna kalimat Ray. oOo Mobil sudah memasuki area pemakaman umum, sejauh mata memandang, hanya ada jalan luas yang nampak tak berujung, di sekelilingnya dipenuhi rambut hijau, dalam jarak per sekian meter antar rumput, selalu ada batu nisan. "Kalian tunggu di sini saja." Ray melangkah turun dari mobil, meninggalkan Dram dan Tio, membiarkan jas yang sudah dikenakannya sejak pagi tadi tergelatak di dalam mobil. Mata Ray tertuju pada seorang perempuan yang meringkuk di samping makam, duduk diam memperhatikan batu nisan di makam itu. Ketinggian jarak antara jalan ke tanah makam hanya 3 centimeter, bisa dibilang jarak yang cukup tinggi, atau bahkan sebaliknya, jarak yang sangat rendah. Ray terus melangkah, sampai kedua kakinya berhenti bergerak, berdiri 2 meter di belakang perempuan yang masih bermenung memperhatikan batu nisan itu. Ray masih berdiri diam, tidak mau menganggu perempuan yang ingin ditemuinya ini. Sedangkan perempuan kuncir kuda itu masih tetap diam sambil terus memperhatikan batu nisan yang ada di sampingnya. "Kenapa kau kemari?" Akhirnya, pertanyaan yang terlontar dari mulut perempuan berkuncir kuda itu memecah lengang yang ada. "Aku tidak akan menganggu. Lanjutkan dulu saja bermenungmu," ucap Ray. Najwa menghela nafas pelan. "Sejak 20 menit yang lalu kau tiba-tiba berdiri di sana, selama itu kau sudah menggangguku," jawab Najwa datar, berdiri, menepuk-nepuk celananya. "Jadi ada apa? Kau mau menanyakan apa sampai menemuiku di sini? Oh! Atau jangan-jangan kau kangen padaku?! Tapi tolonglah Tuan Ray... kita baru bertemu beberapa jam yang lalu." Najwa tertawa kecil, meledek Ray, memasang kacamata hitamnya. "Kau mau pergi sekarang?" tanya Ray memastikan. Najwa mengangguk pelan. "Iya, aku tak mau berlama-lama di sini, panas. Terlebih, tidak lucu bukan jika aku tidak menghadiri pemakaman kakakku? Padahal aku ada di dalam kota, bisa repot urusannya nanti jika pers tidak menemui keberadaanku di sana." Najwa melangkah melewati Ray, melambaikan tangannya. Ray menatap punggung Najwa yang perlahan demi perlahan menjauh darinya. "Aku bukan orang yang akan memakan kembali ucapanku sendiri!" seru Ray. Najwa kembali melambaikan tangan, siluet Najwa mulai menghilang di mata Ray. Ray menoleh ke batu nisan, membaca nama yang tertulis di batu itu, nama dari orangtua laki-laki Najwa. Perempuan berkuncir kuda itu menemui ayahnya saat hari kematian kakak tirinya, mungkin dia ingin ayahnya tau, bahwa pembunuh kakak kandungnya sudah meninggal dunia. "Tuan Ray, tadi saya melihat nona Najwa," terang Dram saat Ray baru duduk di mobil. Ray hanya mengangguk mendengar pemberitahuan Dram. "Kembali ke perusahaan Dram." "Baik Tuan!" jawab Dram mantap. Mata Tio awas menatap sekitar, memperhatikan sekelilingnya. "Ray! Jangan bilang sekarang kau menerima klien dari dimensi lain?!" tanya Tio kaget, suka asal menarik kesimpulan. Ray malas menanggapi Tio, takut kebodohan Tio menular padanya. oOo Najwa masuk lewat gerbang belakang rumahnya, melewati beberapa asisten rumah tangga di gedung belakang. "Mama sudah pergi ke pemakaman, Bi?" tanya Najwa pada salah satu asisten rumah tangga senior. Asisten rumah tangga itu mengangguk. "Sudah Nona, 20 menit yang lalu," jelas asisten rumah tangga senior itu. Najwa mengangguk paham, melanjutkan langkahnya ke ruang depan, sekedar menampakkan muka pada pers, membiarkan kamera menyorot wajahnya, baru menyusul ke pemakaman tempat jenazah Tom akan dikebumikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN