Yeye menunggu Ray dan Tio dengan wajah masam di mejanya. Dram yang menyadari mood Yeye sedang buruk, refleks mundur. Tidak mau melanjutkan langkahnya, takut dia jadi samsak amarah Yeye.
Tio dengan polosnya memeluk istrinya yang sedang bermuka masam itu. Yeye tidak membalas pelukan Tio, tetap konsisten dengan emosi negatifnya.
"Aku pikir kau akan melakukan sesuatu, tapi kau tidak melakukan apa-apa. Hanya datang mengunjungi rumah duka, lalu pergi ke pemakaman menemui perempuan itu. Kau sama sekali tidak menyelesaikan masalah Ray. Aku benar-benar tak habis paham dengan isi kepalamu itu." Ray tidak menanggapi Yeye, memilih masuk ke ruangannya. Tanpa dijelaskan, Yeye sudah tau apa saja yang dilakukan Ray sejak tadi. Dram diam-diam menyusul Ray dari belakang dengan langkah hati-hati, berusaha menghilangkan hawa keberadaannya.
"Kamu tak perlu marah--"
"Diam!" Yeye melotot kesal pada Tio. Tio langsung bungkam, menunduk, merasa bersalah padahal dia tidak tau ada masalah apa dengan Yeye dan Ray, tapi entah kenapa dia tetap merasa bersalah.
Yeye berdecak sebal, mengabaikan telepon di meja kerjanya yang berdering. Yeye membuka tab-nya, menyuruh Tio pergi dari hadapannya. "Pekerjaanku banyak, jangan ganggu."
Tio tersenyum tipis, mengelus lembut kepala Yeye. "Ya sudah, aku ke dalam dulu." Tio masih berdiri di samping Yeye selama beberapa detik, menunggu respon Yeye. Yeye tetap mengabaikan Tio, tidak menanggapi suaminya itu. Tio memilih masuk ke ruangan Ray, membiarkan Yeye menenangkan diri sendirian dulu. "Senyummu cantik Sayang," goda Tio pada Yeye sebelum membuka pintu ruangan Ray. Padahal jelas Yeye tidak tersenyum sama sekali.
Yeye masih diam, mulai beralih memperhatikan layar laptopnya.
Tio tersenyum tipis, mengangguk pelan. Membuka pintu ruangan Ray, Dram sudah stay di samping pintu, berjaga.
Tio dengan santai duduk tenang di sofa, menyandarkan tubuhnya, menutup mata. Tio memilih istirahat sebentar dulu. Ray tidak mempermasalahkan sikap Tio yang nampak seenaknya, begitupun dengan Dram-- jelas si keling ini sangat menghormati kakak besarnya, melebihi rasa hormatnya pada Ray.
Dan laki-laki berkemeja hitam itu, dia duduk diam di atas kursi kerjanya yang empuk, memperhatikan layar laptop tanpa menyentuhnya, entah apa yang ada dipikirannya saat ini, tidak ada yang tau.
Bunyi telepon genggam Dram mengusir lengang, Dram izin keluar pada Ray untuk mengangkat telepon. Dram mengangguk memberi hormat saat melewati meja Yeye, Yeye terlalu fokus dengan pekerjaannya, mengabaikan Dram yang lewat di hadapannya.
Mendengar kalimat pertama yang diucapkan penelepon, membuat mimik kosong di wajah Dram tiba-tiba jadi serius. Dram mengusap wajahnya, menggeram kesal untuk kemudian menghela nafas pelan. "Baiklah, saya akan segera ke sana! Kalian tetap bertahan." Dram mematikan telepon, berlari kecil ke ruangan Ray, tak lagi mengangguk saat melewati meja Yeye.
Yeye yang mendengar bunyi langkah kaki Dram yang terburu-buru, mengalihkan perhatiannya dari laptop.
Dram melirik Tio yang masih tidur di sofa, melangkah mendekat ke meja Ray. "Maaf Tuan, di markas ada urusan mendesak, saya izin dulu." Dram menjelaskan dengan nada pelan.
Ray menatap wajah serius Dram, jarang-jarang Ray melihat wajah serius ini, tidak ada senyuman di wajah yang biasa dia lihat selalu tersenyum tipis ini. "Sebelum itu, aku perlu tau urusan mendesaknya apa."
Dram kembali melirik Tio yang tetap diam di sofa, tidur pulas. "Markas besar diserang, Tuan," jawab Dram pelan. Tetap tenang, walau di dalam dirinya kini, ia tengah panik.
Ray langsung berdiri dari duduknya. "Kalau begitu tak apa aku ikut kau bukan?" tanya Ray memastikan.
Dram mengangguk, tak punya banyak waktu untuk memikirkan pertanyaan Ray, lagian Ray juga nampak tidak mau penolakan.
"Ye, aku keluar dulu!" seru Ray menjelaskan, menyusul Dram yang sudah berlari duluan meninggalkan ruangan, sempat mengangguk melewati Yeye.
Yeye tidak sempat bertanya, Ray keburu menghilang dari balik pintu. Yeye memutuskan masuk ke ruangan Ray, bertanya pada Tio kenapa dia dan Dram terburu-buru begitu. Namun saat sudah masuk ke ruangan, Yeye membuang nafas melihat suaminya, Tio sudah tidur pulas di sofa.
Kali ini Ray duduk di samping kemudi, lengan kemeja hitamnya sudah naik sampai ke siku. Ray tidak bertanya ada penyerangan apa, siapa yang menyerang, bagaimana situasi markas mafia pimpinan sahabatnya itu sekarang pada Dram, Ray tidak butuh jawaban dan penjelasan itu. Dia ikut Dram hanya untuk bersenang-senang saja, melupakan kasus buruk tadi sejenak.
Sampai di bangunan bercorak eropa klasik itu, Dram membanting setir dengan membabi-buta, menabrak orang-orang yang bukan anggota mafianya-- Dram hafal semua wajah anggota mafia yang ada di rumah ini, bagi Dram mereka adalah keluarganya sendiri.
Mobil berhenti tepat di depan teras, Dram langsung keluar, suara tembakan beruntun terdengar, peluru berkejar-kejaran merarah pada Dram. Dram gesit menghindar, balas menembak dengan pistol yang keluar dari dalam lengan bajunya-- si keling ini selalu membawa pistol kemana-mana. Ray tetap di mobil beberapa detik, mengamati situasi, memicingkan matanya untuk melihat di mana sniper bersembunyi, dan orang-orang yang siap menyerang mereka.
Di bawah kursi mobil ini, Ray tau ada pistol tersimpan-- mobil yang dinaiki dari perusahaan ke markas mafia Godzila ini bukanlah mobil sedannya Ray, tapi mobil Dram, yang dilengkapi dengan kecepatan dan ketahanan mobil yang lebih tinggi dari mobil milik Ray. Ray mengambil pistol, menyisipkannya di atas pergelangan kaki agar tidak menghalangi langkah. Ray tidak terlalu suka bertarung dengan pistol, bagi Ray bertarung dengan pistol itu pengecut, dia mengambil pistol hanya untuk berjaga-jaga.
Saat pintu mobil belum sempat terbuka setengah, peluru berhamburan menembak pintu mobil tempat Ray mau keluar, Ray refleks menutup kembali pintu mobil, menarik nafas. "Sudah kuduga." Ray beringsut mengambil senapan di kursi belakang, menghela nafas kembali. Sniper harus dikalahkan oleh sniper, itu sudah rumusnya.
Ray kembali membuka pintu-- hanya seperempat dibuka. Moncong senapan mengarah ke atas atap, menembak beruntun 2 orang sniper yang langsung tergeletak. Ray langsung melompat turun, mengarahkan moncong senapan ke bangunan tinggi berjarak 900 meter dari tempatnya berdiri saat ini. Ray tersenyum tipis melihat sniper dibalik lensa senapan. "Selamat tinggal sayang."
Peluru bergerak cepat, tak sampai 1 detik, sniper di gedung tinggi itu sudah tergeletak.
Dram sudah masuk ke ruangan sejak tadi, sejak Ray disasar tembakan beruntun, tak ada satu pun peluru yang berhasil mengenai si keling, wajar saja, si keling adalah orang terkuat kedua setelah Tio, tentu intuisinya tajam, gerakannya lincah, ilmu bela dirinya mumpuni, dia bahkan lebih hebat dalam bela diri Ray, dan tentu saja si keling tidak bodoh seperti Tio, otaknya tidak diisi dengan otot saja.
Ray masih memperhatikan sekitar, setelah memastikan aman, baru ikut masuk. "Tidak seberbahaya yang aku pikirkan," gumam Ray mendesis.
Sebelum kaki Ray melangkah masuk ke dalam ruangan yang berisik itu, serangan langsung mendatanginya, laki-laki bertubuh besar tanpa busana di dadanya sudah bersiap sejak tadi, menatap sinis Ray. "Hebat juga kau berhasil menghindari seranganku."
Ray balas menatap sinis, tersenyum. "Tentu saja, aku sudah biasa menghadapi pengecut yang menyerang dari belakang." Ray balas menyodorkan tinjunya, berhasil dihindari oleh lawannya.
"Tenang saja, aku bukan pengecut yang menyerang dari belakang, aku menyerangmu dari samping BODOH!" Laki-laki bertubuh besar melayangkan tinju dan tubuhnya pada Ray, Ray dengan santai menghindar, menunduk.
Laki-laki bertubuh besar itu terjatuh di lantai. Ray tetap menunduk, diam.
Laki-laki bertubuh besar itu kebingungan melihat Ray yang tidak menyerangnya saat pertahanannya kosong.
Ray masih diam, kepalanya tetap tertunduk.
Beberapa detik kemudian masih tidak ada perlawanan, laki-laki bertubuh besar sudah berdiri, nampak mantap dengan kuda-kudanya, siap menyerang atau menangkas serangan tiba-tiba dari laki-laki yang berdiri di hadapannya dengan wajah tertunduk, Ray.
Ray tetap diam, membuat laki-laki bertubuh besar menelan ludah. Dia tidak tau apa yang sedang dipikirkan oleh laki-laki yang berhasil menghindari serangan pamungkasnya, dia hanya tau satu hal, laki-laki yang berdiri di hadapannya ini adalah lawan yang sepadan, atau mungkin lebih kuat lagi. Tapi, laki-laki bertubuh besar berpikir, dia harus menyerang Ray sekarang, pertahanan Ray terbuka lebar, dia menganggap Ray sedang lengah-- pikiran Ray terbang kemana-mana.
"HYYAAAAA!" Laki-laki bertubuh besar itu berlari untuk melempar serangan tinju dan tubuhnya lagi dengan lebih kuat pada Ray, berteriak keras agar powernya semakin meningkat.
Sebelum sempat tinju itu mengenai wajah Ray, tangan laki-laki bertubuh besar itu sudah ditahan Ray dengan kepala masih tertunduk. "Serangan yang bagus, tapi... sayangnya kau sudah membangkitkan amarahku, BODOH!" Ray gesit memutar tangan laki-laki bertubuh besar, membuat bunyi patahan yang keras dari lengan laki-laki bertubuh besar itu.
"HAAAKH!" Suara rintihan laki-laki bertubuh besar memekakkan telinga, sampai orang-orang yang sedang bertarung di ruangan tengah melirik ke depan, beberapa petarung mengambil kesempatan untuk menjatuhkan lawan mereka yang sedang lengah setelah mendengar bunyi rintihan kesakitan tadi.
Bedebak-bedebuk kembali memenuhi ruangan yang sejenak mendadak tenang tadi. Ray tak hanya sampai memelintir tangan laki-laki bertubuh besar, siku kaki Ray mantap menghantam perut laki-laki bertubuh besar, tinju Ray mendarat cepat di bawah dagu laki-laki bertubuh besar, hidangan penutup alias titik K.O adalah di bantingan ala film-film action, sekali mengangkat, lawan langsung terbang ke dinding, membuat dinding berlubang, debu bertebaran di mana-mana.
Ray berdiri diam di tempat, 5 meter jaraknya dari laki-laki bertubuh besar yang berusaha bangkit setelah menghantam dinding. Kepala Ray tertunduk, entah ekspresi apa yang ada di wajahnya saat ini. Laki-laki bertubuh besar berjalan mendekat ke arah Ray, tertatih, menyeka peluh di pipinya. "Setelah berhasil menghindari seranganku, kau juga berhasil menjatuhkanku anak muda, kau mengejutkan. Haha. Orang-orang berserbet naga itu bilang hanya 1 orang yang sebanding melawanku di sini, ternyata masih ada orang lain. Kau bukan anggota mafia ini kan?" Laki-laki bertubuh besar tertawa kecil, tak lagi ada niat bertarung di mukanya.
Ray mengangkat kepala, menghela nafas. "Hei, jangan panggil aku bodoh lagi, atau kupatahkan lehermu!" seru Ray mengancam.
Laki-laki bertubuh besar tertegun, kemudian kembali tertawa. "Karena itu kau mengamuk dan menyerangku seperti setan? Haha. Kau unik sekali anak muda!" Laki-laki bertubuh besar menepuk-nepuk bahu Ray, bersahabat. "Siapa namamu anak muda? Aku seperti pernah melihat wajahmu, tapi entahlah, aku hanya mengingat wajah orang yang pernah mengalahkanku."
Ray menyelidik laki-laki bertubuh besar itu dari atas sampai bawah, menerka-nerka siapa dia, Ray memang tidak mengenal banyak petarung, dia hanya mendengar cerita beberapa petarung hebat dari Tio sehabis laki-laki otak otot itu selesai mendarat, atau saat bosan menemani Ray di ruangannya dengan setumpuk dokumen yang tak ia pahami.
"Kau mungkin melihatku di televisi, berita, koran, internet."
"Oh? Apa kau artis terkenal?!" kejut laki-laki bertubuh besar.
Ray menggeleng. "Aku bukan artis." Ray melangkah lebih jauh ke dalam markas, meninggalkan laki-laki bertubuh besar di ruang depan bersama tubuh-tubuh asing yang sudah terkapar.
"Hei anak muda! Kau tak mau mengenalku?!" tanya laki-laki bertubuh besar sedikit berteriak.
"Tak butuh," jawab Ray datar.
Laki-laki bertubuh besar tertawa gelak. "Aku yakin tak lama lagi kita akan kembali bertemu anak muda!"
Ray hanya diam, menyusul Dram, melemaskan tubuhnya untuk kembali bertarung. Lawan baru sudah ada di depan mata dengan tatapan siap membunuh. Ray tersenyum tipis, bergerak lincah, menghindar, melayangkan tinju, melayangkan tendangan, mendarat di masing-masing titik vital musuh.
Setelah sekian menit bertarung tanpa henti. Ray melangkah ke sebuah pintu sumber suara tembakan beruntun terdengar, tebakan Ray di sana ada Dram, dan ternyata benar, si keling sedang terpojok oleh 4 orang dengan 2 orang mengarahkan moncong pistol ke arahnya, seorang lagi adalah laki-laki yang membungkus wajahnya dengan kain hitam ala ninja dan mengenakan tas samping yang mungkin berisi senjata-senjata yang digunakan seorang ninja, sejak tadi laki-laki itu memutar-mutar bintang ninja dengan jari-jarinya. Dram menelan ludah melihat bintang ninja itu.
Ray tak berniat masuk begitu saja, karena dia tau masuk ke dalam pintu itu sama saja dengan menghantarkannya nyawa. Ray tidak mau mati sia-sia.
Ray menyandarkan tubuhnya ke dinding ruangan itu, mendengar pembicaraan dari orang yang tidak memegang pistol dengan Dram yang terpojok. Dari posisi Dram, Ray bisa menebak, sekali si keling itu melakukan gerakan, kepalanya akan langsung berlubang. Sia-sia.
"Kau masih tidak mau menyebutkan di mana bosmu?!" seru laki-laki paruh baya dengan pakaian tradisional ala kekaisaran Jepang itu, salah satu dari keempat laki-laki yang membuat Dram terpojok, di keningnya ada pita kepala bergambarkan muka naga dengan tulisan kanji Jepang di kiri dan kanan gambar, laki-laki paruh baya itu pimpinan kelompok yang menyerang markas mafia Godzilla ini.
Dram hanya diam, mengamati situasi dengan pakaian yang sudah hancur dan kumuh oleh darah, mungkin karena Dram di serang oleh bintang ninja yang dimainkan oleh laki-laki berpakaian ninja itu.
Ray tidak tau bagaimana situasi di dalam, dia hanya mendengar suara langkah kaki mendekat ke pintu. Ray memicingkan matanya, mengatur nafas, mempertajam indra pendengarannya.
5 detik kemudian Ray tersenyum tipis, mengeluarkan pistol dari pergelangan kakinya, menyodorkan ke arah pintu yang berderet terbuka. Seorang ninja keluar dari ruangan itu, bersiap melempar bintang ninja ke Ray, tapi tangannya langsung terhenti setelah melihat moncong pistol terarah padanya. Jika ia melemparkan bintang ninja pada Ray, hitungan detik mereka berdua akan sama-sama mati.
Ninja serba hitam itu tiba-tiba menghilang dari hadapan Ray, Ray langsung berbalik ke belakang, mendapati ninja di depan matanya. "Hah, aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat. Ninja itu benar-benar hebat ya." Ray tersenyum sinis, menghindari bintang ninja yang terbang cepat ke arahnya, nyaris Ray hampir tak bisa menghindarinya, terlambat 1 milidetik saja, darah akan tersimbah dari leher Ray.