Bab 11 : Pertarungan 2

2208 Kata
Di samping pertarungan mempertaruhkan nyawa yang kini di hadapai Ray dan Dram, situasi berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di Ray's Company. Aktivitas kerja tetap berjalan dengan baik dan lancar, tidak ada bunyi tembakan pistol, langkah kaki yang tergesa-gesa, bunyi benturan sesuatu di lantai dan dinding, bunyi teriakan, dan bunyi layangan senjata, yang ada hanya bunyi keyboard laptop dan komputer, bunyi mesin fax dan mesin print yang sama saja, sekali-kali bunyi dering telepon. "Tiany. Sudah selesai liburanmu?" tanya Yeye melangkah masuk ke sebuah ruangan sederhana dengan ukuran 4×6 meter, di balik pintu tertuliskan 'Bendahara' dan dibawah tulisan bendahara itu tertoreh satu kata nama 'Tiany'. "Saya baru hendak menemui Nona Yeye." Perempuan 32 tahun itu langsung berdiri dari duduknya, tersenyum tipis, menjabat tangan Yeye. "Sudahlah. Aku sudah berada di sini." Yeye meletakkan 3 tumpuk map di atas meja kerja Tiany. "Jangan lupa kirimkan laporan keuangan perusahaan ini padaku. Aku tunggu sampai jam pulang." "Baik Nona." Perempuan dengan kaos santai dan celana kulot itu mengangguk. Pakaiannya memang tidak mencerminkan seorang petinggi di sebuah perusahaan ternama. Dia terlalu santai dan tak peduli penampilan. Perempuan itu adalah Tiany, bendahara di perusahaan Ray's Company, perempuan lajang yang sudah berusia 32 tahun, lebih tua dari Ray, tapi wajahnya masih seperti gadis 20 tahunan, baby face. Tiany adalah perempuan yang jenius, lulusan kampus elit ternama dalam negeri yang melanjutkan gelar magisternya di kampus internasional dengan predikat tertinggi dunia. Tiany bukan direkrut, tapi dia sendiri yang mengirimkan CV ke perusahaan untuk melamar kerja, Yeye yang tertarik pada CV Tiany menyerahkan berkas CV nya pada Ray, dan tanpa pikir panjang Ray langsung menjadikan Tiany bendahara setelah 1 tahun perusahaan Ray's Company didirikan tanpa bendahara. Tapi tentu saja, hasil kerja Tiany, tetap dalam pengawasan Yeye. Tiany jarang datang ke perusahaan, dia pekerja yang diberi hak istimewa. Ray memperbolehkan Tiany yang introvert untuk bekerja di rumah, tak banyak pegawai perusahaan yang mengenal rupa Tiany, hanya kepala bagian dan beberapa staf yang memang berada di lantai kerja yang sama dengan Tiany. Tiany baru balik dari liburannya yang sebenarnya adalah urusan pekerjaan dengan perusahaan properti di luar negeri, karena kesibukan yang ada, Ray dan Yeye tidak bisa menghadiri pertemuan, jadilah Tiany yang pergi. Bagi Yeye, keluar negeri walau dengan kedok pekerjaan, tetap saja namanya liburan. Karena itu Yeye menganggap Tiany berlibur, bukan bekerja. Tiany adalah perempuan yang jujur dan baik, dia juga sopan. Walau memang dia hanya punya 2 ekspresi, yaitu kikuk dan datar. Karena itu Ray tanpa pikir panjang langsung mengangkat Tiany sebagai bendahara, Ray percaya pada Tiany, begitupun Yeye. Tio? Entahlah. Dia tidak peduli dengan apa pun selain pertarungan, ah, dia peduli pada Yeye dan Ray, tak terkecuali Dram, ajudan terbaiknya. Balik ke situasi di markas besar Mafia Godzilla. Ninja serba hitam itu terkejut melihat Ray yang bisa menghindari bintang ninjanya yang melayang dengan kecepatan lebih tinggi dari peluru. Ninja itu tiba-tiba menghilang kembali dari depan Ray, sudah berdiri di samping Ray, melilitkan tangannya ke leher Ray. Ray tercekik, tak bisa menghindar. Ray tak menyangka bahwa ninja ini akan bertarung fisik secara langsung, Ray sempat berpikir bahwa lawan yang dihadapinya sekarang hanya akan menggunakan senjata-senjata uniknya, ternyata tidak, ada juga ninja yang berani bertarung tanpa senjata. Tak bisa bergerak, tak ada celah yang bisa dimasuki. Ray tak dapat melawan, genggaman si ninja ini benar-benar kuat, sekali Ray mendorong tubuhnya ke depan, memberontak, lehernya akan tercekik habis, dia akan sulit bernafas, situasi paling buruknya adalah Ray tak bisa menghirup oksigen yang ada di sekitarnya, lalu mokad sia-sia. Ray berdiri diam, tak mau melakukan gerakan yang cuma-cuma. Si ninja pun diam, nampak waspada dengan Ray. Walau situasi si ninja berkali-kali lipat lebih menguntungkan, dia masih terkejut dengan Ray yang berhasil menghindari lemparan bintang ninjanya. "Kenapa kau lama sekali?" Langkah kaki yang terdengar dari balik pintu terhenti. Mengecek situasi teman ninjanya ini. "Ah, masih ada yang selamat? Kenapa kau masih berdiri di sana? Habisi saja dia langsung! Kita tak punya banyak waktu!" seru laki-laki yang berdiri di bawah bingkai pintu itu, salah satu dari laki-laki yang tadi mengacungkan moncong pistol pada Dram. Si ninja hanya diam, tidak menggubris pertanyaan dan perintah temannya itu. "Hei, kau mau mati?" bisik si ninja pada Ray. Ray tersenyum masam. "Kau sedang menghinaku?" tanya Ray kesal. "Jawab saja pertanyaanku!" seru si ninja kembali berbisik, seperti tidak ingin temannya mendengar. Ray mendengus pelan. "Aku tetap akan menghabisimu setelah ini, pertarungan kita belum berakhir." Si ninja tersenyum tipis-- walau senyuman tertutup oleh masker ninjanya. "Aku akan memukul kepalamu, kau pura-pura pingsanlah, lalu setelah mendengar kode dariku, kau baru masuk menyelamatkan temanmu itu." Sebelum Ray sempat menjawab, si ninja sudah duluan memukul kepala Ray, benar-benar tak penuh belas kasih. Walau tak terima, Ray mengikuti perintah si ninja, pura-pura pingsan setelah kepalanya dipukul. Ray terjatuh ke lantai. Si ninja berbalik, menghampiri temannya yang masih menunggu di bawah bingkai pintu. "Kenapa lama sekali?" tanya teman si ninja yang masih memegang pistol. "Aku sedang butuh pemanasan," jawab ninja singkat. oOo Yeye berdecak sebal setelah mengangkat telepon yang ada di meja kerjanya, ini sudah telepon kesekian ratus kali dari orang asing yang meminta jadwal pertemuan dengan Ray, meminta Ray untuk menjadi menantu mereka dengan kedok kerjasama bisnis. Yeye menghela nafas, kembali fokus ke layar laptopnya. "Sayang," panggil Tio yang sudah selesai istirahat. Tio kebingungan mendapati Ray dan Dram tidak ada di ruangan setelah dia bangun. Yeye menoleh dengan muka masam, masih kebawa kesal berkat telepon tadi. Tio bergidik, salah sangka bahwa istrinya sedang marah padanya. "Apa aku melakukan kesalahan lagi sayang?" Tio mendekati meja Yeye, mengambil tangan Yeye, menggenggamnya. Yeye menghela nafas kembali. "Tidak. Aku hanya kesal berkat telepon dari orang yang mau jadi mertua Ray. Ada apa?" tanya Yeye. Tio mengangguk paham, menghela nafas lega. "Kamu tau di mana Ray dan Dram? Aku tidak melihatnya di ruangan." "Eh? Mereka tidak berbicara padamu sebelum pergi?" tanya Yeye, kaget. Tio menggeleng. "Aku tidak tau mereka pergi ke mana, hanya saja tadi Dram nampak buru-buru dan panik, jarang-jarang aku melihat wajah paniknya. Dia hanya panik saat kamu dalam masalah bukan? Ray pun tadi hanya bilang dia akan keluar dulu, aku tak sempat bertanya karena dia keburu pergi," jelas Yeye. Tio diam sejenak, berpikir. Tio langsung mengeluarkan ponsel dalam sakunya, menghubungi nomor Dram, tidak tersambung. Tio menghubungi nomor Ray, juga tidak tersambung. Tio berdecak sebal, menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. "Sayang, boleh aku pinjam kunci mobilmu-- pinjamkan kunci mobilmu padaku!" pinta Tio dengan muka serius. "Eh? Baiklah." Yeye cekatan mengambil kunci mobilnya dari dalam tas. Tio langsung berlari setelah menerimanya. "Nanti aku kembali!" pamit Tio sambil melambaikan tangannya dari belakang. Yeye hanya menatap heran Tio yang juga nampak ikut buru-buru seperti Dram dan Ray. oOo Ray nampak betah rebahan di atas lantai, baru mulai duduk, pintu ruangan itu sudah sedikit terbuka, hanya 4 cm, tapi itu sudah cukup untuk Ray bisa melihat kondisi Dram yang tersender di balik dinding sebelah pintu. Sekali-kali Ray mendengar suara tembakan dari balik pintu, juga suara makian yang berulang kali dilontarkan untuk Dram. Dram keras kepala untuk tidak memberitahukan lokasi kakak besarnya pada pimpinan kelompok musuh itu. Masih belum ada tanda-tanda kode dari si ninja agar Ray bisa masuk dengan selamat ke dalam ruangan yang penuh dengan suara tembakan dan makian itu-- walau kemungkinan selamatnya hanya beberapa detik, tapi itu sudah merupakan keajaiban. Ray harus masuk untuk memberi Dram kesempatan menyerang balik dua laki-laki berpistol dan pimpinan kelompok musuh itu. Walau kondisi Dram nampak kritis, Ray yakin, untuk menghabisi puluhan musuh lagi, si keling itu lebih dari mampu. Ray melihat ekspresi wajah si keling yang nampak tidak ketakutan walau nyawanya sudah di ujung tanduk, malah tatapan si keling semakin tajam, dia menggeram kesal, peluru yang meleset beberapa centi darinya dan menggores lengannya tak membuatnya merintih kesakitan. Bahkan matanya pun tak berkedip saat peluru melayang ke arahnya. Ray menelan ludah menyaksikan itu. Ray seperti berada di dunia lain melihat adegan di depan matanya kini, walau tidak full HD, tapi ini benar-benar menegangkan. Ray berdiri dari duduknya, mengambil pistolnya yang tergeletak di atas lantai. Ray kembali mengisi peluru ke dalam pistol, menyetelnya, tinggal menunggu kode dari si ninja. Walau Ray tidak yakin sepenuhnya bahwa si ninja ada di pihaknya dan Dram, tapi hanya ini peluang untuk bisa menang, walau kecil kemungkinan. Alasan lain Ray memilih untuk percaya pada si ninja, sebab Ray tak pernah ragu dengan penilaiannya pada orang lain. Entah darimana dia mendapatkan kepercayaan diri seperti itu. Bintang ninja melewati Dram, mendarat ke dinding di luar pintu, terjatuh ke lantai. Ray gesit melangkah ke sisi pintu, Dram menyadari Ray ada di balik pintu, tersenyum tipis. "Oi Pak Tua!" seru Dram pada pimpinan kelompok musuh. "Aku akan memberitahumu posisi bosku," ucap Dram tiba-tiba. Laki-laki paruh baya dengan pita kepala bergambar kepala naga dan bertulisan kanji itu mengernyitkan keningnya, menunggu kalimat terusan Dram. " Di sini!" sambung Ray yang muncul dari balik pintu, tanpa memberi jeda Ray langsung menarik pelatuk pistol, peluru terbang beruntun menjatuhkan kedua laki-laki yang menembaki peluru ke arah Dram sejak tadi. Keduanya langsung terjatuh. Laki-laki paruh baya itu bergidik. " Siapa kau!? Kau bukan Naxotyo!" seru laki-laki paruh baya, pimpinan musuh. "Hei! Kau habisi dia!" seru laki-laki paruh baya pada si ninja. Si ninja mengangguk cepat, melempar bintang ninjanya ke arah Ray. Ray langsung menghindar, menyadari kecepatan bintang ninja sudah menurun, sepertinya si ninja ini sengaja. Dia sudah berkhianat pada pimpinan musuh. Ray terpaksa harus melawan si ninja kembali, Ray sadar ninja yang ada di hadapannya saat ini sudah tidak niat untuk bertarung. Dram berdiri, melangkah mendekati laki-laki paruh baya, pimpinan musuh. "Dengan tubuh seperti itu kau tidak akan bisa menyerangku, rekanmu sebentar lagi juga akan mati." Laki-laki paruh itu tersenyum sombong, yakin sekali dia akan menang. "Sebaiknya kau beritahu lokasi bosmu padaku. Aku akan mempertimbangkan untuk membunuhmu tanpa rasa sakit." Dram meludah mendengar perkataan laki-laki paruh baya itu. Menyeka sudut bibirnya. "Bukankah sudah kubilang? Bosku ada di depan matamu saat ini? Atau karena sudah tua, kau jadi tuli?" Dram tersenyum getir, memberi tatapan menghina pada pimpinan musuh yang nampak geram. Laki-laki paruh baya itu langsung mengarahkan moncong pistol ke kepala Dram. "Berhenti atau kutembak kepalamu!" serunya tanpa rasa takut. Dram ikut menodongkan pistol ke arah gambar kepala naga di pita kepala pimpinan musuh itu. Ray diam-diam memberikan pistolnya pada Dram tadi, jaga-jaga apabila Dram kesulitan bertarung dengan tangan kosong. "Heh." Laki-laki paruh baya itu mendengus melihat pistol di tangan Dram. "Jika kau menembakku, kau juga akan mati." "Tidak masalah. Mau coba?" tanya Dram dengan muka serius. Peluru langsung terbang ke arah Dram, Dram langsung berlari menghampiri pimpinan musuh, menghindari kecepatan peluru yang terarah padanya. Dram melempar pistol dari tangan pimpinan musuh, menempelkan moncong pistol miliknya tepat di kepala musuh. "Sekarang situasi berbalik." "Kau mau mati di sini atau menyerah?" tanya Dram. "Huh. Aku belum mau mati, tapi jika menyerah, itu akan meruntuhkan harga diriku." Laki-laki paruh baya itu menutup matanya, tersenyum tipis. Dram tersentak kaget, langsung mundur, tepat saat itu peluru menembus kaca jendela. Ada sniper. "Aku akan membalas penghinaan ini anak muda!" seru pimpinan musuh, tersenyum ketir. "Sampai jumpa!" bisik si ninja pada Ray. Ninja dan laki-laki paruh baya itu menghilang setelah ninja dengan pakaian serba hitam itu melempar bom asap. Dalam beberapa detik ruangan tempat Dram dan Ray berdiri di penuhi asap, mereka tak dapat melihat apa-apa, hanya melihat kabut putih dan mendengar runtutan bunyi peluru yang menembus kaca jendela. Ray dan Dram tengkurap di lantai, menghindari tembakan sniper. Setelah kabut putih di sekeliling mereka sedikit menghilang, kedua orang itu sudah tidak ada, termasuk kedua laki-laki yang ditembak Ray tadi, semuanya menghilang begitu saja. Ray termenung, tak menyangka adegan yang ada di film-film action Jepang itu benar-benar bisa terjadi di dunia nyata. Siapa si ninja itu sebenarnya? Bagaimana bisa dia melakukan semua ini? Dan kenapa dia menolong Ray? Semua pertanyaan itu melingkup di benak Ray. Dram bangkit setelah runtutan peluru tidak lagi terdengar. "Tuan Ray, Anda tidak apa-apa?" tanya Dram khawatir. "Justru kau yang sedang apa-apa Dram," jawab Ray memperhatikan penampilan si keling dari bawah sampai atas. Dram tersenyum tipis. "Terima kasih Tuan Ray. Dan saya tidak apa-apa." Ray ikut bangkit, menepuk-nepuk lengan bajunya. "Aku akan meminta bayaranmu, jadi bersiap-siaplah. Kau tau bukan? Tak ada yang gratis di dunia ini." Ray melangkah keluar, disusul Dram. "Baik Tuan. Saya akan membalas budi Tuan Ray dengan apa pun!" jawab Dram yakin. "Oh? Apa pun? Kalau begitu kau mau jadi asistenku?" tanya Ray. "Ah, kalah itu maaf Tuan--" "Hahaha. Aku tau, kau tak perlu menolakku terang-terangan begitu." Ray tertawa kecil, sudah tau Dram akan langsung menolak tawarannya, sebab Dram sangat-sangat setia pada Tio. "Anda tidak ingin tau siapa musuh kamu Tuan?" "Tidak perlu. Itu urusan kalian, bukan urusanku. Aku tak mau mencampuri urusan orang lain," jawab Ray datar. "Eh? Bukankah pekerjaan Anda adalah mencampuri urusan orang lain, Tuan?" tanya Dram bingung. Selain pengusaha, Ray adalah konsultan politik, jelas dia mencampuri banyak urusan orang lain. Dram tak bermaksud menyindir Ray. "Itu lain cerita Dram. Lama-lama kau ketularan bodohnya Tio." "Hei, siapa yang kau bilang bodoh!?" seru suara yang sudah dikenal akrab oleh Ray dan Dram itu. Laki-laki itu muncul terlambat. Menatap sebal Ray dan Dram yang berjalan santai menuju pintu keluar. "Selamat sore kakak besar." Dram menunduk pelan, memberi hormat. "Maaf kakak besar, musuh berhasil meloloskan diri." Tio menyapu wajahnya dengan telapak tangan. "Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa markas diserang Dram!?" seru Tio, Mencengkram kerah baju Dram. Marah besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN