Bab 12 : Suasana Rapat

1654 Kata
Ray memperhatikan bagaimana marahnya Tio pada Dram. "Hah, seharusnya kau beritahu aku Dram. Aku sedang kesal karena pertandinganku berakhir dengan cepat, terlebih saat pulang istriku juga tidak menyambutku dengan baik, aku butuh pelampiasan Dram! Tapi kau malah tidak mengajakku! Huh!" Tio menghela nafas. Melepas cengkramannya. "Atau jangan-jangan kau sekarang lebih memihak Ray daripada aku Dram?! kaget Tio. Ekspresi wajahnya langsung cemas. Dram menggeleng tegas tanpa jeda, membuat Ray yang melihat menghela nafas. "Kau kesini dengan mobil Yeye?" tanya Ray pada Tio, menengahi keluh kesah Tio pada Dram-- ternyata bukan marah. Tio mengangguk. "Kau mau meminta kunci mobilnya kan? Ini." Tio melempar kunci mobil Yeye pada Ray. "Sampaikan pada Yeye aku akan pulang malam." "Yah... baiklah." Ray berlalu melewati Tio dan Dram, melambaikan tangan dari belakang. Permasalahan di dunia mafianya Tio bukanlah urusan Ray, Ray tak mau ikut campur dengan dunia sahabatnya. oOo Sampai di perusahaan, Ray meletakkan kunci mobil Yeye di atas keyboard laptop, Yeye mengalihkan pandangannya dari layar ke keyboard. Mengambil kunci mobilnya. "Suamimu titip pesan, dia akan pulang malam Ye." "Apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa kemejamu sobek dan kumuh begitu?" tanya Yeye, menatap Ray dari atas sampai bawah. Mengernyitkan kening. "Ada sedikit masalah, nanti kau juga akan tau. Pekerjaanmu kirim lewat email saja Ye, aku mau pulang, istirahat." Ray melangkah masuk ke ruangannya, meninggalkan Yeye yange menoleh ke arah Ray sejak Ray masuk dalam ruangan. Tak berapa lama, Ray keluar dari ruangannya, sudah mengenakan jas, menutup kemeja hitamnya yang sobek dan kumuh. Ray melambaikan tangan pada Yeye, berlalu begitu saja. Yeye menghela nafas, duduk di kursinya. Mengerutu sendiri. "Selalu seenaknya," gumam Yeye kesal melihat Ray yang santai meninggalkan pekerjaan. Mobil Ray melaju cepat membelah jalanan, hari ini tidak terlalu macet, kendaraan dapat melaju dengan santai dan aman. Sampai di apartemennya, Ray melepas jas dan kemeja sobek nan kumuhnya, melempar di sembarang tempat, langsung merebahkan tubuh di atas ranjang. Ray menutup mata, kelelahan. Esok pagi Tio sudah berada di apartemen Ray, siap untuk kembali menjadi sopir. Ray melirik malas Tio yang push up di lantai apartemennya. Ray melempar kunci mobil ke Tio, melangkah keluar. Tio terpaksa memberhentikan push up nya, menyusul Ray dari belakang. "Hari ini langsung ke perusahaanmu Ray?" tanya Tio melangkah bersamaan dengan Ray. Ray diam sejenak, kemudian mengangguk. "Kata Dram kau memang tidak menerima permintaan konsultasi dulu? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Tio yang fokus menatap jalanan di depan, mobil melaju dengan kecepatan aman. "Hmm." Tio melirik Ray yang sibuk dengan laptopnya dari balik spion, menghela nafas. "Aku baru pergi beberapa hari, tapi sudah banyak info yang terlewatkan, bahkan aku sampai melewatkan musuh yang menyerang markas." Lagi-lagi Tio menghela nafas, pikirannya jadi lelah. "Oh, kau kenal siapa yang menyerang markasmu?" tanya Ray penasaran, sedikit tertarik. "Tentu saja. Dia pimpinan mafia di Jepang, sudah lama menjalin koneksi di negara ini, dan tiba-tiba koneksinya hancur karena kami ambil alih," jelas Tio, terbuka begitu saja pada Ray. "Apa anggota mafianya memang ada ninja?" tanya Ray kembali. Sebenarnya Ray bukan tertarik dengan musuh yang menyerang markas Tio, Ray lebih tertarik dengan lawan bertarungnya kemarin yang merupakan seorang ninja. Tio diam sejenak, mengingat-ingat. "Setauku, tidak ada ninja di anggota mafianya kakek tua itu." Ray mengangguk paham. Berarti ninja yang ditemuinya kemarin itu bukan anggota mafianya musuh. Mungkin ninja dan petarung pertama yang dilawan Ray adalah orang bayaran. Untuk alasannya, entahlah, di dunia hitam ada banyak kemungkinan alasan untuk membantu kelompok tertentu menyerang kelompok lain. Dan alasan terbanyak adalah uang. Di dunia hitam, kekuatan dan uang adalah segalanya. Mungkin laki-laki bertubuh besar lawan pertama Ray kemarin juga membantu kelompok mafia Jepang itu karena punya alasan lain juga, tapi sepertinya dia memang hanya ingin bertarung, tidak terlalu peduli dengan uang. Ray menyadari laki-laki bertubuh besar itu otaknya rada-rada gesrek, mungkin 11 12 dengan otak Tio. Ray menghela nafas mengingat laki-laki bertubuh besar. Ray tidak ingin bertemu kembali dengannya. Sudah cukup 1 orang bodoh di sampingnya. Ponsel Tio berdering, tangan Tio masih memegang setir, dia menepikan mobil, mengangkat telepon. Ray kembali fokus dengan laptopnya, tak mempedulikan mobil yang sudah berhenti. "Bagaimana situasi di sana Dram?" Tio mengangguk, jeda beberapa menit kembali mengangguk. "Kau atur saja, aku tidak mengerti yang begituan." Tio kembali diam, mendengar penjelasan Dram yang sedang berada di Jepang, menemui pimpinan mafia musuh yang menyerang mereka kemarin, laki-laki paruh baya dengan pita kepala bergambar kepala naga itu. "Asal mereka tidak menganggu kita lagi tidak masalah, walau aku rasa lebih baik markas mereka kau hancurkan saja." Setelah beberapa anggukkan lagi, Tio menutup telepon. Memutar setir ke kanan, mobil kembali melaju menuju perusahaan. "Setelah ini kau ada acara lain Ray? Atau apa ada tempat lain yang mau kau tuju hari ini?" tanya Tio. Jari-jari tangan Ray sejak tadi terus menari di atas keyboard, berhenti sejenak saat Tio bertanya tujuan lain Ray hari ini. "Hmm... mungkin ada, setelah makan siang kau temani aku. Nanti aku kabari lokasinya." Tio mengangguk, menginjak pedal gas, mobil melaju semakin cepat membelah jalanan. oOo Pagi ini Ray langsung masuk ke ruang rapat, semua keperluan sudah disiapkan Yeye. Tio ikut masuk ke ruang rapat, bahkan sampai duduk di sebelah Ray, karena bagaimana pun Tio adalah wakil direktur, pemilik saham terbanyak setelah Ray-- walau Tio tak pernah melakukan pekerjaannya sebagai seorang wakil direktur. Dia hanya sibuk mondar-mandir di perusahaan jika malas bersantai di ruang Ray, seringkali menghilang setelah mengantar Ray. Setelah mantap duduk di meja rapat, Tio memasang earphone di telinganya, menghidupkan musik. Bukannya Tio tidak menghargai rapat perusahaan, dia hanya tidak ingin kepalanya sampai sakit mendengar celoteh Ray, Yeye dan kepala divisi lainnya yang hadir. Tiany memang jarang hadir dalam rapat, semua info dan keputusan biasanya di sampaikan langsung oleh Yeye pada Tiany, karena Tiany adalah bendahara yang spesial, dia tidak dituntut untuk terlibat aktif dalam perusahaan. Setelah bermenit-menit duduk di ruang rapat dalam aura yang bagi Tio sendiri terasa mencekam, sebab semua orang memasang wajah serius, tampilan proyektor sejak tadi bergonta-ganti, membuat mata Tio sampai sakit melihatnya. Akhirnya rapat selesai. Bodo amat dengan apa yang mereka bicarakan dalam rapat, Tio mana peduli. Semua karyawan keluar dari ruang rapat setelah Ray yang merupakan pimpinan mereka melangkah lebih dulu, dibarengi Tio. Tio tidak langsung ke ruang Ray, dia berbalik ke parkiran, bosan di perusahaan. "Nanti aku akan kembali setelah jam makan siang," pamit Tio langsung ngacir begitu saja. Ray dan Yeye hanya melongo melihat laki-laki yang otaknya sudah hampir meledak itu karena habis rapat. Walau Tio sendiri tidak mendengar dan memperhatikan dengan baik apa yang dibicarakan dalam rapat, tetap saja aura dalam ruangan tadi menganggunya. Tio membawa mobil Ray ke markasnya, mengecek situasi markas setelah kemarin diserang. Semua anggota berkumpul menyambut kedatangan Tio, beberapa masih di rumah sakit, efek perang habis-habisan kemarin. Selebihnya sudah berdiri dengan gagah, menyambut pimpinan mereka, kakak besar mereka semua, Tio. "Ron, kau ikut aku ke ruang latihan!" Tio langsung melangkah masuk dengan gagah, diikuti oleh salah satu anggota yang dipanggilnya 'Ron' tadi. Laki-laki yang sebaya dengan Dram mengikuti Tio dari belakang, melangkah cepat menyamai langkah Tio agar tidak ketinggalan jauh. "Ada apa kakak besar?" tanya Ron panik, tiba-tiba Tio memanggilnya ke ruang latihan. "Aku jenuh Ron, kau temani aku latihan sebentar," jelas Tio. Langkah laki-laki 28 tahun itu langsung terhenti. "Ta-- tapi kakak besar, sebelumnya maaf kalau saya lancang, ta... tapi, saya tak akan bisa menghadapi kakak besar, mungkin 1 menit saja saya tak akan mampu bertahan." Ron sudah cemas duluan, walau dia anggota terkuat kedua setelah Dram, tetap saja kemampuannya tak lebih baik dari Tio. Kemampuan bela diri Tio itu jauh dari nalar, Tio monster beridentitas manusia, mungkin isi otak Tio itu terserap jadi otot, makanya dia bodoh, tapi kuat sekali. "Kalau begitu kau panggil semua anggota ke ruang latihan." Tio tidak peduli, terus melangkah ke ruang latihan. Ron nampak keberatan, walau semua anggota mereka menghadapi Tio bersamaan, kemungkinan menang hanya 1%, bahkan mungkin kurang dari itu. Tapi perintah kakak besar adalah mutlak, Ron mengangguk. "Siap kakak besar!" Berlari kecil meninggalkan Tio. Tak sampai 1 menit, semua anggota sudah berkumpul. Ron menepuk tangan satu kali, melirik Tio yang sudah berdiri di tengah ruang latihan. "Semuanya! Serang!" seru Ron ikut berlari ke arah Tio. Semua anggota mafia Godzilla menyerbu Tio bersamaan, tak sampai 10 detik, setengah anggota sudah berjatuhan di lantai. Ron menelan ludah, tinjunya berhasil ditahan oleh Tio, di waktu bersamaan, Tio sedang membanting anggota lainnya. 10 detik kemudian, semuanya sudah tumbang, termasuk Ron yang sudah duluan tumbang 5 detik yang lalu. Tio hanya butuh 20 detik untuk menghabisi semua anggota kelompok mafianya. Benar-benar monster. "Kalian! Apa-apain ini?! Kenapa kalian semakin lemah?! Semuanya push up 1000 kali, sit up 1000 kali dan lari keliling ruangan ini 100 kali, harus selesai hari ini. Dan kau Ron! Kau harus lakukan semua itu 2 kali lipat dari mereka semua! Lusa aku akan datang ke sini lagi, kalian harus lebih kuat. Jangan kecewakan kelompok kita. Paham?!" seru Tio garang. Semua anggota berdiri, mengangguk mantap. "PAHAM KAKAK BESAR!" Tepat saat Tio meninggalkan ruangan, semuanya langsung melakukan push up, tak menolak, tak membantah, dan tidak keberatan. Semua anggota Mafia Godzilla tau, bahwa Tio memberikan latihan yang lebih berat dari sebelumnya agar tidak banyak anggota yang berjatuhan lagi jika ada kelompok lain yang menyerang kelompok mereka. Pertarungan di dunia hitam, tidak bisa dielakkan, jadi semua anggota selain harus menjaga kelompok, juga harus mampu menjaga diri mereka sendiri, tidak mempermalukan nama kelompok Mafia Godzilla. Tio mengeluarkan ponselnya dari saku celana, menghubungi Dram yang masih berada di Jepang. "Halo kakak besar," sapa Dram di balik telepon. "Dram, besok lusa setelah kau pulang, anak-anak harus sudah lebih kuat. Berikan latihan yang lebih banyak lagi! Mereka semakin lemah." "Baik kakak besar." Tio mematikan telepon, keliling markasnya, menenangkan pikiran karena masih pusing berkat tampilan proyektor di ruang rapat tadi. Sedangkan di negeri sakura sana, Dram menatap lama layar ponselnya setelah Tio mematikan telepon. "Bukannya kakak besar yang semakin kuat?" gumam Dram dengan mata berbinar-binar, kagum pada kakak besarnya. "Aku juga harus jadi lebih kuat, agar tak mengecewakan kakak besar." Dram mengepalkan tinju. Mengangguk dengan penuh semangat dan keyakinan yang kuat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN