Tio tepat kembali ke perusahaan setelah jam makan siang. Menunggu Ray di bawah tempat parkir, malas masuk ke dalam perusahaan kembali.
"Ray, kau mau kemana lagi?!" seru Yeye melihat Ray yang melewatinya dan mengatakan 'aku pergi dulu' lalu melambaikan tangan dengan santai.
"Aku ada beberapa urusan penting dan mendesak Ye," jawab Ray.
Kening Yeye langsung berkernyit mendengar jawaban Ray. "Sebelum kau menyelesaikan urusanmu yang katanya penting dan mendesak itu, bagaimana dengan publikasi hubunganmu dengan Najwa?" tanya Yeye sudah gregetan karena telepon tidak penting yang menghantuinya masih belum berakhir.
"Ah, itu lupakan saja. Kami sepakat untuk tidak melanjutkan hubungan pura-pura itu. Artinya kami sudah putus tanpa menjalin hubungan yang sebenarnya," jelas Ray langsung melangkah terburu-buru meninggalkan Yeye yang sedikit terkejut, dan Ray memanfaatkan celah itu untuk kabur agar tidak didesak oleh Yeye lagi untuk segera mencari pasangan.
"Ayo Tio!" seru Ray langsung masuk ke dalam mobil.
"Eh kenapa kau terburu-buru begitu Ray? Apa kau sedang dikejar aparat?" tanya Tio bingung melihat Ray yang nampak kehabisan nafas, terengah-engah.
"Cepat saja bawa mobilnya keluar dari sini! Mana tau perempuan itu mengejarku sampai ke sini!" seru Ray membalikkan tubuhnya melihat pemandangan dari jendela belakang mobil.
Tanpa menjawab, Tio langsung memutar setir, membawa mobil keluar dari parkiran perusahaan. Ray menghela nafas lega.
"Perempuan siapa Ray?" tanya Tio kembali.
"Siapa lagi kalau bukan istrimu yang banyak maunya itu," jawab Ray judes. Mulai tak suka lagi dengan Yeye yang mulai menanyai tentang hubungan percintaan Ray, saat berjumpa dengan Ray lagi, Yeye pasti akan mendesak Ray lagi untuk segera memiliki pasangan, kemungkinan terburuknya, Yeye sudah membawa seorang wanita ke perusahaan sebagai jodoh Ray.
Mungkin Yeye asal pilih wanita yang dilihatnya di jalan tanpa tujuan hidup, dan menawari wanita itu untuk jadi istri orang kaya, atau bisa jadi Yeye menarik gembel lalu memolesnya jadi wanita yang bersih dan cantik. Seperti ancamannya pada Ray, di mana Yeye tidak tau menahu jika pasangan Ray adalah seorang gembel.
Ray mengusap wajahnya dengan telapak tangan, menghela nafas memikirkan kemungkinan itu.
"Ke mana tujuan kita Ray?"
"Teater Najwa."
"Eh? Kenapa kau mau ke teater? Mau nonton atau ikut acting?" tanya Tio. "Hobi kau sekarang aneh-aneh saja Ray." Tio menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan hobi baru sahabatnya.
Ray mendengus mendapati reaksi Tio, menghela nafas dengan sangat sabar berkat kebodohan Tio yang amat natural.
Mobil sudah memasuki halaman depan gedung teater besar bertulisan 'Teater Najwa' itu. Anggota teater yang sedang bercakap-cakap di teras depan memperhatikan sedan hitam mewah yang berhenti di depan gedung teater mereka. Memberhentikan percakapan, tercengang menatap laki-laki yang keluar dari mobil. Semakin tercengang setelah melihat laki-laki kedua yang keluar dari mobil. Semua anggota teater itu serempak berdiri, beberapa ada yang langsung berlari menemui kedua laki-laki gagah itu, selebihnya berdiri mematung, masih tidak percaya dengan 2 sosok yang dilihat langsung oleh mata kepala mereka.
"Ray, kenapa seramai ini?!" seru Tio tak suka dikerubungi bak sembako diskon.
"Namanya juga teater, kau pikir ini pemakaman umum?!" seru Ray ikut panik karena tangannya langsung digandeng, jasnya ditarik-tarik, beberapa kamera ponsel mengarah padanya.
"Maaf teman-teman, bisa izinkan kami masuk dulu?" tanya Ray dengan senyum bak salesman yang tidak dapat ditolak oleh target.
"Ah, silahkan masuk Tuan Ray! Tuan Tom!" Kerumunan anggota teater itu langsung beranjak dari muka Tom dan Ray, memberi jalan.
"Terima kasih teman-teman." Ray menunduk sopan, tanpa bercakap lagi langsung melangkah masuk ke dalam gedung teater. Tom menyusul di samping Ray, melirik kiri dan kanan isi di dalam bangunan teater terkemuka ini.
"Hei, kenapa kau ke sini?!" seru perempuan dengan rambut diikat menyerupai model ekor kuda. Najwa. Berkacak pinggang dengan kening terlipat menatap Ray yang berdiri di depannya.
"Aku mau bertemu denganmu. Tidak boleh?" tanya Ray tersenyum tipis, tak memasang wajah bersalah karena datang mendadak, tak memberi kabar bahkan tak meminta izin pada pemilik teater yang kini berada di depannya.
Najwa menghela nafas. "Bukankah hubungan pura-pura itu sudah berakhir? Jadi kau tak perlu payah datang ke sini bukan?"
"Hmm tak payah kok, aku hanya duduk di dalam mobil, dan langsung sampai ke tempatmu ini," jawab Ray santai. Tak peduli dengan Najwa yang sedang menahan amarahnya untuk tidak meledak.
Tom hanya diam memperhatikan, tak tau apa yang kedua orang di depannya ini obrolkan.
"Kau pulang saja, aku tak menerima tamu. Dan aku juga sudah bilang bukan? Lupakan saja semua permintaanku itu, toh bayaran dari permintaanku juga sudah diakhiri."
"Perlu kau tau, aku bukan orang yang mudah lepas tangan loh." Ray menyusul langkah Najwa yang langsung berbalik meninggalkan Ray dan Tom.
"Huh, kau benar-benar keras kepala ya! Kau mau keluar sendiri atau aku keluarkan dengan paksa?!" bentak Najwa. "Aku akan panggil security di sini."
"Panggil saja, aku punya asisten yang bisa membuat semua securitymu gemetaran." Ray tersenyum puas, tak takut, percaya diri.
"Sialan kau! Aku tau akhirnya begini, sebaiknya dulu-dulu aku menyewa petarung kuat untuk menjadi asisten." Najwa mendengus kesal. Dia sudah memperkirakan Ray akan datang ke teaternya bersama Tio, ahli bela diri terkuat sekaligus pimpinan mafia terbesar di negri ini, yang ditakuti bahkan oleh pembunuh bayaran sekalipun.
Tio ikut masuk ke dalam ruangan Najwa bersama Ray tanpa tau tujuannya apa. Tio memilih duduk di meja kerja Najwa. Najwa juga tidak mempermasalahkan Tio yang asal duduk seenaknya di meja kerjanya. Sedangkan Najwa dan Ray duduk di sofa ruangan yang sama.
"Najwa!" Seorang perempuan yang seumuran dengan Najwa tiba-tiba masuk ke dalam ruangan, wajahnya panik. "Tidak apa-apa?!" tanya perempuan itu memperhatikan tampilan Najwa dari atas sampai bawah.
Najwa menghela nafas melihat temannya yang panik. "Hei Sany, kau pikir aku diapa-apakan oleh mereka ya?" tebak Najwa.
"Eh? Bukan ya? Karena aku dengar dari anak-anak, ada orang itu." Perempuan yang dipanggil Najwa dengan Sany tadi melirik Tio yang duduk dengan posisi tangan di depan perut, menatap tajam ke sofa tempat Ray duduk, mengamati dengan pikiran yang kosong.
"Haah..." Najwa kembali menghela nafas, menepuk keningnya. "Tidak, bodoh."
"Syukurlah." Sany mengelus dadanya, lega temannya baik-baik saja. "Boleh aku ikut duduk?" tanya Sany melirik Najwa dan Ray bergantian.
Najwa mengangguk, Ray hanya diam, tidak menjawab.
"Senang bertemu Anda Tuan Ray," sapa Sany ramah. Sebagai seorang aktris, Sany tentu pernah bertemu dan bercakap dengan Ray yang sering hadir dalam acara talk show dan acara lainnya di televisi. Sany tersenyum tipis, sopan-santun pada orang yang punya jabatan.
Ray mengangguk. "Lama tidak melihat Anda Nona Sany."
Sany tertawa canggung, menggaruk-garuk pipinya. "Entah kenapa sejak beberapa bulan yang lalu, saya tidak dapat tawaran main film atau tawaran menjadi tamu di acara televisi lagi Tuan. Jadi sekarang saya hanya tampil di acara teater." Sany menjelaskan tanpa ditanya. Berharap Ray bisa menemukan jawabannya.
"Bukannya itu karena sudah banyak aktris baru yang naik daun dan punya kemampuan serta aura bintang yang lebih besar sebagai pasarnya?" tanya Ray.
Sany hanya tersenyum tipis. "Mungkin memang begitu Tuan." Jelas nampak di wajah Sany ekspresi pilu yang berusaha dia tutupi dengan menunduk.
"Ini terjadi sejak skandal tentang Tom jadi gosip di kalangan masyarat kelas atas. Membuat orang-orang yang dulu menyaksikan dan tau skandal Tom jadi hancur, jika orang itu seorang aktris, maka wajahnya akan langsung hilang di televisi, jika seorang pengusaha, maka bisnis orang itu akan langsung jatuh bangkrut. Jika seorang aparat, jabatannya akan langsung turun, ada juga yang dipecat tidak hormat," jelas Najwa, menatap prihatin Sany. "Dan Sany adalah satu dari beberapa orang itu."
"Apa Tom yang melakukan semua ini?" tanya Ray memastikan. Ray masih tidak percaya bahwa Tom mengkhianatinya.
Najwa diam. Menatap lamat-lamat wajah Ray. "Kau tidak tau?"
"Aku bukan detektif yang tau semuanya Nona." Ray menghela nafas, mengusap wajahnya dengan telapak tangan.