Ray memperbaiki posisi duduknya, seolah sudah mau meladeni drama wanita paruh baya ini. "Kalau begitu, apa Anda tau kondisi teater milik putri tiri Anda sekarang, Nyonya?" Ray memasang wajah serius, seperti seorang reporter yang sedang mewawancarai subjeknya. Eliza Noaminaka mengangguk. "Tentu saya tau Tuan Ray, walau saya bukan ibu kandungnya, saya tetap memperhatikan aktivitas putri saya. Saya menunggu dia menghubungi saya, kami ingin hubungan kami semakin dekat, karena kami sudah kehilangan suami dan orangtua, anak dan kakak, keluarga kami tak boleh renggang lagi." Ray tersenyum tipis mendengar kata-kata manis nan menyentuh yang keluar dari mulut wanita ini. Memang keturunan keluarga politik, olah kata-kata yang dikeluarkan dari mulutnya amat baik dan manis. Lidah menjilatnya sudah t

