Sepagi ini Yeye sudah memasang senyum terbaiknya di depan pintu ruangan Ray. Memeluk satu map kertas berwarna abu-abu muda. Kacamata bingkai merahnya yang dikenakannya itu nampak menampilkan bunyi cling-cling saking berkilaunya. Firasat Dram langsung tidak enak. Dram melangkah mundur pelan-pelan. "Tuan Ray, karena Tuan tidak mau diantar ke rumah sakit, jadi saya izin ke belakang dulu untuk membuatkan kopi racikan khusus saya Tuan, dijamin bikin segar dan bisa membuat semangat, Tuan Ray!" jelas Dram, menggepalkan tangannya, memasang ekspresi meyakinkan. Mengingat Ray yang sejak di apartemen tadi nampak tidak semangat menjalani hidup, ibarat pepatah, hidup segan mati tak mau. Ray mengernyitkan keningnya, menatap heran si keling yang gugup. Karena Ray tidak tau apa yang menantinya di depan-

