Mobil yang dikemudikan Tio melaju dengan anggun meninggalkan gedung teater. Anggota teater berseru kecewa, menghela nafas berat sebab mereka tidak bisa meminta tanda tangan sang petarung terhebat, dan sang laki-laki tampan nan mapan yang nampak menggoda bak cerita-cerita di novel terfamous. Terlebih, kondisi teater mereka sedang tidak baik-baik saja, mereka hanya sibuk berlatih, dan bercakap, tanpa ada harapan untuk kembali tampil di depan banyak orang, semua akses dan panggilan untuk tampil hilang sudah tak bersisa, mereka tetap bertahan di teater, menunggu secercah cahaya keajaiban. "Kita ke mana Ray?" tanya Tio melirik Ray dari balik kaca spion. Sejak masuk ke dalam mobil, Ray sudah fokus dengan layar laptopnya yang menampilkan data dari flashdisk yang tadi diberikan oleh Najwa. "Ke a

