Episode 6

927 Kata
Jam menunjukkan pukul 11.40, Zeline buru-buru pergi tidak sudah berjanji untuk menemui kakaknya siang ini, dia tidak mau terlambat karna gadis itu sangat hafal kalau kakaknya tidak suka telat. Dia berharap kali ini dia tidak akan bertemu Liandra, dia masih sangat malu jika mengingat kejadian itu, bagaimana bisa dia menggoda seorang Liandra. Dia terus berjalan menundukkan kepalanya, berjalan dengan terburu-buru. "Zeline" panggil seseorang menghentikan langkah Zeline, Zeline menoleh kearahnya. "Pak Candra, ada apa pak?" tanya Zeline ramah. "Ah tidak, kau mau kemana?" tanya Candra, dia melihat jam ditangannya "Apa kau lapar?" tanyanya kembali. "Saya,, saya ada janji sama seseorang pak" jawab Zeline sedikit gugup, karna Candra memanggilnya pas didepan ruangan Liandra. Pintu ruangan Liandra, juga sedikit terbuka. Dia tidak mau Liandra sampai mendengar obrolannya dan keluar. "Saya permisi pak" pamit Zeline sopan. "Ok cantik hati-hati" goda Candra. Gadis itu bergegas pergi, dia sudah merindukan kakaknya, dia ingin memeluk kakaknya. Sementara Candra, dia langsung nyelonong keruangan Liandra, ya mungkin hanya Candra yang berani begitu. Candra adalah bagian hidup Liandra, mereka bersahabat sejak kecil. Mama Candra adalah kakak dari papa nya Liandra, tapi Tuhan lebih menyayangi orangtua Candra, Tuhan mengambil orangtua Candra saat Candra masih balita, tepatnya saat Candra masih berusia lima tahun. Ketika itu juga orangtua Liandra mengadopsinya. "Ndra,, kita makan diluar yuk?" ajak Candra setelah berada di ruangan Liandra. "Loe aja, gue masih banyak kerjaan" jawab Liandra yang masih fokus ke laptopnya. "Ya udah kalau gitu, gue cabut duluan, gue ada urusan sama Damar" ujar Candra. "Hhmmmm" jawab Liandra singkat. "Karyawan mana lagi yang loe goda barusan?" tanya Liandra, yang tetap masih fokus sama laptopnya. "Kepo loe" balas Candra, tanpa membalikkan badannya. ======= Di kantor Damar_ gadis itu tiba di kantor Damar semua karyawan menyambutnya dengan ramah, Zeline pun membalasnya tak kalah ramah juga. Gadis itu langsung menuju ruangan kakaknya. Ruang direktur itu ada dilantai 17. Dia sengaja memilih lift khusus untuk direktur karna kalau jam makan siang begini lift biasa pasti antri, karna karyawan pasti pada turun makan siang. Ada rasa sedikit takut dihatinya. Dia sudah membuat kesalahan begitu besar. Jika dia menceritakan semua pasti kakaknya akan marah besar, bahkan bisa jadi laki-laki itu akan membunuhnya. Dia menarik nafasnya dalam-dalam, mengaturnya perlahan sebelum membuka pintu ruangan kakaknya. "Kakak..." teriaknya dan langsung menghambur kepelukan kakaknya, Damar pun membalas pelukan hangat adiknya. Hatinya lega, hatinya senang melihat adiknya baik-baik saja. "Adik nakal, kenapa kau tidak ngabarin kakak" kata Damar sambil mencubit hidung adiknya setelah gadis itu melepaskan pelukannya. "Baterai El lobet kakak, El lupa gak bawa charger" tuturnya dengan manja. "Apa kau sudah makan?" tanya Damar perhatian, Zeline hanya menggelengkan kepalanya "Ya udah kakak sudah pesankan makanan kita makan siang dikantor saja" "Kakak.. maafkan El, El sudah mencoreng nama baik keluarga kita, Zeline sudah menghancurkan kepercayaan kakak, El telah ternoda, El bukan gadis suci lagi kak... El sudah..... " ucapnya dalam hati, gadis itu sebenarnya ingin menyampaikan pada kakaknya, tapi bibirnya tak sanggup berkata, dia tak mampu berucap. Tak lama pesanan yang Damar pesan datang, kakak beradik itu segera melahap makanan itu. Damar sengaja memesankan makanan kesukaan adiknya. Dia tau adiknya sangat doyan ayam bakar, dia bahkan bisa menghabiskan tiga porsi ayam bakar sekaligus. "Ayam bakar kesukaanku, apa kakak sengaja memesankannya untukku?" tanya gadis itu dengan bahagia. "Lalu untuk siapa kakak memesannya kalau bukan untukmu anak nakal" ujar Damar. "Kau tau anak kecil, kakak sudah bersumpah untuk melenyapkan semua orang yang sudah melukaimu jika terjadi apa-apa denganmu" lanjutnya, gadis itu tertawa mendengar sumpah kakaknya. "Terimakasih kakak untuk kasih sayangmu tapi kakak tak perlu melakukan itu, adikmu ini baik-baik saja dan akan baik-baik saja" ucap Zeline, Damar begitu menyayangi Zeline apapun akan dia lakukan demi adiknya biar terkadang sedikit berlebihan. Sedangkan di kantor Liandra, direktur tampan itu masih sibuk menghadap laptopnya, dia tidak sempat makan siang. Hari ini pekerjaannya begitu banyak. Untuk sekedar makan siang pun dia tak sempat. Andai ada seorang wanita mengisi hatinya, seorang wanita yang mengisi hari-hari nya, seorang wanita yang memperhatikannya mungkin dia tidak akan seperti ini. Disaat jam makan siang seperti saat ini ada yang mengingatkannya makan, ada yang menyuruhnya makan. Tapi hatinya masih terlalu beku, belum ada wanita yang mampu mencairkannya. Sudah banyak wanita yang Candra kenalkan padanya, tapi tak ada satupun yang nyangkut dihatinya. Tak ada yang bisa mencairkan hatinya. Entahlah hatinya begitu beku. Hingga suara ketukan pintu menyadarkannya. [......] "Kak... aku balik kekantor dulu yyaa..." ujarnya sembari berpamitan. "Biar sopir yang antar, kakak masih ada pertemuan sama rekan kerja" "Eemmm... gak usah aku naik taksi saja" tolaknya "Apa kau takut rekan kerjamu tau jati dirimu?" tanya Damar serius. "Heem" jawab Zeline sembari senyum menunjukkan gigi putihnya. "Zeline mengapa kau selalu seperti itu, apa kau tak senang menjadi anggota keluarga Permana?" tanya Kak Damar dengan serius. "Kakak bukan begitu, El senang bahkan El sangat senang menjadi anggota keluarga Permana menjadi putri sulung tuan Permana, El mempunyai papa dan mama yang mencintai El dan juga El mempunyai kakak yang sangat tampan yang juga menyayangi El" ujar Zeline. "Lalu?" tanya Damar. "Kak... El hanya tidak mau mereka berteman sama El karna tau status El kak, El hanya ingin mencari teman yang benar-benar tulus" ujar El dengan senyum manisnya. "Baiklah, hati-hati" ujarnya sambil mengelus kepala adiknya, ketika sampai di loby tak sengaja dia bertemu Candra. "Zeline, kamu?" tanya Candra sambil menunjuk kearah Zeline. "Saya... saya... saya habis menemui teman saya pak, permisi" jawabnya sopan sekaligus berpamitan, tak menghiraukan Zeline, Candra langsung keruangan Damar karna memang sebelumnya dia sudah membuat janji sama sang direktur. Tak lama Zeline sampai dikantornya, dia bergegas masuk karna baru jam satu kurang Liandra pasti belum balik dari makan siangnya, pikir Zeline.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN