"Wach... telat ni gue, kayaknya habis ada acara makan-makan ni.." kata Candra setelah duduk di sofa yang ada di ruangan Damar, laki-laki itu hanya tersenyum.
"Bos loe mana?" tanya Damar sambil membersihkan bekas makannya.
"Direktur muda yang satu itu terlalu brow" jawabnya "Direktur yang seperti ini ni yang gue suka, mau turun tangan ngebersihin bekas makannya" lanjutnya sembari senyum kagum, selesai membereskan sisa makanannya Damar mengambilkan minuman untuk Candra.
"Thanks" ucap Candra, "ini gue udah bawain berkas yang loe minta" ujar Candra sambil menyodorkan berkas yang dia bawa.
"Bosmu memang tidak pernah berubah, dia selalu hanyut dalam pekerjaannya" kata Damar sambil menyesap minuman yang tadi dia ambil.
"Ya seperti itu Mar, gue yakin dia pasti sekarang belum makan siang, gue kadang kasihan sama dia, dia itu ganteng, kaya, punya segalanya tapi kenapa dia masih setia ngejomblo" ujar Candra memasang wajah sedihnya, Damar tersenyum lebar mendengar ucapan teman sekaligus rekan kerjanya itu.
"Gue udah berkali-kali ngenalin dia sama temen cewek gue tapi tetep gak ada satu pun yang nyangkut brow, gue takut dia sudah tidak tertarik perempuan brow" lanjutnya yang langsung membuat Damar terpingkal-pingkal
Ketika Zeline hendak masuk ruangannya, ada suara yang memanggilnya, dia sangat mengenal suara itu, suara yang dia hindari. Suara yang tak ingin dia dengar.
"Zeline?" panggil seseorang, suara itu tidak asing baginya, dia sangat mengenali suara itu, dia segera menghentikan langkah kakinya dan membalikkan badannya.
"Siang pak" sapanya ramah sembari membungkukkan badannya.
"Jangan terlalu formal" ujarnya "Apa kamu sudah makan siang?" tanya Liandra.
"Sudah pak" jawab Zeline, "saya permisi dulu pak" lanjutnya, Zeline membalikkan badannya dan hendak meninggalkan Liandra, namun Liandra menarik tangannya dan membuat gadis itu berbalik badan dan memeluk dirinya, tangan Zeline memegang d**a Liandra, badan mereka saling menempel, mata mereka saling bertatap, terdapat ketenangan begitu menatap mata indah Zeline, jantungnya berdetak lebih kencang. Hatinya juga begitu tenang ketika berada didekat gadis itu.
Oohh Tuhan mungkinkah dia telah jatuh cinta dengan gadis ini. Mungkinkah gadis ini mencairkan hatinya. Entahlah... biarlah Tuhan yang tau, yang dia inginkan saat ini hanyalah terus bersama gadis ini, menikmati detik demi detik bersama gadis ini. Tuhan satukanlah mereka.
Tersadar, Zeline memalingkan pandangannya, dia melepaskan tangannya dari d**a Liandra. Dia mencoba melepaskan tangan Liandra dari pinggangnya namun Liandra tambah mengeratkan pelukannya, dia masih ingin terus menatap gadis ini. Dia masih ingin menikmati aroma tubuh gadis ini. Hingga suara deheman seseorang menyadarkannya.
"Eehheemm" Dehem Lira yang membuat Liandra melepaskan pelukannya.
"Maaf pak, saya permisi dulu" ujar Zeline yang dengan segera meninggalkan Liandra "Mari mbak" ujarnya ketika melewati Lira. Liandra, dia tak menghiraukan Lira, laki-laki itu pergi meninggalkan Lira begitu saja.
"Ada hubungan apa pak Liandra sama Zeline, mengapa mereka seintim itu, dari tatapan pak Liandra tadi.... apa mungkin pak Liandra menyukai Zeline?" tanya Lisa dalam hati.
Diruang kerja Zeline, dia segera menyelesaikan semua pekerjaannya karena Minggu ini, Minggu terakhir dia magang di kantor Liandra. Dia tak ingin meninggalkan image jelek di kantor Liandra.
"Zel, jangan terlalu serius kerjanya?" ujar Stela teman satu ruangan Zeline.
"Ech mbak Stela, aku harus selesaikan semua ini mbak, kan ini Minggu terakhir aku magang disini, Minggu depan aku sudah mulai ngampus lagi" ujar Zeline beraturan.
"Yyaa zel, kantor pasti akan sepi gak ada loe dan gue, gue pasti akan sangat kehilangan loe, loe temen yang paling ngertiin gue" kata Stela sedih.
"Kita masih bisa ketemuan diluar atuh mbak"
"Iya zel, atau kalau gak ada jam kuliah kamu sering-sering main kesini yyaa" pinta Stela.
"Iya pasti, aku pasti akan sering main kesini"
Kesini, kekantor ini lagi, bukankah itu artinya dia akan bertemu Liandra kembali, bukankah dia ingin menghindari Liandra, lalu kenapa dia mau main kesini lagi.
_Ketika Candra hendak meninggalkan kantor Damar, Arin datang membawakan cake kesukaan Damar, Damar meminta Candra untuk tak kembali duluan, dia mengajak Candra makan cake yang dibawakan Arin dulu, ya... mereka reunian bertiga. Mereka kembali bernostalgia lagi sambil menikmati cake yang Arin bawa.
Mereka mengobrol sangat seru, sampai tak sadar jam sudah pukul 15.30, Candra segera pamit, dia tak ingin Liandra mengomelinya.
"Gue pamit duluan Mar, Rin?" ujar Candra berpamitan
"Iya... titip salam buat bos loe"
"Hati-hati ya cand" ujar Arin, Candra langsung meninggalkan kantor Damar dan kembali ke kantornya, tadi dia pamit ke Liandra cuma sebentar, tapi sampai sore dia baru balik. Sedangkan di sana Liandra sudah menunggunya sedari tadi. Dia sudah mulai kesal dengan sahabatnya itu. Tak lama Candra tiba dikantornya, dia segera keruangan Liandra untuk memberikan laporan.
Laporan? laporan apa yang ingin dia sampaikan ke Liandra, laporan seputar obrolannya tadi. Karna memang dia dan Damar tidak membicarakan pekerjaan sama sekali sedari tadi. Dia malah asyik ngobrol dan bernostalgia.
Sesampainya didepan ruangan Liandra, dia tidak langsung masuk, dia bertemu Zeline dan dia mengajak ngobrol Zeline sebentar.
"Mau pulang, zel?" tanyanya.
"Iya pak, apa pak Candra baru kembali?" jawab Zeline sembari bertanya.
"Iya aku baru balik, keasyikan ngobrol sampai lupa waktu" kata Candra sambil tertawa, tanpa gadis itu sadari dia pun ikut tertawa, mereka saling tertawa bersama dan melempar candaan.
"Eehheemm" suara deheman seseorang menghentikan mereka.
"Dari mana aja loe jam segini baru balik?" tanya Liandra dengan nada kesal, entahlah hatinya tak suka melihat Zeline bersama Candra, hatinya begitu sakit melihat Zeline dan Candra tertawa bersama.
"Sejak kapan loe disitu?" tak menjawab pertanyaan Liandra dia malah berbalik tanya.
"Saya permisi dulu pak Liandra, mari pak Candra" pamitnya sopan.
"Iya, hati-hati cantik" ucap Candra sambil mengedipkan matanya, Zeline hanya tersenyum melihat tingkah Candra. Zeline, segera melangkah pergi meninggalkan Candra dan juga Liandra.
"Masuk loe" titah Liandra dengan nada kesal, dia merenggangkan dasinya, membuka kancing atas kemejanya, dadanya serasa sakit, hatinya kesal melihat tingkah sahabatnya. Candra yang menyadari itu hanya tersenyum menang. Liandra, kembali duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan Candra, dia membuka lemari es yang ada di ruangan Liandra, dia mengambil dua minuman kaleng, lalu dia memberikannya pada Liandra.
Dia tau sahabatnya itu lagi kesal padanya, maka itu dia tak ingin banyak bicara, dia hanya memberikan minuman itu lalu duduk didepan Liandra. Tapi matanya menjadi membulat ketika melihat leher Liandra. Dia melebarkan matanya memastikan apa yang dia lihat.
"Leher loe kenapa ndra?" tanya Candra yang masih fokus memperhatikan leher Liandra, "Loe habis digigit drakula" lanjutnya sambil menahan tawa, Liandra tak langsung menjawab pertanyaan Candra, dia kembali menyesap minuman yang Candra ambilkan.
"Udah puas loe merhatiin leher gue, udah puas loe ngetawain gue?" tanya Liandra serius, melihat wajah temannya yang sudah sangat serius, Candra menghentikan tawanya.
"Ndra, gue serius perempuan mana yang sudah melelehkan hati loe? perempuan mana yang bisa melakukan ini?" tanya Candra dengan wajah serius, namun Liandra tak menjawab pertanyaan Candra, dia malah tertawa mendengar pertanyaan sahabatnya. Dia tak ingin Candra tau kalau Zelien yang melakukan ini.