Episode 8

1180 Kata
Candra masih enggan mamalingkan pandangannya. Matanya masih fokus menatap Liandra. Dia perhatikan sahabatnya itu. Dia tau laki-laki dihadapannya ini, tidak mungkin dia melakukan hal sehina ini. Apa yang sudah terjadi dengan sahabatnya ini, mengapa ia tidak tau. Kalaupun dia melakukannya, itu bukan dengan sembarang wanita. Lalu siapa? "Anak gadis mana yang udah loe rusak masa depannya?" tanya Candra menatap lekat Liandra, laki-laki didepannya itu tak langsung menjawab, Liandra menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya dengan teratur, dia memalingkan pandangannya, dia tak sanggup menatap tatapan tajam sahabatnya ini. "Anak gadis mana yang udah loe rusak masa depannya, ndra?" tanya ulang Candra. "Cand.... bukan begitu, enggak seperti yang loe pikirkan" kata Liandra, laki-laki ini tau apa yang dipikirkan sahabatnya tapi tidak mungkin dia menceritakan kalau Zeline yang lebih dulu menggodanya, dia bingung saat ini, dua hafal sahabatnya ini, sahabatnya pasti akan mengoreknya sampai habis mengoreknya sampai dia benar-benar mau menjawabnya. "Lalu?" tanya Candra. "Gue gak ingin dia mati" jawab Liandra yang membuat Candra semakin bingung. "Why is Liandra talking clearly?" tanya Candra yang sudah mulai kesal karna Liandra terlalu berbelit-belit. "Dia dikasih obat perangsang" jawab Liandra "Gue gak tau Cand harus gimana saat itu, kalau gue ngibiarin dia, dia pasti akan mati Cand, gue yakin obat yang orang itu berikan dosisnya sangat tinggi" lanjut Liandra mencoba menjelaskan. "Lalu loe memanfaatkan gadis itu?" "Gue... gue udah berusaha menolaknya tapi gue laki-laki normal Cand, gue gak bisa ngendaliin diri gue waktu itu, jadi...." ucapnya menggantung. "Dimana loe lakuin itu?" tanya Candra mengintai. "Apartemen gue" jawab Liandra singkat. "Loe belajar dari mana ndra bisa seganas itu?" tanya Candra menggoda Liandra. "Loe udah seperti detektif aja Cand" ujarnya sedikit kesal. "Hebat loe bro, gue aja yang suka gonta-ganti cewek belum pernah ngerasain s**********n bro, lha loe yang baru digoda begitu aja udah langsung loe hajar aja" "Sialan loe Cand" kata Liandra, dia sedikit lega karna Candra tidak mengoreknya lebih dalam lagi, dia lega karna dia tak menyebut nama Zeline Di sana di rumah Zeline, gadis itu segera membersihkan diri setelah seharian beraktifitas. Dia memandangi dirinya di kaca besar didalam kamar mandinya. Banyak tanda merah didalam tubuhnya. Zeline menyentuh lehernya, leher ini, d**a ini, tubuh ini Liandra sudah menjamahnya, Liandra sudah menikmatinya, kenapa harus dia bukankah harusnya suaminya kelak yang akan mendapatkannya? Zeline terus memandangi dirinya dia merasa jijik dengan dirinya sendiri, dia merasa hina. Bagaimana dia menjelaskan kepada orangtuanya? Bagaimana dia menjelaskan kepada kakaknya? Dia hanya bisa menangis dibawah guyuran air dari showernya. Hatinya hancur, sangat hancur. Dia tak menyalahkan Liandra, dia hanya menyalahkan dirinya sendiri. Selesai mandi, gadis itu kembali berkaca di cermin make up miliknya, Zeline terus memandangi dirinya. "Kenapa aku terlalu bodoh, kenapa aku tak bisa menjaga diri" ujarnya dalam hati, dia masih sangat menyesali kejadian malam itu. Andai waktu bisa di putar dia tak ingin ikut menemui klien itu namun? Makan malam sudah siap, bik Sri memanggil Zeline di atas karna kak Damar dan Arin sudah menunggunya dibawah. Damar hari ini sengaja mengajak Arin makan malam dirumahnya, karna sudah lama mereka tak makan malam bersama. "Kak Arin" sapa Zeline setelah sampai ruang makan, dia segera memeluk calon kakak iparnya itu, dia sangat merindukannya. "Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Arin perhatian. "Aku baik kak, kakak kenapa lama tidak main ke rumah, aku rindu sekali sama kakak?" tanya Zeline dengan manja. "Kak Arin, banyak kerjaan sayang" jawab Arin "Oh ya bagaimana magangmu, apa menyenangkan?" tanya Arin. "Pasti menyenangkanlah sayang, orang Direkturnya ganteng, pasti senang dia tiap hari bisa lihat direkturnya yang ganteng" ujar Damar. "Apaan sih kak Damar" Mereka menikmati makan malam mereka, selesai makan malam mereka mengobrol banyak. Zeline, bercerita tentang teman kantornya, dia juga cerita tentang Candra yang selalu baik padanya, namun dia tak menceritakan Liandra. Dia tak sanggup menceritakan tentang Liandra. Pagi hari di kantor Liandra, siang ini Liandra akan terbang pulau M karna ada pekerjaan yang harus dia kerjakan. Namun dia menyempatkan kekantor, dia hanya ingin melihat Zeline pagi ini sebelum dia terbang ke pulau M, satu Minggu ke depan dia akan sangat sibuk di pulau M dan itu dia tidak akan bisa melihat wajah gadisnya. Gadis itu hari ini berangkat lebih pagi hari ini, karna Minggu ini Minggu terakhir dia di kantor ini. Dia ingin menikmati udara pagi dikantornya, dia ingin ngobrol pagi bersama rekan-rekannya. Dia lagi asyik ngobrol sama teman-temannya, mereka semua sedih karna Minggu depan Zeline sudah tidak bersama mereka. Mereka saling berpelukan. "Zeline, ditunggu pak Liandra di ruangan ya?" ujar Lisa, selesai menyampaikan pesan bosnya dia langsung kembali karna masih banyak berkas yang harus dia urus. "Ada apa zel, pagi-pagi gini pak direktur tampan udah manggil loe?" tanya Stela. "Gak tau mbak" jawab Zeline. "Ya udah gih buruan temuin" suruh Stela yang langsung diiyakan Zeline, dia segera pergi menemui Liandra, sampai didepan ruangan Liandra, mengatur nafasnya terlebih dulu sebelum mengetok pintu. Ttookk tookk ttookk Liandra tau itu pasti Zeline, dia langsung mempersilahkan masuk. Hatinya senang melihat gadis itu ada dihadapannya. Semalaman tidak bisa tidur memikirkan gadis yang ada dihadapannya saat ini. "Ada apa pak Liandra memanggil saya?" tanya Zeline ramah. "Eee... apa kau sudah sarapan?" tanya Liandra. "Sudah pak" jawab Zeline, Liandra berdiri dari kursi kebesarannya, dia menghampiri Zeline yang duduk didepannya, dia berdiri didepan Zeline, tangan yang satu menongkang dimeja dan yang satu pergegang di kursi Zeline. Gadis itu terdiam, dia kaget kenapa selalu seperti ini? kenapa selalu sedekat ini? Mata mereka saling bertemu, mereka saling bertatap, entahlah ada debaran aneh di jantung Zeline, pun dengan Liandra. Jantung nya selalu berdetak lebih cepat setiap menatap Zeline. Mandra apa yang telah diberikan gadis itu sampai bisa membuat Liandra selemah ini. Seperti yang sudah-sudah, Candra masuk keruangan Liandra tanpa permisi, dia tidak tau kalau sahabatnya lagi menikmati pagi indahnya bersama gadis dalam dekapannya malam itu. Langkah Candra terhenti mulutnya membisu, dia bisa melihat tatapan cinta dari mata Liandra, mungkinkah sahabatnya itu sedang jatuh cinta dengan wanita ini? "Sorry ganggu" kata Candra yang langsung menyadarkan keduanya, Liandra melepaskan pandangannya pun dengan Zeline, dia sedikit jadi salah tingkah. "Candra... gue bersumpah akan ngejitak kepala loe" kata Liandra dalam hati. "Ada apa?" tanya Liandra dengan nada kesal, dia kesal karna Candra sudah mengganggu paginya. "Berkas-berkasnya sudah siap dan jangan lupa empat jam lagi pesawat loe terbang" ujar Candra. "Candra, itu masih lama dan biasakan kalau mau masuk ketuk pintu" ujar Liandra dengan nada kesal. "Loe marah aja masih kelihatan ganteng ndra, apalagi kalau loe senyum" ujar Candra dengan mengedipkan matanya, dia tau sahabatnya lagi kesal karna sudah menganggu paginya. "Gue masih doyan perempuan" ujar Liandra datar, Candra hanya tertawa mendengar jawaban sahabatnya "Kita sarapan dulu" lanjutnya berujar. "Setuju, kebetulan gue belum sarapan" kata Candra dengan tawa khasnya. "Zeline kamu ikut sarapan kita aja ya?" ajak Candra. "Terimakasih pak, tapi saya tadi sudah makan dari rumah" tolak Zeline halus. "Ya sudah kamu temani kita aja" lanjut Candra yang disetujui Liandra, gadis itu tak bisa menolak lagi, dia menemani Liandra dan Candra sarapan. Liandra tak mau membuang kesempatan ini, sesekali dia mencuri pandangan ke Zeline, Candra yang menyadari itu hanya tersenyum, yes sahabatnya akhirnya jatuh cinta juga. "Zeline, aku sangat berterimakasih padamu kau sudah membuat Liandra benar-benar jatuh cinta padamu" ujar Candra dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN